Gage Batubara
“Kau kpn balik ke jogja?”
Agak lama pesan yang saya kirimkan itu dibalas. Setelah sebelumnya saya justru menolak ajakannya untuk mengunjungi kantor-bersama paman budayawan dan ndorocergas, lantaran masih harus menunggu antrian masuk untuk bertemu dengan dosen di kampus.
Mungkin dia sebal. Karena dia tahu bahwa pertanyaan yang saya ajukan akan diikuti dengan ajakan untuk bertemu sebelum ia memulai kuliah perdananya di Jogja. Tetapi saat dia yang mengajukan tawaran untuk bertemu, justru saya yang (nyaris selalu) tidak bisa.
“Minggu dpn udah mulai kuliah. Knp?”
Thanks, God!
“Tmnin gw ke bandung yuk sabtu bsk…”
Dan selanjutnya, saya sungguh harus menunggu cukup lama sampai balasan pesan saya itu muncul di layar handphone. Saya sudah berhasil mencapai antrian terdepan untuk menemui ibu dosen, melakukan diskusi atas laporan saya, dan kembali ke kantin bersama dengan teman-teman. Belum muncul juga balasan yang saya tunggu.
Yah, sudahlah… Kalau memang dia tidak bisa menemani, sepertinya saya memang harus membatalkan saja rencana untuk bepergian ke sana.
Saya pun berpamitan dengan semua teman yang masih membincangkan entah apa itu dengan serunya. Saya ingin segera tiba di rumah agar bisa tidur dan mengistirahatkan kaki.
“Boleh. Jam brp? Ke sana mau naik apa?”
Thanks, again, God!
Hhh… entahlah… Saya sendiri tidak habis pikir kenapa dialah yang saya minta untuk menemani. Sejak awal saya berencana pergi ke Bandung hari itu, yang muncul pertama kali di kepala saya sebagai orang yang bisa menemani saya adalah dia.
Padahal saya ini benar-benar baru mengenalnya. Satu tahun pun belum ada.
Melalui media sosialisasi yang dimiliki oleh semua orang (aka. Friendster), saya menemukan namanya sebagai seseorang yang ingin menjadi teman saya di media itu. Saya sama sekali tidak pernah mengenalnya. Saya hanya ingat pernah melihat namanya terpampang di antara deretan komentar pada salah satu tulisan milik Mbilung. Karena pria ini tidak mencantumkan alamat blog yang bisa dikunjungi, saya pun lantas membuka-buka kembali arsip lama tulisan Mbilung untuk melihat apakah nama yang sama juga tertera di bagian komentarnya. Ternyata dia meninggalkan cukup banyak komentar di sana-sini.
Langsung saja saya tanyakan kepada si pemilik blog, apakah beliau mengenal seseorang bernama Gage Batubara.
Bukan jawaban yang saya dapatkan, beliau malahan bertanya balik pada saya. Dari mana saya bisa mengenalnya. Percakapan dengan beliau terus berlangsung. Sampai tiba pada kesimpulan bahwa beliau memang mengenalnya cukup baik, sehingga saya tidak perlu khawatir untuk menambahkan dirinya ke dalam daftar teman-teman di media itu.
Saya lupa bagaimana kelanjutannya, hingga kami mulai berbincang-bincang di Yahoo!Messenger. Lebih tepatnya, saya yang lebih banyak bercerita, sementara reaksi yang dimunculkannya sangat minimal. Bahkan di kala saya melontarkan lelucon, responnya masih saja nyaris datar. Keterlibatan kami bersama untuk membenahi rumah baru saya kemudian membuat perbincangan semakin sering terjadi. Hingga akhirnya kami memiliki kesempatan untuk benar-benar bertatap muka.
Beberapa bulan berlalu.
