Sadomasokis
Beberapa hari belakangan, hidup saya rasanya tak karuan.
Saya harus bangun pagi, menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor. Setibanya di kantor, baru saja meletakkan pantat di kursi, harus segera membuka notebook dan mulai bekerja. Istirahat sejenak saat makan siang, lalu kembali lagi dengan rutinitas semula. Sampai jam kantor berakhir, atau malah seringnya harus berlanjut terus hingga nyaris semua penghuni kantor pulang. Dalam dua hari terakhir ini saya bahkan baru tiba di rumah menjelang tengah malam.
Dan keesokan harinya, akan kembali melakukan rutinitas yang sama. Juga dimulai sejak pagi hari.
Edan!
Bukan, bukan pekerjaannya.
Tapi sayanya.
Didera dengan pekerjaan yang menuntut waktu kerja gila-gilaan, kok ya saya masih saja betah melakukannya. Juga dengan jadual yang bisa berubah setiap saat.
Belum lagi yah.. itu.. berkutat dengan angka, statistik, serta dua program kegemaran saya (*cih, kegemaran!): MS Excel, dan SPSS.
Si bos memang tahu betul kalau saya sudah cukup lama bergelut dengan dunia per-angka-an sejenis itu semasa kuliah dulu. Bahkan setelah menjalani profesi sebagai pengajar pun, matakuliah yang diajarkan juga sama saja. Karena itulah beliau mendelegasikan tugas yang begituan kepada saya.
Saya sesungguhnya sempat curiga, jangan-jangan saya ini sadomasokis.
Mencari kenikmatan di antara penderitaan yang tengah mendera. Berulang kali mengeluhkan pekerjaan dengan angka, tapi yaa.. kok ya ternyata saya menyukainya.
Hari ini, saya bahkan nyaris frustrasi setengah mati saat tengah mengerjakan angka-angka itu, tiba-tiba saja program SPSS-nya tidak berfungsi. Diam, membisu, tidak bereaksi sama sekali. Saya tutup programnya, lalu saya buka kembali. Mengulangi proses (panjang) perhitungan yang sama, dan tetap terjadi seperti yang sebelumnya. Hal yang sama juga terjadi dengan program MS Excel-nya. Terlebih ketika keduanya sedang sama-sama bekerja.
Berulang kali.
Setelah beberapa kali percobaan dan akhirnya kedua program itu kembali bisa berfungsi seperti sedia kala, akhirnya saya berhasil menuntaskan pekerjaan sebelum deadline.
Lalu menghabiskan waktu untuk leyeh-leyeh sambil browsing ini-itu, hingga tiba-tiba saja handphone saya berbunyi. Si klien di seberang sana baru memberitahukan adanya perubahan jadual. Yang artinya, saya harus menuntaskan pekerjaan yang seharusnya baru dilakukan besok, malam ini juga.
Mau pulang jam berapa ini dari kantor??
Di tengah umpatan dan makian (yang pada akhirnya hanya bisa diucapkan dalam hati), saya sadar bahwa pekerjaan itu tetap harus dilakukan. Bagaimanapun juga.
Yah, saya pun berusaha mencari sedikit hiburan di sana-sini.
Menyeruput kopi dan melontarkan lelucon kepada teman-teman di ruangan yang sama sembari bekerja. Menyelesaikan apa yang bisa diselesaikan hari ini, dan menyisakan sedikit bagian untuk dituntaskan keesokan hari.
Menjelang waktunya beranjak dari kantor, saya mengirimkan pesan singkat untuk seseorang di sana. Dengan lelucon bodoh dan konyol yang seringnya memang tidak ada lucu-lucunya. Yang kemudian ditutupnya dengan pesan yang hanya berisikan tiga kata, yang biasa diucapkannya.
And suddenly, I was healed.
Berhasil meredakan kejenuhan atas semua pekerjaan hari ini.
Berhasil pulang ke rumah dan menemukan ibu yang masih terjaga, tidak seperti biasanya. Menonton televisi berdua, melontarkan komentar-komentar sarkastis pada apa yang tengah kami lihat. Lalu tertawa-tawa dengan serunya.
Menemui si Kriwil, dengan berita gembira bahwa ia baru saja dipanggil untuk melakukan wawancara di sebuah perusahaan tempat ia pernah mengirimkan lamaran kerja.
