Menjadi Rahwana
Sumpah!
Saya sebenarnya tidak ingin marah. Sama sekali.
Perasaan yang sudah menggelembung, menunggu kapan saatnya bisa diluapkan, rasanya sudah mencapai ubun-ubun saja. Tinggal menunggu katupnya terbuka, dan meledaklah semuanya. Membanjir lalu menenggelamkan saya sedalam-dalamnya.
Membuat saya tidak bisa melihat apapun juga, hanya mencoba naik kembali ke permukaan. Menyelamatkan diri supaya tidak semakin terbenam dalam perasaan saya sendiri.
Dan saya membencinya.
Bukan pada kemarahan yang saya rasakan.
Tapi pada bagaimana saya berusaha meraih permukaan itu kembali. Bagaimana saya bisa melakukan apapun juga agar kemarahan itu teratasi.
I hate it.
Saya bahkan tidak menyukai pikiran saya sendiri tentang kemungkinan bahwa saya bisa melakukan apapun.
Dan kalau saja mereka tahu, betapa saya demikian tidak inginnya merasa marah, betapa saya berusaha setengah mati menjaga agar perasaan itu tidak muncul, mestinya mereka tidak membiarkan saya merasa demikian.
Saya pikir mereka cukup mengenal saya. Bahwa saya bukanlah seseorang bersumbu pendek, yang mudah marah hanya karena terpicu hal-hal remeh-temeh. Kesabaran saya sudah cukup teruji dan mungkin malahan terlalu banyak memaklumi hal-hal yang mestinya bisa memicu hulu ledak saya.
Dan jika sampai saya merasa betul-betul tersiram bara seperti ini, mestinya mereka tahu.
Seharusnya mereka tidak sebodoh itu, bukannya tidak acuh seperti itu, untuk melakukan suatu hal yang.. mereka tahu akan membuat saya kesal. Mereka bukan orang yang baru satu-dua hari saya kenal. Bukan baru setahun-dua tahun bertatap muka dengan saya.
Saya tidak peduli kalau yang melakukannya adalah orang lain, orang yang tidak saya kenal betul. Atau bahkan orang yang mungkin saya kenal, tapi bukanlah yang cukup sering berinteraksi dengan saya. Bukan orang yang sudah saya percayai untuk tidak melakukan hal itu.
Saya mati-matian berusaha agar makian-makian itu tidak terlontar keluar saat mereka menyampaikan berita itu. Saya bahkan mencoba tetap sadar sepenuhnya untuk tidak membanting si Beybih ketika baru saja menerima pesan dari mereka perihal berita yang sama.
Kepala saya mulai berdenyut-denyut. Dan berbagai makian kepada para pengguna jalan raya yang menyerobot sana-sini mulai terlontar begitu saja. Seketika itu, tahulah saya bahwa saya harus mulai mengendalikan diri.
Saya mematikan musik hingar-bingar yang sedari tadi terus terdengar dari speaker si hitam. Melanjutkan sisa perjalanan malam itu dalam keheningan. Membiarkan kedua telinga saya menangkap riuhnya suara jalan raya.
Sambil terus berusaha mengatur napas saya. Menghirupnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Berulang kali. Sampai akhirnya tampaklah pagar berwarna putih, penanda rumah saya. Lalu segera saja menuntaskan ritual memasukkan si hitam ke dalam garasi.
Menyapa ibu sekilas saat masuk ke dalam rumah, meletakkan seluruh barang bawaan ke dalam kamar, lalu beranjak menuju kamar mandi. Tidak peduli dengan tatapan ibu yang bertanya-tanya. Mengingat saya hampir tidak pernah mandi lebih dari satu kali dalam sehari. Apalagi pada malam hari.
Saya langsung memutar kran dan membiarkan air dari pancuran mengalir deras. Dingin. Membasahi kepala dan sekujur tubuh saya.
Gosh, I think I really need it.
I really need to cool down this head, and myself.
Entah berapa lama saya berdiri saja di bawah pancuran. Tanpa bersabun, hanya membiarkan seluruh tubuh saya dialiri air dingin. Karena memang bukan mandi tujuan saya. Dan saya pun mematikan kran, menyudahi saja kegiatan berdiam di bawah pancuran setelah mulai merasakan hawa dingin membuat saya menggigil.
