Selamat Idul Fitri 1429 H
Langit sudah mulai meredup ketika saya melangkahkan kaki ke luar rumah. Sebuah armada taksi langganan sudah menunggu persis di depan pintu pagar.
Selain karena si hitam memang sedang digunakan ayah untuk pergi entah ke mana itu, saya sebenarnya juga sedang malas harus berkendara sendiri. Nyaris setiap hari kemarin itu saya harus bolak-balik ke Depok dan berkeliling kota Jakarta dengan mengendarai si hitam. Lagipula kali ini saya memang hanya akan pergi ke satu tujuan, sehingga rasanya tidak akan terlalu merepotkan tanpa si hitam.
“Selamat sore, Mbak..”
“Sore, Mas.. Kita ke Kelapa Gading, ya?!”
“Baik, Mbak. Sudah tidak ada yang tertinggal?”
“Enggak kok, Mas.”
Si Mas pengemudi taksi pun melajukan kendaraannya menjauh dari rumah saya.
Andi, namanya. Setidaknya, begitulah yang sempat terbaca di kartu pengenal yang terpampang di dashboard depan kursi penumpang di sampingnya itu. Saya sempat melongok sesaat tadi. Ia tampak masih muda, usianya pun mungkin tidak jauh berbeda dari saya.
Yang paling menarik adalah.. it feels like he has a smiley face.
Entah karena apa, Mas Andi ini tampak seperti selalu tersenyum. Lalu saya pikir, memang demikianlah wajahnya.
“Jalanan udah mulai sepi ya, Mas?” tanya saya.
“Iya, Mbak… Orderan juga jadi sepi banget, nih… Ini aja cuma ngandalin orderan doang, udah gak ada yang manggil lagi kalo jalan.”
“Iya, sih… Lho, emangnya Mas gak mudik?”
Rupanya saya mengajukan pertanyaan yang tepat. Mas Andi pun langsung mengisahkan apa yang terjadi, hingga akhirnya ia masih tinggal di Jakarta, mengendarai taksinya dan mengantar saya saat ini.
Ia baru saja menikah, terhitung sekitar satu tahun lalu. Saat itu ia masih menjadi pengemudi armada taksi yang berbeda dari yang tengah saya gunakan ini. Sudah memasuki tahun keenam ia menjadi pengemudi di sana. Tempat tinggalnya pun masih di kawasan Jakarta Barat, lantaran dekat dengan pool taksinya.
Di dekat tempat kosnya itulah ia mengenal seorang perempuan yang kemudian dipinangnya untuk dijadikan istri. Perempuan asal Brebes yang kebetulan juga sama-sama bekerja di Jakarta dan tinggalnya tidak jauh dari tempat kos Mas Andi. Mereka cukup sering bertemu, terlebih saat Mas Andi habis menjalankan tugasnya shift pagi dan sudah kembali ke tempat kosnya di sore hari. Mereka akan bertemu di gang masuk menuju tempat tinggal masing-masing.
Singkat cerita, mereka pun akhirnya menikah.
Lima bulan belakangan, Mas Andi memutuskan untuk pindah dari armada taksi sebelumnya ke armada taksi langganan keluarga saya itu. Entah dengan alasan apa. Bersamaan dengan itu, tempat tinggalnya pun harus berpindah dari kawasan Jakarta Barat ke Jakarta Timur. Dengan alasan yang sama, supaya lebih dekat ke pool taksi kali ini.
Memasuki bulan ketiga menghuni tempat tinggal yang baru, sang istri melahirkan seorang anak perempuan. Kehadiran anak mereka inilah yang saat ini membuat Mas Andi merasa harus merelakan dirinya untuk tidak pulang kampung. Perjalanan yang harus ditempuh akan cukup panjang dan memakan waktu yang cukup lama. Sementara, anaknya masih sangat kecil, dan ia khawatir jika kepergian mereka justru akan membahayakan kondisi kesehatan sang anak.
Lagipula, pasti akan membutuhkan biaya yang cukup besar jika mereka memutuskan untuk mudik. Ia harus mengeluarkan biaya setidaknya empat-ratus-ribu rupiah untuk dua tiket bus ke Jogja, tempat orangtuanya berada. Belum terhitung tiket kembali pulang ke Jakarta. Selama berada di kota asalnya itu pun, pasti masih akan ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan. Jika dipikirkan lebih lanjut, uang THR-nya akan lenyap dengan cepat.
Daripada digunakan untuk mudik, Mas Andi lebih memilih untuk tetap tinggal di Jakarta. Karena pada akhirnya uang yang semula bisa dihabiskan hanya untuk pulang kampung, bisa digunakannya untuk membiayai kebutuhan anaknya yang masih kecil.
Beberapa hari lalu, salah seorang rekan pengemudi taksi menawarkannya untuk mendaftarkan diri mengikuti mudik gratis yang diadakan oleh sebuah perusahaan besar. Ia hanya perlu mendaftarkan diri saja, dan tidak perlu membayar biaya apapun untuk dapat tiba di Jogja.
Lagi-lagi Mas Andi tidak sanggup untuk mudik jika mengingat kondisi anaknya.
Dan ia pun memutuskan untuk tidak pulang kampung tahun ini.
Tidak menyenangkan sih pasti, karena tidak bisa bertemu dengan orangtua dan sungkem kepada mereka. Tetapi ia sepertinya tidak punya pilihan lain. Memang harus ada yang dikorbankan dalam hal ini. Lagipula, ia yakin bahwa keluarganya di kampung akan memahami alasannya tidak mudik kali ini. Toh ia masih dapat menghubungi mereka melalui telepon di hari Lebaran nanti.
Kebersamaan memang akan terasa berbeda, atau mungkin berkurang. Tapi ya memang harus demikian adanya.
