Tujuh Tahun Menuju Altar
Bu Gath,
Lama tak bersua, walaupun rumah kita dekat. hehe
Lihat sih sering, di Gereja. Tapi udah lama nih gak ngobrol, gak numpang nginep, and gak nebeng. hihihihihi….
Btw, on 8th November you should come to church. It’s my big day.
Begitu baris kata yang dituliskan pada testimonial di friendster saya beberapa bulan silam. Kontan saja, saya langsung memaki-maki sendiri membacanya. Dan tanpa sadar, saya tertawa. Entahlah.. mungkin karena sudah menduga bahwa berita itu akan segera saya terima juga pada akhirnya.
Begitulah saya memanggilnya, juga sebagian besar orang lain yang mengenalnya. Pertama kali bersua dan berkenalan dengannya adalah ketika kami sama-sama menjalani MABIM (akronim dari MAsa BIMbingan.. or something sounds like it), yang dulu lebih dikenal dengan istilah ospek.
Delapan tahun lalu, kami menginap selama beberapa hari di kawasan Cisarua bersama teman-teman satu angkatan dari fakultas yang sama. Saya tidak menempati kamar yang sama dengannya. Karena pada masa itu, saya memang belum sembuh dari penyakit autis yang rupanya cukup akut, saya pun hanya mengenal beberapa orang teman saja yang sering bertatap muka. Dan Dhita bukanlah di antaranya. Saat saya kemudian harus berkunjung ke kamar yang ia tempati, barulah kami mulai berbincang-bincang. Cukup untuk mengetahui bahwa rumah kami ternyata (sangat) berdekatan.
Kembali ke kampus untuk memulai kehidupan yang sesungguhnya sebagai mahasiswa, saya semakin sering bertemu dengannya. Kami seringkali mengikuti matakuliah yang sama, di kelas yang sama, dan jadual yang sama pula. Penasaran, saya pun mulai menambah frekuensi percakapan dengannya. Betapa luar biasa, ketika kami menemukan bahwa kami memiliki jadual kuliah yang betul-betul sama persis.
Sehingga kemudian sama-sama memutuskan bahwa kami bisa pulang kuliah bersama. Hal yang tidak mungkin dilakukan saat berangkat kuliah, karena perbedaan ritual kami di pagi hari.
Alhasil, kami pun selalu terlihat ke mana-mana berdua. Mengikuti kuliah, menjalani kerja kelompok, bahkan pada saat makan siang, saya dan Dhita seolah tidak terpisahkan. Sepertinya segala hal yang terjadi berkaitan dengan perkuliahan tidak pernah ada yang berbeda. Kami juga secara bersamaan menjadi asisten dosen, pada matakuliah yang sama, dengan dosen yang sama pula.
Sampai bahkan salah seorang teman menyebarkan isu, yang sekaligus diberitahukan secara langsung kepada kami, bahwa saya dan Dhita adalah pasangan lesbian.
Sayangnya, hanya dalam beberapa saat kemudian, isu itu segera runtuh bersamaan dengan perubahan status saya. Ya.. saya punya pacar! Semakin anehnya lagi, hanya dalam jangka waktu beberapa hari setelah saya berpacaran, Dhita pun ternyata juga melakukan hal yang sama. Ia juga memiliki pacar.
Saya tidak tahu harus menyebut semua itu sebagai apa. Kebetulan kah? Atau takdir?
Namun sepertinya takdir pada akhirnya telah menentukan jalan hidup saya, yang kemudian tidak lagi selamanya sama dengan Dhita. Saya kemudian memutuskan untuk mengakhiri kisah cinta saya dengan sang kekasih setelah berjalan selama hampir empat tahun, sedangkan Dhita masih saja berlenggang dengan kekasihnya.
