1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Ucapan Selamat Natal

Merayakan Natal kah?

Atau.. mengirimkan ucapan selamat Natal?

Atau keduanya, mungkin? *salaman* *halah* :mrgreen:

Berbeda seperti tahun-tahun sebelumnya, Natal tahun ini sebenarnya tidak membuat saya demikian bersemangat untuk menyambutnya. Selain berburu kado-kado Natal untuk seluruh anggota keluarga -yang luar biasa banyaknya!- tampaknya tidak ada yang benar-benar saya nantikan di hari Natal ini.

Termasuk mempersiapkan ucapan Natal yang akan disampaikan kepada seluruh keluarga, kerabat, teman-teman, rekan kerja, siapapun yang saya kenal.

Yang biasanya sudah saya susun jauh-jauh hari *halah lebay*, bahkan kadang membuat beberapa versi, tidak demikian halnya dengan tahun ini. Saya sungguh sedang kehilangan ide tentang ucapan seperti apa yang mesti saya kirimkan tahun ini.

Mungkin -hanya mungkin- salah satu penyebab hilangnya antusiasme saya dalam menyambut Natal tahun ini adalah karena tidak adanya lagi Mbak Santi untuk ikut merayakan bersama kami. Setelah beberapa tahun belakangan, ia lah yang selalu membuat perayaan Natal kami menjadi luar biasa. Sekalipun ia tidak merayakan Natal.

Kembali ke soal ucapan Natal, dengan ucapan yang benar-benar seadanya -mungkin kalian sudah menerimanya- ternyata respon yang diberikan oleh mereka yang mendapat ucapan itu justru di luar dugaan.

Belajar Berjalan

Seorang anak kecil kira-kira berusia satu tahun, mengenakan rok bermotif bunga dan rambutnya yang pendek, berhasil mencuri perhatian saya dari si Gufi –notebook tersayang. Anak ini, bersama seorang perempuan yang tampaknya adalah ibunya, dan seorang perempuan lain yang lebih muda –mungkin tantenya, menempati meja di sudut. Tepat di seberang meja saya.

Tidak ada yang demikian istimewa darinya, atau mereka, awalnya. Percakapan, perilaku, tidak ada yang berhasil mengalihkan mata saya dari layar si Gufi.

Sampai si tante menurunkan gendongannya dan membiarkan kedua kaki mungil si anak kecil menyentuh lantai. Anak ini mulai berjalan. Setapak di kaki kiri, setapak di kaki kanan, dan kedua tangan memegang erat tangan tantenya. Wajahnya tampak takut sekaligus gembira pada saat yang bersamaan.

Beberapa kali tubuhnya bergoyang seperti hendak jatuh, tapi toh ia tetap melanjutkan langkahnya. Ke sana-kemari tak tentu arah. Ia bahkan sempat mendekat ke meja saya sambil tertawa-tawa. Lalu kembali lagi berjalan tertatih-tatih ke meja tempat ibunya berada.

Perlahan, si tante melepas tangannya dari genggaman si anak kecil. Terkejut dan takut sepintas tampak di wajah anak kecil itu, tangannya pun berusaha menggapai-gapai tangan si tante. Tak juga mendapat uluran tangan, ia berusaha meraih meja terdekat, yang letaknya ternyata terlalu jauh dari tangannya. Kaki-kaki kecilnya bergetar. Perlahan ia berusaha mengubah posisi tubuhnya agar dapat berjongkok, tetapi belum juga posisinya sempurna, si tante mengangkat tubuhnya hingga kembali berdiri. Lalu melepaskannya lagi.

Begitu berulang kali, setiap ia bermaksud jongkok atau duduk atau merangkak. Tante ataupun ibunya tidak memberinya kesempatan, ia tetap dipaksa berdiri. Mereka terus memberi semangat kepada si anak kecil untuk melangkahkan kaki dan berjalan.

29 on 29

untuk pesan singkat yang secara langsung muncul di layar si Beybih sejak dini hari tadi,

untuk mention dan direct message di twitter maupun pesan di wall facebook -yang sampai sekarang masih belum selesai dibalas satu-persatu,

untuk guntingan kertas membentuk huruf yang diletakkan di atas over-head projector dan dipantulkan ke whiteboard di depan kelas,