1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Badai Pasti Berlalu

Baru menginjakkan kaki di lantai satu East Mall Grand Indonesia, saya langsung dikejutkan dengan apa yang saya temukan di sana. Begitu banyak orang yang ada di sana membuat saya bertanya-tanya sendiri, sedang ada acara apa sebenarnya. Dan pertanyaan itu semakin menjadi, kala saya melangkahkan kaki menuju atrium. Sebagian besar orang dengan siapa saya berpapasan, mengenakan pakaian dan dandanan yang sangat rapi.

Yang pria mengenakan kemeja batik mengilap lengan panjang, celana pantalon, dan sepatu pantovel. Sementara yang wanita, dengan riasan di wajah, dihiasi asesoris di sana-sini, dengan high heels, dan tentunya pakaian yang sangat menawan. Membuat saya nyaris kehilangan fokus pandangan, karena sepertinya semua begitu menarik perhatian.

Lalu saya mematut diri saya sendiri, saat kebetulan melintasi dinding bercermin.

Mengenakan kaos putih tipis, celana jeans, flat sandals, dan rambut yang dicepol seadanya. Dan sekali lagi, mencermati orang-orang di sekeliling saya. Luar biasa kontrasnya. Masih bagus saya mengurungkan niat untuk mengenakan celana pendek tadi. Kalau tidak, bisa-bisa semua orang akan mengernyitkan dahi karena melihat saya yang salah berpakaian.

Dengan langkah pelan, saya berjalan lebih jauh. Semakin terlihatlah apa yang ada di tengah atrium. Sebuah panggung berukuran sedang, dikelilingi oleh jajaran kursi yang berlapis kain putih mengilap. Pembatas berupa tiang-tiang rendah yang disambungkan satu sama lain dengan rantai berukuran besar juga diletakkan di belakang barisan terakhir dari jajaran kursi itu.

Di antara kerumunan, saya mulai mengenali wajah-wajah mereka. Sebagian besar di antaranya seringkali saya temukan mondar-mandir di layar kaca, atau juga layar lebar. Orang-orang yang memikul kamera tampak di mana-mana, mengikuti ke mana perginya orang-orang terkenal itu. Dan sejurus dengan tempat di mana saya menemukan mereka, sebuah tulisan besar di panggung tertangkap oleh mata saya.

Hari Perfilman Nasional ke 59.

Dan saya pun ingat.

Si teman yang hendak saya jumpai hari ini, memang sempat mengemukakan mengenai hal itu. Adanya acara penutupan Hari Perfilman Nasional di tempat di mana kami akan berjumpa, setelah rasanya berabad-abad lamanya kami tidak pernah bersua. Ia sempat menanyakan kesediaan saya untuk menemuinya di Grand Indonesia, karena di sana pula ia sedang menjalankan tugas sebagai salah seorang penyelenggara acara.

Benarlah. Saya menemukannya di salah satu sudut atrium.

Ia melambaikan tangannya kepada saya. Memberikan isyarat agar saya mendekat.

Lalu saya pun merasa semakin salah telah datang ke tempat itu, dengan apa yang saya kenakan. Karena si pria gondrong teman saya itu pun, bahkan berpakaian rapi. Dengan kemeja, celana pantalon, dan sepatu pantovel. Padahal sepanjang bertahun-tahun saya mengenalnya, saya cukup tahu bahwa ia lebih senang mengenakan cargo pants, kaos, sandal gunung, dan menenteng backpack besarnya ke mana-mana.

Tapi ia ternyata tidak berkomentar apa-apa setelah bertemu dengan saya. Tidak mengucapkan sepatah kata pun mengenai pakaian saya. Entahlah, mungkin tidak enak pada saya, atau sengaja melakukannya agar saya tidak kemudian mempersingkat waktu pertemuan kami lantaran merasa tidak nyaman berada di sana.

Walaupun memang demikianlah yang sebenarnya saya rasakan.

Setelah berbincang-bincang sejenak dengannya, ia kembali disibukkan dengan tugasnya. Lalu lalang menghampiri tamu yang satu ke tamu yang lain. Menyapa dan bercengkerama dengan mereka. Menuntaskan tanggung jawab sosial sebagai salah satu konsekuensi dari profesinya, dan ketenarannya.

Sementara saya, memutuskan untuk berdiri saja di salah satu sudut atrium. Menunggunya sampai kembali lagi menghampiri saya. Karena saya juga tidak tahu lagi apa yang bisa saya lakukan di sana. Tidak ada orang lain yang saya kenal di sana. Padahal saya sempat berharap bahwa Masutra yang ganteng itu pun menghadiri acara yang sama, setidaknya saya jadi punya teman lain yang bisa diajak mengobrol. Itu pun kalau dirinya tak sibuk juga lalu lalang ke sana-kemari.

Sayangnya, ia sedang terserang flu dan tak bisa hadir. Begitulah yang disampaikannya saat saya menanyakan apakah ia menghadiri acara yang sama.

Jadilah saya berdiri mematung. Sendirian. Berulang kali memandangi sekeliling saya dan mulai berhitung kapan ini akan berakhir. Sempat melihat ke atas, dan menemukan bahwa di sana ternyata ada sebuah counter sepatu yang saya gemari.

Isi kepala saya pun mulai liyeur. Mulailah bermunculan ide di dalam kepala untuk naik saja ke lantai atas, mengunjungi counter sepatu itu dan melihat-lihat apakah di sana ada yang menarik (dan mungkin bisa dibawa pulang). Sambil menunggu si gondrong bisa menemani saya lagi.

Tapi seketika itu, saya mengurungkan niat. Lantaran mengingat bahwa di dompet saya hanya tersisa selembar uang seratus ribu, yang masih harus digunakan untuk membayar taksi saat pulang kembali ke rumah nantinya. Kartu debit? Ah, saya malas menggunakannya. Tepatnya, saya memang sengaja membatasi diri dalam penggunaan kartu itu.

Saya pun tetap berdiri di tempat yang sama.

Entah pada menit ke-berapa, acara pun dimulai. Di saat yang sama, kesibukan si teman justru mulai mereda, karena semua orang sudah duduk di tempat masing-masing untuk mengikuti acara. Saya pun mengajaknya untuk menemani saya makan siang. Ia langsung setuju, dan malahan berterima kasih karena akhirnya ia punya alasan untuk menyingkirkan diri dari keramaian itu. Sekalipun sepanjang makan siang, dan bahkan setelahnya pun, handphone-nya tidak pernah berhenti berdering. Semua orang tampaknya sedang mencarinya.

Makan siang dituntaskan dengan cepat, karena ia harus menuju ke Blitz Megaplex.

Saya mengernyit, “Lho, kok..? Pindah tempat?”

Rupanya, sebagai salah satu rangkaian acara penutupan Hari Perfilman Nasional, akan diadakan acara nonton bersama. Pemutaran film ini dilakukan secara khusus, hanya diperuntukkan bagi para tamu undangan dari acara yang sama.

Dan film yang dipilih adalah Badai Pasti Berlalu, yang sangat legendaris itu.

Si gondrong menawarkan kepada saya apakah saya juga berminat untuk ikut menonton.

Kontan, langsung saya iyakan saja ajakan itu. Tidak peduli lagi dengan pakaian yang saya kenakan, walaupun harus bergabung dengan rombongan orang berpakaian rapi tadi.

Kapan lagi saya bisa menontonnya?

Sebagai akibatnya, lagi-lagi, saya harus menunggu. Sementara si gondrong kembali mondar-mandir ke sana-sini seperti sebelumnya di atrium tadi. Saya hanya melihat saja. Mengamati juga rekan-rekannya yang tak kalah seru seolah saling memacu langkah agar lebih cepat. Juga para bintang-bintang layar itu, yang membentuk kerumunan sendiri-sendiri, berbincang dengan seru, sementara beberapa orang berkamera sibuk mengambil gambar mereka.

Saya duduk saja di tempat yang tersedia. Di antara orang-orang lain yang juga tengah menanti auditorium lain tempat mereka akan menonton itu mulai dibuka. Orang-orang di kiri-kanan saya pun sudah beberapa kali berganti.

Empat-puluh lima menit. Dan saya masih duduk di tempat yang sama.

Saya pun harus berterima kasih pada si Beybih, yang pada akhirnya berhasil menyelamatkan saya dari kebosanan yang melanda.

“Kamu di mana?” tanya si gondrong, sesaat setelah namanya muncul di layar si Beybih.

“Masih di tempat tadi. Lo di mana?”

Saya segera berdiri, mulai berjalan menuju auditorium tempat kami akan menonton bersama. Menoleh kanan-kiri, kalau-kalau menemukannya di suatu tempat. Dan di sanalah ia. Melambaikan tangan lalu menghampiri saya. Dengan langkah cepat, ia kemudian mendahului saya memasuki auditorium itu. Saya membuntut saja.

Rupanya, lampu di dalam sudah dipadamkan. Para penonton sudah duduk manis di tempat masing-masing. Filmnya pun sudah dimulai. Dan saya, mengikutinya saja menuju tempat di mana kami kemudian akan duduk.

Untuk pertama kalinya, akhirnya, saya menonton Badai Pasti Berlalu!

Judul film yang sudah beribu kali saya dengar, yang lagunya pun sudah saya kenal dengan sangat baik. Juga para aktor dan aktris yang, saya tahu, pernah terlibat dalam film itu. Berbagai ulasan mengenai film itu juga rasanya selalu saja bisa ditemukan di mana-mana. Saya juga sudah pernah membaca bukunya, sebenarnya.

Tapi belum sekali pun saya pernah menonton filmnya.

Sampai hari ini.

Selama hampir dua jam lamanya saya tidak bergeming. Duduk dengan tenang, menyaksikan baik-baik film yang tengah terputar di layar besar di depan itu. Walaupun dengan garis-garis penanda betapa sudah lawasnya pita film yang diputar.

Saya tak bisa berhenti terus-menerus mengagumi betapa cantiknya Christine Hakim. Dan Roy Marten yang.. ya ampuunnnnn.. gantengnyaaaaa!!! Tak heran betapa ia kemudian menjadi pujaan sejuta wanita setelah memerankan tokoh Leo.

Tanpa sadar, film itu pun berakhir. Lampu kembali dinyalakan, dan semua orang bertepuk tangan. Satu-persatu mulai berdiri dari duduknya dan berjalan perlahan menuju pintu keluar. Termasuk saya, dan si gondrong. Kembali, ia harus menuntaskan tanggung jawabnya yang terakhir di hari itu. Berbincang-bincang sejenak dengan semua orang yang ia kenal, sebelum kemudian mengajak saya makan malam.

Dan akhirnya, kami punya satu jam terakhir yang tersisa untuk berbincang-bincang. Mengobrol ini-itu, saling menceritakan kehidupan yang sempat tak ada kabarnya selama sekian waktu.

Menjelang jam delapan, kami pun beranjak menuju lobby untuk menunggu taksi. Setelah taksi yang dinanti tiba, kami pun berpamitan, dan saya meninggalkannya berdiri di antrian berikutnya. Melambaikan tangan, dan membiarkan si pengemudi ini mengantar saya kembali pulang.

Saya menghela napas panjang.

Selesai juga.

Setelah kebosanan yang nyaris sepanjang siang hingga malam ini melanda saya. Menunggu, menunggu, dan lagi-lagi menunggu. Ingin melakukan ini-itu, tapi khawatir nanti jika si gondrong tiba-tiba sedang luang, saya tidak ada di dekatnya, maka sia-sia saja kami merencanakan perjumpaan hari ini. Tidak ada orang lain lagi yang dikenal yang bisa diajak mengobrol selama menunggunya.

Salah kostum pula!

Bahkan sempat terbersit pula dalam benak saya untuk pulang terlebih dulu, sebelum kemudian si gondrong mengajak saya ikut menonton.

Tapi semua sudah selesai. Dengan penutup yang menyenangkan, Badai Pasti Berlalu.

Dan sekarang, saya sudah dalam perjalanan untuk kembali. Pulang.

Saya pun teringat padanya. Pria di seberang sana itu. Pria yang, sebelum saya berangkat menuju Grand Indonesia siang tadi, sempat saya kirimi pesan singkat untuk memberitahukan saya sudah dalam perjalanan untuk menemui si gondrong.

Saya kirimi lagi ia sebuah pesan singkat, “I’m otw home.”

Balasannya segera saya terima.

Hanya berupa kumpulan simbol, yang kami tahu itu membentuk sebuah emoticons:

I’m home, sweetheart. Already.

19 Responses

on April 27th, 2009 at 12:37 am dita_disini Says:

kirain badai pasti berlalu yg pemainya vino bastian dan raehanuun… :)

mbakDos: jauuuhh bener lah, bedanya! coba deh nonton yang roy marten :D

on April 27th, 2009 at 12:47 am reTha Says:

waaah,,, beberapa kalimat terakhir langsung membelalakkan mata… *siiiiiing*

mbakDos: eehhh retha bisa membelalakkan mata ya ternyata?? hebat! :mrgreen:

on April 27th, 2009 at 12:54 am japro Says:

(nyambung reTha)

emang kakangmu itu pelabuhan ya…?

(btw badainya masih berlangsung atau udah selesai .. hi hi hi)

mbakDos: ibarat pelabuhan, dia itu layaknya tanjung perak :mrgreen:

on April 27th, 2009 at 12:56 am vivi julietta Says:

Sapa sihh pria ini, pria gondrong,OMG!
Selalu penasaraaan!

mbakDos: siapa? ya yang sudah diceritakan di atas itu phi :D

on April 27th, 2009 at 12:56 am timo Says:

wihiy…asik banget bisa nonton closing movie Hari Flim Nasional!
kmaren gue udah ngiler aja tuh ngeliat panggungnya…tapi masi sadar diri sih, hanya menggunakan sendal jepit di kaki gue…huhu…

mbakDos: untung kemaren sayah membuntuti ‘orang penting’, jadi sebodo teuing lah pake sandal juga :mrgreen:

on April 27th, 2009 at 2:15 am didut Says:

keknya sudah saya tonton 2 kali :D ….. great movies with lot of emotion :D

mbakDos: iya euy! termasuk emosi (baca: perasaan) saat meliyat roy marten. ya ampyuuunnnnn!!! gregretann!!

on April 27th, 2009 at 3:50 am christin Says:

film yang bagus… dan tetep roy marten itu adorableeeeee (cry) (cry) (cry)

mbakDos: iya tiiiinnn!! yuk kita jemput oom roy naik sampan..

on April 27th, 2009 at 6:40 am enno Says:

Bagusan versi vino bastian ato roy marten mbak? Aku belom nonton yg versi lama nya hehe.. Dari tulisan mbakyu ini aku paling suka endingnya hehehehe.. Padahal cuma beberapa baris tapi langsung nendang ;p hehehehe

mbakDos: ah, kamu harus menonton versi roy marten no! gak ada apa-apanya lah itu si vino bastian. nendang? apamu yang ketendang? *halah* :mrgreen:

on April 27th, 2009 at 7:40 am ochaocha Says:

sedikit membenarkan bahasa indonesianya saja…

bergeming itu = diam saja..jadi tidak bergeming=bergerak ya? hehehhehe…kalau ga percaya lihat kamus besar bahasa indonesia de..hehehhehe

mbakDos:
iya ya.. ternyata setelah googling sana-sini, si pemakaian kata ‘tak bergeming’ itu udah jadi kesalahan akut dalam berbahasa Indonesia, dan baru belakangan ini mulai dibenahi lagi. anyway, thanks untuk ralatnya.

