From mbakDos to Revelation
Saya nyaris tidak menyadari bahwa waktu sudah tepat menunjukkan tengah hari, kalau saja dua orang dosen penguji di hadapan saya ini tidak mengulurkan tangan dan mengucapkan selamat karena telah menyelesaikan ujian komprehensif selama sekitar satu jam. Saya pun berdiri dan berjalan menuju pintu untuk kemudian meninggalkan mereka tetap berada di dalam ruangan. Baru saja pintu ditutup kembali, teman-teman di selasar langsung bertepuk tangan sambil memberitahukan satu dengan lainnya bahwa saya telah keluar dari ruangan, dan menyelesaikan ujian.
Satu-persatu mereka menghampiri. Secara bertubi-tubi mengulurkan tangan untuk mengucapkan selamat sambil mencium kedua pipi. Tampak di antara mereka beberapa orang teman yang juga baru saja menyelesaikan ujian yang sama.
Dalam sekian menit kemudian, keriaan pun usai, tak lama setelah lima orang teman yang tersisa masuk ke dalam ruangan masing-masing untuk menempuh giliran mereka.
Sementara beberapa orang yang baru saja menyelesaikan ujian pada jam yang sama dengan saya, telah duduk di jajaran bangku dan berbincang-bincang dengan teman yang lain. Masing-masing mengungkapkan kisah yang menarik selama ujian berlangsung, saat berhadapan dengan dosen penguji. Tapi satu cerita yang sama. Mereka merasakan kelegaan yang luar biasa karena telah mengakhiri seluruh proses ujian selama tiga hari.
Sedangkan saya.. hhh.. saya tidak bisa merasakan apa yang tengah mereka rasakan itu. Entahlah, mungkin hanya belum bisa saja.
Buat saya, proses ujian di dalam tadi tidak berlangsung dengan baik. Bukan hanya karena tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan, tetapi mungkin bahkan lebih buruk.
Dan saya.. saya sama sekali tidak bisa merasakan apa yang disebut oleh teman-teman sebagai sebuah kelegaan. Ya, saya memang menyadari bahwa ujian yang barusan dilewati itu merupakan proses terakhir dari keseluruhan periode ‘perkuliahan utama’ saya. Setelah ujian itu, saya hanya tinggal menyelesaikan tugas akhir serta mengikuti dua matakuliah pada jurusan yang lain selama dua bulan. Meminjam istilah salah seorang teman, selesainya ujian tadi secara de facto telah mengakhiri masa perkuliahan saya.
Sehingga, patutlah saya merasa lega. Apapun nanti hasil yang akan diperoleh.
Tapi nyatanya tidak demikian.
Teman-teman yang tampaknya menyadari bahwa senyuman yang saya tampilkan saat menerima ucapan selamat tadi hanyalah merupakan senyuman basa-basi, segera bertanya tentang apa yang telah terjadi di dalam ruang ujian.
“It didn’t work well,” jawab saya.
Lalu rentetan pertanyaan mengenai detil peristiwa di dalam ruang ujian mulai dilontarkan. Dan saya tidak bisa menceritakannya kembali dengan baik. Tenggorokan saya seolah tercekat, napas saya masih memburu, dan saya sungguh berusaha setengah mati agar gumpalan perasaan tidak tertumpah begitu saja tidak pada tempatnya. Saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengumpat dan memaki.. serta menangis.
Mereka tetap duduk dan berdiri di samping saya, masih menunggu saya bercerita.
Dengan kalimat-kalimat pendek saya memberitahukan apa yang terjadi di dalam tadi. Hingga sampai pada satu titik di mana saya tahu bahwa dalam beberapa saat lagi, saya mungkin akan kehilangan kendali. Saya pun menghela napas sepanjang mungkin dan menghentikan cerita itu.
“Yaahh.. yang penting kan udah selesai, Gat…”
Saya hanya tersenyum. Sama sekali tidak menyetujui pendapat mereka, namun saya juga sedang tidak ingin mengungkapkan ketidak-setujuan saya.
Teman-teman mulai merencanakan ke mana mereka akan bepergian setelah ‘kloter’ terakhir ujian usai. Merayakan kelegaan mereka, sepertinya. Dan mereka pun mengajak saya untuk ikut. Sayangnya, saya sedang tidak ingin merayakan apapun.
Setelah berpamitan kepada semua teman yang masih seru bertukar pengalaman ujian masing-masing, saya bersama salah seorang di antara mereka pun memutuskan untuk makan siang di kantin. Salah seorang teman yang ternyata juga merasakan hal yang sama seperti yang tengah saya rasakan. Bukan kelegaan pastinya.
