Sepenggal Mimpi yang Tertunda
Senja mulai bergelayut, merambat membayangi suasana. Sepi. Awan melajukan mobilnya perlahan. Mencoba menikmati rasa yang masih menyelubunginya. Suara merdu Sarah McLachlan menemani keberadaan rasa itu pada diri Awan, dan juga Fadya.
“Besok kamu libur, kan?!”
“I…iya,” Fadya mengerutkan keningnya, tidak mengerti, “Kenapa?”
Awan hanya tersenyum. Membiarkan Fadya mengetahui sendiri jawabannya.
Fadya menatap Awan dengan senyum curiga. Apa lagi ini?
“Udah, liat aja entar,” sahut Awan, seolah dapat membaca apa yang ada di benak Fadya. Ia lagi-lagi tersenyum. Kali ini berusaha menyembunyikan apa yang ada dalam kepalanya sendiri. Ia coba mengalihkan perih yang mulai merambati hatinya. Setengah berharap akan menghilang kemudian.
Awan memutar kemudi, membelokkan mobilnya. Seperti sebuah bukit, ia menaikinya. Berjalan pelan.
Fadya masih sibuk dengan kebingungannya. Ia tidak mengerti. Sepi. Memang sudah menjelang senja. Dan ia masih bertanya-tanya, akan ke manakah Awan membawanya.
Tak lama, pendar-pendar cahaya muncul dari atas. Mobil Awan masih menanjak. Lalu pendar itu semakin jelas, membentuk kumpulan cahaya yang semakin terang. Dan tibalah mereka.
Sebuah lapangan luas, tampak seperti tempat parkir kendaraan. Hanya ada satu kendaraan lain di sana, selain mobil Awan. Di sisinya, berderet warung-warung makan. Beberapa di antaranya sudah tutup. Hanya sebagian kecil yang masih tersisa. Beberapa orang duduk-duduk di warung itu sambil merokok.
Belum sempat Fadya mencermati lebih lanjut, Awan membukakan pintu bagi Fadya, mempersilakan Fadya keluar. Ia kemudian menggenggam tangan Fadya, erat sekali, dan tidak ingin melepaskannya. Fadya tidak berucap ketika Awan terus menggandengnya dan membimbingnya berjalan melintasi lapangan parkir dan warung-warung itu.
“Wah, udah lama nggak ke sini, Kang?”
Awan tersenyum, “Iya nih, Pak.”
Pria yang duduk di depan warungnya itu sumringah, “Kopi?”
“Teh aja, Pak. Dua ya.”
“Beres, Kang. Nanti diantar.”
Fadya tidak mengerti. Mereka tampak sangat akrab. Dan Awan tampak bukan pertama kalinya singgah di tempat ini.
Awan menatap Fadya. Tersenyum kala menemukan kebingungan di wajahnya.
“Itu Pak Yayat. Kalo aku ke sini, selalu mampir warungnya dia. Makan, minum, ngerokok, atau cuma sekedar ngobrol aja.”
“Kamu… sering ke sini?”
Awan mengangguk.
“Sejak kapan?”
“Sejak ketemu kamu.”
Fadya mengerutkan dahinya, semakin tidak mengerti, “Emang ada apa sih di sini, Wan?”
Lagi-lagi Awan hanya tersenyum. Tidak ingin menjawab. Ia terus menggandeng Fadya. Dan kali ini ia berusaha lebih keras untuk mengenyahkan saja rasa perih yang kembali melanda hatinya.
Tibalah mereka. Sebuah lapangan lain. Tidak terlalu luas, namun menampung keindahan yang luar biasa. Dari tempat itu, seluruh penjuru kebun teh ada di bawah telapak kaki. Bias cahaya matahari kala senja merupakan keindahan yang tiada taranya. Merah. Memantul di kaki langit. Dengan bingkai awan yang menggumpal, memberikan sedikit ruang bagi cahaya untuk bersembunyi.
Fadya terkejut bukan main. Ia bahkan tidak sanggup berucap. Tanpa sadar, dilepaskannya genggamannya dari tangan Awan, lalu berjalan ke tepian. Matanya masih terus terbelalak. Ia kemudian menoleh kepada Awan. Hendak mengungkapkan keindahan yang dirasakannya. Namun ungkapan itu tidak juga keluar dari mulutnya.
Sudah diduganya. Ini akan menjadi suatu kejutan yang luar biasa bagi Fadya. Awan sangat senang. Namun ia tetap tidak mampu mengalihkan kepedihannya. Dadanya terasa sakit. Tidak hanya karena penyakit yang mulai menderanya, tapi juga karena dalamnya rasa itu. Rasa cintanya pada Fadya. Ia menatap Fadya dari kejauhan. Membiarkan wanita itu menikmati kegembiraannya.
