Ada Apa dengan Rendy?
Saya melenggangkan kaki menuju sebuah salon yang terletak di sudut lantai pusat perbelanjaan ini. Sehabis menikmati masakan Jepang sebagai menu makan siang kali ini, tiba-tiba saja terpikirkan untuk memotong sedikit rambut yang panjangnya sudah mulai tidak karuan.
Dan di saat yang sama, muncullah bayangan wajah si Pendekar Matahari di dalam kepala saya. Dengan bibirnya yang manyun ia akan mengatakan, “Potong aja sana!”
Memang sudah beberapa kali saya memberitahu mengenai rencana untuk memotong rambut. Meminta ijin, lebih tepatnya. Dan percakapan mengenai hal ini pasti akan diakhiri karena dia kemudian ngambek. Lebih parahnya, dia bisa bertahan untuk melakukan hal itu sepanjang hari. Lalu saya akan disibukkan dengan usaha untuk memperbaiki situasi dengan membujuknya, sampai saya lupa niat untuk mengunjungi salon dan memotong rambut.
Geez… it’s a very nice trick of him, don’t you think?!
“Mmm… aku beneran mau potong rambut nih… Ya?!”
“Seberapa?” tanyanya, dingin.
“Dikit aja kok… Cuma mau ngerapiin bagian bawahnya, udah griwis-griwis nih…”
“Bener ya?! Ngerapiin aja??”
“Iyaa…”
Telepon pun ditutup setelah akhirnya ijin didapat. Tentu dengan janji bahwa saya akan melapor padanya segera seusai aktivitas di salon usai. Dia bahkan bermaksud menemui saya sendiri untuk melihat hasil potongan rambut yang dimaksudkan.
Setelah meminta pendapat dari salah seorang teman yang memang cukup sering bergaul di ibukota, termasuk di pusat perbelanjaan tempat saya tengah berada ini, pilihan pun jatuh pada sebuah salon yang letaknya persis di samping restoran Jepang tadi. Saya pun mendekat ke arah pintu kacanya, dan menilik buku menu yang sengaja diletakkan di dekat pintu itu. Tentu untuk membuat perkiraan mengenai biaya yang harus dikeluarkan.
Yaahh… sama lah dengan biaya yang harus saya keluarkan untuk potong rambut terakhir kalinya. Agak mahal memang, tapi toh belum tentu dilakukan satu kali dalam setahun jadi saya pikir tidak ada salahnya. Dan saya ingat betul jumlah lembar uang yang masih tersisa di dompet. Rasanya cukuplah menyisakan beberapa ribu rupiah untuk pulang bersama si hitam, jika saya sungguh bermaksud memotong rambut di salon ini.
“Sore, Mbak… Mau perawatan apa?”
“Sore… saya mau potong rambut nih…”
“Oke… Mau sama siapa, Mbak?”
“Siapa aja deh…”
Si Mbak di balik meja resepsionis mengangguk dan meminta saya duduk untuk menunggu sejenak. Ia melongok ke belakang untuk memanggil seseorang, dan muncullah orang yang dimaksudkannya. Saya pun kemudian dipersilakan masuk mengikutinya, menuju ke sebuah ruangan berisi jajaran kursi hitam besar dengan bak cuci seperti washtafel di belakang tiap kursi itu.
Sambil mencuci bersih rambut saya, si Mas mulai mengajukan pertanyaan pembuka perbincangan. Stylist mana yang biasanya memotong rambut saya, berapa kali dalam satu bulan saya berkunjung, perawatan apa saja yang biasa dilakukan, dan seterusnya-dan seterusnya. Sayangnya, tidak satupun dari pertanyaan si Mas itu yang berhasil saya jawab. Saya tidak pernah menghafal nama para stylist yang memotong rambut saya, karena hampir tidak pernah mereka memotongnya lebih dari satu kali. Apalagi di salon ini, yang notabene baru kali ini saya kunjungi. Ia pun hanya tersenyum-senyum saja mendengar jawaban saya.
Dengan buntelan handuk di atas kepala, saya berjalan menuju ke ruang lain. Ruangan berukuran lebih besar dan lebih terang, dengan jajaran kursi yang menghadap cermin-cermin besar di dindingnya.
Tak lama, muncullah seorang pria lain. And he’s kinda cute, actually.
Rambutnya berpotongan spike ala masa kini, kulitnya putih dan mulus, tubuhnya tinggi, kaos yang melekat di tubuhnya cukup memperlihatkan bentuk yang membuat eerrgghhhh… gregetan! He’s wearing braces, and it makes him even look cuter!
Dan yang paling penting adalah, dia sama sekali tidak tampak melambai. Bukan dengan tampilan khas kapster salon (if you know what I mean).
