Berjuta Rasanya
Si gadis manis di samping saya ini tersipu-sipu.
Ia berusaha setengah mati menahan diri agar pengakuan bahwa ia memang tengah jatuh cinta tidak terucapkan dari mulutnya. Namun pipinya yang bersemu merah, matanya yang terus mengerjap dengan kepala tertunduk malu, jelas tidak selaras dengan apa yang ingin dikatakannya.
Setengah jengkel, setengah malu, ia pun mengiyakan pertanyaan yang diajukan kepadanya.
Apakah ia memang sedang jatuh cinta.
Gantian saya yang berusaha setengah mati untuk tidak tertawa di hadapannya.
Bukan bermaksud meledek, tapi sungguh saya tidak tahan melihat wajahnya yang tampak semakin lucu dan menggemaskan dengan pipinya yang tiba-tiba saja memerah.
Sambil membayangkan rasa deg-degan luar biasa yang semakin hebat menderanya di tengah perbincangan kami itu. Juga mungkin rasa rindu yang tersisipkan entah dari mana.
Rasa yang.. saya kenal dengan (amat sangat) baik.
Saya masih muda belia saat itu (*cih!). Masih menghabiskan hari-hari dengan mengenakan putih abu-abu.
Saya lupa persisnya, bagaimana saya berkenalan dengannya. Jelas tidak ada suatu perkenalan resmi seperti layaknya dua orang yang tidak pernah saling berjumpa. Karena kami menghuni kelas yang sama, alhasil secara tidak langsung pun diharuskan saling mengenal.
Gaya yang serampangan, kemeja sering dikeluarkan dari celana, dan bahkan seringkali akan tampak kusut di akhir jam pelajaran hari itu. Seringkali datang terlambat ke sekolah dan tidak jarang pula dihukum oleh guru yang mengajar di jam pelajaran pertama. Belum lagi gayanya yang tengil di dalam kelas.
Teramat sangat menyebalkan lah, singkatnya.
Karena itulah, saya kemudian dibuat ternganga-nganga dengan apa yang terjadi saat pelajaran Antropologi, Sosiologi, ataupun Sejarah.
Ia jarang terlihat membaca buku ataupun mempelajari pelajaran-pelajaran tersebut. Malah nyaris tidak pernah. Bahkan PR yang diberikan juga lebih sering tidak dikerjakannya. Namun hampir tidak ada ulangan pada ketiga matapelajaran itu yang nilainya di bawah delapan-setengah.
Sementara saya, masih bagus kalau saya berhasil mendapatkan nilai tujuh pada ketiganya.
Bukan nilai itulah alasan kami kemudian menjadi dekat. Bukan karena saya ‘sok’ mau memintanya mengajari saya di ketiga matapelajaran itu sebagai alasan agar saya bisa dekat dengannya. Seperti permulaan kisah kasih yang sering saya tonton di sinetron ber-dubbing itu (*ergh.. lagi-lagi!).
Tapi memang itulah alasan mengapa saya kemudian tertarik padanya.
Di balik sifatnya yang sangat sulit diatur, rebellious, tak jarang menyebalkan di kala dengan seenaknya meledek saya (yang notabene belum terlalu mengenalnya), ada hal-hal yang tidak terduga yang membuat saya tidak bisa melepaskan perhatian saya darinya.
Ternyata, ia bisa mendengarkan saat saya bercerita.
Di antara setiap ledekan yang dilontarkannya, ia menyimak apa yang saya katakan. Ia akan menanyakan kabar saya pada hari berikutnya, apakah saya baik-baik saja setelah kejadian tidak menyenangkan yang saya ceritakan padanya hari sebelumnya. Setelah ia yakin bahwa saya baik-baik saja, barulah ia akan melontarkan ledekan lanjutan. Namun jika saya tidak menjawab, ia akan diam saja. Menyediakan diri untuk kembali mendengarkan.
Walaupun di kali lain, di hari-hari yang biasa, ia tetaplah seorang pria yang bengal. Yang tidak mau menuruti aturan dari sekolah, yang tidak pernah peduli dengan absensi, yang lebih senang menghabiskan waktunya bermain basket daripada duduk di dalam laboratorium dan mengerjakan tugas eksperimen dari guru. Atau nongkrong di warteg depan sekolah bersama teman-temannya.
Sungguh aneh.
