Wednesday, September 1st, 2010
Sudah sebulan belakangan ini, berita tentang perampokan makin sering didengar. Mulai dari perampokan di bank CIMB Niaga Medan, toko-toko emas di kawasan Tebet Jakarta, BCA Dewi Sartika Jakarta, dan entahlah perampokan di mana lagi. Yang mengerikan, bukan saja jumlah pelakunya yang (sangat) banyak, tetapi para pelaku kali ini juga menggunakan senjata api, tidak tanggung-tanggung, berlaras panjang. Senjata yang seringkali kita lihat berada di genggaman petugas kepolisian.
Kasus perampokan yang terjadi di bulan Ramadan, alias bulan puasa, seingat saya bukan baru tahun ini terjadi. Di tahun-tahun sebelumnya juga sudah pernah terjadi. Hanya saja, memang kelihatannya semakin lama semakin meningkat intensitasnya, baik dari segi jumlah pelaku, senjata yang digunakan, maupun tempat sasaran perampokan yang risikonya semakin tinggi bagi pelakunya untuk tertangkap.
Saya kembali teringat pada rentetan peristiwa ini setelah beberapa hari lalu menonton tayangan infotainment (sembari mengistirahatkan DVD player yang kelelahan setelah berjam-jam digunakan). Pihak infotainment meminta pendapat sejumlah artis mengenai kasus perampokan tersebut. Yah, jawabannya beragam sih, dari yang memang masuk akal sampai yang.. ngg.. agak sulit digambarkan di mana hubungan antara pendapat mereka dengan perampokan itu.
Bagian yang menarik adalah ketika mereka diminta memberikan penjelasan, atau tepatnya menebak, apa yang menyebabkan para pelaku melakukan aksi perampokan. Bahasa keren-nya: motivasi.
Sebagian besar jawaban yang terlontar adalah bahwa para pelaku membutuhkan uang atau barang berharga lainnya untuk memberi makan keluarga mereka. Ada yang menggunakan istilah, “Kalau perut kenyang, maka hati tenang.” Semua itu dilakukan atas dasar pemenuhan kebutuhan fisiologis, yang adalah masalah perut.
Sunday, August 15th, 2010
Beberapa malam lalu saya menonton juga acara di sebuah stasiun televisi yang berjudul Provocative Proactive, tak lain dipandu oleh si pemilik blog-album musik-sampai acara radio yang semua berjudul sama. Dan tentunya, namanya pun memang dikenal di penjuru dunia nyata maupun maya: Pandji Pragiwaksono.
To be honest, saya menonton memang karena menemukan tweet salah seorang teman yang menyatakan bahwa di acara tersebut akan tampil sesosok tokoh media di Indonesia, yang saya ‘kenal’ sebagai seorang bapak-bapak yang ndaghel (baca: @budionodarsono) *sungkem*. Nah, karena keberadaan beliau di acara itu lah yang mendorong saya untuk menghentikan acara menonton DVD konser Use Your Illusion milik Guns N’ Roses, dan memindahkan saluran televisi.
Di antara berbagai hal yang dibicarakan di acara tersebut, salah satu yang segera familiar di telinga saya adalah pembahasan mengenai – correct me if I’m wrong – (sebuah) organisasi masyarakat atau lebih dikenal dengan Ormas yang melakukan berbagai tindakan yang dinilai ‘tidak semestinya’ belakangan ini menjelang puasa.
Maaf mengecewakan kalian, karena saya bukan hendak membahas mengenai acara Provocative Proactive semalam, atau Raditya Dika yang tampak lebih menggemaskan tanpa kacamata, atau Bang Yos yang juga muncul kembali menjadi bintang tamu, atau JFlow yang tato di lengannya membuat liur menetes, atau Pak BDI yang tak hilang ciri khas ndaghel-nya, atau yang lain-lainnya (hlaahh.. katanya nggak bahas?! lha ini apaan barusan??)
Tapi lebih pada peristiwa yang memang belakangan ini sedang luar biasa menimbulkan reaksi pro-kontra bagi siapapun yang mendengarnya.
Thursday, August 5th, 2010

Jadilah kemarin saya melaksanakan niat untuk menonton The Last Airbender.. di hari pertama film itu ditayangkan di bioskop!