1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Reinterpretasi

Akhirnya saya pun tergerak untuk mulai membereskan kamar saya sendiri. Setelah, entah berapa puluh kali dengan tidak bosan-bosannya, ibu mengingatkan saya untuk melakukannya. Di satu sisi, saya sangat paham mengapa ibu harus membunuh rasa bosannya akibat peringatan yang tak kunjung dilakukan juga oleh saya, tapi di sisi lain, rupanya rasa enggan dan malas yang memuncak belum berhasil menggerakkan saya untuk melakukan apa yang diminta ibu.

Yah, kamar saya memang sudah layaknya kapal pecah saja.

Dengan kertas-kertas hasil print out tugas ini-itu, baik tugas yang harus saya kumpulkan kepada dosen-dosen jaman dahulu itu, maupun tugas-tugas dari mahasiswa yang dikumpulkan kepada saya sebagai dosen mereka. Juga buku-buku literatur yang berserakan di sana-sini, tidak dikembalikan lagi ke tempatnya semula setelah saya membacanya. Belum lagi travel bag yang masih mengonggok di salah satu sudut kamar, walaupun isinya sudah dikeluarkan sejak hampir sebulan lalu.

Dan yah.. sepatu dan sandal yang juga tak dikembalikan ke lemari penyimpanan asal. Begitu pula asesoris yang sudah saya kenakan.

Masih ditambah lagi berbagai jenis mainan para ponakan yang biasanya akan ditinggalkan begitu saja setelah mereka selesai menjajah kamar saya. Maklumlah, kamar saya ini selalu menjadi base camp ketiga keponakan, seberapapun porak porandanya kondisi di sana. Mungkin juga karena di kamar itu ada berbagai figurine kegemaran mereka, seperti ultraman dan doraemon. Yang.. belakangan, saya baru tahu bahwa pajangan-pajangan itu juga telah berpindah tempat entah ke mana.

Entah petir apa yang menyambar siang-siang begini, tiba-tiba keinginan untuk membereskan kamar muncul begitu saja.

Di saat ibu dan ayah justru sedang tidak mengingatkan (untuk kesekian kalinya) agar saya membereskan kamar. Tepatnya, mereka malahan sedang pergi menemui salah satu, eh.. salah dua cucu mereka. Tinggallah saya berdua saja di rumah dengan si Kriwil. Yang masih terlelap di kamarnya.

Mulailah saya membereskan seisi kamar, mulai dari salah satu sudut yang tampak paling tak karuan wujudnya. Di sanalah tumpukan kertas berada, yang tampaknya sudah cukup lama teronggok di sana, hingga tumpukan teratasnya mulai diselimuti debu. Dipilah-pilah, hingga akhirnya diputuskan mana yang masih bisa disimpan dan mana yang sebaiknya dimusnahkan saja.

Lalu beranjak pada buku-buku yang bertebaran di penjuru kamar. Menyusunnya kembali ke dalam rak bersama dengan buku lain yang masih tersusun dengan rapi di sana, yang memang lebih jarang dibaca dibandingkan buku yang berserakan itu tadi. Dan semua alat tulis yang juga sudah kehilangan tempat asal-muasalnya, terlebih karena menjadi salah satu alat permainan yang digemari oleh para keponakan.

Hingga akhirnya tersisa printilan-printilan kecil yang hanya butuh waktu sebentar saja untuk membereskannya.

Dan saya menemukan sebuah amplop di antaranya.

Sebuah amplop putih panjang yang di dalamnya terdapat kertas-kertas yang terlipat dengan ukuran yang tidak seragam. Juga beberapa amplop lain yang ukurannya lebih kecil.

Dalam sekejap, saya pun tahu apa yang ada di dalamnya.

Saya masih hafal betul, sebagaimana saat terakhir kali saya membereskan kamar dan juga menemukan amplop yang sama terselip di antara tumpukan apalah itu. Amplop yang tidak pernah hilang bagaimanapun berantakannya kamar saya.

Tanpa menunggu hingga usainya aktivitas beres-beres, saya langsung duduk di sudut kamar dan membuka amplop putih itu.

Dimulai dari sebuah kertas kecil, seperti sobekan seadanya dari kertas pada buku tulis.

Saya bukan saja masih ingat tulisan siapa yang ada di atasnya, tetapi bahkan peristiwa di mana akhirnya kertas itu tiba di tangan saya pun, masih saya ingat dengan amat jelas.

“Terserah lo mau gimana, orang lain mau bilang apa, yang penting gue suka sama elo.”

Kalimat penutup dengan gaya bahasa yang.. saya tahu persis siapa yang menulisnya.

Rupanya apa yang saya baca di kertas kecil itu sangat ampuh hingga membuat keinginan saya semakin besar untuk terus membuka lembar demi lembar yang ada di dalam amplop yang sama. Dari kertas-kertas sobekan buku lainnya, sampai yang berukuran lebih besar dengan kertas betulan. Dari percakapan ‘tak penting’ yang sekedar ingin kami bagikan satu sama lain sampai yang bernada lebih serius.

Termasuk pada berbagai perdebatan dan pertengkaran hebat yang teramat sangat sering mewarnai hubungan kami berdua. Di mana ia kemudian akan menuliskan permintaan maaf kepada saya. Yah.. walaupun bukan jaminan juga bahwa peristiwa yang sama tidak akan terulang.

Sekian tahun pun berlalu, dan sekian tahun itu pula hubungan kami berakhir.

Namun masih menyisakan rasa tidak nyaman dalam diri saya.

Entahlah, mungkin karena dendam atas apa yang telah diperbuatnya selama hubungan cinta itu masih berlangsung. Perilaku yang tidak menyenangkan, seringkali membuat saya makan hati. Membuat saya merasa seolah saya sendirian yang memperjuangkan hubungan kami.

Setengah mati saya menyesal bahwa saya pernah menjadi orang yang dekat dengannya, dan juga menyesal karena mengijinkannya menjadi orang terdekat saya.

Pada akhirnya, hubungan yang terjalin selama lebih dari dua tahun itu hanya menyisakan rasa perih. Termasuk pada saat saya (hanya) mengingat-ingatnya. Kebencian saya padanya sungguh memuncak.

Hingga pada suatu saat, bertahun-tahun kemudian, sebuah pertanyaan diajukan kepada saya.

“Dari beberapa tahun hubungan kalian, apa iya gak pernah satu kali pun kamu merasa bahagia, sampai kamu harus membencinya seperti itu?”

Dan saya pun tertampar mendengarnya. Tertampar dengan sangat keras.

Rupanya, rasa sakit yang muncul akibat mengingat kembali hubungan kami, belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit setelah saya menemukan jawaban atas pertanyaan tadi.

Bertahun-tahun saya berusaha meyakinkan diri saya sendiri bahwa hubungan yang kami jalani itu seharusnya tidak pernah terjadi. Bahwa ia bukanlah pria yang tepat buat saya, dan adalah kesalahan besar karena kami pernah menjadi dekat. Bahwa cerita dengannya tidak layak untuk mendapatkan tempat di antara kisah cinta yang pernah saya alami. Bertahun-tahun lamanya saya hidup dengan berbagai keyakinan itu.

Yang dalam sekejap saja, semuanya luluh lantak.

Karena saya menyadari bahwa saya memang mencintainya. Saya memang menginginkan hubungan itu dapat terus berlanjut. Saya nyaris tidak pernah berhenti berharap bahwa situasinya akan lebih baik bagi kami agar hubungan kami tidak harus kandas di tengah jalan.

Bahwa semua kebencian saya hanyalah suatu bentuk pertahanan diri yang secara sengaja saya bangun. Hanya agar saya tidak runtuh saat menyadari bahwa seberapapun kerasnya usaha saya untuk memperjuangkan hubungan kami itu, saya tetap tidak berhasil.

Dan saya harus merelakannya pergi menjauh. Merelakannya dan hubungan kami. Melihat keduanya seolah berjalan menjauh menuju batas cakrawala. Meninggalkan saya dengan bayangan mentari yang mulai padam.

Lucu.

Benar-benar lucu jika mengingatnya sekarang.

Betapa usaha saya bertahun-tahun untuk menjadikan si pria itu sebagai tokoh antagonis dalam kisah percintaan kami, hancur dalam sekejap hanya melalui sebuah pertanyaan.

Yang kemudian membawa saya untuk mengingat kembali kisah itu satu-persatu, dari awal hingga semua berakhir. Membuat saya menelusuri kembali apa yang saya rasakan dalam setiap peristiwa yang kami alami. Dan di sanalah saya mulai menemukan begitu banyak rasa bahagia, yang sebelumnya berusaha keras untuk saya ingkari.

Dan… di sinilah saya.