Perasaan yang teramat sangat aneh.
Di satu sisi, saya sebenarnya sebal dan jengkel dengan perilakunya yang… yaahh yang tidak menyenangkan itu. Tapi di sisi lain, sesungguhnya.. saya menyukai bagaimana ia bisa mendengarkan saya.
Dan saya mulai kewalahan saat tiba-tiba saja jantung saya berdegup dengan kecepatan tinggi ketika saya berpapasan dengannya. Atau saat sedang berbincang-bincang dengannya. Atau bahkan hanya karena memikirkan dirinya.
Saya tidak tahu mengapa bisa terjadi.
Padahal sebelumnya semuanya baik-baik saja. Tidak pernah istilah deg-degan itu masuk ke dalam kamus saya saat bersua dengannya. Apalagi hanya karena terpikir mengenai dirinya.
Saya sungguh merasa bodoh. Sangat tolol.
Bisa merasa rindu pada seseorang yang.. bahkan seharusnya tidak dirindukan sama sekali.
Tapi semakin keras usaha saya untuk menghilangkan rasa deg-degan atau kerinduan itu, perasaan itu justru semakin kuat menggoyahkan keseimbangan saya. Semakin keras saya mencoba untuk menghilangkannya dari kepala saya, saya malahan semakin dibuat tidak bisa tidur karena terus-menerus memikirkannya.
Saya sempat berusaha memfungsikan lagi logika dengan semestinya. Mencoba mencari tahu apa yang sesungguhnya membuat saya semakin tidak bisa melepaskan diri darinya. Dan saya sulit sekali menemukan jawabannya.
Ia sama sekali bukan pria ideal yang saya harapkan akan hadir dalam hidup saya. Bukan tipe pria yang saya bayangkan akan bisa membuat seluruh jadual hidup saya berantakan hanya karena memikirkannya. Yang ada, ia justru menyebalkan buat saya.
Demikian menyebalkannya sampai-sampai saya sendiri kehabisan alasan untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa ia tidak membuat saya jatuh hati.
Belakangan, setelah hampir satu dasawarsa berlalu, saya baru menyadari.
Memang tidak ada alasan yang cukup masuk akal mengapa saya dulu sampai menyukainya. Karena ini adalah masalah perasaan, tidak ada sangkut-pautnya dengan logika. Sehingga ya tidak mengherankan jika saya memang tidak punya alasan yang cukup logis atas kerinduan saya kepadanya. Mengapa saya akhirnya jatuh hati padanya.
Ketika saya mendambakan datangnya seorang pangeran tampan menunggang kuda putih yang akan datang meminta saya hidup bersama dengannya, akan menjadi sangat sulit bagi saya menemukan bahwa impian itu bisa terwujud. Karena apa yang saya dambakan itu begitu sempurnanya, sehingga malahan tidak mungkin ada di dunia nyata.
Mungkin yang saya temukan bukanlah pangeran tampan dengan kuda putihnya, tapi si pangeran akan datang dengan berjalan kaki.
Lantas, hanya karena tidak menunggangi kuda putih, bukan berarti si pangeran tidak layak untuk diterima pinangannya, bukankah? Toh ia tetaplah seorang pangeran. Tanpa kuda putih. Itu saja.
Persis seperti yang dikatakan oleh sahabat saya tersayang itu. Yang merangkap penasihat dan guru spiritual/percintaan saya.
Ketika saya terlalu sibuk dengan pria yang ideal dalam kepala saya, saya justru melewatkan pria-pria yang tak kalah baiknya yang bisa saya dekati karena mereka memang ada di sekeliling saya. Dan akan menjadi sangat bodoh kalau saya melewatkan mereka begitu saja, hanya demi sesuatu yang saya sendiri tidak yakin bahwa apa yang saya nantikan itu memang (akan) ada.
Yah.. untunglah saya belum sebodoh itu untuk menyia-nyiakan kehadiran seorang pria di keseharian saya kala itu.
Dan juga saat ini.
Ya ‘kan Kang, ya?! ![]()
Ah ya.. sudah tanggal 14.
Selamat hari kasih sayang.

15 Responses
sayangnya kesadaran bahwa cinta adalah rasa bukan pikiran tidak membuat segalanya lebih mudah, bahkan semakin sulit..
ketika tau yang dicintai bukanlah yang seharusnya.. padahal yang mencintai adalah mungkin yang terbaik yang lewat di hidupnya.. inilah saatnya cinta menjadi tak lagi seindah yang digambarkan MbaDos.