Tanpa sadar, akhirnya sudah lewat tengah malam.
Yang tanpa disadari juga, saya sudah ‘siap’ untuk kembali menghadapi keesokan hari, kembali dengan angka yang cukup menambah kerumitan baru dalam hidup saya (*halah, lebay!).
Ya, ya.. mungkin memang benar tentang sadomasokis itu.
Makanya setelah beberapa kali mengalami patah hati, bahkan sampai berlinang air mata dan hancur berkeping-keping, bukannya kapok, saya malahan makin keranjingan jatuh hati.




26 Responses
Sounds familiar…we all do love pains actually, don’t we…?
Btw Ta…SPSS, mean difference itu apa ya? Artinya? Bukan terjemahannya!!! Hahahaha…trus di SPSS kalo mau uji mean 2 kelompok pake paired 2 sample test itu bukan ya? hahahhaah daku sudah luppppaaaa…padahal dulu jago euy (*gayaaaaaa buener gue ya*)
mbakDos: maybe it’s not the pain that we loved, but the thing we’ve got beyond those pains
SPSS?? ah sudahlah.. masa iya udah dibahas di kerjaan, di tempat seneng2 begini masih dibahas juga?!
“Makanya setelah beberapa kali mengalami patah hati, bahkan sampai berlinang air mata dan hancur berkeping-keping, bukannya kapok, saya malahan makin keranjingan jatuh hati…”
hahaha… ternyata jatuh hati itu kayak pake narkoba aja ya mbak.
meski tahu itu barang haram, tetap aja banyak yang nekat memakainya…
hmm… semoga teman seperjuangan saya itu masih bisa jatuh hati seperti mbak setelah mengalami patah hati dan jatuh berkeping-keping…
mbakDos: jatuh hati itu nyandu! kalo gak percaya, coba deh tanyain sama abangmu itu
Walaupun saya ga ngerti sadomasokis itu apa, yang sedikit saya mengerti itu workaholic. Tuliasan nya bagus, simple seperti blognya dan menyampaikan apa yang ingin di informasikan. Salam kenal.
mbakDos: salam kenal juga
kalo pengen tau apa itu sadomasokis, coba deh diklik linknya, langsung masuk ke wikipedia tuh
O ya saya lupa, minta ijin bikin link blog nya di blog saya. Terima kasih.
mbakDos: wah, dengan senang hati! makasih juga yaaa..
Sadomasokis, selama itu positif;why not mbak. Yang terpenting kita dapat merasakan kenikmatan hidup apalagi berguna bagi semua (ca.illee) Kayak guru azza. Ok, sukses mbak, saat sibuk begini mbak masih sempat menulis. Mampir ke tamanku bila ada waktu.
mbakDos: hahaha namanya juga sadomasokis, kenikmatan sih pasti dapet dong ah.. masalah gimana caranya, naahhh itu dia
sis, yang tepat itu dalam hal ini masokis (tanpa embel-embel sado)…
jadinya sis yang masochist, bosnya yang sadist.
mbakDos: iya sih sebenernya.. walaupun seringnya itu dua hal yang tak terpisahkan, karena pasti ada yang sadis dan ada yang disadisi
*nggg.. sayah gak berani bilang bos saya itu sado-nya*
Aku juga sering kerja sampai malam hari, maklum kerja di media televisi. Yang penting jaga kesehatan saja, jangan diforsir. Tubuh perlu istirahat.
mbakDos: hehehe.. itu pesan yang selalu disampaikan ayah saya juga
hehehe… harus begitu donk mbak dos… no sacrifice no victory
mbakDos: kalo bisa dapet victory tanpa harus sacrifice, kenapa enggak?!
Jatuh hati memang bikin kecanduan kok, & soal kerja, IMO mbak betah karena merasa dunianya memang di “angka2″ itu. The pain is the part of the joy…
*suguhin kopi buat mbakDos*
mbakDos: nah ya, itu dia.. sesuatu yang menyebalkan untuk diakui sih memang, kalo ternyata saya suka dengan angka-angka itu
kopinya pake krim ya *halah*
Angka-angka mang selalu memikat kita ya? coba tengok angka-angka di rekening, kalo nambah pasti hati jadi senang…
.
