si Koba
Koba namanya, sebutlah demikian.
Adalah seorang anak sulung dari dua bersaudara. Ayahnya merupakan seorang pekerja yang sangat sukses. Bahkan sepertinya hanya sedikit orang saja yang belum pernah mendengar kesuksesan sang Ayah. Sementara Ibunya, seorang wanita karir yang luar biasa sibuk dengan berbagai kegiatan sosial di sana-sini. Adiknya, yang juga berkelamin laki-laki, tampak mengikuti jejak sang Ayah yang mulai menampakkan sinarnya di mana-mana.
Sedangkan Koba, merasa sangat terjepit di antara keadaan keluarga yang demikian.
Ia merasa prestasinya dalam hal akademis sama sekali tidak bisa dibanggakan. Dimasukkan ke dalam kategori rata-rata pun rasanya tidak memenuhi syarat minimal.
Tapi kalau hal itu dijadikannya sebagai alasan mengapa akhirnya ia mencobai rokok, ganja, sampai putaw, ia sendiri menyangkalnya. Menurutnya, kali pertama ia terlibat dengan berbagai jenis obat-obatan itu, adalah ketika ia masih berusia sangat muda. Sekolah Dasar, kala itu. Dan jelas, belum muncul perasaan terkucilkan dari keluarganya.
Layaknya seorang anak kecil yang serba penasaran, hal itu pulalah yang terjadi pada Koba.
Teman-teman sepermainan mulai menyodorinya sebatang rokok. Kata mereka, rasanya seperti orang dewasa saja jika sudah berhasil menghisapnya tanpa terbatuk. Perkawinan antara gengsi dan juga penasaran, membuat Koba akhirnya menerima batang rokok yang sudah tersulut itu dari tangan si teman. Lalu dihisaplah rokok itu, tanpa terbatuk.
Ternyata hal itu membuat teman-teman lain segera menjadikannya panutan saat itu juga. Karena ternyata hanya dialah yang berhasil menghisap rokok, untuk pertama kalinya, tanpa terbatuk.
Buat seorang anak usia SD, pujian semacam itu sama sekali bukan main-main. Bukan sekedar bangga lagi yang didapat sebagai akibatnya, tetapi seperti sudah hampir meledak saja kepalanya. Dan Koba, menjadikan pujian yang sejenis sebagai suatu bentuk reward yang ingin terus diterimanya.
Menjelang bertambahnya usia, bukan lagi pujian yang ingin didapatnya dengan mengikuti apa yang dilakukan oleh teman-teman. Label ‘keren,’ ‘asik,’ ‘gaul,’ atau apalah itu, sudah tidak lagi mempan padanya setelah ia berhasil melewati masa-masa pertamanya meneguk minuman beralkohol. Ganja, yang semula hanya merupakan proyek coba-coba saat melihat salah seorang teman menggunakannya, pada akhirnya menjadi bagian dari kesehariannya. Rokok, bisa dibilang, hanya menjadi pengganti sesaat saja.
Rasa penasaran yang tidak pernah habis, dan juga keinginan yang luar biasa untuk selalu mencoba hal baru, semakin mendorong Koba mendekat pada obat-obat yang semestinya tidak disentuhnya. Ecstacy, shabu, putaw, cobalah tanyakan padanya apa yang belum pernah dicobanya.
Kondisinya semakin diperparah ketika mulai menyadari keterkucilannya.
Ia tidak lagi merasa memiliki siapapun selain teman-teman tempatnya menggunakan semua obat itu. Ayah dan Ibu memang ada di rumah, juga adiknya. Tetapi Koba tidak lagi bisa merasakan bahwa memang merekalah keluarganya. Alhasil, bukan dengan keluarganya pula ia menghabiskan sebagian besar waktunya. Melainkan dengan teman-temannya itu.
Ketika suatu kali tengah berada dalam kondisi sadar sepenuhnya, dan kembali dipenuhi rasa penasaran, Koba melakukan suatu hal yang menurutnya sendiri adalah hal yang aneh.