Anyway, trimakasih atas tulisan yang sungguh membantu melakukan refleksi perjalanan cintaku… (duileee..)
Selamat hari kasih sayang:)
mbakDos: one thing for sure.. love is about feeling, ain’t thinking
semoga langgeng
mbakDos: amin! *halah, main ‘amin’ aja, padahal gak tau langgeng apanya*
huni buni
seringkali kita terlalu bersibuk diri dengan apa yang kita minati/inginkan sehingga lupa menikmati atau mensukuri apa yang kita punya
happy valentine my love >:D<
NB:
mr j, you’ve done it again… damn you
thx a lot my friend
mbakDos: KAKAANNNGGG!! *peluk-peluk* tau tuh si Mr. J, emang paling bisa deh dia!
walah mbakyuu…perbincangan singkat itu bisa jadi inspirasi bagus beginiii….hehe…
happy valentine ya mbakyuu…
mbakDos: makasih lho atas inspirasinya, wie
Saya semakin deg-degan aja…
Happy Valentine ya mbak…
mbakDos: halah.. mau ketemu pria idamanmu ya?! kok deg-degan gitu?!
hepi palentin, mbakdos… *peluk2*
mbakDos: hepi palentin juga, tet! salam ya buat teman tidurmu itu
kereen…
tertarik nh bisa bikin tulisan kyk gini..ada tips gak..
mohon dibagi mbak..:)
mbakDos: waahh makasih
ngg.. tips ya?! apa ya?! biasanya sih sayah menulis apa yang dirasain aja kok
seru, sungguh terhibur saya dengan sendirinya,
ya ya logika dan emosi kadang berlawanan ..
ah menarik lah .. suer
mbakDos: ngg kalo buat sayah sih kayanya bukan KADANG, tapi SERING-nya
kan emang gitu mbak, kita cenderung melihat dan mencari yg jauh2 ga nyadar klo di dekat2 kita banyak lelaki hebat2 yg bisa memberikan setangkain daffodil
mbakDos: stuju! toh bukan cuma si pangeran pembawa mawar aja yang hebat kan?!
Saat cinta jatuh ke orang yang tidak seharusnya..karena perbedaan yang tak mungkin disatukan..meski tau sama2 cinta hanya lewat pandangan mata walau tak pernah terucapkan..
Sakit memang, tapi tetap tak berani untuk mencicipi ato sekedar mengakui adanya rasa itu..hix..
Pilihannya cm menjauh biar g tambah sakit..dan menjadikannya kenangan..
Maaf ya kalo numpang curhat di sini,hehe
mbakDos: ketika keberadaan rasa cinta itu berusaha untuk disangkal, percaya deh.. akan jauh.. jauh lebih sulit untuk tetap bisa bertahan menghadapi rasa sakit yang ada. dalam kondisi seperti itu, justru ada baiknya untuk mengakui aja bahwa cinta itu memang ada. dengan begitu, kita akan bisa lebih menerima ketidak-mungkinan dua orang ini bersatu.
halah.. kok jadi ikutan curhat?!
eh iya, gpp kok numpang-numpang curhat di sini
yah that love, rasa bkn pikiran. perbedaan yg jauuuh membuatku belajar memanage hati…..
mbakDos: good for you, then
salam kenal,,,
bagus banget deh blog nya,,
boleh copas gak???
mbakDos: weittsss bayar royalti dong ah! hahaha.. gak ding.. boleh aja kalo memang suka, dan sayah akan sangat berterima kasih kalo disertakan juga dudukBERSILA sebagai sumbernya
Tugee.. apakah ini tentang cowok jangkung (rada) putih murid kesayangannya bu sekar pas dulu kelas 2? hehehe
mbakDos: yang sampe kelas 3 juga masih jadi murid kesayangan itu maksudnya, han?
oke deh mbak,,, nanti aku sertakan dudukbersila.com deh,,,
baca2 juga dunk blog ku,, walau jelek,, hehehe
mbakDos: ah, jangan suka merendah lah! kita kan sama-sama belajar
Mbakk Dos Mampir ya,
template blognya bagus..
ajarin dong..
mbakDos: hehehe makasiiihhh..