Nonton Konser (-nya Siapa ya?)
Saya semakin menyadari betapa lamanya saya menghilang dari peradaban dunia maya setelah membuka Google Reader. Rupanya banyak sekali daftar kunjungan blog (baca: blogwalking) yang saya lewatkan selama beberapa hari (hari?! Yea, rite!) belakangan ini.
‘Mark all as read’ jelas sangat menggoda untuk dipilih. Paling tidak, membantu meredakan perasaan bersalah melihat jumlah angka yang akan semakin bertambah, bahkan di saat saya belum berhasil membaca setiap postingan baru yang ada di dalam daftarnya.
Tapi rupanya keingintahuan telah berhasil mengalahkan niat itu.
Saya pun mulai menelusuri daftar dari yang terbawah. Melihat judul dan cuplikan dari postingan terlama yang belum sempat saya tengok. Lalu satu-persatu menuju postingan yang lebih baru.
Ada yang menarik.
Ternyata saya tidak saja melewatkan postingan teman-teman, tapi juga melewatkan momen Java Jazz Festival 2009 yang diselenggarakan di awal bulan ini. Dan lebih sekitar setengah postingan yang ada di daftar saya, menceritakan pengalaman para penulisnya saat menghadiri ajang musik jazz terakbar itu.
Sesaat, saya teringat perbincangan dengan si Gembul melalui Yahoo!Messenger beberapa waktu lalu.
Perbincangan ini-itu tentang musik. Dari dangdut ala Dewi Persik, Trio Macan, Kinkin Kintamani (*eerrr.. kok saya bisa tahu ya?!) dan keroncong. Juga musik rock yang kebetulan sama-sama kami sukai macam Smashing Pumpkins, Collective Soul, dan U2. Sampai musik pop yang belakangan ini sangat meraja. Siapa yang tidak kenal ST12, Kangen Band, Yovie & The Nuno, d’Masiv, Wali, dan Salju (*eerrr.. ini dua terakhir bukan saya saja ‘kan ya yang tahu?!)?
Dan kemudian tersebut pula nama Jason Mraz.
Nama yang mendadak fenomenal setelah lagu I’m Yours-nya itu membahana di setiap stasiun radio, dan bahkan juga menjadi ringtone atau nada sambung para pemilik handphone. Lalu semakin dikenal pula sejak terpampang di baliho dan billboard besar di sepanjang jalan protokol sebagai salah satu pengisi acara JJF 2009.
Tiket special performance-nya selama tiga hari pun habis terjual dalam waktu yang masih cukup lama sebelum JJF 2009 itu diselenggarakan. Baik yang early bird maupun tidak.
“lo dateng ke java jazz tha?” tanya Gembul.
“enggak, bal. gue gak terlalu suka jazz. lo?”
“hehehe.. gue juga gak terlalu suka sih, tapi gue dateng. ditugasin.”
Saya pun tertawa.
Enak betul dia!
Ah, tapi iya juga sih.. Saya pun mungkin akan tetap menghadiri acara itu kalau dibayari (tepatnya, bukan ditugasi), walaupun saya memang tidak terlalu menyukai musik jazz. Dan juga tidak terlalu menyukai Jason Mraz. Atau musiknya.
Seorang teman yang memang penggila musik jazz pernah menceritakan pengalamannya selama menghadiri acara akbar JJF setiap tahunnya. Semakin lama, semakin muda saja usia para pengunjung acara itu. Dan para musisi yang menjadi pengisi acaranya pun semakin populer terdengar. Tidak lagi hanya musisi jazz yang biasanya hanya dikenal di kalangan pecintanya saja.
Bahkan pernah suatu kali, ia menonton salah satu special performance di JJF entah tahun berapa, dan berdiri di dekat serombongan anak-anak abege. Salah seorang dari mereka bertanya kepada temannya, “Eh, ini kita nonton siapa sih?” Dan si teman menjawab, “Gak tau. Gue beli aja tiketnya.”
Teman saya ini hanya bisa ternganga mendengar percakapan itu.
Saya pikir, saya saja yang punya pengalaman begitu.
