(tidak tahu mau dijuduli apa)
“Aku kpn ya mbak?”
Sebuah kalimat singkat tertera di layar handphone saya. Hanya beberapa saat setelah saya mengirimkan SMS kepada seorang mahasiswa untuk mengucapkan selamat atas keberhasilannya melampaui sidang skripsi yang sudah sekian bulan dinantikan.
Seorang mahasiswa lain mengirimkan kalimat singkat itu. Dilanda dilema yang teramat sangat. Ia sangat senang mengetahui bahwa sahabatnya akhirnya berhasil menyandang gelar sarjana. Tetapi di saat yang sama, kesedihan juga ikut merayap ke dalam dadanya saat menyadari kenyataan bahwa ia ‘ditinggalkan’ oleh sahabatnya tersebut. Padahal awal mula pengerjaan skripsi justru dimulai olehnya terlebih dahulu, baru kemudian si teman ini menyusul pada semester berikutnya.
Ya, saya tahu persis apa rasanya.
Karena saya juga pernah mengalami hal yang sama.
Tadinya sama sekali tidak tergambar di dalam kepala saya mengenai skripsi seperti apa yang akan dibuat. Tetapi keikutsertaan dalam suatu matakuliah telah menyadarkan saya tentang apa yang sesungguhnya saya inginkan. Dan proses pun diawali dengan memulai diskusi dengan si dosen pengajar matakuliah ini, mencoba mencari sesuatu yang dapat digunakan sebagai titik tolak pembuatan skripsi saya nantinya.
Setidaknya, saya sudah memiliki modal untuk menjalani matakuliah lain berjudul Seminar, yang memang bertujuan untuk mempersiapkan para mahasiswa mengerjakan skripsi. Selama satu semester menjalani matakuliah itu dengan menyusun proposal penelitian, saya bisa melihat dengan jelas bagaimana nantinya proses pengerjaan skripsi itu akan berjalan. Setidaknya, saya sudah bisa memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya.
Toh nilai yang diperoleh dari matakuliah itu bisa digolongkan pada kategori sangat baik.
Memasuki semester berikutnya, saya sudah terdaftar sebagai salah seorang mahasiswa yang secara resmi tengah menjalani proses pengerjaan skripsi.
Dan mulai menyadari bahwa apa yang terjadi sama sekali tidak sesuai dengan apa yang saya perkirakan. Proses pembuatannya sama sekali tidak mudah. Berbagai hambatan yang ditemui selama satu semester itu sempat menggoyahkan niat saya untuk mengganti saja topik penelitian yang semula sudah mendapatkan nilai tertinggi itu. Dosen pembimbing pun sudah beberapa kali memperingatkan saya akan konsekuensi yang mungkin dihadapi jika saya tetap kekeuh dengan topik yang saya ajukan.
Jika hanya lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan, saya tidak terlalu khawatir. Saya sudah lulus semua matakuliah yang harus diambil, dan saya juga tidak sedang terburu-buru. Kedua orangtua pun tidak menuntut saya untuk segera menyelesaikan skripsi itu.
Tapi yang membuat saya nyaris menyerah adalah karena akan sangat sulit bagi saya untuk bisa mendapatkan data yang dibutuhkan, atau setidaknya mencari responden yang sesuai dengan kriteria yang ada. Kalau pun akhirnya si responden ditemukan, ia juga belum tentu bersedia menjadi responden bagi penelitian saya. Mengingat bahwa topik yang saya angkat akan membuka the evil side dari responden itu, yang selama sekian tahun berusaha ditutupi, atau bahkan disangkal.
Bukannya mencoba menyelesaikan apa yang sudah dimulai, saya justru mulai memikirkan alternatif topik penelitian lain, yang saya rasa lebih mungkin untuk diselesaikan. Seiring dengan berjalannya proses pengerjaan skripsi, saya semakin dilanda kesulitan untuk berdiskusi dengan si pembimbing skripsi.
Bukan karena tidak tersedianya waktu, karena ia hampir tidak pernah menolak ketika saya meminta waktunya untuk berdiskusi. Tetapi karena terlalu sulit bagi saya untuk mengikuti alur berpikirnya. Dosen pembimbing saya itu teramat sangat terlalu pandai. Beliau sangat mahir membincangkan berbagai konsep abstrak, sedangkan saya… saya seringkali lebih membutuhkan diskusi mengenai hal-hal yang lebih konkret.
Setelah selama satu semester bersama dalam pengerjaan skripsi, satu semester sebelumnya dalam matakuliah Seminar, dan merasa belum menemukan kemajuan yang berarti dalam skripsi yang tengah dikerjakan, saya pun memutuskan untuk bergeser haluan. Saya tetap ingin mempertahankan topik penelitian seperti semula, namun saya mencoba menjalani proses pembuatan skripsi di bawah bimbingan dosen yang lain. Yang saya harapkan bisa lebih nyambung untuk berdiskusi.
Dan kembalilah saya menelusuri dari titik terendah dalam keseluruhan proses penyusunan skripsi. Memulai lagi semuanya dari awal.
Mencoba menikmati setiap langkah yang harus dilalui, setiap tahap yang harus dikerjakan, yang membuat keyakinan saya akan apa yang dikerjakan itu mulai memudar. Terlebih di saat satu-persatu teman-teman mulai mendaftarkan diri untuk mengikuti sidang skripsi. Lalu mengikuti wisuda, dan mereka pun tidak lagi berstatus sebagai mahasiswa.
Sedangkan saya… melakukan wawancara dalam rangka pengumpulan data penelitian saja belum.
