Wreck the Stress

Demikian judul yang tertulis di halaman depannya.
Dibuat oleh Keri Smith.
Iya, saya menggunakan istilah ‘dibuat’ dan bukan ‘ditulis’, karena ia memang tidak menulisnya. Literally.

Demikian judul yang tertulis di halaman depannya.
Dibuat oleh Keri Smith.
Iya, saya menggunakan istilah ‘dibuat’ dan bukan ‘ditulis’, karena ia memang tidak menulisnya. Literally.
Beberapa tahun belakangan, kafe ini sudah seperti kantor kedua buat saya.
Selain letaknya yang (sangat) dekat dengan kantor sungguhan, di sini juga tersedia sejumlah fasilitas yang penting dibutuhkan dalam pekerjaan sehari-hari. Stop kontak untuk listrik dan koneksi internet, adalah salah duanya. Bukan kafe ternama sekelas kedai kopi berlogo medusa bercapit (atau apalah itu) hijau.
Saya bisa berada di tempat itu seharian penuh, dari mulai dibuka sampai tutup.
Menariknya, dari sekian tahun saya menjadi pelanggan tetap, mbak-mbak dan mas-mas waiter masih orang yang sama sejak pertama kali saya berkunjung. Mas-mas yang menjadi store supervisor-nya pun masih orang yang itu-itu juga. Kalaupun ada wajah-wajah baru, jumlahnya relatif lebih sedikit dibandingkan wajah lama. Dan mereka yang dulu saya anggap orang baru ini, toh sampai hari ini –sekian waktu kemudian– menjadi orang lama juga.
Sebagai ‘anak kafe’ *tsaahh* yang cukup sering nomaden dari satu kafe ke kafe lain, ini adalah hal yang tidak biasa. Saya cukup sering menemukan wajah-wajah yang berbeda dari kunjungan yang satu ke kunjungan yang lain.
Semula hal ini sekedar menjadi pertanyaan yang saya biarkan saja tak terjawab dalam kepala saya.
Sampai suatu hari, ketika sedang bekerja di sana, saya menemukan sejumlah adegan yang menarik.
Seorang mas yang lain datang ke kafe. Sama sekali bukan orang baru, karena beberapa kali saya juga melihatnya hadir. Semacam manajer atau apa lah dirinya itu. Tampilannya ‘biasa’ saja, dengan kemeja dan celana jins, dan tas yang terselempang di bahu.
Mendapat prioritas dibandingkan laki-laki, mulai dari antrian, tempat duduk di angkutan umum, area parkir khusus bertuliskan ladies parking, dan entah ‘keistimewaan’ apa lagi yang diberikan kepada kaum perempuan.
Tidak sedikit orang yang menganggap hal-hal ini adalah bagian dari emansipasi.
Tapi saya sendiri tidak sependapat. Itu bukan bagian dari emansipasi, tapi lebih pada penghargaan kepada perempuan sebagai pihak yang ‘ditinggikan’.
Jika mau kembali beberapa dekade ke belakang, kita menyadari bahwa perempuan dianggap sebagai warga kelas dua dibandingkan laki-laki. Dan mungkin sebagai akibatnya, ‘nilai’ perempuan tidak seberapa jika dibandingkan laki-laki. Menjadi sah jika perempuan ditindas, diperbudak, dilacurkan, dianiaya, karena toh nilainya tidak seberapa dan bisa dengan sangat mudah digantikan.
Sikap semacam inilah yang mungkin –mungkin, lho!– dianggap tidak layak, bukan saja bagi perempuan tetapi bagi manusia di belahan dunia manapun juga. Lalu jika kemudian yang terjadi pada masa sekarang adalah sebaliknya, perempuan menjadi sosok yang ‘dimuliakan’, mungkin itu adalah satu bentuk penebusan dosa atas apa yang dilakukan terhadap mereka di masa lalu.
Termasuk juga sapaan ‘ladies and gentlemen’, di mana ladies disebutkan terlebih dulu.
Fokusnya adalah perempuan di sini sebagai subjek yang secara pasif diberikan penghargaan.
Emansipasi?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, eman·si·pa·si /émansipasi/ n 1 pembebasan dari perbudakan; 2 persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria).