1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

It’s Valentine

Matanya menatap tajam ke sudut ruangan, walaupun saya tahu persis bahwa tidak ada apapun di sana selain rak yang penuh berisikan majalah. Ia meletakkan rokok di sudut bibirnya, menghirupnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya perlahan. Dilakukannya dengan cepat berulang kali. Terlalu cepat, bahkan.

Berulang kali itu pula ia membuang abu di ujung rokoknya ke atas tempat sampah yang merangkap sebagai asbak di bagian atasnya.

Saya hanya berdiri di hadapannya. Dalam diam.

Setelah serentetan kata-kata panjang yang mengisahkan kegalauan dan kekecewaannya, saya masih berdiri saja di tempat yang sama. Menunggunya. Entah masih akan melanjutkan omelan yang panjang, atau yah.. entahlah.

Saya hanya ingin berada di sana. Di dekatnya.

Batang rokoknya yang kesekian telah habis. Ia membuang puntung terakhirnya ke atas asbak. Ia tahu bahwa masih ada sekian batang lagi di dalam bungkus, tapi ia malahan memasukkannya ke dalam kantong celana. Lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding yang terletak persis di belakangnya.

Kembali menghirup napas panjang dan menghembuskannya perlahan, sambil menatap entah pada apa. Matanya mulai berkaca-kaca.

Sebelum sempat memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, saya meraihnya. Ia menggenggam tangan saya dengan sangat erat.

Kemudian menarik tangannya dan membawanya kembali ke dalam ruang kerjanya. Ia tidak membantah, tidak pula menghentikan langkah saya membawanya ke sana. Ia juga tidak mengatakan apapun ketika saya memintanya duduk di atas kursi. Tepat di hadapan saya.

Ia tahu apa yang akan saya lakukan kemudian.

Meletakkan kepalanya ke atas pundak saya. Memeluknya dan mengusap kepalanya. Membiarkannya semakin mengeratkan tangannya yang melingkari tubuh saya.

Membiarkannya meletakkan seluruh kemarahan dan kegalauannya pada bahu saya juga.

Dan perlahan, saya mulai mendengarnya terisak.

You know that I’ll always be right here, darl..

12 Responses

on March 21st, 2009 at 10:39 pm Vincentia Says:

Keren banget Mbak, terinspirasi dari kisah nyata? =)

on March 22nd, 2009 at 2:38 am timo Says:

wihiy…jadi tommy page nih ceritanya?
*everyone needs shoulder to cry on…
everyone needs a friend to rely on…

on March 22nd, 2009 at 5:47 am japro Says:

“duduk di atas kursi. Tepat di hadapan saya ?”

kamu berdiri gitu?

wah jangan2 bukan meletakkan kepala di pundak nduk, tapi membenamkan kepala di ….. (tiiiiiiitttsss – sensor)

pantesan terisak-isak…. (atau jangan2 tersengal-sengal – kehabisan napas) =))

on March 22nd, 2009 at 5:15 pm ochaocha Says:

hmmmm…speechless gue…

on March 22nd, 2009 at 5:18 pm ochaocha Says:

massss japrooooo merusak imaginasi romantisme ajaaaa neeeeehhh komentarnya…payah payah…

on March 23rd, 2009 at 12:23 am silly Says:

wowwwwwwwwww… romantissssssss

on March 23rd, 2009 at 12:00 pm Droo Says:

Ini gak ada hubungan dengan postingan ini sih, tapi, seriously, foto studionya banyak bgt ya? o_O;

on March 23rd, 2009 at 4:26 pm Anneke Priskila Says:

oh…jadi ini kisah sedih di hari valentine ya mbak? ;)

ck..ck..ck.. saya kagum dengan bahu mbak, kuat banget ya… :D

on March 24th, 2009 at 3:08 am warm Says:

seperti logika terbalik, ya ?
indah memang :)
*cerita dan penulisnya*

on March 24th, 2009 at 6:48 pm efnu Says:

lho masalahnya apa kasih tau dong……

on March 26th, 2009 at 7:06 am Niffo Says:

narasinya sangat kuat, jadi seperti melihat film pendek :D
salam kenal ya bu, kapan maen ke semarang lagi?

on March 26th, 2009 at 8:22 pm ghea Says:

waa.. baguus mbaa.. tulisannya dan video nyaa.. hehee.. lagunya siapa si ni mba btw?

Leave a Reply