Dua Minggu Pengayaan Matematika
Minggu.
Sepanjang siang hingga sore tergeletak di atas tempat tidur besar di kamar depan. Seluruh tubuh lemas sekali, perut rasanya tidak karuan, setelah sepanjang hari isinya terkuras habis. Sampai-sampai saya sendiri bingung, yang mana kamar tidur, yang mana kamar mandi. Butiran kecil obat berwarna hitam sudah dikonsumsi, dua kali, tetapi tetap saja saya masih bolak-balik ke kamar mandi.
Lalu saat meraba leher, saya semakin cemas jika saya sungguh terserang penyakit.
Senin.
Senin.
Keputusan pun diambil. Saya harus meliburkan diri sementara, paling tidak selama satu hari ini saja. Terlebih saat Ayah dan Ibu sudah mengajukan pertanyaan retoris, “Kamu gak sebaiknya istirahat dulu ya di rumah hari ini?!”
Namun karena hingga sore harinya, perubahan yang diharapkan belum juga muncul, saya segera menghubungi rumah sakit untuk mendaftarkan diri pada antrian Oom Dokter langgan. Sebelum Ayah atau Ibu mulai berinisiatif untuk melakukan hal tersebut. Sialnya, Oom Dokter sedang cuti dan baru akan kembali berpraktek pada Senin minggu berikutnya. Akhirnya, mengikuti saran Ibu, saya pun memeriksakan diri ke Ibu Dokter yang membuka praktek di dekat rumah kami.
Hasilnya bisa diduga. Penyakit maag sedang kumat.
Cukup istirahat, makan makanan yang lunak tiga kali sehari, dan mengkonsumsi obat sampai lima hari ke depan. Kalau belum kunjung membaik juga, saya harus kembali memeriksakan diri. Ibu tersenyum saja saat mendengarkan titah Ibu Dokter tersebut. Beliau memandang saya dengan tatapan, ‘See..?! I told you!’
Selasa, Rabu.
Selasa, Rabu.
Aktivitas sudah kembali dilakukan seperti biasa. Yang tidak biasa, Bapak Supir secara resmi telah mengganti tugasnya yang semula adalah mengantar Ayah, kini harus mengawal saya. Jadi saya tidak bisa lagi menggunakan ‘kelelahan karena harus mengendarai si hitam’ sebagai alasan mengapa saya malas membelokkannya ke tempat di mana saya bisa membeli makanan.
Kamis.
Kamis.
Minggu ke-dua masa praktek sudah dimasuki sebenarnya, sejak hari Senin. Lalu hari ini kembali mengunjungi Panti Sosial di mana saya berpraktek, yaitu sebuah institusi yang bertujuan memberikan bekal berupa ketrampilan bagi para remaja pria, yang memang sekaligus bertempat tinggal di asrama yang terletak di dalam komplek Panti Sosial tersebut. Ketrampilan yang sudah dibekalkan itu diharapkan dapat digunakan untuk bekerja. Di Panti Sosial inilah, dari satu minggu lalu sampai tiga minggu ke depan saya akan menangani seorang pemuda secara khusus. Penanganannya sebenarnya bisa dibilang tidak rumit. Melakukan wawancara, memberikan sejumlah tes Psikologis, untuk menemukan permasalahan yang sesungguhnya tengah dihadapi. Lalu memberikan treatment jika dibutuhkan, atau sekedar saran untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Buat saya, yang jadi masalah adalah, bahwa saya dan teman-teman sesama calon Psikolog ini, harus menyusun laporan setiap kali kami selesai berpraktek di satu institusi. Padahal, setiap periode berpraktek selama empat minggu, kami menjalani praktek di dua institusi sekaligus. Kami menangani satu orang klien di masing-masing institusi. Yang artinya, kami harus menyelesaikan dua buah laporan selama empat minggu yang tersedia.
Naahh… di hari Kamis ini, saya baru memperoleh kabar dari petugas di Panti Sosial tersebut, bahwa seorang pemuda yang menjadi klien saya, ternyata tidak lagi kembali ke Jakarta setelah selama beberapa hari meminta ijin untuk mudik ke Cirebon. Ia memutuskan untuk menetap di kampung halamannya saja dan tidak melanjutkan pendalaman ketrampilan di Panti Sosial ini.
