Sepasang Punya Saya
Belakangan, Facebook merupakan suatu tempat persinggahan yang menyenangkan buat saya.
Bukan.. bukan karena berbagai aplikasi yang ditawarkan. Saya sudah tidak lagi menggunakan aplikasi-aplikasi itu, tentu selain beberapa di antaranya yang memang bisa mengakomodir kegemaran saya akan menulis, menonton film, dan juga menikmati musik. Bahkan invitation dari teman-teman untuk menggunakan aplikasi sebagaimana yang mereka gunakan pun seringkali (atau bahkan hampir selalu) saya tolak. Karena memang bisa dipastikan kalau saya tidak akan memainkan aplikasi-aplikasi itu.
Lantas kalau bukan itu, karena apa Facebook tiba-tiba menjadi menarik (lagi)?
Ya karena saya bisa bertemu dengan teman-teman lama.
Bukan saja teman-teman saat saya masih menjadi mahasiswa (babak pertama) dulu itu, dan juga bukan hanya teman-teman yang saya temui melalui jelajah di dunia maya. Tetapi bahkan teman-teman semasa saya masih mengenakan seragam sekolah.
Dari putih abu-abu, putih biru, bahkan putih merah.
Bertemu lagi dengan mereka-mereka ini, walaupun hanya melalui Facebook, seketika membuat saya memutar kembali ingatan akan peristiwa-peristiwa yang ‘nggak banget’, culun, cupu, yang semasa itu terkesan paling hebat dan tiada taranya. Kalau sekarang diingat, saya malu sendiri.
Kok bisa-bisanya gue begitu ya, dulu?
Semakin keranjingan dengan kenangan-kenangan masa itu, saya pun mulai membuka friend list. Menelusuri satu-persatu teman-teman yang ada di sana. Sambil menelusuri juga kenangan yang pertama kali menyeruak saat saya melihat foto dan membaca nama si teman.
Dan saya pun terhenti saat menemukan salah satu di antaranya.
Seorang gadis mungil, berkulit putih, berwajah manis, dan diidolakan oleh (sangat) banyak pria di sekolah kami dulu. Jari-jarinya yang kecil tidak menghalanginya untuk menjadi mahir memainkan gitar. Selain bermain gitar, si teman mungil ini juga mahir dalam pelajaran olahraga.
Saya selalu terheran-heran dengan kapasitas paru-parunya, yang seolah-olah bisa menampung udara sedemikian banyaknya. Ia bisa berlari dengan kecepatan sedang yang konstan mengelilingi gedung sekolah sebanyak dua sampai tiga kali, sebagaimana yang diinstruksikan kepada kami semua untuk pemanasan. Lalu setelahnya, ia tetap bisa tertawa-tawa seolah-olah tidak merasa lelah.
Sementara saya.. baru satu-setengah kali putaran sudah tewas di tengah jalan.
Tapi bukan itu pula sebenarnya yang membuat saya iri padanya. Karena walaupun si mungil ini cukup mahir berolahraga dan punya stamina yang jauh lebih baik daripada saya, guru olahraga kami tidak memperlakukannya secara istimewa. Malah, bisa dibilang, si mungil juga bukan murid kesayangannya.
Sebaliknya, justru sayalah yang mendapatkan perhatian ekstra dari guru olahraga kami.
Ya, ya.. saya tahu. Harusnya saya tidak perlu iri.
Tapi bagaimana saya tidak iri padanya, kalau si guru olahraga ini selalu memberikan perhatian kepada saya, dan justru membuat saya malas bergerak di kala jam olahraga berlangsung?! Baik dalam permainan basket, voli, main benteng (*gyahahaha.. masih ada mainan ini!), atau bahkan hanya saat pemanasan.
Si guru olahraga sibuk memperhatikan bagian.. yah.. itulah.. di antara perut dan leher saya.
Yang, kalau menurut si mungil, memang tidak bisa diam di kala saya sedang bergerak ke sana-kemari (*argh bahasanya!). Setiap gerakan yang saya buat, akan mengakibatkan echo pada bagian itu.
Bisa terbayangkan ‘kan, apa yang terjadi kalau saya bermain basket? Bukan hanya bola basketnya saja yang memantul ke lapangan setiap saat saya men-dribble. Dan bukan saja bola volinya yang memantul di pergelangan tangan saat saya berusaha menerima passing dari seorang teman.