Persis setahun lalu, sewaktu saya menonton konser Toto, saya mengalami hal yang serupa.
Sementara saya benar-benar berniat menonton mereka bermain musik live, jauh-jauh dari Jakarta menuju Bandung dan langsung pulang kembali setelah konsernya berakhir, sampai membeli tiket VVIP agar mendapatkan pemandangan dan sound yang paling istimewa, saya menemukan beberapa orang abege duduk di samping saya dan saling menanyakan hal yang sama seperti yang didengar oleh teman saya itu.
“Toto itu siapa sih?”
Aaarggghhh.. Untung saja saya tidak terpancing untuk memocel kepala mereka dan berkomentar, “Lhaa.. kalo gak tau, kenapa lo ada di sini???”
Lalu, setelah menguping obrolan antara mereka, saya baru tahu bahwa mereka menghadiri konser pemusik sekaliber Toto lantaran tiket yang dijual teramat-sangat murah. Termasuk tiket sekelas VVIP yang juga saya pesan. Daripada bingung menghabiskan waktu akhir pekan, menonton konser ini menjadi alternatif yang lumayan menarik.
Walaupun, sekali lagi, mereka tidak tahu siapa sebenarnya si artis yang akan tampil di panggung itu.
Seketika itu, muncullah satu-persatu ingatan dalam kepala saya tentang cerita dari teman yang ini dan itu berkaitan dengan pengalaman yang sama.
Ada yang datang ke konser Craig David tapi ternyata tidak menyukai irama dance dan hip hop yang menghentak-hentak. Atau menghadiri konser My Chemical Romance dan Deep Purple, namun rupanya justru terganggu dengan hingar-bingar yang dihasilkan oleh musik yang mereka mainkan. Atau bahkan menghadiri konser Beyonce dan tidak tahu siapa sesungguhnya Beyonce itu.
Menariknya, dari sekian pengalaman serupa antara saya dan teman-teman, mereka-mereka yang kami temui di tiap konser itu semuanya berusia remaja. Sekumpulan anak remaja bersama teman-teman mereka yang dengan penuh keriaan menghabiskan malam bersama-sama untuk bersenang-senang.
Sehingga, mungkin, siapa artis yang akan muncul di panggung memang tidak terlalu penting.
Bisa jadi.
Bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah suatu bentuk setia kawan terhadap teman-teman lain, yang mungkin memang kebetulan menyukai si pemusik yang akan tampil. Tanpa adanya paksaan dari siapapun, saat teman-temannya mengajak, maka ia akan dengan kerelaan hati bersedia untuk ikut.
Atau dalam kadar yang lebih luas, ketika mengetahui bahwa sebagian besar remaja seusia mereka ternyata sedang menggandrungi Avenged Sevenfold, lalu mereka pun akan ikut serta.. lagi-lagi dengan kerelaan hati dan tanpa paksaan, untuk membeli tiketnya dan ikut menonton.
Burukkah?
Yah.. saya tidak berhak menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan itu memang buruk. Atau baik.
Karena buat saya sendiri, semua hal pasti punya kedua sisi itu. Positif dan negatif. Termasuk mengenai konformitas. Tinggal tergantung terhadap apa mereka berkonformitas.
Ketika konformitas ini dikaitkan dengan kriminalitas atau penggunaan obat terlarang, saya rasa jawabannya sudah jelas. Bahwa itu tidak bisa dibenarkan. Jangankan para remaja yang menggunakan obat terlarang atau melakukan tindak kriminal karena pengaruh si konformitas, orang lain yang menggunakan karena keinginan sendiri pun juga sama saja salahnya.
Namun ketika dikaitkan dengan menonton Jason Mraz di ajang Java Jazz Festival 2009, yah.. saya tidak tahu.
Di satu sisi, para remaja seperti mereka ini, yang sudah bela-belain membeli tiket special performance Jason Mraz, tapi setibanya di dalam ternyata hanya bisa ikut menyanyikan satu lagu I’m Yours, memang bisa dikatakan menyesaki areal pertunjukan. Yang mungkin seharusnya bisa diperuntukkan bagi orang lain yang memang menyukai Jason Mraz.