Yang artinya… saya kehilangan klien. Padahal sudah dua kali saya bertemu dengannya, melakukan wawancara dan sedikit tes. Sementara, masalah yang dihadapinya belum terselesaikan. Laporan tentang dirinya pun jadinya tidak bisa diselesaikan.
Di tengah kepanikan yang tiba-tiba mendera, si petugas langsung menyodorkan seorang pemuda lain kepada saya untuk ditangani. Tentu saja saya terima dengan senang hati. ‘Cause I have no other feeling to feel, right?! *tersenyum pahit*
Sayangnya, saya tidak bisa langsung melakukan wawancara dengan si pemuda baru ini. Perbincangan hanya dilangsungkan selama 15 menit, karena ia harus melakukan persiapan untuk kegiatan outbound yang akan dilakukan keesokan hari bersama dengan seisi Panti Sosial.
Wait… wait…
Did I miss something here?
Outbound?
“Iya, Mbak. Besok mulai outbound di Lembang sampe hari Minggu,” begitu jelasnya.
Dan dalam sekejap, saya sudah kehilangan waktu tiga hari untuk menangani si pemuda ini. Ditambah lagi satu hari, karena tidak mungkin untuk melakukan wawancara langsung di keesokan hari ketika malam harinya mereka baru kembali dari outbound.
*senyum semakin miris*
Jumat.
Jumat.
Menangani klien yang lain, di institusi yang lain lagi. Sesuai jadual, setiap Selasa dan Jumat, saya akan menemui si Bapak di sebuah pusat haemodialisa. Klien saya ini adalah seorang pria paruh baya yang sudah satu tahun belakangan ini menjalani haemodialisa akibat ginjalnya yang tidak lagi dapat berfungsi dengan baik. Berbeda dengan si pemuda, penanganan si Bapak bukanlah dengan memberikan tes Psikologi, melainkan hanya mendampinginya selama proses cuci darah berlangsung. Setidaknya, mungkin saya, dan juga teman-teman lain yang sedang menjalani praktek ini, bisa membantu meringankan beban pikiran para pasien agar mereka dapat menjalani proses dengan baik, dan akhirnya yaa… mudah-mudahan tetap memiliki semangat untuk menjalani hidup sekalipun harus memanggul penyakit yang tidak lagi dapat tersembuhkan.
Sabtu, Minggu.
Sabtu, Minggu.
Menghabiskan sebagian besar waktu untuk beristirahat di rumah saja. Makan, tidur, menonton televisi. Itu saja agendanya.
Senin.
Senin.
Mengendarai si hitam ke kampus untuk mengumpulkan laporan saat berpraktek di periode sebelumnya, setelah (akhirnya) disetujui oleh sang dosen pembimbing. Lalu pulang.
Selasa.
Selasa.
Pagi hari, menemui si Bapak, seperti biasa. Berbincang dengan beberapa perawat, dan juga istri dari klien saya itu. Setelah usai, menyempatkan diri untuk makan siang di rumah. Menjelang sore, kembali menjinjing tas dan segala perlengkapan perangnya untuk menemui si pemuda di institusi yang satu lagi. Mestinya sore ini kondisi tubuhnya sudah terpulihkan dari kelelahan akibat outbound kemarin.
“Yaahh… kok datengnya sore, Mbak?! Saya baru mau main bola, nih…” katanya, yang langsung diiyakan oleh teman-teman yang mengelilingi klien saya itu.
“Iya, Mbak… Besok aja deh… Mau tanding, nih…” sahut salah satu di antaranya.
Yang kemudian disahut lagi oleh yang lain, meminta saya untuk membatalkan saja pertemuan dengan teman mereka itu.
Dan lagi, saya hanya memiliki waktu 15 menit berbincang-bincang dengannya. Setidaknya untuk sekedar membuka pertemuan yang akan dilangsungkan hingga minggu depan, dan juga untuk menyusun jadual pertemuan selanjutnya.