Shabu yang tersisa dari pemakaian semalam, diambilnya sedikit. Diletakkannya di telapak tangan dan diteteskan sedikit air ke atasnya. Ia mengaduk beberapa saat campuran itu, dan ditemukanlah suatu hal yang mengejutkannya. Serbuk-serbuk berkilauan tampak jelas di sana, tidak ikut terlarut. Dan tajam. Seketika itu, Koba menyadari bahwa apa yang selama ini digunakannya, juga merupakan campuran serbuk kaca.
Yang lebih mengerikan, sekalipun sudah tahu betul, dan sudah membuktikan juga apa yang ada di dalam shabu yang digunakan, toh Koba belum juga berhenti menggunakan shabu. Bahkan juga ditambah dengan menggunakan putaw.
Ayahnya sudah berulang kali membawanya ke pusat rehabilitasi narkoba. Nama Koba sepertinya sudah pernah terdaftar di pusat rehabilitasi manapun yang ada di seluruh pulau Jawa ini. Dan mungkin selalu diakhiri dengan catatan bahwa yang bersangkutan pergi tanpa pamit, aka. kabur. Berbagai metode yang berbeda, yang diterapkan di tiap pusat rehabilitasi pun pernah diikutinya. Ia bahkan sudah hafal betul dan bisa menjelaskan apa perbedaan dari masing-masing metode. Toh tetap saja tidak berfungsi padanya.
Bukan hanya pusat rehabilitasi yang pernah menjadi tempat tinggalnya. Pondok pesantren, dan bahkan penjara pun pernah ditempati Koba.
Ketika saya bertemu dengannya, di sebuah pusat rehabilitasi narkoba tempat saya menjalani masa praktek, ini sudah kali ketiga (atau keempat, saya lupa persisnya) ia menghuni pusat rehabilitasi yang sama. Dan saat ini, ia sudah merasa cukup lelah dengan menjalani kehidupannya semasa masih bersahabat erat dengan obat-obatan.
Saat masih menyandang status sebagai pecandu, beberapa kali ia sempat terpikir dan menyesali keadaannya. Ia demikian ingin menjadi layaknya orang kebanyakan. Bangun tidur di pagi hari, tanpa harus menggunakan obat, ia bisa mandi dan memulai aktivitas harian. Di siang hari, ia bisa menikmati makan siangnya, tanpa harus menggunakan obat. Lalu sore hari, bisa berkumpul dengan teman-teman, hang out, jalan-jalan, juga tanpa menggunakan obat. Dan akhirnya, malam harinya akan ditutup dengan tidur yang tenang.
Ia sudah pernah mencapai masa itu.
Tapi luar biasa sulit baginya untuk melepaskan diri dari obat-obat yang sudah menjadi bagian dari kesehariannya, di kala reaksi tubuhnya terus menuntut untuk kembali menggunakan obat.
Dan tibalah ia di pusat rehabilitasi narkoba ini, setelah sekian belas tahun menyia-nyiakan hidup hanya untuk sesuatu yang tidak pantas untuk dipertahankan. Begitu katanya.
Duduk di lantai teras, bersebelahan dengan saya, sambil menghisap rokoknya dan menikmati angin sore hari yang sesekali melintas. Ditemani langit yang mulai memerah senja, Koba terus mengisahkan kehidupannya yang penuh warna kepada saya.
Membuat saya tidak tahu harus bereaksi apa.
Tapi ya, saya tidak bisa memungkiri bahwa saya sungguh mensyukuri apa yang ada pada diri saya, sembari menyimak ceritanya.
Saya, bisa dibilang beda tipis dengan Koba.
Tentang rasa penasaran, ya… inilah yang menjadi pusat kehidupan saya. Saya paling tidak tahan jika dihadapkan pada perasaan yang demikian, yang memberikan dorongan luar biasa kuat pada saya untuk mencari jawabannya.
Yang jelas berakibat bahwa saya jadi senang mencoba segala hal yang baru.