Di sisi lain, kehadiran mereka di ajang JJF 2009 mungkin justru bisa memperkenalkan mereka pada jenis musik yang sebelumnya tidak pernah mereka ketahui. Termasuk juga para musisi yang belum pernah mereka dengar namanya. Mereka akan memperoleh informasi yang lebih akurat karena mereka sendirilah yang hadir di sana, dan bukan saja mendengar dari cerita orang lain.
Lalu setelahnya, mereka bisa menentukan sendiri, apakah ternyata Jason Mraz itu cocok dengan telinga mereka.
Ah, mestinya saya bisa bercerita lebih banyak karena saya sudah melewati masa-masa seusia mereka.
Tapi sayangnya, saya lupa.
Atau memang tidak pernah mengalaminya, saya juga tidak yakin ![]()


21 Responses
waktu saya nonton the coors (sewaktu sayah masih abege..hahahaha) saya juga gak semua tau lagunya.. yang penting goyang!! yuk maaang!!
mbakDos: dirimu sebenernya nonton the coors atau dewi persik? kok pake goyang gergaji segala?!
imho ya salah satu kehebatan dan kekuatan promosi adalah membuat orang tertarik dengan “branding” suatu produk, walau belum tau produknya apa hihihihi..
mbakDos: SETUJUH!! salah siapa tertipu kalo gitu ya?!
Kadang saya juga bingung ada yang ngapalin lirik lagu-lagu dari musisi/grup yang akan ditonton. Bukan kenapa-napa, kalo gak gitu ngefans amat, ngapain bela-belain nonton konser?
mbakDos: ngg.. sapa tau justru mau belajar ngapalin lagu di konser itu?
melegakan penyanyi, karena barangkali dia jadi ndak perlu ambil pusing kualitas suaranya. Audiensnya ndak ngerti dia akan tampil saja, mereka tetep mau nonton.
atau tidak?
mbakDos: oohhh pantes aura kasih laris yaa
hem… selain itu memang uang mungkin yg menentukan… gw sendiri mau ntn ini itu sll ga kesampean krn faktor u itu hihihi…
mbakDos: justeru itu makanya sayah bisa nonton Toto
kalau saya prihatin sama yang gak bisa nonton pertunjukkan jason mraz karena kehabisan tiket. sementara itu ada orang yang mampu beli tiket, tapi hadir ke acara tersebut hanya untuk sebuah eksistensi…
mbakDos: yah.. *speechless*
biar eksis aja…
biar gaol githu loch…
mbakDos: kaya situ maksudnya?
ah. java mraz ituh. hahahaha
mbak saya pernah berdoa sama tuhan biar Dia menghidupkan kembali john lennon. karena sumpah mati saya pengen banget nonton konsernya lennon. he’s smart. he’s sexy. he rocks.
mbakDos: kalopun Tuhan tak bisa mengabulkan doamu, mungkin kau bisa minta bantuan doraemon untuk mengijinkanmu masuk ke laci lorong waktu itu
jason mraz itu genre musiknya jazz pa bukan toh ya?
mbakDos: ehm.. berhubung saya bukan pengamat musik, ngg jadi saya pun tak tahu.
Jason Mraz bukan jazz, masuk kategori pop-folk, well kemarin sih kebetulan saya nonton. Yaaa, dipaksa nge-jazz sebenernya sih, dengan memasukkan brass section dalam lagu-lagunya.
saya mungkin beruntung tinggal di negeri seberang, bulan maret ini saya nonton konser hampir tiap minggu, mulai dari JJF di jkt, kemudian mosaic music festival, dan minggu depan Coldplay.
mbakDos: lagipula, belakangan ini kan memang mulai banyak pencangkokan antara aliran musik ini dan itu. wong dangdut aja bisa dikawinkan sama punk *lirik ahmad dhani*
haduh haduuuh..
itu yang saya alami pas nonton Matt Bianco di JJF kemaren Mbaaaak… pengen rasanya menjitak abegeh di depan saya yang sudah menuh-menuhin Plenary Hall ikut berdesak-desakan, tapi komennya malah “eh Matt Bianco itu siap sih? orang ostrali ya?” arrrrrgh!! mengacaukan mood saya yang memang sangat niat nonton Matt Bianco… cih!