Beberapa teman pria pun bahkan (dengan sadisnya!) mengatakan bahwa berlari mengelilingi gedung sekolah saat pemanasan dilakukan, akan menjadi lebih sulit bila berlari di dekat saya. Karena tiba-tiba tanah yang dipijak ikut bergoyang. Atau karena mendadak mereka sulit sekali memusatkan perhatian pada rute yang harus ditempuh.
Alhasil, walaupun sebenarnya saya sangat menikmati bermain basket, olahraga selalu menjadi matapelajaran yang paling tidak saya sukai.
Saya bahkan sempat berpikir untuk mengenakan kemben selama olahraga berlangsung. Hanya agar si guru olahraga, dan juga teman-teman pria, tidak mengalihkan perhatian mereka kepada (salah satu… eh, sepasang bagian tubuh) saya. Untunglah niat itu saya urungkan kembali, mengingat pengalaman buruk saya mengenakan kemben, yang malahan mengakibatkan saya sesak napas.
Keengganan saya untuk ikut serta dalam kegiatan olahraga terus berlangsung hingga SMA. Oh iya, pengalaman bersama si mungil dan guru olahraga kami itu terjadi ketika saya masih mengenakan seragam putih biru!
Peristiwa yang sama kembali terulang saat saya beranjak SMA. Walaupun kali itu guru olahraga kami adalah seorang wanita, tetapi tetaplah saya memiliki serombongan teman-teman pria yang memang bermata liar dan bernaluri buas.
Pada akhirnya, saya tidak saja merasa iri pada si mungil. Tapi juga kepada teman-teman wanita lainnya. Yang kemudian berkembang menjadi rasa minder. Bahkan mungkin juga terhadap semua kaum wanita yang pernah saya temui.
Karena saya memiliki sepasang anggota tubuh yang besarnya melebihi milik wanita-wanita lainnya.
Berbagai cara pun saya lakukan untuk menyembunyikannya. Setidaknya, hanya untuk membuatnya terkesan tidak terlalu besar. Mengenakan pakaian gombrong dan lebar, melapisi kaos yang saya kenakan dengan kemeja, dan berbagai usaha lain yang saya pikir bisa mengurangi tampilan ukurannya. Mengenakan asesoris pada bagian lain dari tubuh saya, agar yang sepasang itu tidak lagi menjadi pusat perhatian orang lain.
Bertahun-tahun berlalu, dan setiap usaha yang saya lakukan telah terbukti gagal.
Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan untuk ‘mengurangi’ ukurannya (eh, ukuran mereka), atau sekedar membuatnya terlihat tidak terlalu besar. Ya… memang segitu-lah adanya.
Beruntungnya, di saat saya mulai merasa putus asa, saya justru menemukan berbagai fakta yang seharusnya bisa membuat saya menyudahi saja semua usaha itu.
Bahwa ternyata cukup banyak wanita, bahkan sangat banyak, yang malahan menginginkan sepasang bagian tubuhnya itu bisa berukuran lebih besar dari yang mereka miliki awalnya.
Kebalikan dari yang saya lakukan.
Mereka dengan sengaja menggunakan push-up bra atau menambahkan padding di dalam bra yang mereka kenakan, di saat saya berharap ada yang menciptakan push-down bra. Mereka mengenakan baju dengan belahan dada yang sangat rendah agar garisnya terlihat mengintip, sedangkan saya malahan mengenakan pakaian yang menutup sampai ke leher. Ketika mengenakan kemeja, beberapa kancing teratas sengaja dibuka agar tampak sedikit belahan di baliknya, di saat saya menemukan kancing-kancing kemeja saya justru seringkali terbuka dengan sendirinya hingga saya kebingungan untuk menutupinya.
Lalu di saat usaha mereka tampak tidak membuahkan hasil, produsen yang menyadari kebutuhan para wanita ini pun menciptakan krim yang (katanya) dapat memperbesar ukuran sepasang bagian tubuh itu tadi.
Saya ternganga saat mengetahuinya. Dan lebih terkejut lagi bahwa rupanya sungguh ada yang mengonsumsi krim pembesar itu.