“Kamis besok ‘kan libur nih, kamu gak pengen pulang ke Karawang?” tanya saya iseng.
Di luar harapan, ia menganggukkan kepalanya, “Iya Mbak, emang rencananya gitu.”
Oh, God!!! Wrong question!!
“Kapan?”
“Besok. Paling sore berangkat, nanti Minggu baru ke sini lagi.”
Bagai tersambar petir, kepala saya langsung saja bekerja dengan segenap rumus matematika yang bisa digunakan.
Kalau dia mudik sampai hari Minggu, berarti baru hari Senin depan saya bisa menemuinya lagi. Sementara hari Selasa dan Jumat-nya jelas tidak bisa. Jadi saya hanya punya hari Senin, Rabu, dan Kamis. Tiga hari???
Bisa dapat apa saya dalam tiga hari???
Harusnya ‘kan empat minggu!!!
“Waduh, kalo gitu saya baru bisa ketemu kamu lagi hari Senin depan?”
“Besok pagi bisa kok, Mbak. ‘Kan saya berangkatnya sore.”
Haduuhh… semakin rumit saja ini!!
Besok pagi saya itu harus melakukan presentasi di salah satu institusi di mana saya berpraktek pada periode sebelumnya. Bersama dengan beberapa orang teman yang juga berpraktek di institusi yang sama pada periode lalu, saya harus mempresentasikan (atau mempertanggung jawabkan) hasil praktek saya kepada para petugas di institusi tersebut.
“Oke, kalo gitu kita ketemu besok,” jawab saya.
Dan sepanjang perjalanan, saya pun sibuk menekan tombol di handphone. Mengirimkan SMS untuk teman yang juga akan melakukan presentasi keesokan hari, memberitahukan bahwa saya tidak akan hadir. Saya menitipkan materi presentasi kepadanya. Lalu juga menghubungi salah seorang dosen yang akan ikut serta dalam acara presentasi besok. Memberitahukan bahwa saya baru akan mempresentasikan hasil praktek bersama dengan kelompok di periode berikutnya, karena adanya permasalahan berkaitan dengan si pemuda ini.
Saya kemudian segera mengeluarkan agenda dari dalam tas.
Lagi-lagi saya mengerahkan semua rumus matematika yang saya kuasai.
Menghitung hari yang tersisa sebelum periode empat minggu usai. Menghitung berapa jam dalam sehari yang masih dapat digunakan agar saya tetap dapat menyelesaikan keseluruhan proses penanganan klien, sebagaimana seharusnya. Menghitung berapa jam yang bisa digunakan untuk menyelesaikan penyusunan laporan. Periode ini dan… periode sebelumnya!
Aaarrggghhhhh!!!!
Siyal!
Tiba-tiba saja saya melihat goresan tinta, tulisan tangan saya sendiri, pada tanggal hari ini.
Kemurkaan saya sirna seketika.
Apa yang tertulis di sana, justru membuat saya teringat pada apa yang terjadi pagi ini, ketika menemui si Bapak. Saat kami memperbincangkan berbagai hal seperti biasa. Menemaninya menghabiskan lima jam hingga seluruh proses cuci darah itu selesai, walaupun saya hanya kebagian dua jam terakhir.
“Tapi udah membaik ya Pak, kondisinya?! Badannya juga udah agak segeran kaya’nya.”
“Iya, nih… Udah agak lebih enteng pikirannya.”
“Bagus dong, Pak!”
Ia tersenyum, “Yaahh… masalah sih masih ada aja. Tapi saya takut tensinya naik lagi kalo nanti terus-terusan mikirin itu. Nanti kalo tensinya naik, saya jadi pusing trus gak enak badannya. Nanti pas dateng cuci darah lagi, malah drop kondisinya.”
“Iya Pak, dijaga tuh kondisinya yang udah bagus begini.”
“Iya. Kalo udah gitu ‘kan, gak ada lagi yang bisa nolongin kalo bukan diri sendiri. Yang milih untuk ngerasain sakitnya, ya saya sendiri. Yang milih untuk terus mikirin masalah, saya juga. Padahal sebenernya saya bisa aja milih nenangin pikiran, jalanin semua prosesnya (cuci darah) sampai selesai. Kalo udah ‘kan, saya malah bisa pulang dengan kondisi badan yang enak.”
