Going Nowhere
Saya menundukkan kepala, tidak berani menatap pria yang tengah duduk di hadapan saya ini. Tapi saya tahu pasti, ia masih menatap saya. Dengan helaan napasnya yang panjang, tetap tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Menunggu.
Sementara saya justru berharap bahwa ialah yang akan mulai mengeluarkan suara. Tidak membiarkan kami tercekat dalam keheningan seperti ini.
Memang… Ini memang bukan kali pertama, atau kedua, kami duduk berhadapan seperti ini. Di teras rumah saya, atau beberapa kali juga di teras rumahnya. Saya selalu datang kepadanya dengan menyertakan keluhan yang sama. Menceritakan kesialan yang saya alami dengan panjang-lebar, membiarkannya duduk diam dan mendengarkan hingga saya kehabisan kata-kata. Lalu ia akan mengemukakan berbagai pertimbangan yang muncul dalam kepalanya. Yang semuanya sangat masuk akal.
Ia bahkan membantu saya menarik kesimpulan tentang permasalahan yang telah saya alami. Dan hampir selalu diakhiri dengan jalan keluar yang semestinya saya tempuh untuk menyelesaikan masalah itu. Lagi, dengan pertimbangan yang sangat.. sangat logis.
Namun yang ada, di saat saya harus mengambil keputusan seperti apa yang sudah kami bahas sebelumnya, saya malahan mengurungkan niatan itu. Sudah sedemikian panjang percakapan yang kami lakukan, bertimbang ini-itu, tapi di hari H saya justru mundur teratur.
Lalu ketika masalah yang sama kembali melanda, saya juga kembali menemui dirinya. Mengutarakan keluhan yang sama. Dan ini terjadi berulang kali.
Termasuk saat itu.
Sudah menjelang tengah malam. Kami duduk bersebelahan di teras rumah saya, menyerongkan posisi agar saling berhadapan satu sama lain. Entah sudah berapa lama kami duduk di kursi masing-masing, mungkin juga tidak mengubah posisi sama sekali.
“I’ve asked you the same question all over again,” katanya pelan, nyaris tak terdengar di sela helaan napasnya.
“Then please don’t ask me another why,” sahut saya.
Lagi-lagi kami terdiam.
Saya tahu, sangat tahu bahwa saya tidak seharusnya membantah. Berkelit dan membela diri dengan alasan ini-itu. Karena pada akhirnya, saya juga datang lagi padanya. Dengan wajah murung tanpa senyum, atau mata sembab akibat semalaman berusaha keras menghentikan air mata yang tidak kunjung berhenti mengalir deras membasahi seluruh wajah saya.
Setelah pertengkaran kekasih saya.
Pertengkaran yang entah sudah berapa ribu kali terjadi sejak hubungan cinta saya dengan sang kekasih itu diresmikan beberapa tahun sebelumnya. Pertengkaran yang justru lebih sering mewarnai keseharian kami. Pertengkaran yang pada akhirnya membuat saya semakin mempertanyakan kelanjutan hubungan ini.
Saya bahkan telah tiba di satu titik di mana saya tidak tahu kesalahan apa yang telah saya perbuat, demikian parahnya sampai kekasih saya itu murka. Saya tidak tahu mengapa saya membuatnya marah. Ia juga tidak pernah memberitahu, dan membiarkan saya menginterpretasikan sendiri makna dari bantingan gagang telepon dari seberang sana setelah percakapan yang semula saya pikir berlangsung baik-baik saja. Berbagai pertanyaan pun muncul dalam kepala saya, tapi saya lebih memilih untuk tetap membiarkannya ada di sana dan tidak mengungkapkannya.
Lalu saya akan datang pada pria ini, yang saat ini tengah duduk di hadapan saya. Mengeluhkan apa yang telah terjadi antara saya dengan sang kekasih. Mulanya, karena ia adalah salah seorang sahabat kekasih saya, yang juga mengenal saya. Lama-lama, ia selalu menjadi orang pertama yang akan saya datangi saat masalah dengan sang kekasih ini terjadi.
“You might hate me for asking you this,” ucapnya, memecah kesunyian seketika, kembali menghela napas panjang sebelum kemudian melanjutkan, “Kalo lo memang gak tahan lagi sama kelakuannya dia, kenapa gak lo tinggalin aja sih?!”
Seketika itu pula, dada saya terasa sakit. Demikian sakitnya hingga saya tidak sanggup lagi membendung air mata yang mulai mengalir perlahan. Dalam sekejap, saya tahu apa yang seharusnya saya lakukan, dari dulu. Tapi kenyataannya, saya malahan berkeras mempertahankan sesuatu yang sudah tidak sepantasnya lagi dipertahankan.
Tentang perasaan.
“Gue.. gue sayang sama dia.”
“Tha, ketika dari hubungan lo sama dia udah gak ada lagi yang bisa lo banggakan, malah bikin lo nangis terus, buat apa..?”
