Balada si Sonih
Saya bingung.
Apalagi yang harus diperbuat pada si Sonih, handphone saya tersayang itu.
Ia mendadak mutung. Layarnya tiba-tiba berwarna putih, dan pesan yang tengah saya ketikkan hilang seketika. Saya coba mematikannya, masih belum berhasil juga. Ia tetap berkeras memunculkan warna putih itu saja untuk memenuhi layarnya. Jalan terakhir pun saya tempuh. Melepas baterainya, hanya untuk mematikannya barang sejenak, baru kemudian menghidupkannya kembali.
Yah, saya mungkin memang berburuk sangka padanya.
Mungkin si Sonih bukannya mutung. Mungkin ia memang sudah semakin tidak sanggup memikul beban hidupnya yang semakin berat, walaupun memang usianya belum terlalu lanjut (*tsaahhh.. mulai lebay!).
Karena peristiwa seperti ini bukannya yang pertama kali terjadi. Juga bukan kedua atau ketiga. Setelah selama hampir tiga tahun ia dengan setia mendampingi saya.
Saya masih ingat persis bagaimana saya mendadak jatuh hati padanya waktu itu.
Saya berniat menggantikan handphone saya yang sebelumnya, tapi masih belum tahu hendak menggantinya dengan yang mana. Saya juga sudah mulai mendaftar handphone apa saja yang memenuhi keinginan saya untuk dibeli. Dengan pertimbangan fitur ini-itu, tampilan harus yahud, dan jelas masalah harga jadi pertimbangan utama juga. Karena ini pertama kalinya saya bermaksud membeli handphone dengan uang saya sendiri.
Lalu muncullah si Sonih. Yang tiba-tiba masuk saja ke dalam daftar itu juga.
Handphone seri w810i, berwarna hitam dan bertubuh semok (*okay, I know what you’re thinking!! Just like the owner, does it?!).
Daya pikatnya yang pertama, jelas karena kemampuan bermusiknya yang luar biasa. Ia tidak hanya bisa menyimpan banyak lagu di dalamnya, tetapi suaranya pun arrghhh.. hebat! Dentuman drum dan bass dari musik-musik Aerosmith dan RHCP, besutan gitar Slash dan Santana, dinamika melodi EWF dan Justin Timberlake (*d’oh!), atau hanya merdunya suara Al Jarreau dan Rick Price (*another d’oh!), terdengar sempurna. Dan dengan cancelling-noise earphone yang dimiliki si Sonih, saya seperti tengah mendengarkan mereka semua melakukan aksi panggung tunggal buat saya seorang.
Saya bahkan dengan sengaja menambahkan memori eksternalnya menjadi 512 MB. Agar kebutuhan telinga saya terpuaskan. Belum lagi salah satu fitur andalan si Sonih adalah bahwa saya tetap bisa membawanya dalam perjalanan dengan pesawat udara, tetap mendengarkan musiknya tanpa mengganggu navigasi penerbangan. Karena saya hanya menyalakan fungsi walkman-nya saja, tanpa fungsinya sebagai telepon.
Dan yah, setelah menyadari kesempurnaan dalam bermusik itu, barulah kemudian saya melirik fitur-fitur lainnya dari si Sonih.
Memang tidak mengecewakan.
Saya bisa melakukan apapun dengannya, dengan cara yang sangat sederhana. Terutama perihal penjadualan dan penyimpanan nomor-nomor penting (bukan nomor telepon) milik saya yang mestinya tidak saya lupakan. Yah, kedua hal itu memang selalu jadi kelemahan saya.
Lalu, saat berhadapan dengan si mbak di bagian kasir, honor yang diperoleh setelah selama dua bulan bekerja dalam satu project pun langsung kandas. Hanya menyisakan beberapa ratus ribu rupiah saja. Tapi saya berhasil membawa si Sonih pulang.
Sampai saat ini.
Belum pernah satu kali pun saya membawanya berobat, atau bahkan sekedar memeriksakan kondisi kesehatannya. Karena ia memang tetap dalam kondisi prima.
Namun mulai melemah beberapa bulan lalu.