“Mau dipotong model apa nih?” tanyanya sambil tersenyum dan mengamati rambut saya.
“Dirapiin aja deh…”
“Modelnya mau disamain aja kaya’ gini?”
Saya mengangguk, “Mmm… tapi jangan terlalu pendek ya…”
Yah, bagaimanapun, saya tidak bisa melupakan titah si Pendekar Matahari. Tepatnya, ekspresi wajahnya saat saya memberitahukan niatan untuk memotong, ehh merapikan rambut saya. Matanya yang melotot, bibirnya yang manyun, tangan berkacak pinggang (*mulai hiperbola ya?!).
This cute guy is start doing my hair.
Memainkan gunting dan sisir, memicingkan mata sesekali untuk mengukur panjangnya rambut, lalu menatap ke arah cermin untuk melihat hasilnya. Kemudian mengulangi lagi ritual yang sama, sampai seluruh bagian rambut saya selesai dikerjakannya.
Selesai mengerjakan bagiannya, ia memanggil seorang pria lain yang wajahnya tampak lebih Indonesiana. Ia meminta pria itu untuk mengeringkan rambut saya.
Si pria ini pun mulai memainkan sisir dan hair-dryer sambil berbincang dengan rekan-rekan yang ada di ruangan yang sama, juga sedang melakukan hal yang sama.
“Mas, Jawa-nya dari mana?”
Si Mas tertawa, “Segitu keliatannya ya, Mbak?!”
“Emang enggak?”
Ia tertawa lagi, “Aku dari Brebes. Eh, kalo Mbak orang mana? Kaya’… India-Pakistan gitu?!”
Gantian saya yang tertawa, “Untung cuma ‘kaya,’ Mas… Saya mirip-mirip kok sama situ, Jawa juga.”
Dan semakin serulah percakapan kami. Ia mulai menunjukkan rekan-rekannya yang berasal dari kota yang sama, bagaimana mereka bisa bertemu di salon ini padahal tinggal di kampung yang sama, juga mengisahkan perjalanan hidupnya di Jakarta selama belasan tahun, bahkan kisah cintanya dengan seorang wanita yang menjadi istrinya sekarang.
“Iihhh… kok aku jadi nyerocos terus nih,” katanya saat tiba-tiba tersadar bahwa proses pengeringan rambut hampir selesai.
“Nggak apa-apa, lagi Mas. Aku malah seneng dengernya…”
Ia tersipu, “Eh ngomong-ngomong, emang biasa dipotong sama Rendy ya, Mbak?!”
“Ohh, enggak… Baru sekarang,” Saya bahkan baru tahu bahwa pria ganteng tadi itu bernama Rendy, “Aku jarang banget potong rambut, terakhir aja udah… lebih dari setengah tahun kaya’nya…”
Si Mas mengangguk-angguk, “Tapi bagus kok Mbak, si Rendy. Banyak yang langganannya dia. Dia ‘kan top stylist-nya di sini lho, Mbak!”
Tiba-tiba jantung saya seperti berhenti berdetak.
Top stylist???
Dan seketika itu pula, saya mencoba mengingat baik-baik lembaran yang masih ada di dalam dompet saya. Saya berusaha keras untuk menghitung jumlahnya dengan seksama. Karena pastilah harga yang tertera di buku menu yang saya lihat di luar pintu tadi tidak akan berlaku lagi, buat seorang Rendy!
Aaarrgghhh matilah sayaaa!!!
Mudah-mudahan si Mbak resepsionis tidak memanggil petugas security untuk menggiring saya keluar nantinya karena tidak sanggup membayar.
“Bisa pake debit card gak, Mbak?!” tanya saya setelah si Mbak menyebutkan jumlah nominal yang harus saya bayar. Dan juga setelah saya menghitung jumlah lembaran yang ternyata tidak juga cukup untuk membayar seorang Rendy!
Siyal!
“Bisa kok, Mbak…”
Saya pun menyerahkan kartu yang saya maksud kepada si Mbak.
Dan nyaris menangis karena kesal saat menceritakan apa yang terjadi pada Tuan Pendekar. Saya tahu betul betapa ia berusaha keras untuk tidak tertawa, setidaknya mencoba untuk tidak melakukannya di hadapan saya.
“Ya udah lah… Bagus gak, hasilnya?” tanyanya.
“Bagus siihh…”
“Kamu suka nggak?”
“Iya…”
“Ya udah… Kenapa juga masih dimasalahin? There’s a price to pay for it.”
Saya mengangguk saja mendengarnya.
“Tapi ya nggak semahal itu juga sih harusnya…”
Aaaarrrrggghhhhhhh!!!! Darn youuu!!!