Jika saja aku bisa memberikan keindahan ini kepadamu… Jika saja aku bisa menikmati selalu senyummu… Mungkin aku akan merelakan nyawa ini terenggut dariku.
Lalu tiba-tiba kerinduan yang luar biasa menyergap Awan. Begitu besar inginnya merengkuh Fadya dan tidak melepaskannya lagi.
Mengapa aku harus mencintainya sedemikian besar?
Perlahan dilangkahkannya kaki mendekat. Dan kini, Fadya sudah di tepat di depannya, masih terus menatap keindahan di bawah sana. Awan mendekat lagi. Lalu melingkarkan tangannya di pinggang Fadya. Fadya terkejut, terdiam seketika, namun tidak ingin pula melepaskan pelukan itu. Ia pun merangkulkan tangannya pada tangan Awan.
Jika saja diijinkan, Awan ingin jiwanya tercabut kala itu. Ia ingin nyawanya diambil detik itu juga. Saat ia berada dalam pelukan Fadya. Kala ia merasakan betapa besar cinta wanita itu padanya. Lalu ia menolaknya mentah-mentah. Ia sungguh tidak ingin terenggut. Ia ingin menikmati keindahan rasa itu, untuk selamanya. Dan bukan sekedar sepanjang hidupnya. Awan memejamkan matanya.
Tubuhnya mulai gemetar. Entah karena kabut beserta angin dingin yang terus menerpa atau karena tidak tertahankannya rasa yang semakin meluap.
“Awan… kamu kedinginan?”
Ia menggeleng. Semakin mempererat pelukannya. Namun, tubuhnya lebih dapat berucap jujur tampaknya.
“Kamu kenapa, Wan?”
Lagi-lagi dijawab dengan gelengan kepala.
Fadya semakin khawatir, “Kita turun aja ya?!”
Gelengan kepala Awan semakin kuat, demikian pula pelukannya. “Jangan, Fad. Please…”
Fadya diam. Masih khawatir. Namun membiarkan saja Awan tetap demikian.
Lalu diam.
Pelukan itu semakin menghangat. Menyalurkan rasa yang menenangkan bagi mereka. Ketenangan yang tiba-tiba dipudarkan oleh sebuah tetesan yang membasahi pundak Fadya.
“Ada apa?” suara itu, pelan. Selalu membangkitkan ketenangan dalam diri Awan. Selalu menimbulkan kerinduan yang luar biasa padanya.
Masih diam. Namun air mata itu telah berbicara cukup banyak.
“Fad… promise me one thing.”
“Apa?”
“Please… don’t ever… leave me.”
__________
*Geezz.. how I miss those times when I wrote this script.

7 Responses
Wah..Mba Agatha, critanya bagus..sedih, mengharukan sekaligus juga indah.. Berdasarkan kisah nyata yah?
mbakDos: hahaha.. kisah nyata? mudah-mudahaann *halah, ngarep!*
si Awan memanag aneh ya, fad ?
Eh, gath ?
mbakDos: kok aneh sih?? keren tauukk hahaha..
“Wan.. maaf.. Aku gak bisa..” Fadya membalas dengan menunduk.
“Kenapa Fad..?” Awan mengangkat wajah Fadya dengan penuh rasa penasaran.
Fadya berusaha memalingkan wajahnya, “Sudahlah Wan.. Sebentar lagi turun hujan…”
“Tidak.. beritahu aku… Kenapa Fad?” Awan terus mengejar.
Sambil menundukkan wajahnya, Fadya menghela nafas panjang dengan berat. “Maaf Wan.. Aku harus pulang.. Jemuranku belum diangkat…”
mbakDos: “lho, kan seharian kita belum jemur baju?!” lanjut awan.
Kamu kenapa wan ?
Fadya sempat khawatir, ” kita turun aja ya?
Gelengan kapal awan semakin kuat…., demikian pula pelukannya…..( Gimana mo ngomong…wong awan belum gosok gigi…)
mbakDos: lhaa tadi gak nitip odol sama sikat gigi sih sama yang punya warung
Hmmm…tak tahu harus berkata apa…seperti berada di sana yang jelas…
Ya since i know that dirimyu manusia introversi juga ya..jadi aku hanya menerka2 apakah ini kamu atau orang lain..hehehe walau deep inside my heart gue tau sapa orangnya *soootttooyyy*…
mbakDos: emang sotooyyyy
ditunggu novelnya…
atau sinetronnya…
;p
mbakDos: AMIIINNNNNN
ditunggu kopinya …
mbakDos: pake krimer gak? kalo gula..?