Di tengah pertemuan-pertemuan berikutnya, tibalah kami pada suatu percakapan tengah malam lainnya. Entah bagaimana mulanya, hingga akhirnya kami terlibat dalam sebuah tebak-tebakan. Entah apa yang terjadi pula, tiba-tiba saja saya dengan sok tahunya mengungkapkan sejumlah cerita kepadanya, yang kemudian disebutnya sebagai sebuah ramalan. Ia tidak mempercayai apa yang saya katakan. Saya maklum saja. Toh apa yang saya ungkapkan juga belum ada faktanya. Saya ini juga bukan peramal, punya indra keenam saja tidak.
Lantas keesokan harinya, ia muncul kembali di Yahoo!Messenger dan mengumpat saya habis-habisan. Ternyata apa yang saya katakan malam sebelumnya, betul-betul terbukti.
Saat itulah kami mulai terlibat percakapan sungguhan.
Semakin banyak hal yang diungkapkannya kepada saya. Perihal pekerjaannya, teman-temannya, keluarganya, apapun. Membuat saya kemudian bertanya-tanya, bagaimana mungkin dia bisa dengan sesegera itu mempercayakan bermacam-macam kisah hidupnya kepada saya. Saya dan dia bermula dari sepasang orang asing yang sama sekali tidak saling mengenal. Lalu hanya dalam waktu beberapa bulan, dia sudah menceritakan ini-itu kepada saya.
Saya pun mulai berhenti untuk mencari jawaban atas semua pertanyaan itu, ketika akhirnya sayalah yang justru mulai mengungkapkan kisah hidup kepadanya. Menceritakan sesuatu yang… hanya diketahui oleh segelintir orang saja. Dan kemudian saya memasukkan namanya sebagai salah satu dari gelintiran itu.
Saya tidak tahu bagaimana bisa begitu.
Bagaimana dia bisa dengan mudahnya menceritakan banyak sisi dari hidupnya kepada saya. Dan bagaimana pula saya malahan mulai melakukan hal yang sama kepadanya.
Yang saya tahu, saya merasa telah menemukan sesuatu yang demikian lama saya cari. Sesuatu yang sempat hilang dari hidup saya, yang sempat saya pikir bahwa sesuatu itu sebenarnya tidak pernah ada.
Seorang sahabat. Yang bisa berada di samping saya, untuk sekedar menemani atau mendengarkan setiap cerita yang terlontar dari mulut saya. Yang bisa membuat saya tidak perlu resah memendam perasaan saya sendiri. Yang membuat saya merasa nyaman, hanya dengan menjadi diri sendiri.
Tanpa kemudian harus merasa khawatir bahwa persahabatan itu akan pudar, bersamaan dengan rasa cinta yang tiba-tiba saja diungkapkannya kepada saya. Seperti yang selama ini nyaris selalu terjadi pada persahabatan-persahabatan yang pernah ada sebelumnya.
Thank you for being a very-dear-bestfriend of mine, Goda…



46 Responses
gage baik kok. rajin. helpful. kadang lucu. aman kok mbak
wah…nunggu yang bersangkutan komen deh…
errr… yg pertama kali nanya nomer telepon siapa yah? *siyul-siyul*
he’s sweet as hell, isnt he? cuma belagunya itu yg ngeselin. narsis dan terlalu memuja diri sendiri. cih…
oh well, everybody loves him, I guess. You, me, and everyone else.
buat kamu, goda, aku juga mau bilang tenkyu for being a very sweet person, for being a dear friend.
liat bulan lagi kita? uhuk uhuk….
Sejarahnya kok namanya bisa jadi Goda itu piye? halah kok sejarah (g_doh)
layak masuk ndorotainment nih
selamat nduk…..
at last you found what you’ve been looking for >:D<
(percaya ndak akhirnya, semua ketakutan itu tidak beralasan bukan…
ikut seneng dengernya
akhirnya…pasti lancar deh
Om gage pasti terharu niy…
Hehehehe
weih…. ndorotainment bakal seru kie kekeke
wew … saatnya gage masuk ndorotainment
again? net lover? **halah**
*mantan obat nyamuk*
hmm hmmm hmmm
witing tresno jalarane seko kulino
turut bersukacita…
salam kenal mbak….:)
*bingung..*
…
nganu.. kirain postingannya lebih heboh dari ini…
*kecewa*
lhaa…lama kutinggal, sudah ada pria baru :D.