Saya pun mulai menghitung berapa jumlah teman satu angkatan yang tersisa sebagai mahasiswa, seiring dengan berlalunya bulan. Ketika menemukan bahwa jumlah itu semakin sedikit, lagi-lagi saya terserang kekhawatiran sebagaimana yang pernah dirasakan di awal pengerjaan skripsi dulu.
I was stressed out!
Rasa bosan, jenuh, kesal, bahkan putus asa nyaris muncul setiap hari.
Idealisme saya pun semakin goyah. Keinginan untuk menyajikan hasil yang sempurna pada skripsi saya itu, perlahan mulai pudar. Saya hanya ingin segera menyelesaikan skripsi ini, agar bisa lulus dan tidak lagi memperpanjang status sebagai seorang mahasiswa. Masih ingin mendapatkan nilai yang baik untuk skripsi itu sih jelas, tetapi tidak lagi ingin mendapatkan yang paling tinggi.
Hingga perasaan putus asa itu tak tertahankan, saya memberanikan diri untuk membincangkan ini dengan Ayah, sebagai seseorang yang cukup mengikuti perkembangan proses pengerjaan skripsi saya. Saya menyerah dan mengakhiri kepura-puraan bahwa semuanya berjalan baik-baik saja.
Ayah tersenyum mendengarkan rentetan kalimat singkat yang keluar dari mulut saya. Saya bosan dan jenuh. Ingin mengganti saja topik skripsi yang demikian menyulitkan ini dengan sesuatu yang lebih mudah dan dapat diselesaikan dengan segera. Tapi saya tidak bisa. Di sisi lain, saya masih ingin mempertahankan apa yang sudah dari awal ingin saya dapatkan.
“Memperjuangkan apa yang kamu yakini memang nggak akan pernah gampang. Sulit. Sangat sulit. Apalagi kalo apa yang kamu yakini itu beda sama orang-orang di sekelilingmu.”
Titik.
Gosh! I know it, Dad! But what should I do??
Dan beliau tidak melanjutkan lagi kalimatnya, sekalipun saya masih duduk di hadapannya dan menunggu. Ia hanya diam, masih dengan senyumnya. Membiarkan saya menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan yang saya ajukan itu. Seperti biasa.
Saya menengadahkan kepala dan menatapnya.
Tiba-tiba saja saya menemukan sesuatu di sana. Dalam matanya, dan pada apa yang barusan dikatakannya.
Hhh… kalimat itu bukan pertama kalinya saya dengar dari mulut Ayah. Ia sudah beberapa kali mengutarakan hal yang sama, persis. Di saat saya mulai terserang putus asa dan merasa bahwa pilihan saya bukanlah sesuatu yang patut dipertahankan.
Saya tahu betapa ia sangat ingin menunjukkan jalan yang (mungkin) seharusnya saya lalui. Bagaimana ia ingin sekali menggandeng saya menemukan keputusan apa yang seharusnya saya ambil. Tapi ia tidak melakukannya.
Ia hanya mengulang kalimat yang sama dan membiarkan saya memutuskan sendiri mengenai apa yang harus saya lakukan.
Hingga akhirnya saya berhasil menyandang gelar sarjana setelah menjalani lima-setengah tahun masa perkuliahan. Dengan setengahnya dihabiskan hanya untuk mengerjakan skripsi. Dan di saat itu pulalah saya mendapatkan jawaban tentang pertanyaan mengapa saya harus terus memperjuangkan apa yang saya yakini. Melalui hasil akhir skripsi yang, buat saya, (sangat) bisa dibanggakan, itulah jawaban atas semua pertanyaan saya.
Yaahh… mungkin kali ini giliran saya membincangkan hal yang sama kepada si mahasiswa pengirim SMS tadi itu.
*Love you, Dad!*


19 Responses
sudah bilang itu ke ayahmu pagi ini, mbak? that “I love you, Dad!” line?
selamat hari rabu *halah kok kayak ndorokakung
aku kapan yah mbak?
Hmm, hasil manis memang didapat dari kerja keras. Sukses selalu buat jeng..dan Salam kenal tentunya dari saya Jeng, blogger pemula dari lampung…
yaa…yang jelas lebih baik dari saya yang kuliahnya selese 6 tahun dan bikin TA yang ecek2 supaya cepat lulus…
selamat deh ..
jalan ketegaran **judul postingannnya**
mungkin ayahmu lagi sedang ingin ‘berbahasa halus’ neng… :))
apa yang kamu yakini itu mungkin sama dengan ke-keras-kepalaan mu
ha ha ha =))
wah..mirip kayak yang saya alami dua tahun yang lalu, bahkan saya harus ngulang sidang kompre…yang paling bikin senewen, waktu ngeliat satu persatu temen2 satu angkatan mulai diceburi ke kolam wisuda…
lha ya bagus, bisa lulus.
daripada saya, ndak pernah lulus… 
saya akhirnya dulu lulus tepat waktu.
14 semester.
mbakyu, aku juga masih punya pertanyaan
” aku kapan ya mbak?”..
bukan topik itu sih, tapi “topik lain”..
jadi, “aku kapan ya mbak?” ;D
ayahmu mesti hobi nonton wayang… sungguh bijaksana laksana lurah semar…
Ayah itu sumber inspiratif
akhirnya kan selesai juga,
When the going gets tough.. the tough gets going.. and you’ve been the tough one and the survivor one, I must presumed..
I guess, a father will always plays an important role as source of wisdom and “calm under pressure” figure.
enaknya lulus belakangan, dapat kunci sekalian sama gantungan kunci
wah kalau ayah saya waktu itu langsung pergi ke dukun mbak…
skripsi selalu jadi perjuangan tersendiri
thank God… we could made it!
good luck, moga cepet selesai