Begitu kata Mas Andi.
Yah.. saya paham apa yang dimaksudkannya. Dan apa yang dirasakannya.
Walaupun tidak merayakan Idul Fitri, tetapi saya masih ingat betul bagaimana ibu selalu menyajikan hidangan ketupat beserta opor ayam dan sambal goreng hati di hari itu. Kami sekeluarga kemudian akan berkumpul dan makan bersama di rumah ayah dan ibu ini. Tidak dengan duduk melingkar di meja makan, karena pasti tidak akan muat. Ada yang duduk di sofa, lesehan, atau masih ingin di meja makan, sambil berbincang-bincang mengenai hal-hal yang sama-sama kami tahu. Buat keluarga saya, yang kebetulan merupakan keluarga besar beranggotakan banyak orang, bisa meluangkan waktu untuk berkumpul bersama merupakan momen yang cukup langka.
Sehingga, saya memang tahu betul apa rasanya jika momen di mana saat untuk berkumpul itu sudah di depan mata, tiba-tiba saja harus hilang. Karena saya disibukkan dengan perkuliahan dan pekerjaan, sementara kakak-kakak yang lain pun demikian, sampai akhirnya harus ada yang mengalah dengan tetap mengadakan acara berkumpul tanpa dihadiri anggota keluarga yang lain.
Tapi pada akhirnya, ada sesuatu yang kemudian saya pelajari dari situ.
Walaupun secara fisik tidak bertemu dan berada di tempat yang sama, pengertian keluarga bahwa saya tidak bisa hadir, itulah yang sangat berarti. Mereka tahu betul bagaimana saya sungguh ingin hadir, bagaimana saya mengusahakan berbagai hal untuk bisa bertemu dengan mereka, namun situasi yang ada memaksa saya untuk tidak menghadiri acara itu. Dan justru merekalah yang mengatakan agar saya tidak perlu khawatir, karena mereka mengerti apa yang tengah terjadi.
Buat saya, itulah makna yang sesungguhnya dari sebuah kebersamaan. Makna yang sesungguhnya dari sebuah hari raya.
A part of you has grown in me. And so you see, it’s you and me together forever and never apart, maybe in distance, but never in heart. -by anonymous
Selamat Idul Fitri 1429 H


18 Responses
hal yang sama saya tanyakan ke salah satu mbak-mbak penjaga toilet di suatu mall. ia gak bisa pulang kampung lantaran rela kerja pada saat hari raya demi mencari uang untuk dikirim ke keluarganya…
[…] » baca versi lengkapnya! Posted by shrivastava Filed in Uncategorized […]
sudah beberapa taun ini saya juga gak pulang kampung mbak dos, lama-lama terbiasa juga
alhamdulillah keluarga besar saya masih lengkap dan tinggalny gk jauh2 amat [saya Depok, org tua di Tangerang, kakek nenek di Bekasi..] Yah, doakan saja smoga mas Andi bs ktemu kluarga besarny pas Lebaran taun dpn..
ini jg pertama kali saya terpaksa lebaran ndak di rumah mbak, tahukah mbakdos apa yang saya rasakaaannn?? *lempar mbakdos pakek gayung*
minal aidzin wal faidzin mbak..
^^
aku nggak pernah mudik, lha wong asli surabaya sini aja, heheee… mohon maap lahir & batin, mbakdos
iya…
walaupun tidak merayakan idul fitri, berkumpul di meja makan itu adalah momen yang sangat berharga dan sekarang makin susaah aja untuk mendapatkannya meskipun nggak perlu pake mudik-mudikan…
menyentuh hati..
seperti quotes ini
“keluarga- gurita tersayang dan kita tidak dapat benar-benar terlepas dari tentakelnya, namun dalam lubuk hati kita, kita tak pernah benar-benar ingin lepas”.
(Dodie Smith)
makanya kalo ada kesempatan dipake ngumpul bareng sama keluarga, jangan malling terus dan cari ‘mangsa’ =))
NB:
“A part of you has grown in me. And so you see, it’s you and me together forever and never apart, maybe in distance, but never in heart. -by anonymous”
kayaknya aku pernah denger deh ada yang ngomong gitu padamu nduk… =)) pisss nduk
selamat merayakan hari yg fitri ini mbak dos ….
Forgiveness does enlarge the future.. but sometimes there’s a problem which need complete resolution..
..it’s your call.. your choice reflecting who you are
Met Idul Fitri 1429 H
Jika matahari yang begitu perkasa tak jemu-jemunya menyinari bumi ini …
Maka sudah selayaknya manusia (kita) yang lemah ini tak jemu-jemunya pula untuk saling memaafkan.
Dengan rendah hari kami mengucapkan, Minal Aidin Walfaidzin, Mohon Maaf lahir dan Bathin…
dimulai dari nol lagi yaah
-Setiaji & Keluarga-
jadi kapan atuh nyusul mas andi nya?
*lohh koq :D:D…. ..
maafkan atas kejahilan saya lewat kata-kata
Hohoho.. keputusan Mas Andi untuk tidak mudik (terlepas dari masalah ketidak mampuan biaya), memang sudah tepat. Pemikirannya sudah jauh, mempertimbangkan kesehatan anaknya dan pemanfaatan uangnya untuk hal lain. Ketimbang memaksakan mudik yang akhirnyamalah membahayakan hidup keluarga. Ah… serem
Silaturahmi bisa di hari lain, ketika kondisi lebih aman dan nyaman.
Apa kabar, MbakDos? Lama tak mampir
mbakdos gak ngrayaian idul fitri kan? but still, maaf lahir batin ya jeng
terimakasih, aku belajar satu hal disini