*Judul diadaptasi dari film “Ada Apa dengan Cinta?“


24 Responses
“Ada Apa dengan Cinta?“
ada minta ijin buat potong rambut yang ujung-ujungnya terpalak oleh rendy, trus diketawain, gak bisa apa-apa, cuma bisa nulis di blog.
mbakDos: eeerrrggghhhh pakdhe! kau ini bersekongkol dengan tuan pendekar ya???
Saya shock baca post ini….
baru tahu ada kaum hawa yang tidak kenal nama hairstylistnya….
Nice blog. Loved the name (both the blog’s name and ur name). The design is simple yet elegantly done. Did you design it yourself? Nicely done.
mbakDos: makasih
oh, and the pic of the blog author deserves commendation as well
mbakDos: tentunya! *halah, ngelunjak!*
dipotong?
wah…
ga sayang tuh?
tapi ga papa kok, drpd panjang tapi berantakan..
mbakDos: sayang? iya, tuan pendekar sih bilangnya begitu pada saya!
ahak ahak ahak …. tragedi potong rambut … tp sy dukung pendekar matahari soalnya sy juga penyuka wanita berambut panjang
mbakDos: saya juga suka pendekar matahari!
ooo…jadi gitu ya? beda hairstylist beda harga?
mbakDos: gitulah kira2
jadi nanti di soapsuds aku sptnya harus nanya siapa nama stylistnya and whether he/she is the top stylist or not ya, hmm hmmm
*catet*
mbakDos: betul prim! catat!
tanya kenapa, hairstylist bagus selalu pria
mbakDos: ya kalo wanita, jadinya ayu bukan bagus
Hahaha, tertipu..
mbakDos: banget!
Gw juga ga punya hair stylist langganan. Siapapun deh, asal waktu itu gw emang lagi pengen potong rambut. Mungkin laen kali kalo gak mau kena charge selangit gw harus tanya dulu:
“top stylist-nya di sini siapa?”
setelah resepsionisnya nyebutin nama, tinggal bilang
“selaen dia aja deh…”
mbakDos: …trus dikasih top stylist urutan berikutnya
bwahahahaa akhirnya diposting juga cerita ini..
si rendy nya ngasih puisi gak.. coba di cek dulu mbakyu di tasnya jangan2 nyelip… ;D
mbakDos: sayangnya enggak
ehm.. ehm.. harga mahal karena saya emang kiyut! enak aja situ liat-liat tapi ndak mau bayar lebih!!
emangnya eike cowok apaan??!!
*ngeloyor dengan gaya melambai*
mbakDos: tunggu… rasanya rendy yang kemaren itu kulitnya putih lho… sungguh! ini jadi2an apa ya?!
aahakhakhakhhak *ngakak baca komen rendy palsu*
waaaahhh..pasti muahal bgt itu…sakit ati mbayarnya ya mbak? ahh, tapi hasilnya bagus kan mbak? gapapa lah..hihihihi..
aku juga paling degdegan kalo mo potong rambut..takuuuut..
mbakDos: lhaaa kok takut? takut kalo ditaksir sama kapsternya?
*udah lihat hasil potongannya Super Rendy ini kemaren*
bagus kok Mbak, bagus hasilnya…
xixixixiixixix
mbakDos: kamu ada di salon yang sama denganku ya waktu itu??? *curiga*
pesan moral: teliti sebelum
membelimemesan hairstylist.coba rendynya dipoto. jadi pengen tau tampangnya kayak gimana..
mbakDos: bayangin zam aja… beda tipis lah sama dia… beda jenggot aja…
oooohhh….ini rendy yg dibahas mbilung kemaren? heheheh….
mbakDos: iya, mbok… berminat?
Rendy lekong yang sekong khan…
mbakDos: iihhh mas iman kok tau sih? *curiga*
ahaha… itu mbak chika minta fotonya…
bayangin ndiri aja…
mbakDos: iya, udah disuruh bayangin zam kok…
Waduh.. berarti nanti ta’ coba yang salon disebelahnya aja deh..
Coba dong snapshot before & afternya, dong
mbakDos: before & after masih sama kok kaya versi animasi yang dibikin sama pakDok buat dirimu ituh
ow..rupanya kemaren itu abis potong rambut ya?
mbakDos: bukan, mut… NGERAPIIN rambut
rambutnya dipotong gaya spike y mbak ?
mbakDos: dulu sih nyaris cepak… baru beberapa taun belakangan aja bisa panjang
bwakakakakakkaa… !!
*kapok*
wakakakakaka.. sumpah ngakak.
mbakDos: hush! tutup atuh mulutnya ituh… udah dikelilingi lalat tuh…
udah coba gaya gogon?? hihihi. *kaburrr**
mbakDos: lho emang dikira ini gaya apa?
wakaka… setidaknya hasilnya bagus dan bonus rendy
mbakDos: BONUS!