I’ll Be Home Soon

Setelah berhari-hari menghabiskan waktu di rumah saja, tidak menginjakkan kaki keluar, bahkan untuk sekedar memanggil para penjaja makanan, akhirnya hari ini saya memutuskan untuk pergi. Selain dalam rangka mengurusi Tugas Akhir yang sudah diambang deadline, saya sebenarnya sedang ingin bepergian saja. Karena jika tetap tinggal di rumah, saya makin tersiksa lantaran tak bisa menahan diri untuk menghabisi dvd CSI: NY season 5 sebanyak 25 episode itu.
Di sela perjalanan ke sana-sini, saya ingat kalau masih harus makan siang. Secara sejak pagi baru melahap sepotong kue dari atas meja makan. Dan jelas saya sedang tidak ingin terserang penyakit di saat-saat segenting ini.
Sebuah restoran pizza yang kebetulan dilewati pun menjadi pilihan saya. Restoran yang sudah lama tak saya kunjungi sejak.. ah, saya bahkan lupa kapan terakhir kalinya ke sana. Tempat yang tepat untuk menikmati waktu makan, bukan saja karena luar biasanya rasa makanan yang mereka sajikan, tetapi karena pelayanannya memuaskan, dan tempatnya pun tidak terlalu ramai. Cenderung sepi untuk restoran sekecil ini. Dan memang inilah yang sedang saya butuhkan sekarang.
Setelah memarkirkan si hitam, saya melangkahkan kaki menuju pintu masuknya. Sebuah pemandangan yang tidak biasa saya temukan di sana.
Dari pintu kacanya terlihat dengan jelas betapa restoran itu sedang ramai sekali dengan para pengunjung. Tapi tempat duduk kesukaan saya, di salah satu sudut yang menempel dengan dinding kacanya, masih kosong. Begitu juga beberapa meja di sekelilingnya.
Jadilah saya tetap melanjutkan niat semula untuk makan di sana.
Semua bermula dari sebuah foto masa lalu yang dimunculkan di Facebook oleh salah seorang teman. Foto yang kemudian memicu keributan dan kerusuhan di sana-sini.
Foto saya dan dirinya dan teman-teman sekelas kami semasa baru menjalani tahun pertama mengenakan seragam putih abu-abu. Foto yang secara resmi menjadi foto seisi penghuni kelas kami, termasuk ibu wali kelas.
Terdiri dari tiga baris. Di baris pertama semua duduk di kursi, yang ada di baris kedua berdiri di belakangnya, dan yang menempati baris terakhir harus berdiri dengan memijak pada kursi agar wajah mereka tak terhalang oleh orang-orang yang ada di baris kedua. Semua menghadap ke depan, dengan posisi tubuh yang sangat formal.
Dan saya adalah salah seorang yang menempati baris terdepan.
Mestinya terlihat dengan jelas. Oleh mereka yang mengenal saya di masa foto itu dibuat.
Sementara bagi yang baru mengenal saya di tahun-tahun di mana saya sudah muncul dengan tampilan seperti sekarang, ha! Saya tidak heran kalau mereka tidak bisa memercayai foto siapa yang mereka lihat itu.
Yah.. nasib yang harus saya terima tampaknya. Ketika memiliki teman-teman yang berbeda di dua periode kehidupan yang juga berbeda. Di mana saya juga menjadi dua orang yang bukan saja berbeda, tapi bahkan bertolak belakang.
Jadi begini kisahnya…