1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Inacraft Bikin Jatuh Cinta

Akhirnya jadi juga saya menghadiri Inacraft!

Acara yang memang sudah saya nantikan bahkan sejak sebulan sebelum hari pertamanya dimulai. Dan mungkin juga sehari setelah acara yang sama di tahun lalu berakhir.

Inacraft adalah suatu acara yang diselenggarakan setiap tahun, di bulan yang sama, sejak sebelas tahun yang lalu. Saya mulai secara rutin menghadiri mungkin sejak tahun ke-enamnya.

Karena pengalaman selama beberapa tahun menjadi pengunjung tetap itulah, saya mulai tahu bagaimana caranya agar acara senang-senang di Jakarta Hilton Convention Center (JHCC) itu tidak terganggu. Salah satunya adalah dengan tidak membawa si hitam ke sana.

Pagi ini, saya bersama ibu dan si Kriwil meninggalkan rumah tepat pada pukul sepuluh. Kami memang memilih waktu di pagi hari agar kami memiliki lebih banyak waktu untuk berburu di sana. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, saya putuskan untuk memarkirkan si hitam di salah satu pusat perbelanjaan yang cukup dekat dengan JHCC. Setelah biasanya tempat yang dipilih adalah Plaza Semanggi, kali ini saya lebih memilih Pacific Place. Karena sebenarnya, saya sudah berjanji akan menraktir ibu (dan si Kriwil) makan siang di sana. Lalu setelah menitipkan si hitam di tempat parkir Pacific Place, kami akan beranjak menuju JHCC dengan menggunakan taksi.

Tepat jam sebelas, kami sudah tiba di JHCC. Si Kriwil berdiri mengantri di salah satu loket yang terletak di selasar depan pintu-pintu masuknya, membeli tiga lembar tiket seharga sepuluh-ribu rupiah perlembar.

Dan tibalah kami!

Kami pun mulai menelusuri tiap stand yang ada. Dari yang letaknya paling luar, hingga yang ada di paling dalam. Dari yang sepi dikunjungi pembeli, hingga yang bahkan membuat bergeser ke samping saja tidak bisa. Dari yang barang jualannya bisa dibeli sebanyak beberapa buah hanya dengan selembar lima-puluh-ribu rupiah, sampai yang menggunakan berlembar-lembar uang itu pun rasanya masih tak bisa juga terbeli.

Tawar sana-sini, menggunakan kemahiran kami berbicara Bahasa Jawa pada si pemilik stand, dan beberapa buah jinjingan pun kemudian berhasil dipindahtangankan dari para pemilik stand kepada kami. Namun pada akhirnya, setelah kami berpindah-pindah stand, bahkan berpindah dari satu tempat pameran ke tempat yang lain, hanya sedikit belanjaan yang kami bawa pulang.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Karena berbelanja memang bukan tujuan utama kami. Atau saya, setidaknya.

Saya, sebagai seorang penggila asesoris, tentu menganggap acara ini sebagai acara wajib kunjung setiap tahunnya. Sekedar untuk memuaskan mata saya menyaksikan barang-barang bagus di sana. Beruntung jika saya menemukan barang (baca: asesoris dan pakaian) yang memang sangat bagus, dan dengan harga yang reasonable pula, maka bisa dipastikan bahwa saya akan membelinya.

Dan hal lain yang menarik, yang juga biasa saya lakukan juga di sana selain mengamati barang-barang yang dijual, adalah mengamati para pengunjungnya.

Salah satu yang paling sering terjadi adalah, saya ditabrak oleh para pengunjung lain, dari arah belakang maupun dari depan. Sepertinya saya yakin betul bahwa saya sudah cukup merapatkan diri ke arah stand terdekat di mana saya berdiri, atau setidaknya jika harus memperlambat jalan pun, saya akan melakukan hal yang sama. Tujuannya hanya satu, agar orang lain tidak terganggu ketika akan berbelanja atau sekedar melihat-lihat. Karena pada akhirnya, jika mereka tidak terganggu, saya tidak harus pusing memikirkan mereka saat saya berbelanja nantinya. Tapi toh, rupanya saya yang terus-menerus ditabrak pengunjung lain yang memang sedang menoleh ke arah lain ketika menabrak saya. Lalu mereka tetap berjalan seolah tak terjadi apapun.

Yaahh.. Mungkin memang tubuh sayalah yang terlalu besar sampai memenuhi selasar yang tersedia bagi para pengunjung untuk berjalan.

Atau para pengunjung, yang biasanya membawa serombongan teman-teman, dan mereka semua berdiri menutupi meja pajangan di salah satu stand, yang kebetulan ingin dikunjungi juga oleh saya, ibu, dan si Kriwil. Ibu berdiri saja di belakang mereka, sambil berharap mereka segera menyelesaikan transaksi agar kami bisa mendapat giliran berikutnya. Dua, lima, nyaris sepuluh menit, mereka belum juga beranjak. Dan kamilah yang kemudian memutuskan untuk beralih saja pada stand lain yang berada di tak jauh dari situ. Entah pada menit ke berapa mereka selesai, dan rupanya hanya satu orang dari sekian orang yang ada di rombongan itu, yang membawa satu hasil belanja.

Juga para pengunjung yang berjalan di depan kami, lalu berhenti mendadak di depan salah satu stand, sementara di depan stand seberangnya, juga ada pengunjung lain yang tengah melihat-lihat barang yang dijual. Jadilah kami tidak bisa bergerak. Harus memiringkan badan, dan kadang sudah tidak peduli lagi ada bagian tubuh yang tersenggol sana-sini (ah, kalian pasti tahu bagian tubuh mana yang saya maksud, ‘kan?!)

Tapi bukan hanya itu saja, sebenarnya. Jelas tidak semua hal yang saya temukan mengenai para pengunjung Inacraft itu selamanya menyebalkan. Walaupun kaki saya sempat terinjak, bahkan sampai mematahkan sedikit kukunya *halah.. tetep dendam!*.

Salah satu stand yang cukup menyenangkan untuk dikunjungi, adalah sebuah stand yang sebagian besar dagangannya adalah batik. Baik dari kain yang masih utuh, atasan, maupun bawahan berupa celana dan rok. Stand ini langsung menarik perhatian kami, karena memang batik yang dijual berbeda dari yang sebelumnya kami temukan di stand lain.

Kami langsung berdiri di depannya, mulai memilih-milih atasan yang tergantung di pajangan. Rupanya, selain barang dagangan yang menarik, si mas penjual pun juga cukup menarik hati untuk dipandangi.

Memilih-milih pakaian yang hendak dibeli, lalu terjadilah proses tawar-menawar. Mulanya kami hanya bermaksud membeli dua buah atasan, satu untuk si Kriwil dan satu untuk saya. Si mas menyebutkan nominal yang harus dibayarkan atas keduanya. Saya mulai menawar dengan harga yang lebih rendah. Si mas tersenyum, menyatakan bahwa ia belum bisa mengabulkan harga yang saya minta. Lalu ibu mengambil sebuah tas, sejenis hobo bag, bermotif batik. Setelah menanyakan harganya, lagi-lagi saya menawarnya menjadi lebih rendah.

Muncullah si mas penjaga yang lain. Ia mengulangi lagi apa yang dikatakan mas ganteng sebelumnya, yang rupanya adalah si pemilik stand. Saya mulai mengeluarkan jurus ampuh, Bahasa Jawa, setelah mendengar bagaimana si mas penjaga itu berbicara dalam Bahasa Jawa kepada mas ganteng pemilik stand. Akhirnya, terjadilah kesepakatan nominal yang akan kami bayar kepadanya atas tiga buah barang yang kami beli. Lebih rendah dari harga awal, tapi juga masih lebih tinggi dari harga yang saya minta. Dengan alasan, si mas ganteng akan memberikan tempat handphone secara cuma-cuma sebagai hadiahnya.