Jujur saja, saya sebenarnya tidak terlalu mengetahui bagaimana kehidupan cinta mereka berawal. Yang saya tahu, mereka sama-sama tergabung dalam sebuah organisasi kemahasiswaan. Di sanalah mereka bertemu pertama kalinya. Berbagai kegiatan yang semakin sering diadakan oleh organisasi tersebut membuat Dhita juga semakin sering berinteraksi dengan pria itu. Entah apa yang kemudian membuat Dhita kepincut padanya.
Tapi, satu hal yang saya tahu. Tujuh tahun sama sekali bukan waktu yang singkat untuk menjalin hubungan cinta. Dengan segala tantangan dan badai yang ditemui, Dhita dan sang kekasih mampu mempertahankan apa yang mereka bangun bersama. Dengan berbagai perbedaan yang ada di antara keduanya, pada akhirnya mereka mampu menyatukan keduanya.
Dhita yang seorang penari handal, sementara kekasihnya yang pria kantoran.
Dan hari ini, adalah hari terakhir bagi mereka menyandang status sebagai sepasang kekasih. Karena esok pagi, mereka berdua akan berlutut berdampingan di depan altar, untuk mengucapkan janji pernikahan yang akan menyatukan mereka untuk selamanya.
Congrats, dear!
Gak usah khawatir, gue bakalan nyusul kok ![]()


14 Responses
ditunggu postingan tentang nyusulnya
mbakDos: sayah juga lagi nunggu bisa nyusul kok
wow, banyak yang nikah ya bulan - bulan ini.
gw kapan ya… *autis*
mbakDos: jadi, rampok mau nikah bulan depan? baiklah.. sayah tunggu undangannya.. rumah sayah dekat sama puspa kok
ditunggu iah mbak undangannya..jadi kapan mbak?besok..*loch* (goodluck)
congrats bwd @dhita nya juga..(cozy)
*ngarep bisa slama ituh tuk mnjalin suatu kisah* (lebai)
mbakDos: undangan rapat er-te mau? nanti kutitipkan pada ibu supaya dikirimkan padamu *cih.. berasa punya ibu yang ketua er-te!*
mbakdos kapan??
mbakDos: entar malem!!! (dance) eh tunggu.. maksudnya dateng ke resepsinya dhita kan ya?!
wah segera nyusul? aseekk…asekk.. undangannya yaa.. (dance)
mbakDos: baiklah.. undangan buat chemud nanti diberi tembusan kepadamu juga ya.. kang kopi perlu juga?
sebelum nyusul dhita, palingan party n makan2 dulu doong mbakyu di akhir bulan november ini ;D
mbakDos: hahahahaha.. kau inih! jadi inget perbuatan kaliyan taun lalu!!!
hanny menunggu posting terbaru tentang mbak dos yang hendak menyusul
sekalian skrinsut-nya, karena kalo nggak nanti dianggap hoax hehehe.
mbakDos: baiklah.. nanti kumintakan pada mas iman
saya yang photo prewednya deh
mbakDos: lhaaa.. kalo mas iman yang jadi potograpernya, sayah poto sama siapa dong?! *dikemplang prikot*
klo mbak dos nyusul, aku pun nyusul.
mas iman: pre wed sayaa juga dong
mbakDos: iya tuh mas.. prikot dipotoin *masih menahan diri untuk gak komen seperti balasan pada komen mas iman*
“Gak usah khawatir, gue bakalan nyusul kok ”
Wujud percaya diri yang saya suka
mbakDos: saya juga suka
Lu dulu deh Ta… :p
mbakDos: gue duluan nungguin undangan dari elo?!
saya nunggu undangan big day-nya njenengan :). Hayo hayoooo
mbakDos: besok?!
pernikahan memang indah ketika bermula, tunggu aja apa yang terjadi ketika berjalan
mbakDos: tapi tetap tidak menyurutkan niat saya untuk menjalaninya
karena tidak semua orang senang sama yang indah indah? :p
mbakDos:
ya bukan gitu juga sih maksudnya