1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Malam Minggu Tanpa Termangu

“Selamat malam, Mbak…”

“Sore, Mbak,” sahut saya, setelah sempat melirik sekilas pada langit yang masih terang di luar sana.

“Eh iya, masih sore ya?!” si Mbak di balik meja tertawa kecil, “Mau diapain nih?”

Sebenarnya saya sedang ingin dipijat, sangat ingin. Tapi rasanya tempat yang saya datangi ini belum kunjung menyediakan jasa yang tengah saya cari.

“Mmm… creambath deh, Mbak.”

“Atas nama…?”

“Agatha.”

Si Mbak pun segera membawa saya masuk ke dalam, menyusuri jajaran kursi yang menghadap pada cermin di dinding setelah ia menuliskan nama saya pada sebuah buku bergaris. Ia memanggil salah seorang Mbak lain yang sepertinya tengah berada di bagian belakang ruangan itu. Bersamaan dengan munculnya si pemilik nama yang dipanggil, ia pun menyerahkan saya kepadanya.

Mbak berambut merah ini kemudian membawa saya ke belakang. Ia meminta saya duduk di atas kursi yang ditunjukkannya dan merebahkan kepala hingga bagian belakangnya berada di dalam bak pencuci rambut itu. Dan mulailah ia bekerja dengan tangan dan jari-jarinya mengeramasi rambut serta memijat kepala saya.

Saya benar-benar sudah tidak mampu mengingat kapan terakhir kalinya saya menjadi pengunjung di sebuah salon. Beberapa kali saya memang ditugaskan oleh Ibu untuk mengantar beliau menjelang dihadirinya sebuah acara resepsi perkawinan yang akhirnya menjadi acara rutin bersama Ayah setiap akhir pekan. Si Kriwil juga sempat meminta saya mengantarnya untuk creambath atau memotong rambutnya, sementara saya akan duduk tenang di ruang tunggu. Atau langsung pulang kembali ke rumah dan menunggunya menghubungi untuk meminta dijemput.

Ia bahkan menawari saya untuk ikut menyalonkan diri bersamanya. Potong rambut, creambath, merapikan alis, yah… apalah itu. Buat saya, perawatan diri ya cukup menggunakan shampoo dan conditioner saja setiap pagi. Tentunya selain sabun mandi, pasta gigi, dan sabun pembersih wajah. Sehingga, pastinya merapatkan diri pada tempat tidur menjadi pilihan yang jauh lebih menarik untuk menghabiskan akhir pekan daripada sekedar merawat diri yang, notabene, sudah saya lakukan setiap hari.

Sampai-sampai Ayah kadang juga turun tangan menawari saya untuk ikut bersama Ibu atau si Kriwil ke salon. Entah, mungkin gemas melihat anaknya ini punya rambut demikian panjang tapi tidak melakukan perawatan yang semestinya.

Yah, kalau mulai merasa panjangnya rambut sudah mengganggu, atau sedang ingin mencoba model yang berbeda, barulah saya akan menerima tawaran mereka. Itu pun paling-paling hanya dua atau tiga kali dalam setahun.

Alhasil, saya jelas tidak punya salon langganan. Walaupun memang ada sebuah salon yang seringkali menjadi tujuan tetap dalam acara kunjungan dua-tiga kali setahun itu.

Dan sebenarnya, ke sanalah saya ingin pergi sore tadi.

Saya benar-benar membutuhkan tempat yang menyediakan jasa agar saya bisa merelaksasikan diri, karena si Mbak pemijat langganan Ibu belum juga kunjung datang ke rumah. Lantas, di mana lagi saya bisa meregangkan otot-otot ini kalau bukan di salon?! Masa iya mau ke panti pijat?!

Biar berijazah dan tersumpah, belum tentu juga saya ingin ke sana.

Lagipula, malam Minggu ini saya sedang tidak ada rencana berkencan dengan siapapun. Sempat bermaksud mengunjungi si pria pemilik warung makan yang baru saja diresmikan, tapi kok rasanya teramat jauh perjalanan yang harus ditempuh untuk tiba di sana. Niat itu pun segera saya urungkan.

