Memberi Tanpa Bertanya
Saya tidak tahu mimpi apa semalam sampai mengalami kejadian semacam ini. Bahkan dini hari sudah nyaris berganti pagi saat saya akhirnya berhasil memejamkan mata. Itu pun akibat kelelahan yang teramat sangat. Kalaupun memang sempat bermimpi, bisa dipastikan saya sama sekali tidak ingat apa yang saya mimpikan ketika terbangun empat jam kemudian.
Akibat baru tertidur pada jam empat pagi, saya pun terlambat bangun. Padahal saya tahu betul bahwa jadual hari ini sangat padat. Bukan saja jadual yang harus dilakukan sehubungan dengan pekerjaan, tetapi juga karena saya harus memeriksakan rentetan jerawat ini ke dokter.
Karena itulah sehari sebelumnya saya meminta ijin kepada si bos untuk datang agak siang.
Karena itu pulalah, rute perjalanan yang saya ambil pagi ini berbeda dari biasanya. Saya tidak langsung meluncur ke kantor, tapi mengarahkan si hitam ke kawasan Kelapa Gading terlebih dulu.
Sebenarnya Kelapa Gading bukanlah daerah yang asing buat saya. Daerah ini sudah menjadi tujuan wisata keluarga di akhir pekan. Maklumlah, lantaran tinggal di Jakarta Timur, buat kami sekeluarga Kelapa Gading merupakan daerah yang cukup mudah dijangkau.
Namun, bepergian ke daerah itu pada pagi hari seperti ini merupakan suatu hal yang rasanya tidak pernah saya lakukan.
Menyenangkan, jelas. Karena kemacetan yang biasa menemani saya di perjalanan menuju ke kantor pada pagi hari, tidak saya temukan kali ini.
Dan hanya dalam waktu setengah jam, saya sudah tiba di perempatan besar. Persimpangan antara Pulo Mas dan Kelapa Gading.
Lampu lalu lintasnya sedang menyala merah. Si hitam pun saya hentikan. Di sekeliling tidak banyak mobil yang ikut berbaris menanti lampu berganti hijau, sehingga saya bisa melihat dengan jelas para pedagang asongan yang menjajakan jualan mereka. Rokok, permen, koran dan majalah, atau sekedar menawarkan jasa untuk membersihkan kaca mobil bagian depan.
Beberapa pengamen juga sibuk bertandang dari satu kendaraan menuju kendaraan lain. Memukul-mukulkan ‘alat musik’ yang mereka bawa di satu tangan ke tangan yang lain, sambil bernyanyi. Tampak tidak peduli dengan nada yang terdengar sumbang, atau ketukan irama, atau.. yah.. apalah pentingnya mereka memperhatikan hal itu.
Mereka hanya ingin agar para pengendara mobil yang dihampiri meluangkan kerelaan untuk membuka kaca jendela dan mengulurkan uang kecil.
Sayangnya, uang yang biasa saya titipkan pada si hitam rupanya lupa saya isi ulang sebelum berangkat tadi. Jangankan lembar ribuan yang biasa disiapkan untuk parkir atau membayar tol, koin lima-ratusan pun sama sekali tidak ada. Sementara di dompet, hanya tersisa selembar lima-puluh-ribuan. Yah.. dan berbagai struk ATM, pembayaran ini-itu, yang selalu jauh lebih banyak daripada lembar uang yang tersimpan di dompet yang sama.
Para pengamen yang sempat berhenti di samping si hitam terpaksa melintas dengan tangan hampa, karena saya tidak bisa memberikan mereka apapun. Saya hanya memberikan isyarat dengan tangan, meminta maaf karena tidak bisa memberikan apa yang mungkin mereka harapkan. Hal yang sama juga saya lakukan saat seorang wanita dengan menggendong bayi melintas di samping si hitam, dan seorang pria yang jalannya tampak terseok-seok. Juga seorang waria yang bermaksud mengamen walaupun ia sama sekali mengandalkan kecrekan di tangan tanpa harus bernyanyi.
“Ayo dong, Tante.. Gopek aja kok!” kata si waria dengan nada memohon, saat saya memberikan isyarat permintaan maaf dengan tangan saya.
Yaa.. bagaimana lagi? Saya sama sekali tidak punya uang kecil.
“Gopek ajaaa..” serunya lagi, sambil melingkarkan ibu jari dan telunjuknya.
Saya menatapnya dan menggeleng. Mencoba isyarat lain untuk mengungkapkan permintaan maaf. Si waria pun kesal. Wajahnya yang semula tersenyum-senyum menggoda tiba-tiba berubah sangar.
“Pelit amat sih! Gopek aja gak mau ngasih!!” lanjutnya sambil berlalu dari samping si hitam, “Punya mobil tapi gak mau ngasih gopek!!”