Duduk di sudut kamar, membaca lagi setiap lembar yang pernah diberikannya kepada saya. Dalam bentuk sobekan kecil maupun kertas yang lebih besar, beramplop, dan berperangko. Saya membacanya sambil tersenyum, mengingat setiap peristiwa yang kami alami tanpa ada lagi rasa perih yang mendera karena mengingatnya.

Saya mulai tersenyum-senyum sendiri saat membacanya. Bukan saja karena surat-suratan semacam itu sungguh teramat norak, bukan juga lantaran mengingat-ingat siapa penulisnya, tetapi juga karena memutar kembali ingatan akan peristiwa yang mendahului kemunculan lembar-lembar tulisan itu.

Setelah memastikan bahwa setiap lembar sudah dibaca, saya memasukkan semuanya kembali ke dalam amplop putih. Dan meletakkannya ke dalam rak buku, di salah satu sisi yang akan terlihat dengan mudah setiap kali saya membuka pintunya.

Setidaknya, cukuplah untuk mengingatkan saya.

Bukan saja pada kenangan akan percintaan kami. Tetapi bagaimana pada akhirnya saya bisa membaca lembar-lembar itu lagi, kali ini dengan tersenyum.

Yah.. awal yang tepat untuk merayakan Paskah, bukankah?!

HAPPY EASTER, everyone!

22 Responses

on April 12th, 2009 at 1:38 am ochaocha Says:

paham benar saya…hahahhaha…

mbakDos: …bahwa kamar sayah berantakan?! *halah* :mrgreen:

on April 12th, 2009 at 3:55 am Si bungsu Says:

Happy Easter, mbakdos.. :*

mbakDos: happy easter juga, marutet! :*

on April 12th, 2009 at 8:50 am Niffo Says:

Berapa lama waktu yg dibutuhkan untuk reinterpretasi itu mbakdos?

*eh jawab dalam hati saja*

mbakDos: beberapa tahun cukup lah :D

on April 12th, 2009 at 2:54 pm warm Says:

jadi teringat dua kotak sepatu di lemari tengah yang penuh degan coretan berbagai bentuk,
yah kenangan, sepahit apapun, akan selalu membekaskan jejak di otak dan hati,
tapi kalau bisa menjadi suatu pelajaran,
betapa indahnya itu, ya :)

mbakDos: tosz!! :mrgreen:

on April 13th, 2009 at 9:27 am Anneke Priskila Says:

yup, awal yang sangat tepat sekali… ;)

kemarin saya juga ditegur hal yang sama hanya dalam hubungan dan situasi yang berbeda…

untuk kedua kalinya: Happy Easter mbak… :D

mbakDos: hihihi.. teguran yang menyakitkan tapi kalo dipikir-pikir ya bener juga, bukankah?! :mrgreen: happy easter jugaaa

on April 13th, 2009 at 9:41 am Chic Says:

enak sih kalo benda-benda kenangan itu tidak bikin sakit hati ketika melihatnya kembali… hihihihihi
punya saya sudah saya bakar semua beberapa tahun yang lalu :P

mbakDos: waahh udah gak ada yang bisa diliat juga ya pastinya?! ;-)

on April 13th, 2009 at 11:07 am gubay Says:

benda yg kembali mengingatkan akan suatu peristiwa.., apapun itu selama kenangannya tidak datar, akan selalu bikin hati mak serrr…

mbak dos (untung bukan mbledos), skrin syot kamarmu sebelum dan sesudah beres2 mana?

mbakDos: hahaha.. jangan lah! sayah belum hendak membuka aib tentang kamar sayah itu :mrgreen:

on April 13th, 2009 at 12:05 pm mbonk Says:

Bersyukur deh udah bisa tersenyum saat membaca kenangan lama. Ada banyak orang yg masih terpenjara masa lalu..

Salam paskah..

mbakDos: jelas bersyukur ;-) salam paskah juga untukmu

on April 13th, 2009 at 12:25 pm Victor Raharjo Says:

Met Paskah, Mbakdos… =)

mbakDos: selamat paskah juga, vic!

on April 13th, 2009 at 1:02 pm Oja Says:

kalo koyo yang bagus merk apa ya?

mbakDos: merk ‘ngono’ ja.. dengan nama pasarnya: KOYO NGONO :mrgreen:

on April 13th, 2009 at 4:22 pm Silly Says:

Ahhh, moment yang indah untuk merayakan paskah.