Begitu terpikirkan untuk menyalonkan diri, atau memijatkan diri, lebih tepatnya, satu tempat yang langsung muncul dalam benak saya. Ya salon di mana saya biasa memotong rambut itu.

Masalahnya, festival fashion dan makanan yang dilangsungkan di pusat perbelanjaan di mana salon itu berada baru akan berakhir besok. Ditambah lagi, malam ini adalah malam Minggu. Bisa dipastikan bahwa nyaris sebagian besar penduduk Jakarta sebelah sana itu akan mengunjungi pusat perbelanjaan yang sama. Bisa dipastikan juga, sebagian besar waktu saya akan habis untuk mencarikan parkir bagi si hitam.

Lantaran sedang malas berpikir panjang, saya pun segera memacu si hitam menuju arah pulang. Kalau tiba-tiba saja macet menghadang, mungkin saya jadi punya alasan untuk membelokkannya ke salon langganan itu. Jika tidak, yaaa sudahlah, saya akan menghabiskan malam Minggu dengan berbaring di atas tempat tidur sambil menontoni DVD.

Tapi dasar impulsif!

Rumah yang letaknya sudah tinggal sepelemparan tisu justru saya lewati begitu saja ketika tiba-tiba teringat bahwa salon langganan si Kriwil letaknya cukup dekat. Saya bawalah si hitam ke sana. Toh saya hanya berniat creambath saja dan bukan potong rambut, sehingga tidak perlulah khawatir bahwa rambut akan terlihat aneh setelah keluar dari sana.

Hhh… benar-benar sudah lama sekali rasanya saya tidak mengunjungi salon itu.

Dan bahkan sudah cukup lama saya tidak mengunjungi sebuah salon.

Masih saja khas dengan percakapan yang dipenuhi jargon, di mana hanya para kapster-kapster itulah yang mengerti. Juga dengan kebingungan yang masih saja saya alami saat harus memanggil mereka dengan sebutan ‘Mas’ atau ‘Mbak’.

Untunglah kali ini kapster yang menangani saya bisa dipastikan sebagai seorang perempuan. Walaupun tenaga yang dikeluarkannya saat memijat bagian punggung seusai membungkus rambut saya dengan handuk hangat, rupanya tak ada bedanya dengan laki-laki.

“Mbak, kalo saya mau massage, bisa gak?!” tanya saya tiba-tiba.

“Bisa, Mbak. Mau massage apa?”

“Di sini bisanya apa?”

“Ya, paling tangan sama kaki aja,” lanjutnya, “Ada pijat refleksi sih, tapi orangnya udah mau pulang tuh, Mbak.”

“Mmm… ya udah, kalo gitu tangan sama kaki aja deh…”

Dan akhirnya saya pun menghabiskan satu-setengah jam bermalam Minggu di salon. Yang ternyata menyenangkan juga.

Sambil berharap bahwa pada saat-saat seperti ini, isi kepala saya tidak sering-sering mempertanyakan ini-itu saat tiba-tiba saya berniat melakukan sesuatu ;-)

21 Responses

on May 25th, 2008 at 12:37 am japro Says:

ini lagi impulsif ya mbak?

lagi-lagi, oom :D

on May 25th, 2008 at 1:06 am venus Says:

ada gageeeee….aduh si mbakdos ini amnesia. ada gageeee….huehehehe…

eerggghh… tunggu tunggu… iya, ada gage. di bogor. lantas kenapa, mbok?!

on May 25th, 2008 at 1:49 am didut Says:

jadi pengen facial :D

belum berani menghadapi nyerinya :P

on May 25th, 2008 at 5:07 am gakpede Says:

skr banyak salon baru dibuka, namanya PILKADA
tempat orang nyalon bupati atau gubernur

itu ada di mana aja? biyar saya ndak salah masuk ke sana nanti ;-)

on May 25th, 2008 at 1:41 pm Hedi Says:

lho? kan sekarang udah agak banyak tempat pijat yg bukan sekelas panti atau esek2, macem2 modelnya ada refleksi atau relaksasi…

belum waktunya gajian :(

on May 25th, 2008 at 2:07 pm Riri Audiya Says:

“Mmm… creambath deh, Mbak.”