Acara makan siang kami berlangsung nyaris hening. Duduk berhadapan di meja yang sama, melamunkan perasaan masing-masing, dan membiarkan keriuhan seisi kantin yang mengisi kebisuan di antara kami berdua. Rupanya kami cukup memahami satu sama lain, bahwa memang sedang tidak ada yang ingin dibicarakan. Ketika akhirnya kami mulai memecahkan kebisuan dengan mulai membicarakan hal-hal lain selain ujian yang baru saja dilewati, itu pun tak berlangsung lama. Saya berpamitan kepadanya karena akan pergi ke perpustakaan, mencari buku yang diperlukan untuk mengerjakan tugas akhir.
Dalam perjalanan ke perpustakaan, sebuah pesan singkat saya kirimkan.
“Selesai.”
Belum terhitung menit, sebuah pesan tiba di layar handphone saya sebagai balasannya.
“So, how is it?”
“Bad.”
“Bs ditelp?”
Tak lama, layar handphone saya berkedip-kedip dan tertera sebuah nama di sana, setelah saya memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan sebelumnya.
Saya bersembunyi di belakang jajaran rak buku, mlipir ke salah satu sudut perpustakaan, dan menjauh dari orang-orang di dalamnya. Untuk kedua kalinya, saya masih berusaha keras untuk tidak membiarkan ganjalan perasaan ini meledak begitu saja. Masih dengan kalimat singkat, saya menceritakan apa yang telah terjadi.
Belum saja seluruh cerita dituntaskan, pria di seberang sana meminta maaf karena untuk sementara harus mengakhiri percakapan. Si bos memanggil, begitu katanya. Ia berjanji akan segera menghubungi saya kembali setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya hari itu. Ia ingin agar percakapan kami tidak lagi terganggu.
Satu pesannya sebelum telepon ditutup. Ia meminta saya mencari tempat yang akan membuat saya tidak terganggu jika nantinya harus menangis saat tengah berbicara dengannya.
Ia sangat mengetahui bahwa saya berusaha keras menahan diri agar tidak menangis. Walaupun sebenarnya saya sangat ingin melakukannya. Saya ingin mengungkapkan kekesalan, kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan yang telah menghantui sejak masih berada di dalam ruang ujian. Rasanya sudah tidak sanggup lagi membendung semuanya itu dan berpura-pura tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Seperti ketika berhadapan dengan teman-teman tadi.
Jika saja mereka tahu, saya sama sekali tidak baik-baik saja.
Saya bisa saja langsung mengungkapkan apa yang saya rasakan kepada mereka. Membiarkan diri saya menangis tersedu-sedu dan mengumpat sebisa-bisanya. Mengatakan bahwa saya sama sekali tidak merasakan kelegaan seperti yang mereka rasakan.
Tapi saya tidak bisa melakukan itu.
Saya tidak berhak mengumpat dan memarahi mereka atas sesuatu yang tidak mereka lakukan. Saya tidak punya hak apapun untuk merusak kebahagiaan dan kelegaan mereka setelah menyelesaikan ujian, dengan umpatan-umpatan saya. Bukan kepada mereka saya merasa marah dan kecewa, sehingga tidak seharusnya mereka yang saya marahi.
Ketika mereka bertanya tentang apa yang telah terjadi di dalam ruang ujian, rasanya cukuplah bagi mereka mengetahui apa yang mereka ingin tahu, tanpa saya perlu mengungkapkan apa yang sebenarnya saya rasakan.
Karena yang terakhir itu, memang sengaja saya simpan untuk diri saya sendiri.. dan Tuan Pendekar, tentu saja.
But afterall.. benar seperti apa yang mereka katakan.
It’s done.
Love you, guys!
*judul diadaptasi dari album Genesis: “From Genesis to Revelation“

26 Responses
ni comment pertama bukan yaaa??
huaaa.. susah bgt ya S2 itu mbakdos?? jadi ngambil ga ya?? *pikir2 lagi*
mbakDos: ah justru yang susah-susah begitu kan yang menarik, tet!
beruntunglah situ punya tuan pendekar ya?
mbakDos: sangat, mbok! sangat!
[...] » baca versi lengkapnya! [...]
you’ve done it.
mbakDos: *peluk-peluk pakdhe Mbilung*
beginilah dosen yang menjadi mahasiswa, parameternya jadi tinggi banget.
terlepas dari itu, selamat Ta! Yes! you’ve done it..
mbakDos: *peluk-peluk Si Goda juga* sik ya Tet, kupinjam dulu sejenak Tuan-mu ini untuk dipeluk-peluk
i know exactly how that feels
beuh, ngingetnya aja maleus
mbakDos: hehehe.. gak usah diinget, dirasain lagi aja pok!
congratulations…trust me…it’s all the best of you my dear friend…1 garis blue print-mu udah terlaksana…and prepare for the next line…
once more congrats..