Logikanya, saya tahu. Saya tahu persis!
“Lo tau kan apa yang harusnya lo lakukan?!” tanyanya lagi.
Saya masih mengisak.
“Kurang bukti apa lagi? Udah tiap hari berantem, diem-dieman sampe berhari-hari, lo nggak bisa ngapa-ngapain lagi selain mikirin dia terus, sakit hati nggak habis-habis… Apa lagi, Tha?”
Saya tahuu!! Saya tahu…
“I know,” jawab saya pelan.
Ia kembali menghela napasnya, panjang. Lalu menarik kedua ujung bibirnya, tersenyum masam.
“I still cannot ask you the question why, can I?”
Dengan selembar tisu, saya berusaha mengeringkan wajah yang telah penuh dengan air mata. Saya menggelengkan kepala padanya.
“You knew the answer already, didn’t you?” tanya saya.
Ia masih menatap saya, seolah tahu bahwa saya masih akan melanjutkan kalimat berikutnya.
“Gue tau ini nggak rasional, sangat nggak masuk akal, tapi iya… gue sayang sama dia. Banget.”
“Walaupun dengan kondisi lo yang begini?” tanyanya.
Saya menghela napas panjang. Berusaha mencerna baik-baik apa yang baru saja disampaikannya, dan apa yang sudah saya sampaikan padanya.
“Iya,” jawab saya.
Ia pun segera merebahkan punggungnya pada sandaran kursi. Menjauh dari saya, sambil menerawang entah ke mana.
Sebuah adegan yang terputar kembali memenuhi isi kepala saya, dan juga segenap perasaan yang muncul karenanya. Peristiwa di teras depan rumah saya kala itu. Percakapan yang sudah berulang kali dilakukan bersama pria yang sama. Yang tidak juga berhasil membuat saya mengakhiri setiap keluhan yang sama.
Semua tiba-tiba menyeruak keluar, hanya karena saya kebetulan melintas di depan rumah lama itu. Malam ini. Bersama si hitam, sambil mendengarkan James Morrison bersenandung. Melantunkan lagi rasa perih yang masih tersisa hanya karena mengingat peristiwa itu. Setelah satu dasawarsa berlalu.
I’m gonna stay
you can’t push me too far
there’s no space in my heart
where I don’t wanna love you


12 Responses
hihihi..
tapi udah ada si kakang kan?
mbakDos: JELAASSS
emang dasar keras kepala
mbakDos: gimana lagi?! habis punya darah flinstones
pertama: topik postingan dirimyu hari ini most likely sama dengan topik postingan gue…DAMN!!!!]
kedua: ya…kayak mas japro bilang..elo keras kepala, gue juga sih…and gue tambahin…elo masokis…gue juga…hahahahha dah tau sakit…masih dijalanin…alasannya sama pulakh…
ketiga: sama-sama berjuang ya Tha…
mbakDos:
pertama: hahaha.. tos lah kalo gitu!
kedua: alasan yang mana dulu nih?!
ketiga: perjuangan gue udah selesai kok untuk yang itu. kan udah satu dasawarsa yang lalu
**asmara memang tak kenal dengan logika**
mbakDos: cinta ini.. kadang-kadang tak ada logika!! *nyanyi-nyanyi lagunya agmon sambil satu kaki berjingkat-jingkat*
uhuk …… selamat berjuang (untuk cinta) (ninja)
mbakDos: *sodorkan cinta @didut biar gak batuk mulu* eh iya, emang masih butuh cinta, dut? *kabur*
waah mbak dos kuat ya….. berulang ulang beramtem. tapi sekarang udah happykan?
mbakDos: udah lah.. ini lagi mengenang masa lalu kok
wah,, tp akhirny mbak pisah jg kn??
klo temen q parah mbak,,,tiada hari tanpa brantem, tp ntah knp mrka nekat mo married jg..
alasannya klasik,,CINTA…..
pffuhh,,…
mbakDos: nah ya itulah.. kalo udah ngomongin masalah perasaan, kadang gak ada kaitannya sama logika
*nyanyi-nyanyi lagunya agmon sambil satu kaki berjingkat-jingkat*
saya jadi pengen nonton konsernya mbak…
mbakDos: oh, konserku? waahh.. sayangnya belum ada tuh *kaya yang bisa ajaaa gitu!*
suka caramu bertutur
mbakDos: aku juga suka *halah.. digiles pakDok*
untungnya semua sudah masa lalu…:D
mbakDos: demikianlah
Uhuk..uhuk…
Shroott…
Umm.. ngomong opo tho jeng..?
nDak konsen aku mocone..isi flu…
Wislah, ta’ enteni lanjutane…
*ngambil tissue dan…shroott…
mbakDos: *menyorongkan tempat tisu*
mmhh…
dejavu..
mbakDos: selamat menikmati