[…] tentang kawan, saya tersentuh membaca tulisan mbakdos tentang Gage. Saya, bisa dibilang cukup dekat dengan dia (dengan Gage, bukan dengan mbakdos). […]
Ohh, akhirnya jadian yahhh… :p
selamat.. selamat… , terharu deh baca tulisan ini. Tapi hari ini saya udah baca tulisan ttg GAGE ini DUA KALI, semoga gak ada yang ketiga, keempat… kalo sekali dua kali masih enak banget, kalo berlebihan malah jadi ilang esensinya…
Anyway, Gage emang baik yahhh..
prikitiww..gageee..
selamaaattt!
*nyengir baca comment tito*
and the world full of love…..
*so sweet*
cerita yang aneeeeehhhhh……..
opooooooooooooo iki mas20x
maju terus pantang kendur……………
You know it’s you, GAGE…
sekarang tiap nyanyi lagunya STYX yang keluar jadi GAGE dan bukannya BABE.
d’oh!
You’ve got a friend in me…
You’ve got a friend in me
You’ve got a friend in me
When the road looks rough ahead
And you’re miles and miles
From your nice warm bed
You just remember what your old pal said
Boy, you’ve got a friend in me
Yeah, you’ve g…
gage itu baik….
udah pernah nggigit blom :-”
tumben jawaban gage bukan AING TEAAAA !!!
gage teaaa
nunggu ndorotainment, ah..
hmm,aku disuruh baca blog ini oleh mas japs,katanya bisa menghilangkan kebingunganku.. tapi kok makin bingung ya.. hahaha.tapi apapun itu, i’m happy for you Mbakdos n MR.Gage Batubara, for ur frienship, or more than that^^..
kok cuman seginih tho budhe…..?
lanjutane manahhhhhhhhhh
Hmmm, salah satu bentuk apresiasi kita terhadap seseorang, jaman smp dulu ada, smu mulai ngga, kuliah ga ada…. semakin lama aku lihat diriku semakin anti sosial, hehehe
salut buat kalian, sungguh sebuah kisah klasik ..
Kisah Klasik/Kasih* untuk masa depan
*tergantung mana yang cocok
aih aih,ujung-ujungnya cinta…..
hummm..
sirik abis bacanya! seandainya.. (jadi wondering gt…)
aku kira gage ultah.. wuPS..
- postingan nya mbak doS so sweet…-
friendship is sweet, isn’t it?
lha itulah cinta . . .
cukup berat nutup ini dengan postingan baru . . .
jodoh ato seleranya ke-luarjawa2-an ya . . .
memang dah jaminan . . . romantis! flamboyan
*eh dah punya penglaman kok ya . . *
wah udah banyak komennya…aku gak tau harus berkata apa..mungkin hanya bisa berkata apapun yang terjadi dalan kehidupan kita bukan kebetulan tapi kebenaran dan apa yang orang rencanakan untk kita merupakan jalan yang jelas tertulis untuk kita.. you go forward mbak..!! kunjungi aku ya mbak http://puspa.dagdigdug.com/2008/09/23/tagscontinued/
ehm, nunggu undangannya ^^
[…] yang pernah dekat dengannya tidak akan bisa menyangkal hal ini. Tanyakanlah kepada Simbok Venus dan MbakDos, mereka yang mengenalnya lebih dekat ketimbang saya. Bila sebagai teman saja, dia bisa sedemikian […]
oww..jadi ini yang namanya mbakdos
*sambil senyum2 dan mbawa panci di blakang punggung*
kekekeke
mbakDos: oohh ini tho budenya Goda?! *senyum-senyum nyari apa samanya sama Goda*