mbakDos: tengkyu banget, cha! trus, kapan nyusul?
been there before mbak dos *hug*
mbakDos: *peluk-peluk prikot juga aahhhh*
yay, you’ve done it!
mbakDos: yaayyy!!! (dance)
wow..susah banget rupanya…?
mbakDos: nggg.. ya gitu deh, we!
congratulation iah mbak’e..saiiah essatu ajah susahnya setengah mati..mu esdua??gag yakin…
(worsihp)
mbakDos: makasih muudd!! lho, kalok essatu susah setengah mati, brarti harus dilengkapi lagi ke esdua, biar gak setengah lagi
congratulation mbakos
(cozy)
mbakDos: (cozy) @alle
keplok keplokkk….
kalau gini sekalian bablas ke S 3 aja ya….
mbakDos: makasih mas imaann!! wah trus kalok saya skolah lagi, kapan nggg.. nganunya mas??
wah kalo kamu S2 jadinya SShrivastava.agatha atau Shrivastavas.agatha atau shrivastava.agathas ?
atau
malah mbaksDos… (bisa dibaca mbakSedots..)
Selamat ya nduk, satu selesai… tinggal minor dan TA
>:D<
mbakDos: yeeeee si oomjaps deehhh!! tapi, makasih juga yaa *peluk-peluk oomjaps juga aahhhh*
ke depan nanti, episod semacam itu bakal banyak ditemui oleh siapapun ketika menjalani hari-hari dlm kehidupan masing-masing
mbakDos: yaahh.. itung-itung pemanasan kali ya
selamat…selamat
mbakDos: makasiiihhhhh
good luck for the next step
mbakDos: terima kasih, dut!
congrats yah, my big sist
mbakDos: thank you so much, my little sist! kapan nyusul?
Jeung.. jauh di dalam hati pasti sebenarnya dirimu merasa lega kok, hanya saja TIDAK PUAS..
ga menyangka yg ditunggu2.. yg membuat hati deg2an hanya dilewati begitu saja tanpa mampu menimbulkan perasaan berhasil yg lebih lagi.. huh.. kalo itu, aku puun.. Nasiblah jd org2 berkecemasan tinggi yg agak perfeksionis & OCD.. hehehehe..
but then again, we have to be grateful that finally that chapter is over.. no matter what!
love u girl:)
mbakDos: nggg.. tidak puas ya namanya? *masih tak yakin* but yes.. I do feel grateful
ayoooo.,…smangat!
mbakDos: semangaattt!
design blognya asik euuy
mbakDos: terima kasih
Hooo, yang di blogspot di-update lagi tak?
mbakDos: waahhh udah enggak tuh, droo.. udah pindahan ke sini.. tapi pastinya tetap senang menerima kunjunganmu kok
keep ur spirit goes up, mbakdos !!
proud to urself.
what will be happen next, its later, not now.
congrats, mbakdos.
mbakDos: I do proud of myself
makasiiihhhhh
Selamet selamet yah
mbakDos: makasiiiihhhhh
euh, bs nanya gak, kayaknya sistem ujian akhir ples kelulusan di mapro UI beda ya ?? *hai, emg mbakdos ini ambil mapro di UI ?*
kompre dl baru minor dan TA ?? jd kompre itu adl ujian penguasaan teori ya ??
kl bener gt, beda ya.
kl kita, kompre adl ujian awal sbg dr proposal tesis alias penelitian kita. kl kompre oke, baru bs maju ke penelitian.
dan kita penelitian musti pake metode experimen (tears), jd musti ngetes efektivitas intervensi yg kita rancang (tears lg)
*ngelirik tesis yg udah setahun nganggur*
*TEARS*
mbakDos: *berpikir keras apa itu mapro.. ternyata magister profesi tho?!*
iyah, saya ambil mapro.. idealnya sih, proses pengerjaan TA itu bareng sama mayor, so pas jalanin minor udah tinggal finishing TA aja. kalo tentang ujian, iya.. kompre mayor dulu, masuk minor, baru habis itu ujian TA. naahh.. jadi ujian TA ya pertanggungjawaban hasil penelitiannya.
kalok saya sih.. nggg.. TA ini sepertinya sama aja kaya skripsi
eh btw, ini kok ngelantur ya?! ckckck..
mbak dos….
dosen yg keren kali ya…. *ngebayangin*
mau dong, belajar ma mbak dos.
pegang makul2 mengerikan itu kan ?? -konstruksi tes, psikometri, penyusunan skala psikologi-
(sick)
mbakDos: emang situ mau kuliyah yang begituan lagi??? untung saya cuma jadi dosen, bukan mahasiswanya!
*eh, what did i say? ‘begituan’??? what the hell am I thinking??*