Barulah saya membalas pesan singkat yang sudah saya terima sejak tadi itu. Mengurungkan niat untuk tetap membiarkannya tak terbalas. Membiarkan si pengirimnya terus bertanya-tanya.
Saya balas dengan singkat. Hanya untuk menjawab pertanyaan yang mereka ajukan. Hanya satu kata.
Pada akhirnya saya sadar.
Bukanlah kemarahan yang demikian merusuhi diri saya.
Tapi kekecewaan.
Saya menganggap mereka adalah orang-orang yang cukup dekat dengan saya. Orang-orang yang cukup mengenal saya, apa yang saya sukai dan apa yang tidak. Orang-orang yang punya cukup banyak pengetahuan tentang hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan terhadap saya. Tentang hal-hal yang membuat saya kesal.. dan kecewa.
Namun, sepertinya memang saya yang berharap terlalu banyak. Saya yang terlalu berandai-andai bahwa mereka memang mengenal saya sedemikian baik.
Nyatanya, mereka tetap melakukan hal yang sama. Melakukan apa yang membuat saya kesal.
Lucunya, setelah terjadinya peristiwa di mana saya merasa mereka telah membuat saya kesal dan kecewa, beberapa hari berikutnya saya bertemu dengan mereka, semua biasa saja. Seolah peristiwa beberapa hari sebelumnya itu tidak pernah terjadi.
Saya dan mereka kembali berbincang, membahas hal-hal ringan yang menyenangkan. Berdebat ini-itu, membicarakan gosip-gosip yang tengah beredar hangat di sekitar kami. Tertawa-tawa lagi.
Tak satupun dari kami yang memulai percakapan tentang apa yang baru saja terjadi. Tentang apa yang telah mereka lakukan, yang ternyata membuat saya kecewa.
Tidak mereka. Tidak pula saya.
Saya juga sama sekali tidak pernah mengutarakan betapa saya kesal dan merasa dikecewakan dengan apa yang telah mereka lakukan. Saya tidak pernah mengungkapkan apapun pada mereka. Saya bahkan beranggapan bahwa yang terjadi kemarin itu sudah selesai dengan sendirinya. Terkikis seiring berlalunya waktu.
Betapa naif.
Bahkan secara logika pun, tidak mungkin semua itu bisa terselesaikan begitu saja tanpa saya menuntaskannya.
Sehingga mestinya saya juga tidak melulu protes karena merasa tidak dipahami oleh mereka. Seharusnya saya tidak terus-menerus merasa kecewa ketika mereka mengulangi perbuatan yang sama. Yang kemudian membuat saya kecewa.
Karena saya toh tidak pernah mengatakan apapun juga pada mereka. Saya tidak pernah memberitahukan sekali pun, bahwa apa yang mereka lakukan itu membuat saya kecewa. Yang ada, saya malahan beranggapan bahwa pada akhirnya mereka akan mengerti dengan sendirinya, lalu tidak akan mengulangi hal yang sama.
Saya tahu apa yang seharusnya saya lakukan.
Membicarakan kekecewaan saya ini pada mereka. Memberitahu mereka mengenai apa yang saya rasakan. Bahwa saya kesal dengan perbuatan mereka, bahwa saya berharap agar mereka tidak mengulanginya lagi.
Seharusnya saya memberitahu mereka.
Karena tidak mungkin mereka bisa mengetahui apa yang saya harapkan, kalau saya tidak pernah mengatakan apapun pada mereka.
Hhh… mungkin memang sudah saatnya saya membicarakan hal ini dengan mereka. Mungkin sudah seharusnya saya memberitahu apa yang saya harapkan dari mereka, dan juga membiarkan mereka memberitahu saya apa yang mereka harapkan dari saya.
Karena saya menyayangi mereka.
Dan saya masih menginginkan mereka untuk tetap menjadi teman-teman terbaik saya.


14 Responses
Mba, kalo udah berhasil membicarakan apa yg dirimu rasakan ke teman-temanmu itu, boleh sharing lagi yah. Aku pengen tau how u do that. Soalnya aku tipe orang yg susah ngungkapin perasaan, terutama kalo kesel, kecewa, marah. Jadi pengen tau aja gmn cara yg enak nyampein perasaan2 itu ke orang yang bikin aku kesel, kecewa, en marah hihihihi.
mbakDos: siippp!!! btw, kapan nih kita bersua mon?! tak rindukah kau dengan diriku?