Lhaaa.. minta kok maksa?!!
Sekejap saya merasa jengkel. Juga masih terkejut.
Namun si waria tadi demikian cepat berlalu, membuat saya tak sempat melampiaskan kekesalan akibat apa yang dikatakannya tadi.
Sesaat kemudian, saya pun tertawa sendiri. Merasa sangat konyol.
Gileee.. dimarahin sama benc*ng!!
Saya tahu tidak seharusnya saya merasa lega, tapi nyatanya memang itulah yang saya rasakan. Untunglah saya tidak memberikan koin lima-ratusan yang dimintanya. Yah.. mengetahui bahwa saya dipaksa memberikan sesuatu kepadanya, bukan karena saya memberi karena memang saya menginginkannya, jelas menjadi pilihan yang bisa dipastikan jawabannya.
Buat saya, itu sama saja dengan perampokan, hanya saja dalam bentuk yang teramat-sangat-paling sederhana. Bedanya, ya mungkin dia (sedang) tidak berhasil.
Karena itulah, saya merasa lega.
Perasaan yang sebenarnya terbilang jarang muncul ketika saya dihadapkan pada situasi serupa. Saat pengamen, atau siapapun yang berdiri di samping si hitam, mengharapkan sedikit saja kerelaan saya untuk memberikan kepingan terkecil dari uang yang saya miliki untuk diberikan kepada mereka, hampir selalu membuat saya miris dan mengundang rasa iba.
Masa’ iya, saya yang bisa mengendarai si hitam ke mana-mana, lalu tidak mau merelakan koin lima-ratusan buat mereka?
Dan sama sekali bukan perkara sulit buat saya untuk membuka kaca jendela si hitam lalu mengulurkan koin itu ke luar.
Yang seringkali membuat saya bimbang, adalah karena saya tidak yakin bahwa uang yang saya berikan itu memang diperuntukkan bagi orang yang menerimanya.
Entahlah.. mungkin saya ini terlalu berburuk sangka, mungkin juga saya berpikir yang tidak-tidak. Tapi ini bukanlah suatu bentuk pembelaan diri. Bukan bermaksud melontarkan alasan mengapa saya seringkali memilih untuk tidak memberikan uang lima-ratusan itu kepada mereka, walaupun saya memilikinya.
Bukan satu-dua kali saja saya menyaksikan sendiri bagaimana uang yang saya berikan itu pada akhirnya harus diserahkan lagi pada orang lain, yang sedang duduk-duduk di suatu sudut yang nyaris tak terlihat di perempatan. Juga uang yang diperoleh dari orang-orang lain yang memberikan kepada si ibu yang sama, yang membawa bayi dalam gendongannya.
Saat saya bermaksud memberikan kepada si ibu, ternyata justru pria bertopi di sebelah sana itu yang menerima uangnya. Ibu yang sedari tadi berkeliling dan berhenti di samping setiap mobil yang dilewatinya, hanyalah perpanjangan tangan dari pria bertopi itu.
Ibu itu bekerja untuknya. Mencarikan uang buat dia.
Uangnya, ya pada akhirnya memang bukan ibu itu yang akan memilikinya.
Dan inilah yang seringkali membuat saya bingung.
Mana yang harus saya pertahankan?
Rasa iba kepada si ibu yang meminta-minta, ataukah perasaan tidak rela bahwa uang saya ternyata dinikmati oleh si pria bertopi?
Ini perdebatan yang masih terus terjadi dalam hati saya sendiri, dan tidak kunjung terselesaikan.
Lalu akhirnya, saya lebih memilih untuk tetap tidak memutuskan apapun. Saya lebih mengandalkan pada berbagai kebetulan yang memang sedang terjadi.
Saya akan membuka kaca jendela dan memberikan uang selama saya tidak melihat orang-orang sejenis pria bertopi itu di sekitar tempat saya memberikan. Kalau kemudian si pria ini tetap akan mengambil uang dari orang yang sesungguhnya saya beri, yaa setidaknya orang-orang seperti si ibu akan bisa lebih lama menikmati kepemilikan atas uang itu.
Atau yaaa.. saya memberi karena memang merasa demikian ibanya kepada si ibu dan tidak sanggup menahan keinginan untuk memberikan uang kepadanya.
Jadi kalau seperti yang barusan terjadi itu, saat saya sama sekali tidak memiliki uang kecil, rasanya itu pun menjadi alasan yang sangat tepat untuk tidak memberikan apapun kepada yang meminta.
Termasuk kepada pengamen waria itu tadi.
Yah.. sudahlah, tidak usah bertanya lagi apakah yang saya lakukan itu bisa dibenarkan. Juga semua alasan yang menyertainya.
Karena saya juga tidak bisa menjawabnya.