Rokok, minuman beralkohol, ya, saya pernah mencobanya. Tapi, bukan obat-obatan, seperti yang dicicipi Koba.
Karena entah kenapa, saya memang tidak pernah tertarik untuk mencoba yang satu itu. Walaupun yaahh… bisa dibilang bahwa saya memiliki teman-teman sejenis Koba, yang sudah rutin menggunakan obat.
Saya tidak tahu apa jadinya jika saya menerima tawaran mereka, sebagaimana Koba menerima tawaran obat dari teman-temannya.
Yang jelas, pasti saya tidak akan ada di pusat rehabilitas narkoba itu sebagai seorang mahasiswa yang tengah menjalani masa praktek. Sayalah yang justru akan menggantikan posisi Koba, atau teman-temannya, yang duduk di samping si mahasiswa dan nyerocos panjang-lebar.
Saya jugalah yang akan membagikan kisah hidup yang penuh warna kepada si mahasiswa.
Seperti yang dikatakan rekan praktek saya, yah… saya memang berstatus sebagai seorang mahasiswa S-2. Tapi di tempat itu, justru merekalah, para penghuni pusat rehabilitasi narkoba itu, yang berperan sebagai para pengajar dan guru yang memberikan demikian banyak ilmunya.
Dan juga memberikan pertemanan yang luar biasa buat saya.
* * *
*Buat teman-teman di pusat rehabilitasi narkoba, terima kasih.
Ketika kalian bilang bahwa menjadi tidak mungkin bagi kalian untuk menuliskan pengalaman dan kisah hidup untuk dibagikan kepada orang lain, karena sudah tidak ada lagi yang mempercayai kalian, I do believe.
Dan untuk itulah saya menuliskan ini semua. Di sini, dan juga di media cetak waktu itu.
Karena hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membalas apa yang sudah kalian berikan pada saya.
* * *
*BIG HUGS*
* * *
PS.
Jangan pernah mencoba mencari seseorang bernama Koba di sana. Karena memang tidak ada. Pastilah tidak akan saya beberkan identitas, dan bahkan nama aselinya. Cukup saya, dan dia sajalah yang tahu


24 Responses
there is always hope!
*bigger hugs*
yeah… always!
mereka yang sudah tobat bisa memberikan pertemanan yang luar biasa karena mungkin sudah pernah merasakan pahitnya pertemanan yang palsu mungkin ya?
dan sudah sepantasnya kita mengambil pelajaran dari mereka karena waktu itu sangat sempit bila digunakan untuk melakukan kesalahan seperti mereka..entahlah..
saya sampe berharap kalo mereka itu dulu gak pernah melakukan ‘kesalahan’. tapi… kalo mereka gak gitu, apa iya mereka bisa bagi2 pengalamannya kaya gitu ya?! ah entah…
oh, ini yg diceritain si gage. di media indonesia? keweeeeennn…..
*aahhh maluw akyuuu*
sangat dilema tatkala orang tua sukses luar biasa, sukses finansial juga namun justru memperparah keadaan si anak utk mencoba2 narkoba…
si koba seharusnya mendapat pendidikan agama dengan porsi lebih besar…agar dia berjalan di jalan yang benar..tentunya karena dorongan orang tua untuk menjadikan anak tumbuh baik..
tulisan yang inspiratif mbak..
yaahh kita gak pernah tau apa yang sebenernya bikin si anak nyoba2… orangtua sukses, kurang dapet pelajaran agama, mungkin salah duanya. lainnya… cuma mereka yang tau
anyway… makasih…
Nice post
Kayaknya sekarang memang banyak orang sukses dengan anak yang tidak terurus karena mereka terlalu sibuk mencari uang. Padahal yang namanya anak pasti butuh didikan dan bimbingan dari orang tua… *duh, kudu gimana besok jadi orang tua ya???*
iya nih… saya juga bingung gimana
Orang jawa bilang…
Ngelmu Iku Kelakone Kanti Laku…
Ilmu itu bisa didapat dengan proses / hidup prihatin.
