Sunshine Made for Love
Saya tidak bisa mengingat kapan terakhir kali saya bangun pagi. Benar-benar pagi, saat matahari bahkan belum menampakkan tanda-tanda akan terbit.
Sekitar seminggu lalu, saat saya harus menghadiri ujian jam delapan, memang saya harus bangun pagi. Mempersiapkan kembali perlengkapan perang, materi presentasi, serta tak lupa menyempatkan diri untuk duduk di sofa ruang tengah untuk sarapan. Tapi saat saya membuka mata kala itu pun, gordijn yang menutupi jendela kamar sudah membiaskan terang sinar matahari, walau sedikit. Dan Ibu sudah sibuk dengan peralatan masaknya di dapur.
Tapi pagi ini, saya sudah terbangun bahkan sesaat sebelum Bapak Satpam komplek memukulkan tongkatnya pada tiang listrik depan rumah kami untuk memberitahukan saatnya sholat subuh.
Semalam saya lelah sekali. Akibat berkendara nyaris sepanjang hari bersama si hitam dan menempuh kemacetan ibukota yang rasanya sudah sangat lama tidak saya jumpai. Belum lagi karena harus mengunjungi beberapa tempat, menenteng barang dan berjalan kaki. Perjalanan pulang menjadi sesuatu yang sangat saya nantikan seharian itu. Agar kemudian saya bisa duduk berselonjor di atas sofa sambil menonton televisi dan menikmati cemilan.
Tapi nyatanya, setiba di rumah saya malahan nyaris tidak punya tenaga untuk duduk. Yang ada, saya justru langsung membaringkan diri di atas tempat tidur yang terletak di kamar tamu, bukan di kamar saya sendiri. Jelas, karena tempat tidurnya lebih besar daripada yang ada di kamar saya, sehingga memungkinkan saya merentangkan seluruh anggota tubuh selebar-lebarnya. Berguling-gulingan ke sana-kemari dan berganti posisi sesuka hati. Kamar tamu selalu menjadi idola saya di saat seperti ini.
Siyalnya, tiba-tiba saya teringat bahwa masih ada tugas yang harus dikerjakan malam ini juga. Karena keesokan harinya sudah harus diterima oleh dosen yang berkepentingan.
Dengan mengerahkan segenap tenaga yang masih tersisa, saya bangun dan mengambil notebook yang masih terbungkus rapi di kantong hijaunya. Menyalakannya dan mulai membuka kembali buku-buku literatur dan juga buku catatan.
Jam 11 malam.
Hhh… Belum waktunya untuk tidur sebenarnya, tapi saya sudah tidak sanggup. Malaaassss sekali rasanya.
Jangankan berpikir mengenai apa yang harus diketikkan melalui keyboard notebook saya ini, membaca tulisan pada buku catatan saya pun rasanya sudah tidak bisa. Saya belum juga berhasil membaca keseluruhan apa yang saya catat, baris kalimat yang harus dibaca pun belum juga berpindah.
Suara kambing mengembik tiba-tiba terdengar. Ada SMS!
“Udh smp mana laporannya?”
“Blm smp mana2.. Teler bgt!
”
“Bobolah dulu.. Ntar jam 3-4an baru bgn lg trus ngerjain.”
Aaargghhh mana bisa???
Dia ‘kan tahu betul betapa saya ini tidak bisa bangun sepagi itu. Wong belakangan Ibu saja sampai menyerah untuk membangunkan saya karena benar-benar kebluk dan tidak bisa diganggu saya ini kalau sedang tidur. Beliau pun sudah pasrah saat melihat anak perempuannya ini baru keluar dari kamar menjelang waktu makan siang.
Lalu saya disarankan untuk bangun jam 3 pagi??
Yang ada, alarm di handphone pasti akan dimatikan lagi. Menyelipkan handphone ke bawah bantal, lalu kembali menarik selimut dan melanjutkan tidur yang sempat terputus. Bisa-bisa tidak selesai laporan saya kalau begitu ceritanya!
“Ntar gak bs bgn
”
“Bukannya percuma kalo kerja skr, gak bs jg kan?! Udah sana, bobo dulu.. Ntar jam segitu aku bgnin deh…” sahutnya.
“Telp ya?! Eh, tunggu.. Trus kamu gak tdr gitu?!”
“Halaahh udah sanaa.. Ntar juga kalo aku ngantuk pasti tidur. Kalo aku gak telp, ya berarti ketiduran
”
Yeee…
Saya pun memutuskan untuk mengikuti sarannya. Saya sungguh tidak sanggup lagi menahan kantuk yang mendera. Kelopak mata ini sudah merekat saja sepertinya, sampai tidak bisa dibuka. Alhasil, notebook kembali ditutup dan saya membuka selimut sebagai gantinya. Tetap memasang alarm di handphone, kalau-kalau yang bertugas membangunkan ternyata sungguh tertidur juga.