Yang menarik, sebelum si mas penjaga menyebutkan harga tas yang hendak dibeli ibu, seorang pengunjung lain yang terlebih dulu membeli tas yang sama, telah bercakap-cakap dengan ibu. Ibu menanyakan harga tas yang dibelinya, dan si pengunjung lain itu menjawab. Mereka pun melakukan perbincangan singkat. Layaknya orang yang sudah saling kenal saja. Sehingga ketika si mas penjaga menyebutkan harga asli dari tas itu, ibu langsung menyebutkan harga yang diberikan kepada pengunjung terdahulu. Tentu dengan maksud agar harga yang sama diberlakukan bagi ibu.

Dan ini, bukan hanya sekali-dua kali terjadi.

Dari sekian kali saya mengunjungi acara yang sama, selalu terjadi percakapan antara ibu dengan para pengunjung lain yang sama sekali tak dikenal sebelumnya. Walaupun hanya saling menanyakan harga yang diberlakukan si penjual kepada masing-masing dari mereka, atau menanyakan mengenai barang yang hendak mereka beli.

Yang lebih menarik lagi, ketika ibu dan para pengunjung kenalan yang baru ini, kemudian bertemu di stand lain, beberapa kali. Atau bahkan di acara Inacraft di tahun-tahun berikutnya. Mereka tidak lagi sekedar berbincang mengenai harga dan barang yang dijual oleh suatu stand, tetapi mulai saling berbagi informasi tentang stand mana saja yang menjual barang-barang yang sayang untuk dilewatkan.

Dulu, entah di Inacraft tahun ke-berapa, ibu juga pernah membuka stand. Dua tahun berturut-turut. Hal yang sama juga terjadi, percakapan yang sama. Hanya saja kali ini, antara ibu dengan pemilik stand yang lain. Saling berbagi makan siang, titip-menitip stand jika salah satunya harus ke kamar kecil, berbagi majalah pengusir kepenatan di kala menunggu pengunjung, dan seterusnya-dan seterusnya.

Memang, obrolan tentang harga tidak mungkin dilakukan dengan para pengunjung, ketika ibu menjadi pemilik stand. Dan sebaliknya, percakapan yang hanya mungkin dilakukan oleh sesama pengunjung atau pembeli, jelas tidak mungkin dilakukan dengan si pemilik stand.

Perasaan senasib?

Bisa jadi.

Karena adanya kemiripan, kesamaan, ataupun kedekatan antara ibu dengan para pengunjung lain, ketika ibu menjadi seorang pengunjung, maupun antara ibu dengan pemilik stand lain ketika ibu juga berstatus sama seperti mereka, membuat mereka saling berbagi. Berbagi apapun itu. Karena mereka sama-sama tahu bagaimana rasanya berada dalam posisi masing-masing. Lalu dengan pengetahuan itu, mereka akan mulai meletakkan kepercayaan kepada orang lain yang dianggap senasib itu.

Yaa.. karena itu tadi, merasa bahwa si orang lain ini bisa memahami dirinya.

Sounds familiar, isn’t it?

Bisa paham ‘kan, mengapa pada akhirnya seseorang bisa jatuh cinta kepada orang lain yang dianggap memiliki kesamaan dengannya?

__________

PS.
Anyway, karena penasaran setengah-mampus, sekembalinya ke Pacific Place saya akhirnya berhasil mencoba Sour Sally, yang maha-terkenal-di-masa-kini itu. Saya mencoba yang Green Tea dengan topping buah peach. ENAK!
Tapi jangan berharap yang sama dengan yang plain. Mengutip komentar si Kriwil, rasanya seperti kelek (ah, mana saya tahu seperti apa rasanya kelek itu?! wong belum pernah mencoba!). Dasar si Kriwil aneh!