Mbakyu, semangat yaa…….
Jadi semakin penasaran dengan masalah ungkap-mengungkapkan… Tidak semudah yang dibayangkan…. (apalagi kalo buat saya)!
PS : Jangan sampe masuk angin yah, mba…
mbakDos: tos, kita?!
kan udah pake baju lagi, tha.. jadi gak masuk angin
who are they ‘mereka-teman-kesayangannya’ mbakdos ? ;-D
mbakDos: hahaha you know who
yah, selalu ada kans kejadian kayak gitu…bahkan perlakuan tak logis yg lebih parah ga jarang terjadi
mbakDos: yah.. ada masa-masanya berpikir itu baru terjadi belakangan setelah bertindak
daku juga suka berdingin dingin ria ketika lagi ‘panas’ hehe~
mbakDos: ngadem di dalam lemari es gitu mesti maksudmu
seringkali, sesuatu memang jangan dipendam dalam-dalam, lepaskan saja,
biar reaksi yang berbicara
*uhm, murka karena apakah ini ?
mbakDos: hahaha itu yang sayah takutkan, kalo cuma reaksi yang berbicara tanpa menyertakan logika
karena.. ngg apa ya kira-kira?!
tak perlu melulu semuanya yang ada di kepala tersimpan di sana untuk selamanya..ya gak?
mbakDos: iya.. makanya sayah bikin blog ini *halah.. lospokus lagi*
tenang, mbak. kalo marah, lebih baik diam dulu. tahan komunikasi dg orang yg kita marahi itu karena biasanya hasilnya akan selalu jelek. tenangkan diri dulu, baru buka lagi komunikasi.
salam kenal
mbakDos: tapi lucunya ya itu.. sayah malah tetep bisa komunikasi seperti biasa
salam kenal jugaaa
“…tidak mungkin semua itu bisa terselesaikan begitu saja tanpa saya menuntaskannya.”
pernyataan yang di atas benar sekali mbak…
“keterbukaan adalah awal dari pemulihan.” ditunggu kelanjutan kasus ini…
btw… ada adegan mandinya ya mbak…
mbakDos: adegan mandi? sayangnya gak lolos dari BSF tuh, jadi gak bisa dipajang
salam sukse buat sampeyan
numpang lewat sebentar sambil kenalan
salam kenal ya !!!
mbakDos: salam kenal juga
Wahh..berasa dejavu aku mbakyu..aku juga pernah ngalamin hal spt itu. Tp kesalahanku adl aku kurang asertif untuk menyampaikan pada mereka karna takut pertemanan tsb menjadi tidak “biasa” lagi.. Udah gitu aku gak kepikiran mandi pula padahal saat itu bener2 trasa panass..hehehe..wah kalo diangkat ke layar lebar pasti seru,apalagi ada adegan mandinya hihihi *peace*
mbakDos: kalo masalah kurang asertif, tos dong kita
adegan mandi itu basah no, bukan seru!
wah kita sama donk!
“hampir tidak pernah mandi lebih dari satu kali dalam sehari”
save water, stop global warming! hehe…
btw bagus juga katarsisnya, cukup literally, cooling down dengan air dingin…ahahahaha…
mbakDos: tosss!!
sudah lama gak kunjung punya kesempatan untuk membaca blog-mu. Dan sekarang membaca 2 saja sudah membuatku begitu segar.. penuh dengan ide2 & refleksi diri.
That’s what so good about you as a writer, Tha..
You make us keep going on.. You pour such a fresh thought that make me, at least, feel alive & new again.
Thanks for that:) Hopefully everything will turn out fine:)
mbakDos: waaahhh jadi ikutan seneng juga bacanya, ge.. makasih juga yaaaa *muach!*
“Mengingat saya hampir tidak pernah mandi lebih dari satu kali dalam sehari. Apalagi pada malam hari”
Kayaknya sekarang dah ketauan sumber bau nya dari mana
mbakDos: dari kamar mandi?