Giving Up The Last Night
Pria di hadapan saya ini akhirnya terdiam. Menyandarkan tubuhnya ke belakang, dan menatap keluar ruangan melalui dinding yang terbuat dari kaca.
Lampu-lampu yang berdiri sepanjang trotoar berpendar dengan warna-warninya. Kendaraan melaju dengan kecepatan pelan. Mungkin tengah menikmati suasana malam yang terlalu sayang untuk disia-siakan hanya dengan mempersingkat perjalanan agar sampai di tempat tujuan dengan segera.
Tapi tidak dengannya.
Ia semakin merapatkan tubuhnya ke dinding kaca di sampingnya itu. Meletakkan sikunya pada sandaran tangan dan menopangkan dagu di atasnya.
Sekilas… hanya sesaat, saya melihat sebuah kerlingan di sudut matanya.
Seolah menyadari hal itu, ia segera menghela napas panjang dan meraih cangkir kopinya. Ia menghirupnya perlahan dan meletakkannya kembali ke atas meja. Ia lalu menatap saya, seolah menunggu saya mengatakan sesuatu.
“After all that she’s done to you, you still love her, don’t you?!” tanya saya.
Ia kembali memalingkan wajahnya. Kembali menghela napas. Menarik garis bibirnya, tapi tetap tidak memberikan jawaban apapun atas pertanyaan saya. Dan seketika itu, saya pun tahu. Seperti yang memang sudah saya duga sebelumnya.
“Salah ya, Mbak?” bisiknya.
Gantian saya yang menghela napas, “Enggak. Sama sekali gak ada yang salah dengan itu. Justru sangat wajar.”
Namun tampaknya ia masih belum mempercayai apa yang saya katakan barusan.
Seperti ia masih belum mempercayai apa yang telah terjadi padanya. Bahwa hubungannya dengan sang kekasih baru saja berakhir, tanpa ia pernah menginginkannya.
Hubungan cinta itu memang masih terbilang baru. Hanya dalam hitungan bulan, juga hanya setelah beberapa minggu ia berkenalan dengan wanita yang kemudian menjadi kekasihnya. Tetapi entah apa yang telah dilakukan oleh sang kekasih, pria ini setengah mati jatuh hati padanya.
Dan bahkan membuatnya mulai berniat meninggalkan status player yang sempat terpampang sebagai salah satu bagian dari identitas dirinya.
Lalu di saat segala hal terasa indah baginya, tiba-tiba saja ia terperosok ke dalam jurang. Gelap, tanpa tahu di mana dasarnya. Dan ia pun tidak pernah tahu bahwa jurang itu ternyata ada di hadapannya. Sementara ia masih berpikir bahwa ia tengah melangkah di atas padang rumput yang bahkan tanpa semak belukar.
Sang kekasih tiba-tiba bermaksud mengakhiri hubungan mereka tanpa alasan yang jelas. Merasa tidak nyaman dengan hubungan itu, merasa waktunya sudah banyak yang terbuang yang seharusnya untuk dirinya sendiri, teman-teman, ataupun keluarganya. Dan berbagai alasan lain, yang sebelumnya tidak pernah dikeluhkan sama sekali.
Di awal hubungan cinta mereka, kekasihnya seringkali menuntutnya untuk membuktikan kesungguhan cintanya dalam bentuk perilaku. Dan bukan sekedar ucapan. Lalu berbagai hal pun dilakukannya demi sang kekasih.
Setelah memberikan segala yang dimiliki, tiba-tiba si perempuan berlalu begitu saja. Tanpa ia pernah mengetahui alasan yang sebenarnya.
Si pria ini pun benar-benar kehilangan pijakan.
Ia absen dari segala kegiatannya. Softball, billiard, bermain band, bahkan sekedar berkeliling dari satu bar ke bar lain pun tidak lagi dilakukannya. Berbagai ajakan untuk bepergian dari teman-teman tidak lagi diterimanya.