27 Responses
Itulah kenapa waktu itu mau dibikin UU buat ngatasin ‘begging’, tapi ga jalan2
)
mbakDos: kalo udah ngomongin masalah UU sih.. yaaa masalahnya jadi lain
katanya memberi doa adalah pemberian termahal, mariii
mbakDos: iya juga sih, kang hed
ini baru sepenggal cerita tentang pengemis, saya pernah melihat yang lebih buruk lagi. seorang pengemis tuna netra yang setiap paginya berdiri di pinngiran jembatan penyebrangan depan Ratu Plaza menolak roti pemberian anak kecil (tentu saja beserta ibunya doong).. dia lebih memilih dalam bentuk uang karna pastinya dia harus setor sekian rupiah kepada orang yang memperkerjakan dia.. sejak itu TIDAK AKAN LAGI saya mau memberikan kepada pengemis.. itu pilihan saya..
mbakDos: nah itu dia.. pada akhirnya ya memang jadinya pilihan pribadi kan?!
gue juga musti tega untuk tidak memberikan uang pada pengemis.. kecuali kalo memang lagi pengin. udah bukan rahasia lagi, jaringan peminta-minta itu udah kayak mafia bahkan boss nya superduper kaya. cuman ya itu, miris ajah liat bayi-bayi tak berdosa yg musti ikutan menderita. but.. for the greater good, gue tetap akan tega.
paling-paling yang gue berikan ke pengemis-pengemis cilik kalo udah malem masih aja minta-minta… gue beri nasihat aja: “woi, pulang, tidur, udah malam.”
mbakDos: “harus tega untuk gak ngasih, kecuali kalo lagi pengen.” hahaha.. agak ribet memang ya urusan yang beginian?!
Haha, kang Hedi ngeles tuh.
Pengemis2 itu sebenarnya drama queen juga, mungkin aktingnya bisa mengalahkan para pemenang Oscar
mbakDos: lho jadi yang patut dikasih Oscar itu si pengemis atau kang hedi *mabur sebelum digiles kang hedi*
kalau mau ngasih, ya kasih aja.. kalau enggak ya udah gak usah dikasih… terlepas dari segala macam perhitungan/pemikiran/keadaan..
it’s the thought that counts..
*bersiap2 nanti malam mau nonton drama di indosiar lagi*
mbakDos: “it’s the thought that counts..” in one way or the other, the thought counts in everything doesn’t it?
*ini insight habis nonton drama indosiar ya?*
yup, memberi tanpa bertanya kenapa, untuk apa dan bagaimana, sering merupakan sesuatu yg lebih bijak
toh, memberi selalu better than menerima, kan..
mbakDos: yah itulah.. mungkin memang lebih bijak karena tidak usah bertanya
@ warm… itulah mengapa gue bilang keputusan untuk tidak memberi for me is for the greater good. karena memberi tidak selamanya lebih baik dari menerima.
dan kalo gue lagi pengin, ya gue beri aja… ini yang termasuk kategori memberi tanpa bertanya kenapa. ada saat-saat tertentu.
mbakDos: stuju! for greater good sih sebenernya. yaahh anyway, ini pun buah hasil dari pemikiran kan?! *tetep dilema*
kalo menurut saya ya mbak,, kalo kita udah punya pikiran macem2 skecil apapun, mending gak usau diberi deh,
soalnya buat kita juga gak bermanfaat, kan sudah ada rasa gak ikhlas, walau dikit, jadi kita kasih juga gak dapet pahala, kalo kita pngin kasih udah, stop, gak usah mikir apa2,, tapi langsung aja kasih dan tinggal aja,,
bye,,,
kan simple tuh,,,
mbakDos: hehehe.. dan kalo ngasih kan memang mestinya gak mikir apa-apa, termasuk mikirin pahala yang akan kita dapet kan?!
@ bayik
loh, kok larinya malah ke ente,
eniwei, whatever,
tiap orang punya sikapnya masing-masing pada sesuatu, kan
mbakDos: stuju! sikap yang sangat subjektif berlaku untuk tiap orang
@ warm… hehe, abis yg punya blog gak muncul-muncul, jadi gue nyampah aja di sini
)
mbakdos, maafkan
mbakDos: ayoh kaliyan berdua! disapu!!
mbak, lebih milih mana, diganggu sama si waria atau saya?
mbakDos: ah, mana yang katanya mau gangguin?
next time deh kalo kamu ke jakarta, kita bersua ya
bukankah meminta skrg jd mata pencaharian mbak? bahkan untuk pengamen pun, waktu di angkot ada seorang pengamen, setelahnya ada ibu yg memberinya recehan 500 rb, tahu apa yg dikatakan pengamen itu? astofiruloh ..yg aku terjemahkan sebuah keluhan. dikasih dia mengeluh ga dikasih diapun mengeluh..bingung kan?
mbakDos: yah.. itulah. mungkin juga karena jaman sekarang gak bisa lagi dapet apa-apa dengan 500 rb, git..
