1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Inayah yang Berbedah

“Mbak, aku udh ntn My Blueberry Nightsnya… tp kok gak ngerti ya?!”

Lhaa…?! Kok gak ngerti?!

Beberapa hari lalu saya memang mengirimkan SMS pada Inayah, si preman bioskop itu. Saya menyuruhnya (ya, menyuruh!) menonton sebuah film berjudul My Blueberry Nights. Kebetulan dia sudah membeli DVD-nya dan hanya tinggal menunggu waktu luang untuk menontonnya, begitu jawabnya. Alhasil, ia pun langsung berniat untuk menonton film yang saya maksud, setelah saya mengatakan bahwa film itu sangat bagus.

Jadi saya pikir, dia pun akan beranggapan demikian. Sehingga, jelas saja saya terkejut saat menemukan isi pesan yang dikirimkannya itu.

Ini bukan kali pertama kami saling berbagi informasi mengenai film-film yang baru saja ditonton. Dia biasanya akan mengirimkan SMS kepada saya tentang film-film yang beredar di bioskop yang menurutnya layak untuk ditonton, dan memampangkan Brad Pitt sebagai salah satu pemerannya. Sementara saya, karena frekuensi mengunjungi bioskop sudah sangat jauh berkurang, film yang saya rekomendasikan pun biasanya merupakan hasil perburuan DVD.

Bahkan beberapa kali saya juga sempat meminjamkan DVD itu kepadanya.

Lantas… bagaimana ceritanya dia bisa tidak mengerti kata “bagus” yang saya sandangkan pada film yang dibintangi oleh Jude Law nan menawan itu?!

My Blueberry Nights memang bukan tipikal film Hollywood. Sama sekali. Jalan ceritanya bisa dibilang datar-datar saja, tanpa klimaks maupun anti-klimaks. Tidak ada adegan pertengkaran heroik dengan menggunakan senjata api. Tidak ada juga adegan saling mengejar yang membuat jantung berdebar-debar ala suspense atau thriller. Tidak ada pula akhir cerita yang tragis ataupun sebaliknya, membahagiakan seperti yang diharapkan.

Mungkin lebih tepat dikategorikan sebagai film-film festival, sebagaimana film-film pada DVD yang seringkali saya saksikan. Karena memang demikianlah yang tertulis pada sampul depan wadah DVD-nya. Film ini disajikan sebagai penutup Cannes Film Festivals yang ke-60.

Dari segi jalan cerita, mungkin saya sendiri akan dengan cepat merasa bosan dan segera menggantinya dengan DVD yang lain.

Tapi film yang dipenuhi dengan dialog ini, baik pada percakapan yang terjadi antar tokohnya, maupun kata-kata yang merupakan percakapan yang dilakukan dalam hati, saya sungguh tertegun menyimaknya.

Ketika Elizabeth (Norah Jones) bertanya apa yang terjadi dengan blueberry pie yang dijual Jeremy (Jude Law) sampai-sampai pie itu selalu masih utuh setiap kali cafe-nya hendak ditutup, Jeremy memberikan jawabannya.

“There’s nothing wrong with the Blueberry Pie, just people make other choices. You can’t blame the Blueberry Pie, it’s just… no one wants it.”

Atau di akhir grenengan Elizabeth yang tak kunjung terputus, dan tiba-tiba terisak karena teringat akan percintaannya yang terpaksa kandas di tengah jalan, ia menghela napasnya sejenak.

“How do you say goodbye to someone you can’t imagine living without? I didn’t say goodbye. [pause] I didn’t say anything. I just walked away.”

Atau setelah hampir satu tahun terlewati sejak Elizabeth meninggalkan Jeremy dan cafe-nya untuk berkelana mengelilingi Amerika, katanya untuk mencari makna cinta dalam kehidupannya, ia kembali lagi menemui Jeremy.

“It took me nearly a year to get here. It wasn’t so hard to cross that street after all, it all depends on who’s waiting for you on the other side.”

Dan yang terakhir… ini dialog kesukaan saya sepanjang film ini diputar. Saya tidak tahu bagaimana persisnya percakapan itu. Saya sendiri tidak berhasil menemukan quotes-nya terpampang pada hasil pencarian di internet sebagaimana dialog-dialog lainnya.

Jeremy, si pemilik cafe, seringkali dititipi kunci oleh para pengunjungnya. Entah kunci apartemen atau kunci rumah. Kedatangan Elizabeth ke cafe-nya pertama kali juga dimaksudkan untuk menitipkan kunci apartemen yang semula ditinggalinya bersama sang kekasih. Kalau-kalau kekasih Elizabeth datang dan menanyakan apakah kunci tersebut dititipkan kepada Jeremy. Kunci apartemen Elizabeth itu dimasukkan ke dalam toples yang penuh berisi kunci-kunci lain. Kunci-kunci yang tidak pernah diambil oleh pemiliknya. Baru beberapa hari, beberapa minggu, bahkan sampai berbulan-bulan.