mbakDos: kok gak kamu jawab Chic, pertanyaan si abegeh itu?
jason mraz dan craig david musiknya “kaya” banget dengan bumbu musik aliran lain…craig dengan hip-hop dan pop-nya, jason dengan pop-nya dan klo nyanyi seperti nge-rap gitu namun bukan nge-rap (unik deh !!)
mbakDos: untung saya masih suka sama craig david
saya pengen nonton kmaren cuma karena penasaran dengan hebohnya acara itu, dan kebetulan saya suka mencoba-coba sesuatu yang baru
dan Toto ? saya cuma tau lau Lea
mbakDos: hehehe mencoba sesuatu yang baru? baru sekarang nonton JJF dong?!
terus terang,lagunya Jason M baru familiar setelah karaoke-an bareng sama keponakannya teman kantor.Masa iya sih,aku udah ketuaan buat dengerin lagu kayak gitu?
He he he….
mbakDos: keponakanmu umurnya lebih dari 5 taun kan ya?! yaa gak ketuaan kok
permisi mbak’e..
saya nge-link site ini ya….
maturnuwun ‘nggih…..
mbakDos: waahhh senangnya!! makasih jugaaa
Saya tau MCR dan Deep Purple, dan mungkin bisa nabung buat tiketnya, tapi tampat konsernya kejauhan!
*susahnya tinggal di pinggir negara*
mbakDos: waahhh sayangnya… emang tinggal di manakah?
Entah saya kampungan atau kurang gaul… tapi belum ada satu group musikpun yang benar-benar mampu membuat saya rela ngeluarin duit yang tidak sedikit hanya untuk berdesak-desakan didepan panggung dan beresiko kehilangan dompet dampet dan Hp, menonton mereka menyanyi secara life.
Sayang duitnya sih, hehehe….
mbakDos: kalo dipikir-pikir gila juga sih ya?! copet aja banyak yang bisa nonton konser, masa kita susah bener?!
bener . . . ! jadi ada 3 orang nih yang bikin aku penasaran ingin tahu musikalitas: silly, chika ma mbakdos . . . P
ya, musikalitas itu tidak ‘makbedunduk’ ada pada diri seseorang, itu hasil interaksi, proses dan bakat. kegagalan saya pada pakdok, ya karena terlalu memanjakan dia untuk memilih jenis musik, kesusu, fanatik, sok2an, emosional, temperamental, dah komplit! justru kondisi semacam ini membunuh musikalitas seseorang! jenis musik sangat tidak penting untuk musikalitas, karena itu akan mengkotak-kotak, lha klo cuman dapat satu kotak, fanatik, kapan pinternya? Wartawan yang menyebalkan dan bodoh selalu dengan pertanyaan, jadi musikmu ini aliran apa? mendengarkan musik, membentuk musikalitas seseorang adalah proses seumur hidup! ayo kapan adain resital piano . . tha, chik, sill
mbakDos: wah bes.. pasti dirimu salah pilih orang! sayah ini tak bisa main musik
si ester perlu membaca tulisan ini…
kemarin waktu dia tanya sama mbak soal ABG, jawabannya kan minim banget tuh…
nah ini dia… jawaban yang paling komplit
mbakDos: hahahaha jadi bakal ditulis ulang gitu artikelnya?
haha.. namanya juga abege.. masih mencari identitas diri. Semua pengen diliat.. semua pengen dicoba… kalaupun gak suka, mungkin lumayan buat memperkuat peer group yang baru mulai terbentuk di usia itu. hehe..
kalo buat kita, yah.. ngelus dada ajalah..
Di saat setengah mati rasanya mau ngeluarin uang untuk menonton idola, ada yang dengan santai nonton dengan anggapan murah dan gak menghargai musik yang disuguhkan.
Sungguh ironis..
mbakDos: yah.. kita semua pernah melewati masa-masa itu kan?!
mestinya angkatan 2000 reuni kali yaa
mbakDos: gimana kalo bikin buku angkatan dulu?!