Memunculkan warna putih yang memenuhi seluruh layar, seperti apa yang barusan terjadi, sudah cukup sering dialaminya. Terutama saat saya sedang sibuk mengirimkan pesan singkat berupa ucapan hari raya kepada semua orang yang nomor handphone-nya terdaftar di phonebook si Sonih.
Kadangkala, ia tidak mampu mendeteksi memory card-nya sendiri. Sekalipun tetap terpasang pada tempatnya, tidak pernah dipindahkan atau sekedar dibuka, tiba-tiba ia tidak mampu mengenali bahwa memory card-nya ada di tempat semula. Akibatnya, semua file yang tersimpan di memory card itu pun tidak bisa diakses, termasuk lagu-lagu tadi.
Makin lama, si Sonih juga makin lamban bereaksi. Saat saya menekan tombol-tombolnya, butuh waktu beberapa saat baginya untuk kemudian memunculkan reaksi seperti yang semestinya.
Ia memang tidak pernah tersentuh air sedikit pun. Apalagi tercebur ke dalam ember berisi air, seperti yang beberapa kali terjadi pada handphone milik ayah (dan Kakang).
Tapi.. ya, ia memang pernah (baca: beberapa kali) terkena gegar otak.
Si Sonih sudah beberapa kali terjatuh dengan hebatnya menghantam lantai. Pingsan sesaat, tidak ada luka apapun pada sekujur tubuhnya, tapi saya tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan organ bagian dalamnya.
Mungkin inilah saat saya mendapatkan jawabannya.
Saat si Sonih akhirnya memberitahukan saya mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Setelah saya selalu beranggapan bahwa tidak terjadi apapun padanya. Semua gejala pun tiba-tiba muncul di saat yang bersamaan, yang sebelumnya tidak pernah terjadi sama sekali.
Mungkin memang ini sudah saatnya saya sungguh mewujudkan apa yang seharusnya sudah dilakukan beberapa bulan lalu. Mencari pengganti (*hhh.. I really don’t want to use that terminology) si Sonih.
Saya punya dua pilihan sebenarnya.
Satu, tetap mempertahankan si Sonih, bukan saja dengan konsekuensi bahwa setiap gejala penyakitnya (mungkin) akan semakin parah, tetapi juga kemungkinan bahwa akan ada kesulitan-kesulitan baru karena kebutuhan mobilitas saya terhambat.
Atau kedua, yaa.. dengan berat hati harus melepaskan si Sonih dan menggantinya (*oh, this term again!) dengan yang lain.. setelah apa yang kami lakukan bersama selama beberapa tahun ini.
Pilihan yang sama-sama tidak menyenangkan. Sangat tidak menyenangkan, sebenarnya.
Tapi akhirnya, saya sudah memutuskan. Walaupun butuh waktu nyaris satu bulan.
Pada pilihan yang kedua.
Yah, saya memang bermaksud menggant.. (*okay, enough with this term) si Sonih.
Mencarinya juga tidak mudah. Dengan segala pertimbangan ini-itu, termasuk jumlah nominal yang harus dikeluarkan. Karena saya masih tidak mau menadahkan tangan kepada ayah atau ibu hanya untuk membeli sesuatu yang.. memang untuk kebutuhan saya pribadi.
Berbagai pertimbangan dilakukan karena ingin memastikan bahwa saya memang akan mendapatkan yang lebih baik dari si Sonih.
Kalau mau mengikuti keinginan sih, saya rasanya masih malas untuk melepaskannya.
Tapi bagaimanapun juga, saya ‘kan juga tidak bisa memaksanya melakukan sesuatu yang tidak bisa ia lakukan. Jadi yaa.. mau-tidak mau ya harus mengalah untuk memilih pilihan lain. Ya itu tadi, mencari yang lain, yang lebih compatible dengan apa yang saya butuhkan.
Okay Tha, be honest then. Is this story about si Sonih?
Err.. what do you think? ![]()


17 Responses
Sonih saya – dengan tipe dan warna yang sama – saya bunuh tanpa sengaja beberapa bulan yang lalu
mbakDos: krisbiiiii
waduh ko ngadat gitu yah….capek kalee si sonih nya…salam knallll
mbakDos: iya, sudah harus pake penopang hidup pula tampaknya.. salam kenal juga
Hmm tapi belum geter-geter sendiri kan Mbak? (tanpa ada angin taupun ujan)
mbakDos: itu kan vibratormu, eh.. handphone ya?! ngg sebenernya handphone atau vibrator sih ning?!
so is it really about the phone? :p
mbakDos: what do you think, nima?
….
Saya dulu suka pake Ringer ID, ada caller spesial yang ringtone-nya beda. Saya masih simpan ponsel yang lama, nyetel sendiri ringtone yang ga pernah dipanggil itu
mbakDos: duh, maapkeun diriku, pakDok.. tapi aku kan pernah menelponmu
Balada si Sonih atau Balada si mbakdos?
Udah ketemu pengganti yang cocok mbak?
mbakDos: baladakera
ngg udah sih, tinggal di-purpose aja
Wah ciri2nya ga jelas, klo masih bisa bwt telp2an sih barangkali LCDnya neng, pi klo ngeblank doank ga bisa ngapa2in, softwarenya kemungkinan bermasalah…
mbakDos: yah.. kalo dijelasin satu-satu di sini penyakitnya, bisa capek duluan ntar bacanya
Ndak coba merk Sanyo Mbak? Eh, ada hengpun genggam merk Sanyo ndak ya? Hengpun yg ada fitur pompa airnya?
mbakDos: duh, belum nyoba! sayah malah lagi test drive hangpun merk Honda, yang 4 tak
mana pernah situ nelepon saya. Hayo diingat-ingat.
Wakakak, ada yang bilang handphone genggam. Apanya bluejeans warna item? XD
mbakDos: aahhh iya ding, maapkeun.. kita cuma smsan ya?! aku menelponnya paman kita semua yang doyan menggombal itu. ngg.. handphone genggam itu sejenis coklat-putih (*coklat kok warnanya putih*)
saya teteup setia dengan No-Kia
mbakDos: saya juga teteup setia dengan si kakang
Hi, mba Dos…
aku Tharie dr majalah CHIC (Kompas Gramedia Group). Mba…saya tertarik mereview blog dudukbersila di majalah Chic. Kebetulan blog review adalah salah satu rubrik di majalah Chic. Semoga mba Dos, tidak keberatan yaa… =)
Trims…
mbakDos: waahhh senangnya!! jelas gak keberatan dong, ah.. dengan senang hati, malah
Wah ntar lagi jadi seleb blog nih…
Mbak jangan lupa traktir ya kalo udah direview…
Ditunggu… ditunggu…
mbakDos: hahaha.. ditraktir nih bener?? di jakarta tapinya ya?!
wahh mbak dos…gejala yang sama terjadi pada sonih sayah…niat yang sama terjadi pada diri sayah…sudah 3 bulan saya pikirkan, blum tau jadinya mau ambil keputusan apah…bagaimanah inih?
mbakDos: nah itulah, masgede.. mungkin emang gak boleh dipikir lama-lama kalo ambil keputusan, harus spontan.. pasti langsung kejadian!
handphoneya tipe apa?? punyaku juga sony..sering gtu juga..tapi sekarang dah aku jual ganti nxxxx dech
mbakDos: pengen ganti juga sih.. tapi yang dipengenin masih belum terjangkau nih
mbaaa.. udah menggantinyaa dengan yang baaruu? eeng.. lebih banyak curhat tersiraaaat bukan masalah handphone yaa mbaa? hahaa
mbakDos: kalo hape memang sedang dalam perjalanan untuk diganti, kalo curhat ngg.. yaa gitu deh
klo suara , si Sonih memang juaranya
N**** juga bagus , cuma lebih enak Si SOnih ya..
*** teteup kekeuh sama si sonih
mbakDos: hahaha itu emang masalah selera dan pembiasaan kayanya
kacian jg yach dganti,,,malang bener nasib org yg beli hp nya tw nantinya,,,hehe..
mbakDos: sstttt jangan bilang-bilang sama yang mau beli ya