15 Responses

on April 23rd, 2009 at 11:34 pm iiN Says:

jadi inacraft itu sama enaknya sama sour sally, gitu tho mbakyu??? ahahhaha

mbakDos: BETULS! sama-sama bikin dilema, in! bikin nagih, tapi bisa bangkrut kalo sering-sering didatengin :mrgreen:

on April 23rd, 2009 at 11:43 pm warm Says:

dari craft lompat ke cinta,
hmm lagi-lagi tulisan yang menjanjikan ;)

mbakDos: lagi-lagi cinta yang menjanjikan *halah* :D

on April 24th, 2009 at 11:00 am didut Says:

saya merasa wanita itu sangat perkasa ketika menemani mereka berbelanja *curcol*

mbakDos: hah? wanita perkasa, dut? :|

on April 24th, 2009 at 12:44 pm gubay Says:

o..
jadi sour sally iku kelek e sally..
ketok e rimbun..
eh, yakin belum pernah ngerasain kelek..? ;P

mbakDos: kelek e sally? ya jelas belum lah! :D

on April 24th, 2009 at 4:09 pm alina Says:

kenapa parikrnya di PP mbak?

mbakDos: ya itu.. gara-gara lagi (sombong) pengen nraktir ibu dan si kriwil sekalian :mrgreen:

on April 24th, 2009 at 4:59 pm Anneke Priskila Says:

mbak, buka privat bahasa jawa? saya mau mendaftar… ;)

“Mungkin memang tubuh sayalah yang terlalu besar…” hm…pengakuan yang sangat jujur… :D

mbakDos: hahaha.. privat bahasa jawa sama sayah? bisa tersesatkan nanti yang ikutan! :mrgreen:

on April 24th, 2009 at 7:18 pm Fany Says:

semoga besok sempat ke sana ah..
tp kalo Minggu pasti tambah rame yah hari terakhir :(

mbakDos: ngg.. mungkin coba ke sana mulai jam 7 pagi aja fan, pasti belum rame :D

on April 24th, 2009 at 9:54 pm mbonk Says:

Pulang membawa mas2nya tak? Hehehe

mbakDos: gak dong.. kan sayah udah punya :mrgreen:

on April 25th, 2009 at 12:54 pm ree Says:

i just wanna say hi 2u, mbakyu:-)
slm knl

mbakDos: salam kenal juga.. makasih ya udah mampir :)

on April 25th, 2009 at 5:10 pm reallylife Says:

jadi pengen nyoba

mbakDos: nyoba apa? sour sally atau inacraft? atau nyoba jatuh cinta? ;-)

on April 25th, 2009 at 11:43 pm ochaocha Says:

keanehan serupa yang membuat seseorang jatuh cinta..hyaaahhh…

mbakDos: emang aneh ya? :mrgreen:

on April 26th, 2009 at 7:53 pm ceznez Says:

wah.. saya gak pernah ke Inacraft mba.. wah.. ide bagus jga tuh.. lain kali ajakin si calon maen kesna ya mba.. hiksss

mbakDos: jiyeee.. mau cari kebaya ya??? *isu sembarangan* :mrgreen:

on April 27th, 2009 at 9:58 am Ningz Says:

Hmm kalo aku inacraft bikin aku jatuh bangkrut mbak hiikkzzz

mbakDos: makanya, kalo mau ke sana sehari sekali aja ning! :mrgreen:

on May 5th, 2009 at 5:18 pm ailtje Says:

saya baru pertama kali ke inacraft. Surga bener deh! btw, gara-gara inacraft saya jadi pengen punya departemen store yang isinya barang2 made in Indonesia.

mbakDos: nggg tapi harganya jangan semahal inacraft ya.. ntar sayah jadi pengunjung tetap deh :D

on May 18th, 2009 at 9:11 pm Silly Says:

Saya mo quote yang ini:

(ah, kalian pasti tahu bagian tubuh mana yang saya maksud, ‘kan?!)

Ahakahakhakahakahkahak… nasib kita sama mbak dos. Untung bagian itu gak dikasih bunyi2 an ketika tersentuh yahhh… :) )

mbakDos: bunyinya krincing-krincing atau teeetttt gitu, jeng?! :) )

Leave a Reply