Baru saja memejamkan mata rasanya, samar-samar sudah terdengar hentakan beat yang cepat yang disertai dengan lengkingan suara Rihanna. Alarm saya. Sudah jam 3.30 rupanya. Ah, tapi saya ‘kan masih punya waktu setengah jam lagi untuk tetap berbaring dan mengembalikan kesadaran sebelum alarm kedua berbunyi.
Dan benarlah, baru sejenak saya menutup mata, tiba-tiba saja suara yang sama kembali terdengar. Membuat saya harus kembali meraih handphone dan mematikan suaranya. Aaarrgghhh kenapa 30 menit itu cepat sekali??
Baru saja hendak menyelipkan lagi ke bawah bantal, tiba-tiba saja benda kecil berwarna hitam itu kembali berbunyi. Dengan lagu yang berbeda.
“Hayoo bangun! Udah jam 4 nih..”
“Aahh.. iya, iya.. Tadi alarm-nya juga udah bunyi dua kali tuh,” sahut saya malas.
“Ya udah ayo, dikerjain dulu laporanmu,” serunya dari seberang sana.
“Hhh… Baiklah…”
Lagi, saya letakkan handphone.
Nyaris saya selipkan kembali ke bawah bantal, lagi-lagi suara Rihanna terdengar. Ternyata alarm belum benar-benar dimatikan, hanya diperpanjang selama beberapa menit saja.
Aaarrgghhh okay, okay… Saya bangun!!
Dengan mata masih setengah terpejam, saya membuka pintu kamar dan berjalan menuju dapur. Mengambil cangkir berukuran besar dan mengisinya penuh dengan air, lalu saya bawa kembali ke kamar tamu. Berikutnya notebook, serta semua perlengkapan yang sudah dibereskan semalam, lagi-lagi dibuka.
Berat rasanya harus melipat selimut dan meninggalkan bantal yang tampak sangat nyaman untuk kembali ditiduri. Sambil memeluk bantal, saya duduk dan mulai mengetik apa yang belum sempat dikerjakan semalam. Membuka kembali buku literatur dan buku catatan. Menyelesaikan apa yang memang harus terselesaikan hari ini.
Sampai tiba-tiba saja pintu kamar dibuka. Ibu muncul dari baliknya, sementara Ayah berdiri di belakangnya. Sudah rapi dengan baju kerjanya. Saya mengernyitkan dahi, begitu juga dengan Ibu.
“Ini jam berapa tho?!” tanya saya.
“Jam tujuh,” sahut Ibu, masih mengernyit, “Kamu gak tidur?”
“Ya tidur lah…”
“Lha kok jam segini udah ngetik? Apa kamu lagi ngimpi ini?”
“Yeee emang gak boleh bangun pagi?!”
Ayah nyengir saja, sementara Ibu melengos.
Tapi iya, saya sungguh terkejut saat mendengar Ibu menyebutkan ‘jam tujuh’ itu. Padahal rasanya baru beberapa menit lalu saya membuka notebook dan mulai bekerja. Tapi ternyata, itu sudah tiga jam yang berlalu. Gilee… bisa ya bertahan untuk bekerja selama itu tanpa melakukan hal lain, bahkan tidak juga untuk tersambung dengan koneksi internet.
Saya pun meletakkan buku yang semula tengah saya baca. Berdiri menjauh dari tempat tidur dan membuka gordijn serta jendela. Dan di luar sana matahari memang sudah bersinar cerah. Seolah tersenyum merayakan keberhasilan saya untuk bangun di pagi hari. Setelah bertahun-tahun lamanya.
Jangankan Ibu, saya sendiri heran.
Saya pun mencari handphone yang sempat diselipkan di sebelah mana tadi itu.
“Morning, Mr. Sunshine
”
Sent. Delivered.
Tidak ada balasan.
Yah, biarlah. Biar dia gantian tidur, setelah semalaman mungkin harus berusaha keras untuk tetap terjaga agar bisa membangunkan saya pagi-pagi betul.


26 Responses
ayayaya, sibuk sekalih mbak, untung ada mr. sunshinenya yah
dalam beberapa hal sama mbak, tak bisa bangun pagi. alarm disetel setengah jam lebih cepat. alarm disetel untuk dicuekin. dan oleh karenanya, maka saya lebih suka senja daripada pagi, meski sekarang akhirnya penasaran dengan wujud si pagi yang kata para pecintanya adalah keindahan tiada tara *tuink*
btw, salam kenal, mbak agatha *nama yang cantik euy*
mbakDos: iya, saya juga hampir lupa sama wujud matahari… kalo gak ketemu sama mr. sunshine
makasih yaa…
‘morning, sunshine’…
mengingatkan aku pada seseorang. halah sudahlah.