Kadang kondisi susah dan penuh masalah bisa memberikan pelajaran bagi yang mengalami, melihat, atau mengetahui.
stuju!
saya yakin mahasiswa itu sungguh pendengar yang baik
makasih
eh, ini maksudnya akyu kan?!
Love story
kinda
Ceritanya inspiratif banget deh mbak…
*_^
makasih
emotionally inspiring
thank you
benar,,harapan selalu ada,,selama masih hidup didunia memang harus melihat sisi positifnya
betuullss!!
Saat mereka butuh pendengar yang baik, teman-teman mereka tidak pernah benar2 “mendengarkan” mereka. Bagi mereka obat2 itu adalah pendengar yang baik
yah… mudah2an pendengar yang dicari itu tidak terlalu sulit didapat, seperti obat2nya
Wah g pengen ngasih komen sampe kagak bisa… hehehe..
Tapi satu hal deh.. elu betul mbak dos..
“No person become better if they think more & more but their own self”.
So just keep on give yourself to others..
thank you
finally, you arrived here!
calon preman…
mmm yang calon preman ini sapa ya?! kalo saya sih… mantan *halah!*
suatu peringatan akan pentingnya perhatian keluarga
…sebelum terlambat!
humm.. hormat saya buat mereka yang survive!
saya juga!
hmmmmmm…..maka ingatlah keluarga yang selalu mencintaimu
dan mencintai mereka juga
heeeeeeee . . tulisan ini . . .tulisan ini . . .tulisan ini . . .tulisan ini . . .tulisan ini . . .tulisan ini . . . .
paragraf satu . . . dua . . .tiga . . . empat . . . lima . .
en . . . deoooohh buntutnya mane neeee . .
koba? . . . bukannya jaune . . . .
weeeks . . . kekna sakaw lageee neeee . .
ke tempat rehab itu aja, oom… biar gak sakaw
yah , mungkin mereka butuh sahabat untuk berbagi cerita tentang masa suram itu. nice story mba, salam kenal .
dan juga berbagi cerita tentang segala hal lainnya
makasih yaa… salam kenal juga…
hhmmm…intinya jangan coba-coba ya…kadang orang pengen coba karena penasaran, tapi akhirnya malah terjerat sendiri. serem…
waduh… kalo gak boleh coba2, bisa mati saya!
Yg bisa stop and survive harus dikasih :thumbsup:
iya, sambil terus didoakan biar tetep survive
wahhhh… gile, keren tulisannya. Inspiratif banget.
Makasih jeng. Somehow, saya juga punya sahabat yg sedang terpuruk dan tidak tahu lagi bagaimana mengatasi ketergantungannya. Dan dari mereka saya belajar banyak hal tentang kerasnya kehidupan.
Btw, OOT, yg gak enak dari sesi curhat2 ini adalah kalo si pecurhat jadi merasa ada yg merhatiin dan ada yg dengerin, trus jadi jatuh hati… duhhh… ANOTHER BIG PROBLEM, bukan cuma untuk saya… untuk dia juga, secara, gara2 itu dia jadi sakau sendiri… butuh curhat terus, lama2 depend on us… trus makin ketergantungan… Arrrggghhh, sementara kita juga gak mungkin ngeladenin terus khan?
(pernah ngalamin juga gak jeng)
saya? saya sih gak pernah. tapi SERING!! :LOL:
iya, ya
gmn rasanya sore hari duduk curhat-curhatan
ttg anak yg ga punya ‘temen’ di dlm rumah
*ambil napas panjaaaaaang *
rasanya… mmm nanti coba saya tanyakan pada koba
Hidup tanpa penderitaan memang beresiko fatal. Manusia yg berada di zona aman akan merasa hidupnya hambar tanpa sedikit penderitaan sehingga mencarinya sendiri.
mbakDos: tapi rasanya penderitaan yang dimaksud bukan ke arah narkoba sih ya