Duuhh… Pak, Pak…
Kenapa juga saya tiba-tiba harus ingat lagi sih percakapan itu?!
Saya jadi malu.
Sangat malu.
Yang berstatus sebagai calon Psikolog ‘kan saya. Kok malah si Bapak yang memberikan nasihat jitu macam itu?!
Kurang bener gimana coba?!
Bukankah cuma saya yang bisa menentukan apakah semua yang dialami selama dua minggu belakangan ini adalah suatu musibah atau bukan. Saya juga yang bisa menentukan apakah saya akan terus terpuruk pada kerumitan situasi dan membiarkan kepala saya terus berdenyut-denyut akibat memikirkannya, atau justru mencoba melakukan tindakan untuk menyelesaikan satu-persatu semua permasalahan itu.
Saya sendiri yang bisa menentukan apakah dua minggu kemarin itu akan dianggap sebagai penderitaan atau justru kesempatan yang menantang agar saya tetap bisa menyelesaikan laporan seperti sebelum-sebelumnya.
Pada akhirnya, memang cuma saya yang bisa menentukan apakah saya akan melihat pengalaman dua minggu kemarin dari sudut pandang yang tidak menyenangkan, atau justru sebaliknya.
Toh cuma saya yang memang punya kendali atas diri saya sendiri, mau memilih yang mana.
Bukankah?!

16 Responses
lha ya sudah, ini tulisan dijadikan laporan saja.
lapor, Pak Ndobos!
met weekend dan istirahat, Bu
sekalian merayakan Hari Raya Buruh…
terima kasih ya… slamat hari raya buruh juga (walau terlambat)
I think you always see things from interesting point of view
* wtc, I misread the title, kirain tadi penganiayaan matematika
terima kasih
iya, setelah dipikir2, rasanya emang lebih cocok pake kata ‘penganiayaan’ ya
iya bener kt pakde tulisan ini jadikan laporan saja mba dos, met istirahat mbak dos klo sudah sembuh mari belajar menggombal bersama
belajar sama siapa, mbit?! kamu gurunya tho?!
wah panjang juga ya…
yeee pasti gak dibaca nih?! *ngambek*
cepat sembuh ya jeng!
makasih, ya jeng
sekarang udah sehat?
udah siap tempur, mbok!
moga cepet kelar urusanya..
terima kasi
haiyaaa, some people say, god works in a mysterious way **gosok-gosok mata**
i am the one of that some people
semoga lekas sehat dan ga perlu lagi ketemu matematika
lekas sehatnya sih udah terlaksana… tapi kalo gak ketemu matematika, yaaa itu rasanya gak mungkin
Semoga lekas pulih dan selesai tugas-tugasnya.
terima kasih
lho.. aku baru baca postingan ini.
tapi ga papa kan?
masa kalo apa2, menerima ajakan kencanmu?
hehe.. pilihan sendiri.
hahaha stuju!
kok . . . . . belum jawab juga, pasti nunggu komenku . . he3
mudah2an bukan karena belum sembuh . . sehat ya bu . . !
untuk calon psikolog memang harus belajar manggil ibu . .
seberang atas rumah itu juga ada panti, keknya banyak yang harus jadi klien/pasien ibu, yang banyak juga lelaki tanggung . . .
eh . . . tapi itu panti pijat ding . . . . tapi ya tetap calon klien/pasien potensial kan . . . makin banyak aja orang yang kejiwaannya terganggu . . tapi keknya yang begini . . . yang dibutuhkan ‘psingkologan’ . ..
lha ya justeru karena ada yang kurang sehat itu, saya dibutuhkan
kapan mau menanganiku??? tapi jangan besok ya??
menanganimu? kalo dirimu udah mandi aja gimana?!
See..?! I’ve told you! Havent I..?!
Eh, belum ya, hehehe..
Cepat sembuh ya mbak dos
makasih