mbakDos: *masih duduk di depan simbok, menanti lanjutannya*
Saya justru iri dengan orang yang tidak bisa bangun pagi. Saya, walau begadang sampe subuh, bangunnya tetap jam 6-an.
mbakDos: baiklah, kita bertukar peran aja! eh gak jadi… nanti kalo udah bisa bangun pagi, sayah tak dapat sms dari mr. sunshine lagih!
kalau saya alaram HP jelas udah gak mempan, hrs beli jam weker yg model kuno yg alarmnya bisa kedengeran 1 RT
mbakDos: kalo yang model begituan, bisa2 sayah yang dipukuli pak satpam, sebagai ganti tiang listrik
Morning Mrs. Sunshine…
wah pagi ini meneruskan bobo lagi ya, tidak mengerjakan tugas…
Have a good morning sleep then..
mbakDos: mungkin udah gak mempan kalo ditelpon… dihampiri aja gimana?
Jadi ingat lagu Chryse..” Pagi Yang Cerah “….
mbakDos: waduh mas imaann… itu kan tentang malam pertama bukan?! aahhhhhh jadi maluuuu
ah . . saat2 tertentu memang nggak perlu diingat posisi idola kita . . .
lantunan stevie wonder lebih dari cukup meneduhkan dua relung hati . . .isn’t she lovely . . . .
mbakDos: yes, he is so lovely!
aku pernah ingat temen yang kerjaannya begadang terus. selama bertahun-tahun dia bilang kalau dia lupa warna matahari pagi. kerjaannya nganggur maen game dan tidur jam 5 pagi.
mbakDos: ah, saya sih daripada main game, mending bertelpon dan chatting
saya, lom pernah berhasil. yang ada malah membatalkan sejumlah janji dan kerjaan kalo jamnya pagi :d
jadi, hasil ujian yang minggu lalu gimana? ;))
mbakDos: sayah juga biasanya gitu… kecuali janjian sama dosen
weehhh ujiannya sakzeus dong ah!
wah bangun pagi itu enak banget…seger
mbakDos: sayah biar dikata udah pernah dicipratin air sama kangmas2 sayah biar bangun pagi, tetep aja gak berasa seger
haha. gue dkk juga punya kebiasaan begadang bila yg laen membutuhkan wake up call. it’s nice, isn’t it. that someone cares….
mbakDos: really nice!
jgn2 mr. sunshine kita samaan mbak dos?? ergh ga ding, meski sama2 tiap pagi hrus dibangungkan dengan suara yg sudah amat sangat diapal dlm relung hati
eh tp bukan gagegoda kan? *teteup*
mbakDos: wooohhhh jadi mr. sunshine-mu itu si goda???
sweeeeeeeeeeeet! that has to be the sweetest thing ever mbak
mbakDos: it is!
waaah…saya juga susah banget tuh bangun pagi. weker henpon 3 biji sering lewat gitu aja~
mbakDos: sayangnya sayah cuma punya satu. tapi sangat manjur tuh
kalo saya ndak bisa bangun pagi mungkin besoknya udah jadi gelandangan di Jakarta…
mbakDos: sayah juga nyaris!
sudah saya bales kok.
mbakDos: balesnya ke nomer yang mana? eehh ke nomer siapa?
*kaget tiba tiba ada lagu antah berantah bersuara*
haduh, kapan ya sayah yang bangunin bapak ibu?
biasanya mereka berangkat sayah masih molor..
mbakDos: *kaget mendengar ’suaramu’*
nggak pake ngiler?
mbakDos: udah dilap
Perfect posting! Perfect blog! Perfect person!
mbakDos: 300 (tiga ratus) dong?! kan 100 dikali 3… *halah!*
errr… boleh pinjam Mr. Sunshinenya barang sebulan?… biar ada yg bangunin saya kalo ketiduran depan laptop… Lagi hectic bgt nih soalnya…
btw, tapi sapa sich ngomong2 Mr. Sunshine ini…
*want to know aja dech*
mbakDos: emangnya saya perpustakaan?? pake menyediakan peminjaman!! ini cuma buat pemakaian pribadi!
Mr. Sunshine aka Mr. Wake-up-call
pasti mempesona sekali ya si laki-laki ini. pic donk?! hehe…
mbakDos: mempesona? jelas! poto? hehehe jangan ah… maluw!
hahaha…rasanya familiar dengan suasana itu
mbakDos: yes, you do!
Sunshine is my main enemy every morning
and no, i’m not a vampire..
just an oversleeper
mbakDos: tosz kalo gitu!
kebluk
lama tak ketemu kata ini
jawaaaaa banget, dan
sama banget spt aku ini, duluuu,
skr sih, mbahnya kebluk
mbakDos: slamat ya kalo gitu
kebluk…. di tempat saya istilahnya ngepluk…
mbakDos: tempat saya… gak ada istilah sih, sebenernya. tapi adanya perilaku!
“mr.sunshine”
i think that’s soooooo romantic
mbakDos: