It’s Valentine
Matanya menatap tajam ke sudut ruangan, walaupun saya tahu persis bahwa tidak ada apapun di sana selain rak yang penuh berisikan majalah. Ia meletakkan rokok di sudut bibirnya, menghirupnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya perlahan. Dilakukannya dengan cepat berulang kali. Terlalu cepat, bahkan.
Berulang kali itu pula ia membuang abu di ujung rokoknya ke atas tempat sampah yang merangkap sebagai asbak di bagian atasnya.
Saya hanya berdiri di hadapannya. Dalam diam.
Setelah serentetan kata-kata panjang yang mengisahkan kegalauan dan kekecewaannya, saya masih berdiri saja di tempat yang sama. Menunggunya. Entah masih akan melanjutkan omelan yang panjang, atau yah.. entahlah.
Saya hanya ingin berada di sana. Di dekatnya.
Batang rokoknya yang kesekian telah habis. Ia membuang puntung terakhirnya ke atas asbak. Ia tahu bahwa masih ada sekian batang lagi di dalam bungkus, tapi ia malahan memasukkannya ke dalam kantong celana. Lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding yang terletak persis di belakangnya.
Kembali menghirup napas panjang dan menghembuskannya perlahan, sambil menatap entah pada apa. Matanya mulai berkaca-kaca.
Sebelum sempat memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, saya meraihnya. Ia menggenggam tangan saya dengan sangat erat.
Kemudian menarik tangannya dan membawanya kembali ke dalam ruang kerjanya. Ia tidak membantah, tidak pula menghentikan langkah saya membawanya ke sana. Ia juga tidak mengatakan apapun ketika saya memintanya duduk di atas kursi. Tepat di hadapan saya.
Ia tahu apa yang akan saya lakukan kemudian.
Meletakkan kepalanya ke atas pundak saya. Memeluknya dan mengusap kepalanya. Membiarkannya semakin mengeratkan tangannya yang melingkari tubuh saya.
Membiarkannya meletakkan seluruh kemarahan dan kegalauannya pada bahu saya juga.
Dan perlahan, saya mulai mendengarnya terisak.
You know that I’ll always be right here, darl..

12 Responses
Keren banget Mbak, terinspirasi dari kisah nyata? =)
wihiy…jadi tommy page nih ceritanya?
*everyone needs shoulder to cry on…
everyone needs a friend to rely on…
“duduk di atas kursi. Tepat di hadapan saya ?”
kamu berdiri gitu?
wah jangan2 bukan meletakkan kepala di pundak nduk, tapi membenamkan kepala di ….. (tiiiiiiitttsss – sensor)
pantesan terisak-isak…. (atau jangan2 tersengal-sengal – kehabisan napas) =))
hmmmm…speechless gue…
massss japrooooo merusak imaginasi romantisme ajaaaa neeeeehhh komentarnya…payah payah…
wowwwwwwwwww… romantissssssss
Ini gak ada hubungan dengan postingan ini sih, tapi, seriously, foto studionya banyak bgt ya? o_O;
oh…jadi ini kisah sedih di hari valentine ya mbak?
ck..ck..ck.. saya kagum dengan bahu mbak, kuat banget ya…
seperti logika terbalik, ya ?
indah memang
*cerita dan penulisnya*
lho masalahnya apa kasih tau dong……
narasinya sangat kuat, jadi seperti melihat film pendek
salam kenal ya bu, kapan maen ke semarang lagi?
waa.. baguus mbaa.. tulisannya dan video nyaa.. hehee.. lagunya siapa si ni mba btw?