Saya juga masih suka senyum2 sendiri kalo buka2 kotak sepatu yang isinya surat cinta dan puisi2 dari sidia, hihihi

Happy Easter mbak Dos :)

mbakDos: asik kan buka-buka kotak sepatu itu lagi sambil senyum-senyum?! ;-) happy easter juga, jengsil

on April 13th, 2009 at 6:11 pm warm Says:

@ silly
itu kotak sepatu saya
*pentung2

mbakDos: woohh.. @warm dan @silly berbagi kotak sepatu?? jangan-jangan….. *mengartikan sa’karepe dhewe* :mrgreen:

on April 14th, 2009 at 12:34 am timo Says:

waaaaaaah jadi pengen beberes kamar nih!
sapa tau nemu surat2 yang sejenis…
*surat hutang, dll…;p

Selamat Paskah!

mbakDos: perlu dikirimi surat, mo?! :mrgreen: selamat paskah juga

on April 14th, 2009 at 8:06 am PakDok Says:

Selamat Paskah.
Figurine apalagi selain Ultraman & Doraemon? Kamen rider ada ga?

mbakDos: ada figurine yang punya kamar *dipentung* :mrgreen: slamat paskah juga, pakDok!

on April 14th, 2009 at 4:40 pm Anneke Priskila Says:

melanjutkan pertanyaan pakdok:
“satria baja hitam ada ngga mbak?” ;)

mbakDos: mengulang jawaban ke pakDok:
ya itu.. adanya figurine yang punya kamar *dipentung dua kali* :mrgreen:

on April 14th, 2009 at 6:06 pm hanny Says:

baru-baru ini saya juga membereskan kamar. biasanya kalau saya ingin memulai babak baru dalam hidup atau merasa sedang banyak masalah, saya akan membereskan kamar. lantas keteraturan itu terbawa dalam kehidupan, segala masalah selesai satu per satu dan menjadi lebih ringan. membenahi kamar = membenahi diri = membenahi hidup. kalau ditilik dari sisi psikologi gimana, mbak dos? :D

mbakDos: mungkin kalo punya tempat ‘pembuangan’ lain selain kamar, dirimu akan melakukan hal yang sama juga. beres-beres meja kerja, atau apalah itu kepemilikan pribadimu. but, that’s you ;-)

on April 15th, 2009 at 8:05 pm efnu Says:

wah kayaknya mbakdos mangkin dewasa dalam berkehidupan… selamat yaaa.

mbakDos: iya ya.. padahal kan saya masih muda belia begini! *dipentung lagi.. tiga kali* :mrgreen:

on April 16th, 2009 at 12:04 am MYB Says:

mbak agatha sagitariuz banget deh…susah lupain kesalahan org..hehehehehe…

mbakDos: hahaha.. rupanya kamu sudah beralih profesi jadi zodiakers ya?! :D *eh, tapi emang gitu ya sagitarius? halah.. tetep penasaran!*

on April 16th, 2009 at 11:26 pm Rystiono Says:

Apa semua yang berzodiak sagitarius selalu punya kamar berantakan ya?

Contohnya: saya sendiri dan beberapa teman cowok maupun cewek…

Ada penjelasan?

mbakDos: waduh.. sayangnya sayah bukan astrologi, jadi tak bisa menjelaskan perihal per-saagitarius-an itu ;-) tapi mungkin kalo dari psikologi, sayah lebih bisa menjelaskannya :mrgreen:

on April 23rd, 2009 at 11:31 pm MYB Says:

saya juga sagitariuz mbak..hehehehe! pasti mbak bangga deh ama zodiaknya *most of sagi suka narziz gt ama zodiaknya..hihi*
menanggapi comment dibwahnya, bener bgt tuh sagitariuz emang kamarnya suka berantakan..hahahaha

mbakDos: hahahaha sudah kuduga, pasti karena narsismu ituuhh :mrgreen:

on May 29th, 2009 at 1:03 am denny Says:

hmmm…that’s it, that why called ‘present’ is a gift….sebenarnya itulah ‘hidup’ saat kita bisa untuk menerima semuanya dengan tersenyum dan memaafkan. hari berganti dan semuanya memang cepat berubah, tapi tanpa senyum dan maaf semuanya tetaplah ‘sama’………(sorry neh terlalu serius bacanya kali yaa, jadi kebawa……)

mbakDos: :) indeed

on October 18th, 2009 at 1:57 am dudukBERSILA » Blog Archive » Skenario yang Tidak Berlaku Says:

[...] Buat saya, yang bisa dilakukan adalah reinterpretasi. [...]

Leave a Reply