Pertanyaan Elizabeth sangat masuk akal buat saya. Iya, kenapa juga Jeremy tetap menyimpan kunci-kunci itu di sana, toh sudah sekian lamanya ternyata tidak pernah diambil.

Dan jawaban Jeremy, jauh lebih masuk akal.

Kunci-kunci itu dititipkan kepadanya dengan harapan bahwa pintu yang terkunci itu suatu saat akan terbuka kembali saat kunci itu diambil. Jika ia membuangnya, sama artinya dia membuat pintu itu terkunci selamanya. Dan bukanlah hak Jeremy untuk mengunci pintu tersebut.

Seketika, saya tertegun. Secara tidak sadar kepala saya terus mengulangi adegan di mana Jude Law mengucapkan kata-kata itu.

Buat saya, apa yang dikatakannya bukan sekedar membicarakan tentang kunci apartemen. Sama halnya dengan hampir semua dialog yang diucapkan sepanjang film itu berlangsung.

Demikian banyak pesan yang tersirat di dalam setiap dialognya.

Dan itulah yang membuat saya luar biasa menyukai film itu.

Mengingatkan saya pada hal-hal yang pernah terjadi pada kehidupan saya. Yang mungkin tidak pernah terjadi pada kehidupan Inayah.

Sehingga, ya jadi wajar saja kalau dia tidak terlalu menyukai My Blueberry Nights sebagaimana saya terus mempromosikan film itu ke sana-kemari. Pengalaman saya dan dia jelas berbeda. Hal-hal yang saya sukai juga belum tentu disukainya.

Kalau saya akhirnya menyukai film yang direkomendasikannya, atau sebaliknya, dia juga menyukai film yang saya rekomendasikan padanya, mungkin itu hanya suatu kebetulan saja. Kebetulan ada hal-hal yang sama-sama kami sukai. Sementara pada banyak hal lain, kami tetap saja berbeda.

Membicarakan hal ini, tiba-tiba mengingatkan saat saya dan seorang teman sedang berjalan di sebuah pusat perbelanjaan. Kami melintasi sebuah toko yang menjual gaun-gaun bermanik-manik yang penuh warna-warni.

“Iiihh… norak bener ya?! Ada gitu yang mau beli di sini?!” tanya saya.

Si teman terdiam, lalu menjawab dengan suara pelan, “Ini toko langganan nyokap gue…”

PS. Buat teman-teman yang sudah saya suruh menonton My Blueberry Nights, maafkan… Saya tidak bermaksud memaksa. Tapi sungguh… film itu memang bagus! *halah, teteup!* :D

23 Responses

on May 19th, 2008 at 5:27 pm iiN Says:

jangan-jangan kunci yang saya cari selama ini ada dalam toplesnya Jeremy… ;D

di toplesnya atau di hatinya?! *jiyeeee piwith* :D

on May 19th, 2008 at 5:49 pm venus Says:

norah jones yg main???? ah, besok nyari DVDnya kalo gitu :D

on May 19th, 2008 at 5:53 pm Gage Batubara Says:

jadi kunci itu kau titipkan disana?

atau kau berencana untuk menggambilnya kembali dan sebaiknya menunggu di rumah?

kenapa harus dititipkan kalau bisa disimpan sendiri?! ;-)

on May 19th, 2008 at 6:12 pm gakpede Says:

lhaa, si mbah bilang ke saya, katanya:
jeremy dan elizabeth itu ternyata filosofi hidupnya jowo banget, pake ngelmu legowo…
jadi serba enak saja dihati

saya malah curiganya kalo mereka itu memang blasteran jawa

on May 19th, 2008 at 7:39 pm gambarpacul Says:

ikut nggak ngerti???

ditonton aja pilemnya biar ngerti :D

on May 20th, 2008 at 12:41 am venus Says:

kemaren dapet dvdnya di mana, jeng? ambassador? aaaaah, penasaran liat akting norah jones, hehehe…

di ratu plaza, mbok… tapi harusnya sih di ambasador juga ada, secara itu yang ‘mbikin’ sama, bukankah?! :D hayooo buruan dicari dan ditonton!

on May 20th, 2008 at 3:06 am elmogran Says:

Gue suka bagian ini:
There’s nothing wrong with the Blueberry Pie, just people make other choices. You can’t blame the Blueberry Pie, it’s just… no one wants it.

belum nonton juga belum download filmnya.

