My Christmas Present
Ide di dalam kepala menguap seketika saat mendengar seorang teman di meja sebelah bersenandung. Tiba-tiba saja saya tidak tahu apa yang tadi hendak saya kerjakan. Melihat kembali apa saja yang tergeletak di atas meja dan berusaha menelusuri apa yang harus saya lakukan. Dan saya sama sekali tidak ingat.
Hanya karena mendengar teman yang tengah mengetik di komputer itu bersenandung.
Have yourself a merry little Christmas
Let your heart be light
From now on our troubles will be out of sight
Have yourself a merry little Christmas
Make the Yule-tide gay
From now on our troubles will be miles away
Jadi teringat peristiwa beberapa hari lalu.
Masih dengan kaos kutung dan celana pendek yang kusut, rambut panjang yang juga terbelah ke sana-kemari, saya membuka pintu kamar. Setelah sebelumnya membuka jendela dan gordijn, serta melipat selimut. Matahari yang bersinar terang di luar sana seketika memberitahu bahwa ini sudah menjelang siang hari.
Baru berjalan beberapa langkah, saya menghentikannya. Melihat ibu sedang duduk di atas karpet dan menghadap pada.. pohon Natal!
“Lho, udah dipasang?” tanya saya.
“Trus kalo belum, ini namanya apa?”
Ah, dasar ibu!
Saya pun melanjutkan langkah menuju kamar mandi. Memutuskan untuk segera mandi, mengingat dalam beberapa jam saya sudah harus berada di sebuah gedung perkantoran untuk menghadiri rapat dengan para petinggi di sana. Tentunya berdandan akan menjadi suatu ritual yang harus dilakukan sesempurna mungkin kali ini.
Tapi yang terjadi, setelah selesai mandi saya justru duduk berlama-lama di sofa ruang tengah. Sambil memandangi ibu yang masih asyik dengan hiasan-hiasan pohon Natalnya. Membukanya satu-persatu dari kotak masing-masing, membersihkannya dengan tisu atau tangannya sendiri, lalu menggantungkan mereka pada dahan-dahan pohon di hadapannya.
Sesekali ia berputar, memegang dua buah hiasan pada masing-masing tangannya, lalu meminta pendapat saya, manakah yang lebih bagus untuk digantungkan.
Ibu tidak meminta bantuan untuk menghias pohon Natal. Dan saya pun lebih memilih untuk membiarkan beliau menikmati apa yang tengah dilakukannya itu. Hingga akhirnya ibu berdiri menjauh, tampaknya untuk melihat apakah hiasannya sudah sempurna. Membuat saya ikut mencermati pohon natal hasil karya ibu.
Dan agak terkejut menemukan sesuatu yang berbeda di sana.
Beberapa buah tempat berukuran sedang, bertutup, dan dengan bentuk beragam, ditempatkan di bawah pohon. Seperti box kado yang dijual di pusat perbelanjaan, hanya saja ini ada yang berbentuk rumah, bintang, atau berbagai binatang.
Ternyata, itu adalah kotak-kotak hadiah yang sengaja dipersiapkan oleh ibu menjelang hari Natal.
Sebuah ritual yang sebelumnya tidak pernah ada di keluarga kami.
Dulu, hari Natal akan diisi dengan pergi ke Gereja bersama-sama untuk merayakan Misa. Mungkin di tengah malam menjelang hari Natal, atau keesokan paginya saat hari Natal tiba. Sekembalinya ke rumah, kami akan makan bersama sambil berbincang-bincang mengenai apapun yang ingin kami bicarakan. Lalu setelahnya, kami akan menuju ke rumah Budhé untuk merayakan Natal di sana, sebagai anggota keluarga tertua.
Kini, ritual akan ditambah dengan membuka hadiah dari bawah pohon Natal.
Mungkin tidak ada lagi acara ke Gereja bersama di malam Natal untuk mengikuti Misa. Karena kedua orang kakak saya, serta keluarga mereka, sudah memiliki anak masing-masing. Yang jelas tidak memungkinkan bagi mereka untuk mengikuti Misa di tengah malam. Lagipula, saya pun baru kembali dari kantor menjelang tengah malam pada tanggal 24 itu.
Banyak hal yang ternyata telah mengubah hidup keluarga kami beberapa tahun belakangan.
Si Kriwil yang sudah mulai bekerja, saya yang masih saja serabutan antara kuliah dan mengerjakan apapun yang bisa dikerjakan, Mas Tolé dan Mbak San dengan calon juniornya, Mas Jaliteng dan Mbak Ayu dengan keriuhan dua orang pria kecil di rumahnya, Mas Juls yang akhirnya kembali ke Indonesia, serta Mbakyu dan Mas Is yang masih disibukkan dengan usaha rumahan mereka.
Seluruh chaos kehidupan kami masing-masing, yang pada akhirnya tetap membawa kami kembali ke rumah ayah dan ibu. Yah.. pada hari Natal itu.
Satu hari yang.. secara sadar atau tidak, ternyata sungguh saya nantikan kehadirannya.
So sentimental.
Yeah, I know.
Tapi perasaan itulah yang seringkali muncul saat mengingat peristiwa Natal keluarga kami. Perasaan itu pula yang muncul saat saya menyadari.. betapa saya sangat menyayangi keluarga saya.
Betapa saya sangat tidak sabar menantikan datangnya tanggal 25, di mana kami semua akan berkumpul di rumah ayah dan ibu, makan siang bersama, merusuhi seluruh penjuru rumah, bermain kembang api, hingga akhirnya kelelahan dan tertidur. Tanpa sadar, hari sudah berganti menjadi keesokannya.
Dan tampaknya saya memang tidak perlu lagi mencari di bawah pohon Natal box manakah yang bertuliskan nama saya.
I already have my own present. My entire family.
Have a wonderful Christmas, everyone!


10 Responses
[...] » baca versi lengkapnya! [...]
merry christmas, mbak. gak ada open house, makan2 gitu?
mbakDos: ada, mbok. ada roti jala, sapo tahu, soun goreng, sup daging, ada puding dan es buah juga *ditimpuk simbok pake nampan*
christmas is the time when we feel really homesick – even if we’re home.
merry christmas, mbakdos! saya juga gak bisa ikut misa… soalnya ga ada gereja di deket sini :p
mbakDos: selamat natal juga, krisbi!!! ke rumahku aja, deket gereja nih
selamat natal neng..
btw, sms gw gak dijawab sih..
eh.. mbok! mari kita gerayangi rumahnya mbakdos! mesti masakan ibunda sangat nikmat!
mbakDos: kangen aku ya, bang?!
merry x-mas mba… GBU
mbakDos: makasih
selamat hari natal, semoga Kristus memberkati.
mbakDos: terima kasih, oom
he2 seneng bagt yah dapet kado…
salam kenal, v3
http://duniapsikologi.dagdigdug.com/
mbakDos: he-eh, apalagi dapetnya sejak lahir
merry X’mas mbak.. harusnya saya mampir untuk beramah tamah dalam rangka natal.. sapa tau dapet kue natal.. XDXDXD *digiles pohon natal*
mbakDos: *nggiles puspa pake kue natal* halah.. yang ada dia seneng ini sih!
nggak ada kata terlambat untuk menyampaikan “Selamat Hari Natal, DamaiNya ada di bumi dan hati kita semua ” Salam ..
mbakDos: makasiiihhh
Selamat Natal MbakDos.
Maap telat, tapi daripada gak sama sekali. Ya toh?
JLU
mbakDos: selamat natal juga *sotoy kalo dirimu juga merayakan natal*