Rupanya sungguh ada yang berminat!
Saya pun menundukkan kepala, memperhatikan apa yang saya punyai. Lalu membayangkan apa yang terjadi jika saya menggunakan krim yang sama.
Kontan saya terbahak-bahak.
Edan! Apa jadinya ya??
It’s a blessing in disguise, I guess.
Di saat semua orang berusaha setengah mati untuk bisa memiliki apa yang sudah saya punyai, ya mestinya saya bersyukur karena tidak perlu jungkir-balik agar memilikinya. Saya justru harus mensyukuri dan berhenti mengeluh tentang itu.
Dan mungkin memang tidak salah jika berbesar kepala tentang sepasang yang besar itu tadi.
Walaupun..
Iya, walaupun.. memang masih sulit buat saya menemukan kemeja dengan ukuran yang tepat. Tepat, dengan kancing yang tidak melulu terbuka pada bagian dada, sementara pada bagian perutnya tetap tertutup dengan sempurna.
Hush! Udah udah! Gak usah dibayangin besarnya seberapa! Apalagi pake nanya-nanya nomer berapa! ![]()




29 Responses
wakakakak… nomer berapa mbakdos?
*tetep nekat tanya*
mbakDos: nomer 1B. eh, nomer rumah kan ya?! *ngeles!*
“Hush! Udah udah! Gak usah dibayangin besarnya seberapa! Apalagi pake nanya-nanya nomer berapa! ”
Kalimat penutup yang sangat provokatif. Hehehe. Padahal situ suka kan kalo ditanya-tanya??? *Ngacirrrr*
mbakDos: cukup provokatif untuk membuat orang menduga-duga sendiri jawabannya kan?!
hahahahahahahhahahaha..
ga brenti ngakak bacanya. karena
SEMUA JUGA SAYA ALAMI PERSISSSSS Mbakyuuu..
sampe minta operasi “pengecilan” sama mama
biar bisa pake kmejaaaaa..
arghh,memalukan sekali klo diingat2..
sekaranggg, I PROUD OF THEM!
mbakDos: selamat!
hiyahahahaha…same here~
mbakDos: tos! *ngg pake tangan aja tapinya ya, chik!*
skrinsut lah mbak…
*ngibrit*
mbakDos: skrinsyut pesbuk? ah ya masa situ gak tau?! *ngeles lagiihh*
iya saya punya juga kegedean nih, mbak..
mbakDos: punya lo yang sebelah mana, set?!
gyahahahaha~ postingan nekat
mbakDos: noohhh!! bukan nekat, dut! tapi FAKTA!
Bagus juga tuh…., wah sayangnya dulu gua masih alim sih…, kok gua nggak merhatiin ya… Coba sekarang… He…he..he…
PEACE GHE…….
mbakDos: yakin sekarang mau merhatiin??
Memang seharusnya in disguise, bukan? Bayangkan undang-undang yang dilanggar jika tidak.
mbakDos: disguise atau enggak.. itu tinggal tergantung bagaimana kita memersepsikannya, bukankah?!
Ups, kupikir cuma membicarakan facebook. Biarkan mereka bernafas lega mbakDos.
Kalau ada yang memandang nakal, saya bantu colok matanya.
mbakDos: memandang nakal? ngg.. bukan, pakDok. yang saya punyai itu bukan sepasang nakal, tapi sepasang ngg.. itu lhooo.. tapi bener, bukan nakal kok!
we have the same experience about that Mbak…
mbakDos: gak perlu disesali dong?!
ah, jadi tersipu-sipu nich. mbak dos bisa aja. saya dulu juga punya teman pria di SMP yang suka nebak-nebak begini, “kalo si A pasti 34, si B 36, dan si C kayaknya 36 B tuh”. Trus mereka cekikikan sendiri. Anehnya waktu itu, saya nggak ngeh, kalo yang mereka maksud adalah ukuran “sepasang punya kita” itu, hehehe
mbakDos: tapi gak sampe mengira kalo itu ukuran sepatu kan?!