500 rupiah maksud aku, typo deh
mbakDos: eh iya, 500 rupiah *typo juga*
Hahaha..usul aja mungkin kalo ada yang bawa bayi ato balita dikasih susu kotak aja, lumayan buat tambah2 gizi anak yang tiap hari paru dan otaknya terpapar polusi n asap..
Hmm, meskipun biasanya jg dikorup sama peminta2 lain yang tua, pernah liat soalnya..(jd sumber penularan Heptts jdny..)
mbakDos: hehehe kalo susu kotak, gimana cara dia bikinnya juga? ribet ntar, harus cari gelas (atau botol susu) dulu, cari airnya
iya dink, betul, dah gak usah mikir apa2,,
langsung kasih terus sebelum kepikiran macem2,, kita lari ngabur ya???
hehe
mbakDos: yaa mungkin mendingan gitu sebelum mikir macem-macem
Mau kasih komentar nich mbak Dos,
Memang serba salah menghadapi “profesi” begitu. Dikasih kok begitu, ga dikasih jangan-jangan orang nyamar ,kayak di tipi-tipi itu tuh..;-)
mbakDos: hahaha dirimu keseringan nonton pilem tuh kayanya
intinya ikhlas kan ?
nice posting nih…sekarang jarang ada orang ikhlas mbak…
salam kenyal ya mbak….:-)
mbakDos: iya.. gampang sih kesimpulannya, memang ikhlas itu. salam kenyal juga!
gw pernah kejadian dimarahin pengamen. pas kita lagi makan swike gt dtg la pengamen. yg namanya makan swike kan pake pancasila. org yg lagi asik makan ya malas donk mesti cuci tangan di gobokan buat nyari gopekan. Pas waktu tu di kocek gw ada uang 200-an yawda gw kasih seadanya aja. eh malah dikembalikan dgn kasar; “dasar *hinese pelit. ada uang makan, gak punya gopek-an!!” huhuhu sakit hati banget deh… secara juga lu yg ngamen ya kita kasih setulus kita, kq malah marah2, ngomongin hal2 yg berbau rasis lagi!! emank tu org seumur idup cm bs jd pengamen dh..
mbakDos: duh duh.. susah sih ya kalo udah ngomongin yang beginian. mungkin dianya juga sebel karena hari gini gak bisa ngapa-ngapain lagi dengan duit 200 perak, dan kitanya juga berusaha tetep bisa ngasih berapapun itu
Susu cair maksudnya..
Susu cair kan bentuknyakotak juga hehe..
mbakDos: hehehe.. diralat sih
mba’, template blog nya pake apa? ngopi dong
)
mbakDos: pake apa? mbikin sendiri.. eh, berdua ding
teh aja deh, jangan kopi
Saya suka sekali dengan judulnya ” Memberi tanpa bertanya “.
Dan setuju dengan postingan di atas, postingan yg menarik dan mengingatkan kita semua.
mbakDos: makasih
yah.. kadang ada hal-hal yang kita alami sehari-hari tapi kurang disadari aja sih
Hey mbakDos ..
Salam kenal dulu nie
Kalo aku males tu mikir soal pria bertopi itu ..
Jadi buat deal with rasa iba n keadilan sosial, aku mikirnya gini :
Semakin sering kita ngasih, semakin besar pendapatan si pengamen, semakin besar juga bagiannya, semakin kecil kesempatan dia untuk dimaki-maki ma pria bertopi ..
mbakDos: the best way for our own, rite?
salam salam
mendingan gak usah dikasih kan lama lama jadi bosen tuh pengamen
nah kalo mo ngasih lewat zakat ato infak kan lebih afdol kali yee….
mbakDos: biar bisa langsung dikasih ke yang bersangkutan kali ya
nice p0sting mbakd0s, hh0. lam kenal.
mbakDos: makasiihh
emang ya,,kaya gitu dilema banget…mu kasi kok salah…mu ga kasiii,,,kok ya ga tega…secara kita leboh punya dari mereka….
aku siii liat2 sikon dulu lah kalo mau kasiii…
hehehhe
mbakDos: nah, sikon yang mau diliat-liat itu kan yang bikin ribet
emang ya…aku pernah diangkot, pas lampu merah nyala…ada pengamen yang nyanyi2…ternyata ga ada yang ngasih ma tu pengamen,….eh pengamennya sewot sambil teriak…ga ada penghuninya ni angkot….padahal kalo kita mo ngasih tergantung kitanya ikhlas pa enggak…
mbakDos: mungkin dianya juga udah putus asa kali tuh, sampe harus sewot begitu