btw cha.. kalo kata MEMBENARKAN, itu artinya ‘menganggap benar’ bukan?! berarti lebih pas pake kata ‘meralat’ atau ‘memperbaiki’ kali ya?! *halah, dibahas!* :mrgreen:

on April 27th, 2009 at 9:57 am Ningz Says:

Hmm liat commentnya si enno jadi pengen ikut komen mbak hihi, aku juga suka endingnya mbak
(kapaann ya saya bakal bilang “im home” hihihi)
Bagus ya Mbak pelemnya, mengharu biru hihihi walopun aku nontonnya di layar lawas RCTI hiikzz

Boleh titip pesen buat enno mbak: hmm kalau dibandingkan dengan Vino Bastian jelas-jelas Roy Marten bukan Leo yang bersuara melengking

mbakDos: jadi, kapan ning ‘pulang’-nya?! :mrgreen: eh iya tuh, si enno emang harus disuruh nonton versi roy marten! gak sudi aku kalo roy marten disama-samain sama vino bastiaan.

on April 27th, 2009 at 10:39 am warm Says:

smoga benar-benar berlalu,
jangan sampai kelar badai, topan yg akan datang melanda :mrgreen:

mbakDos: ali topan anak jalanan *halah, kumat!* :mrgreen:

on April 27th, 2009 at 10:40 am Cak Win Says:

Aku malah lum liat :D

mbakDos: waaahhh wajib tonton tuh!

on April 27th, 2009 at 2:40 pm thepenks Says:

badai emang pasti berlalu.. cuma kapan itu yang tidak tahu…

mbakDos: hehehe betuls! ditunggu aja, sambil berharap kalo berlalunya itu sesegera mungkin ;-)

on April 27th, 2009 at 5:30 pm iin Says:

trus kapan mbak roy martennya masuk ke list : dipilih.. dipilih.. hahahahaha
apa jgn2 si gondrong lagi, yg masuk list.. ups.. atau si sweetheart.. ? atau vino bastian? banyak bangettt euy

mbakDos: nanti ah kalo bikin versi indonesianya, in.. ah kalo si sweetheart mah udah gak masuk list, masa list isinya cuma satu?! :mrgreen:

on April 28th, 2009 at 9:38 am aLe Says:

Jd penasaran,
Scara blm liat gethoo ^^

mbakDos: nah, mungkin sekarang saatnya liat ;-)

on April 29th, 2009 at 4:37 pm Silly Says:

Kirain mo crita lagi ngalamin badai, gak tahunya nonton ama si gonddrong dan sms ke pelabuhan… emang mo pesen tiket ya jeung?

*kabur sebelum dipentung* :P

Eh, balik lagi… nice story, indeed :)

mbakDos: *pentung silly* eh gak jadi deh, udah muji soalnya :mrgreen:

on April 30th, 2009 at 7:53 am annosmile Says:

oo..
pilem yang itu ya

mbakDos: udah nonton?

on May 1st, 2009 at 8:16 am zee Says:

Layoutnya keren ya.
Salam kenal mbak dosen…

Saya blom pernah nonton BPB. Tapi klo bicara soal gantengnya Roy Marten, itu saya setuju…

mbakDos: salam kenal juga.. makasih ya udah mampir ;-) roy marten? beuh, jaman itu emang ampun deh gantengnyaaaa :D

on May 11th, 2009 at 9:25 am cK Says:

aduh…saya juga belom pernah nonton badai pasti berlalu yang versi asli :oops:

btw, kakang lagi di sini? :-?

mbakDos: kakang selalu di hatiku kok, chik *uhuk!* :mrgreen:

Leave a Reply