Berulang kali ia menguatkan dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa hidupnya harus terus berjalan. Dengan atau tanpa sang kekasih. Tetapi berulang kali itu pula, ia terantuk pada batu.. kerikil saja.. yang menenggelamkannya kembali ke dasar jurang, yang bahkan semakin hari semakin dalam.
Terlebih saat ia mengetahui bahwa mantan kekasihnya itu sudah bermaksud menjalin hubungan cinta lagi, dengan seorang pria yang dikenalnya juga. Dalam waktu kurang dari satu bulan sejak perpisahan mereka.
Di saat itu, jelaslah semuanya.
Bahwa segala jenis alasan yang dikemukakan kepadanya saat hendak mengakhiri hubungan mereka dulu, bukanlah alasan yang sebenarnya.
Tapi toh tetap tidak menyurutkan perasaan cintanya kepada perempuan itu.
“Gue sampe mikir, kenapa dulu dia gak bikin gue benci dulu sama dia, baru dia minta putus. Mungkin akan jauh lebih baik ‘kan, Mbak?!”
“Mungkin juga enggak,” jawab saya.
Ia tidak bereaksi. Seolah sudah tahu bahwa apa yang saya katakan itu memang benar. Walaupun ia tidak menduga bahwa akan mendengarnya juga pada akhirnya.
“Kita gak pernah tau apa yang akan terjadi di depan. Even kita berusaha setengah mati untuk menyusunnya dan membuat rencana sesuai dengan yang kita mau.”
Lagi, untuk kesekian kali, ia menghela napasnya, “I know.”
Saya hanya tersenyum. Gantian menyeruput latte dari cangkir milik saya. Menunggunya, mengungkapkan apapun, sedikit saja.
“Kenapa sih, Mbak?” tanyanya lagi, “Kenapa bisa berasa kaya’ gini sayangnya sama orang?!”
Ia kembali menoleh ke luar ruangan. Tampaknya memang tidak menunggu jawaban dari saya. Dan saya pun memang tidak bermaksud memberikan jawaban, atas pertanyaan yang saya sendiri memang tidak tahu jawabannya.
“Masih berharap banget dia SMS gue. Atau paling gak, yaa kalo pas ketemu nyapa aja gitu.”
“Tiba-tiba berasa ada yang ilang aja dalam keseharian lo,” lanjut saya.
Ia tidak menyahut.
Saya tersenyum, “You know.. dalam beberapa hari ke depan, pasti kondisinya akan lebih sulit. Dan godaannya pun makin besar.”
Ia mengernyitkan dahinya, menunggu saya melanjutkan kalimat itu.
“Tell me. Kalo sekarang dia tiba-tiba muncul di hadapan lo, dan minta balik, what would you do?”
Ia masih diam.
Lama.
Tanpa ia perlu mengatakannya, kami tahu apa jawabannya.
“Walaupun dia udah berpacar?” tanya saya lagi.
Ia seperti tercekat. Untuk sesaat menahan napasnya, tapi kemudian menyadari bahwa apa yang saya katakan itu sangat mungkin terjadi.
Yah… I’ve been there.
Dada yang terasa sesak, tenggorokan tercekat, dan sangat sulit bernapas. Berharap seseorang akan mengatupkan bibirnya pada bibir saya untuk mulai memberikan napas buatan. Tidak peduli apakah yang akan diberikannya itu sungguh napas buatan yang saya butuhkan, atau mungkin justru bermaksud memasukkan racun ke dalam tubuh saya. Lalu malahan membuat saya tidak bernapas sama sekali.
Saya sedang sekarat.
Saya butuh apapun yang saya pikir bisa membuat saya tetap bernapas.
Tidak peduli bahwa nantinya napas buatan yang diberikan itu justru membuat saya semakin sekarat, atau bahkan benar-benar mati.
Tidak peduli bahwa seseorang yang mengulurkan tangan pada saya itu hanya berniat menjadikan hubungan kami sebagai suatu hal yang bisa dibanggakan, dan bukan sebagai suatu kedekatan dalam arti sesungguhnya.
“Kalo gitu, kenapa bukan Mbak aja yang ngasih napas buatan itu ke gue?”