tumben nggak ada gambar, video atau ilustrasi-nya… biasanya kan MbakDos kalau nulis pasti ada tuh hehehe…:p
*kabur
mbakDos: kan udah ada tuh di bagian kanan atas
Woow… aah bahas FB aja…
Yoih tuuh mbak dos, sekarang saya juga lagi keranjingan FB gara-gara nemu temen-temen SMP-SMA-Kuliahan dll, dulu susah banget niih nemuin temen2 kirain jadi Net-freak sendirian …
Soal “sepasang” itu… ehemm adalah sesuatu yang patut di syukuri adanya, “heaven masterpiece”
mbakDos: hahahaha.. sungguh istilah yang tepat! “heaven masterpiece”!
ini ttg apaan toh ? *pura2 gak mudheng*
ya tiap orang punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing,
manusiawi …
mbakDos: jadi, masih gak mudheng juga?
hahaha…jadi speechless nih
nice post mbak and saya sangat suka dengan kalimat ini: “It’s a blessing in disguise.”
mbakDos: it is!
makasih lhooo
ya ampun mbakyu ati2 nanti ada komisi anti pornografi baca blognya!!! ahahhahaa aku menanti komen dr mas jap tumben giliran udah eksplisit malah gak naro komen WAHAHAHHAHAH
mbakDos: lho, emang sebelah mananya yang porno, in?!
ah, kalo mas jap mah justru jangan diharapkan, in!
no comment.
mbakDos: hahaha.. sampe gak bisa komen ya, pak?!
Mbak …
Gimana kalo bikin label pakaian sendiri, biar bisa pas di sana sini … Atau penjahit pribadi deh
Bener deh, suka susah nyari baju yang bisa pas di semua tempat…
mbakDos: wah, ntar kalo sibuk sama penjahit pribadi, gak bisa posting di blog. gak seru ah!
speechless gue…ya mang sebaiknya si Ta…mensyukuri apa yang elo punyaaa hahahhaha
mbakDos: ah lo speechless mulu, cha!
Komentar Dodit boong bgt tuh.. jelas2 dia yg ngiler2 dulu SMA!
Kalo gw ngga termasuk kan Ghe?
mbakDos: kayanya kebalik deh mboh pertanyaannya.. harusnya gue yang nanya, “emang dulu lo enggak, mboh?!”
wah kasian ya temen-temen mbakDos di SMP dan SMA, cuman bisa NGECES doang…
tapi masa gak ada nduk yang punya akses ‘khusus’ (kayaknya seingetku kok ada )… =)) piss nduk
mbakDos: akses khusus untuk ngeces?!
ghe…….ternyata elo sempet ngerasa gitu yah??? ups krn gw pkr elo ga pernah bemasalah dengan….yang itu tu!!!!!!! but any way thx God u finally can take it as a gift 4 u…….
keep on writing girl….. i’m waiting
mbakDos: hahaha.. ya iya lah.. secara elo dulu salah satu yang bahas-bahas mulu ‘daerah situ’
anyway, makasih yaaaa
Hahaha………emang bener mbak….kadang risih banget, kalo mata mata pria melotot kearah” punya kita” itu, terus sambil suit suit lagi,…..Heeeeeghhhh…. tp gimana lagi….itu karunia Allah, dan kata temenku mesti disyukuri jg……….
mbakDos: yaahh anggap aja yang suit-suit itu juga lagi mensyukuri apa yang kita punya
Super-Duper site! I am loving it!! Will come back again – taking you feeds also, Thanks.
mbakDos: thank you!
A
B
C
D
E
F
G
H
mbakDos: kok cuma sampe H?
[...] kadang sudah tidak peduli lagi ada bagian tubuh yang tersenggol sana-sini (ah, kalian pasti tahu bagian tubuh mana yang saya maksud, [...]
ga perlu risih, it’s a blessing! kan lo tau diluar sana ada wanita yg bela2in beli krim untuk memperbesar, belum termasuk yg rela dibedah sana sini dengan pisau hanya untuk dapat perhatian lebih.
mbakDos: sekarang? ya udah gak risih dong ah!
whuuuaa…kok jadi kebayang-bayang ya???bener tuh kata yg di atas, harusnya dikasih ilustrasi biar gak salah ngebayanginnya….*lanjut ngebayangin ah*
mbakDos: namanya juga ngebayangin, ya bebas-bebas aja.. kalo dikasih ilustrasi kan malah buyar bayanginnya