“Atas nama…?”

“Shrivastava.”

“Mmm.. Maaf?”

ekekek… namanya susah dieja. btw, salam kenal.. :)

selain karena sulit dieja, saya menghindari menyebutkan nama yang itu. ntar dikira saya ini salah masuk. lha kalok dikira harusnya masuk ke toko kain di pasar baru, pegimana?! :| anyway, salam kenal juga ya ;-)

on May 25th, 2008 at 2:45 pm Gage Batubara Says:

kapster yg mau pulang itu kan gw.

@venus: wooooo… senengnyaaaaa

lho, emang situ gak seneng juga?! *hahahaha*

on May 25th, 2008 at 4:23 pm IMAN Says:

wah masih main di friendster ya…banyak sekali temannya ..

* kabar temen FS yang jogjanya gimana ?

temennya mas iman, maksudnya?! :D

on May 26th, 2008 at 6:30 am Dino Says:

Pijat kaki enak ya?
Aku pijat punggung ajalah.. kayaknya lebih enak.
(emang sapa yang mo mijetin kamu din hehe..)

coba nanti saya tanya si mas eh mbak (eh, saya bingung harus manggil dia apa) mau mijet dirimu atau enggak :D

on May 26th, 2008 at 12:38 pm EsTehTawar™ Says:

Ngak lihat karnaval toh?

belum ingin berpegal2 mengendarai mobil ke sana :P

on May 27th, 2008 at 8:19 am aprikot Says:

lho? gage dikemanain mbak dos??

masih di bogor, git :D

on May 27th, 2008 at 3:15 pm palupy Says:

aje gile..gath..sempet2nya lo nulis blog..laporan oy laporan..

eh laporan? apa itu? kayanya pernah denger… :D

on May 28th, 2008 at 12:28 am wandi Says:

enaknya yang bisa punya waktu di malam minggu buat diri sendiri…

iya nih, sebisa mungkin dibisa2in :P

on May 28th, 2008 at 1:35 pm ebeSS Says:

tiap kali klo mau jawab komen2, kok mesti nunggu komen saya lho . . . kasian yang lain pada nunggu . .
jangan biarkan mereka juga termangu . . . seminggu . . . tar gagu . . :P

lha trus dirimu ini ngasih komen terhadap apa? :D

on May 28th, 2008 at 9:56 pm silly Says:

emang gak jadi perawatan seluruh tubuh???… bukannya katanya ketemu pria yg lebay disalon?

kikikikikikikik…

@ebeSs:…duhh, yg GR, hehehehe… :)

entah pria entah wanita, atau apalah itu :D

on May 29th, 2008 at 7:38 am iiN Says:

pijat hati bisa juga gak mbakyu salonnya? kalo bisa aku mau dong. abis hatinya udah pegel2..

wah kalo itu harus salon yang private, in… gak bisa rame2 :D

on May 29th, 2008 at 4:53 pm daniel Says:

blum pernah ngerasain ke salon… :(

layak dicoba lho ;-)

on May 30th, 2008 at 10:26 am fisha17 Says:

salon kecantikan yah??? salon ketampanan ada gak??

yang penuh dengan pria tampan, maksudnya?! :D

on May 31st, 2008 at 9:42 am cempluk Says:

cempluk ke salon pas mau potong rambut itupun 25 menita..bisa kebayang deh betapa bosannya selama 1,5 jam..hehehehe

jelas gak bosen kok… apalagi karena ada si mas eh mbak (aarrgghhh harus dipanggil apa dia ituu??)

on June 4th, 2008 at 5:06 pm bubba Says:

konsumtif ya

ah enggak :P

on June 5th, 2008 at 7:00 am purplenote Says:

Manjain diri di salon dari ujung rambut sampe ujung kaki itu luar biasa ya mbakk… bahkan lebih syahdu daripada dimanjain sama pacar hahahaha…. *curhat*

hahahaha… kalo yang itu, saya gak percaya! :D

Leave a Reply