Btw, kayaknya mang sadomasokis deh mbak …
mbakDos: kalo seneng ngeliyat angka-angka di rekening yang nambah terus, sadomasokis juga gak ya?!
Asal jangan sampe sakit aja mbakdos..
Senengnya punya ‘obat’ yg ampuh ya mbak..hihihi…
mbakDos: hahaha.. painkiller yang bikin nagih!
Gyahaha untunglah saya meninggalkan background statistik dan memilih bekerja sesuai hobi dan kesenangan, tapi ujung2nya sama, tengah malam baru bisa tidur, pain but i love it
mbakDos: tos!
sampean sadomasokis? hmmm…aku sebetulnya sudah curiga dari dulu loh .. *panggil kusir sado*
mbakDos: lho, kan ya ndak mungkin panjenengan ndak menyadarinya, ndoro
take time but healing is a process eventully…
masih banyak hal hal yang dilihat du dunia ini daripada sekedar mengenang masa lalu.
Masalah sakit hati, nightmare dan perasaan ? Kayak lagu Toto…I’ll be over you
mbakDos: *curiga* ngg.. mas iman kok tau aku suka denger lagu itu?! *halah*
Menggali makna nikmat lewat masokisme, mbakDos.
mbakDos: sepertinya kamu pun tahu betul ya soal masokisme
salam kenal aja ..
mbakDos: salam kenal juga
masih normal mba
paling penting bisa menikmati pekerjaannya…
mbakDos: sangat!
Salam kenal mba..
seru juga lama2 baca blognya nih.. hehehe..
SPSS makin ngjelimet makin penasaran.. iya ga mba..?!!
mbakDos: hahaha gak gitu juga sih.. makin njlimet, bisa-bisa kelamaan ngurus SPSS daripada kerjaannya sendiri
salam kenal juga.. makasih lho udah mampir
…Yang kemudian ditutupnya dengan pesan yang hanya berisikan tiga kata, yang biasa diucapkannya.
And suddenly, I was healed.
mbaaaaa.. siapaaaakaah lelaki beruntung ituu.. yang bikin mbak jatuh hatii lagii?? hahahaaa.. udah gk tau cerita2nyaaaaa…
mbakDos: woohh.. profesional dong, ghe! anonimitas kan harus dijaga dalam profesi seperti kita ini
Terima kasih atas ijinnya untuk saya, Maaf baru hari ini bisa saya add linknya mba / bu … Menunggu ijin dari mba / bu dulu soalnya.
Dikarenakan saya baru berkunjung lagi jadi baru hari ini saya buat linknya di blog saya. Mohon di cek di page ” friends ” dan apabila tidak berkenan dengan nama nya bisa contact saya supaya saya rubah.
terima kasih
Doel
mbakDos: makasiihhh
kalo mbakDos angka kalo saya peta
tiap hari melototin peta..*fuih*
blognya aku link boleh ya??
mbakDos: waahh peta?? berarti sayah bisa tanya-tanya dong ya kalo kesasar *secara sayah ini hobi nyasar-nyasar*
oh, boleh banget lho kalo mau di-link..
Selalu ada kenikmatan dalam setiap penderitaan. Lebih nikmat lagi ketika oenderitaan tersebut berakhir, yang disambut dengan kuntum bunga yang mulai bermekaran, hangat mentari yang menampar kulit, serta tiupan lembut sang bayu yang menelusup di antara bilah-bilah rambut dan daun telinga.
Lalu, tiba-tiba..
*lanjutkan ya, mbak. Saya mau kabur dulu…*
mbakDos: ikutan bikin kopi aahhh
apakah saya juga ?
menikmati penderitaan ?
mbakDos: hahaha *gak mau ikutan jawab ah*
makasih sharingnya ya mBak…
salam kenal…
mbakDos: hei.. sama-sama ya.. salam kenal juga
sadomasokis itu adalah orang yang menikmati gairah seksual jika menyakiti atau disakiti pasanganya dulu.
psikiaterpun setidaknya perlu 3 tahun untuk menyembuhkan saya.
toxic berupa hormonal, psycic, dan phisik dari pengalaman masa lalu telah memporak porandakan saya
mbakDos: you know better than I do, then
sadomasokis,..can we talk ,…?
mbakDos: what do you want to talk about?