Soundtrack-nya: “Devil’s Highway” – Hello Stranger, Pajaros - Gustavo Santaolalla, Yumeji’s Theme (Harmonica version) - Chikara Tsuzuki. Bagus banget.

yes, i can’t blame you too for not watch the movie yet… hayooo ditonton! :D

on May 20th, 2008 at 5:48 am Mbilung Says:

sweet. beberapa bagian saya ulang2 juga. bagian buntutnya merusak suasana :D

as we discussed it, right?! :D

on May 20th, 2008 at 10:16 am Hedi Says:

saya suka jenis pelem kayak gitu, pelem bagus ga mesti banyak klimaks, suspense atau thriller :D

*tosz! :D

on May 20th, 2008 at 3:03 pm dilla Says:

bagus to mbak? sempet pengen beli dvdnya krn ada si ganteng mas Jude Law tapi ndak jadi…tapi skr mesti jadi beli :) salam kenal ya mbak..

kalo tentang jude law, yaaa itu jelas salah satu alasan (utama) mengapa pilem ini wajib tonton :D anyway, salam kenal juga… makasih ya udah mampir…

on May 21st, 2008 at 8:55 am iway Says:

………. I didn’t say anything. I just walked away.

nendang banget :D bahwa ga perlu alasan buat melakukan atau tidak melakukan sesuatu, just do it

kaya sepatu, dong?! :D

on May 21st, 2008 at 10:28 am ebeSS Says:

. . . . . . ebeSS waiting for you on the other side . . . :P
*ga nyuruh lho . . . .

waahh sayangnya memang kita berseberangan ya, oom ;-)

on May 21st, 2008 at 10:33 am ebeSS Says:

. . . . . *halah, teteup!* :D

on May 21st, 2008 at 2:49 pm aprikot Says:

bagus sebab jude law yg main ya mbak dos?? ah tahulah saya hihihihihihi

ah, mbit… ndak usah diperjelas gitu tho :D

on May 23rd, 2008 at 12:32 am silly Says:

Saya lebih tertarik ngomentarin ini… Quote:

“Iiihh… norak bener ya?! Ada gitu yang mau beli di sini?!” tanya saya.

Si teman terdiam, lalu menjawab dengan suara pelan, “Ini toko langganan nyokap gue…”

kadang tanpa sadar kita suka gitu juga loh (kita???… elo aja kali gue enggak… :D ),

salam,
silly

ngalamin juga tho, mbak?! :D

on May 23rd, 2008 at 2:02 pm ebeSS Says:

@ silly: bisa komen sopan juga sill! . . . wakakakakaka
*eh . . . ini di tempat bu dosen kok ya . . . . rasanya kek di kampus . . . tegang . . . ups . . . . baru ini ada foto dosen demikian menggoda . . . ayo sill . . . jangan mau kalah . . . pasang fotomu yang lebih menggoda dan menantang ituh . . . . :P

on May 24th, 2008 at 2:18 pm woelank Says:

tumben si silly komennya pendek.

@mbakdos
berhubung Blm nonton, jd cm bisa ngebayangin blueberry pienya aja.. hmmm.. anget2…
nyam….

silly lagi agak waras, mungkin :D nah, daripada dibayangin, mending ditonton aja pilemnya ;-)

on May 24th, 2008 at 11:26 pm leksa Says:

Saya pastikan untuk nongton ni film,..
berdialektika itu memang menyenangkan kok, Mbak ;)

sangat! :)

on May 24th, 2008 at 11:37 pm -tikabanget- Says:

ah, blom dapet dapet pilemnya..

memang harusnya kita ketemu pas kamu di jakarta kemaren itu, biar bisa nonton barengan ;-)

on May 25th, 2008 at 2:11 am silly Says:

hahahahahaha… baru nyadar kalo selama ini saya agak kurang waras :D

@ebeSS:… halah… foto saya yg mana??… yg seksi pake batik???, wakakakakaakak… pokoknya ndak ada lah yg ngalahin cantiknya mbak Dos ini.. seksehhh, hehehehehe..

wuaahhh… berarti dirimu harus liyat mbakDos versi aselinya! *hahahaha* :D

on May 30th, 2008 at 4:23 pm me Says:

“my blueberry nights” emang keren. meski blom apal dialognya (baru nonton 2 kali), tapi itu film memang sarat dialog cerdas meski blom sekelas closer sih.

salam kenal, eniwei. udah sering bertandang kesini, tapi baru sekali ini numpang sila :)

stuju! apalagi sama2 ada jude law :P anyway, makasih lho udah sering2 mampir… jangan bosen ya ;-)

on July 25th, 2008 at 9:32 pm dwi Says:

saya justru menemukan makna mendalam dialog-dialog pada The Matrix (tidak termasuk Reloaded & Revolutions) dan trilogi The Lord Of The Rings yang penuh hingar bingar adegan heroik :D

mbakDos: naaahhh kalok gitu mungkin harus nonton pilem ini :mrgreen:

on August 20th, 2008 at 4:10 pm raven Says:

My Bluberry Nights disutradarai oleh Wong Kar Wai. Film2 beliau memang banyak yg mengagumkan walaupun pada awalnya terkesan datar. Film2 nya punya makna yg mendalam & byk dialog yg bikin kita berpikir…& terkesima tentunya.

Mungkin kalo boleh aku saran kan film2 Wong lainnya adl “Chungking Express” & “In The Mood For Love”

Leave a Reply