“Ogah ah latihan CPR sama brondong. Ribet. Harus ngajarin dulu.”
“Taik ah!”
“No, seriously! Menemukan lo dengan kondisi seperti ini, bukan napas buatan yang akan gue kasih. Trust me.”
__________
If this is where we ended up
Then I refuse to be so hard on myself this time
If everything I have is gone
Then what is wrong in spending time with you
I’ll keep you warm when you hold me tight
‘Cause this might be our only night
This might be the only night
- The Only Night by James Morrison


23 Responses
(senyum)
mbakDos: (senyum) juga
Oh that happens. A lot.
Bicara rasa memang ribet dan seringkali gak masuk akal.
Don’t ask, mbak. I think you already know without me saying anything.
*nyungsep*
mbakDos: namanya juga pe-RASA-an, mbok.. ya jelas untuk di-RASA-kan, bukan untuk di-PIKIR-kan
Hah!??! PITRAA??? Oh.. pria deng :p
mbakDos: rampok mencari pitra? wah tak ada di sini. adanya pria.. *lho, emang pitra itu bukan pria ya?!*
tentang CPR, emm, atau tentang apa ?
mbakDos: ngg.. nganu masdod, tentang napas buatan
Wah… saya not been there jadi saya ga tau. Ternyata cowok bisa terluka sedalem itu yak? *manggut-manggut*
mbakDos: woohhh.. bisa banget, lho!
Hahahahahahaha.. keren!
mbakDos: apanya yang keren sih, bang?! sayah?
kok kayak tau mbak sedang bicara dengan siapa..* menebak dalam hati*
mbakDos: *menjawab dalam hati juga*
hmmmm….
mbakDos: ya, ky?!
kalo udah gitu rasanya ga mau melupakan kenangan itu, meski pait pait pait
mbakDos: tapi kok ya gak kapok ya main cinta-cintaan lagi?!
napas buatannya pake pompa ya matek duong
btw, ngajakin ceting anak2…wrong-wrong solution
mbakDos: sayah suka yang konvensional aja ah, jeng
hal yang meletihkan, sungguh !
mbakDos: tapi juga indah *tsaaahhh indah!*
hhhhhhfffffffff…(menghela nafas…..)
mbakDos: ngasih tisu *lhaa kok tisu?!*
Dari dulu…. beginilah cinta, deritanya tiada pernah berakhir (Tie Pat Kay)
mbakDos: beginilah cinta, selalu bikin nagih (mbakDos)
serasa baca lagi trilogi ashadi siregar tahun 80an . .
“ . . Softball, billiard, bermain band, bahkan sekedar berkeliling dari satu bar ke bar lain pun tidak lagi dilakukannya . . . . ”
mbakDos: lho sayah ini memang seangkatan dengan ashadi siregar kok *lahir taun 80an juga*
c’est la vie.
mbakDos:
Hmmm………..
mbakDos: hmmm (juga ah)
If loving you is wrong… Then I don’t wanna be right
*menyarankan pada mbak dos untuk berbuat “wrong” *
mbakDos: yah, karena itulah sil, sayah bisa menyarankan hal yang sama pada orang lain
duh, jadi ngerasa nggak muda lagi.
mbakDos: ngerasa atau memang?
Beberapa botol vodka biasanya agak membantu…
Dan rikues CPR itu… Doh!!
mbakDos: habis itu sayanya yang tidur di sebelah botol vodka
I wonder if I can give a CPR… a real one, I mean.. as to the loving thing: To err is human, dear..
mbakDos: oohhh kirain kepada sesama domba *berlindung*
One sometime too focus on what they wanna be or do.. its okay.. its their level.. dont put any hope on them..
mbakDos: yaahh itulah.. kadang-kadang emang gak tau (dan mungkin gak berasa) kapan harus berharap dan kapan berhenti
help! I see James Morrison everywhere! XD
mbakDos: termasuk di dalam playlist itunes-mu?
Serasa baca sepenggal novel romantis nie,,,
*Emang romantis ya
*
mbakDos: sayah? romantis? nggg.. iya gak ya?!