Saturday, February 6th, 2010
Dulu – entah dari mana persisnya – ada yang pernah mengatakan bahwa tidur adalah obat paling mujarab untuk mengatasi kelelahan setelah seharian bekerja rodi memeras keringat dan darah *halah*.
Saya mencobanya. Setiap hari.
Namun belum kunjung menemukan kemanjurannya.
Yang ada, saya selalu merasa kelelahan setiap bangun tidur di pagi hari. Selalu merasa tidak pernah cukup beristirahat. Tetap terbangun dengan rasa kantuk yang mendera dan ingin kembali menyusupkan diri ke dalam selimut sambil berpura-pura tidak mendengar alarm yang sudah menjerit-jerit sejak setengah jam sebelumnya.
Membayangkan panjangnya waktu yang masih harus dilalui untuk kembali merodi, sungguh tidak menyenangkan. Melelahkan. Hingga akhirnya pulang kembali ke rumah dalam keadaan lelah teramat sangat, diakumulasikan dengan kelelahan hari sebelumnya yang belum juga tertuntaskan.
Begituuu terus. Hanya akan menambah kekusutan yang berulang.
But then I realized.
Bukan istirahat sejenis itu yang sebenarnya dibutuhkan.
Friday, January 22nd, 2010
Dua orang pria yang usianya sekitar tujuh-puluh tahun berdiri di depan pintu kedai kopi di mana saya tengah berada. Beberapa saat menanyakan entah apa kepada si mbak pramuniaga sebelum akhirnya diantarkan menuju ke dalam. Mereka memilih meja yang letaknya persis di sebelah kiri-depan meja saya.
Kakek pertama mengenakan kemeja putih lengan pendek dengan motif garis-garis tipis membentuk kotak-kotak berukuran sedang. Juga celana panjang dan sepatu sandal. Ia memilih tempat duduk yang sejurus dengan arah duduk saya, hingga yang terlihat oleh saya hanyalah punggung dan sebagian kanan-belakang tubuhnya.
Sedangkan kakek kedua mengenakan pakaian yang lebih.. apa ya?! Lebih gaya. Sebutlah demikian. Ia juga mengenakan kemeja berwarna putih lengan pendek serta celana panjang dan sepatu sandal. Hanya saja, yang membedakannya dengan kakek pertama adalah karena kakek kedua ini mengenakan bretel coklat yang mengikat bagian depan dan belakang celananya melewati kedua bahu.
“Di sini aja lah ya kita,” seru si kakek pertama kepada kakek kedua.
Belum sempat memberikan jawaban, ia terpaksa menyetujui saja apa yang dikatakan temannya itu *eh, teman?! mungkin mereka kakak-beradik, atau bersaudara, atau.. ah sudahlah, anggap saja memang teman*
Ia tersenyum dan segera menduduki kursi yang bersikuan dengan temannya itu, sehingga saya bisa melihat dengan jelas rupa si kakek kedua ini.
Datanglah lagi si mbak pramuniaga untuk menyapa dan menanyakan pesanan mereka sambil menyodorkan buku menu.
Saturday, January 16th, 2010
Perbincangan singkat dengan teman yang adalah seorang pemusik beberapa hari lalu kembali mengingatkan saya akan perbincangan lain dengan seorang teman yang lain juga. Keduanya membahas hal yang sama: musik.
Di antara sekian percakapan yang pernah dilakukan, ada satu yang paling saya ingat.
Tentang ke mana perginya musik dangdut belakangan ini.
Memang, kalau diperhatikan – baik buat kita yang penggemar musik atau yang sekedar pendengar saja – ranah musik dalam negeri sedang dipadati dengan sejumlah band baru. Sebagian besar mengusung musik beraliran melayu dan sebagian lagi musik pop yang mendayu-dayu. Tampil dengan formasi sekumpulan pria, biasanya berjumlah empat hingga lima orang, di mana satu orang sebagai penyanyi dan sisanya memainkan alat musik.
Di jajaran musik melayu, ada Kangen Band, ST12, dan Wali, yang luar biasa fenomenal. Siapapun tidak akan memungkiri kecemerlangan nama ketiga band itu. Melalui acara apapun yang menyajikan penampilan musik secara langsung (baca: live) – baik yang disiarkan di televisi maupun tidak, di berbagai stasiun radio, bahkan juga layanan nada sambung (ring-back tone), bukan saja nama ketiganya dikenal, tetapi lagunya pun terus terngiang di dalam kepala para pendengarnya.
Katanya benci, tapi ketika lagu-lagu mereka terputar di radio, kok ya ternyata hafal juga.