Saya Ingin Bercerita
Langit di luar mulai gelap. Senja sudah berlalu sejak tadi. Tapi kendaraan roda empat masih saja memadati jalan. Juga yang beroda dua. Seolah tak menyisakan lagi sedikit pun celah antara dua kendaraan itu. Asap tebal yang mengepul dari mereka tak lagi tampak, pekatnya malam sudah membungkusnya.
Barisan orang-orang saling berdesakan. Berdiri di tepi jalan, menunggu kendaraan yang akan mengantar mereka pulang. Orang-orang yang mungkin di kala hari baru bermula pagi tadi, masih rapi dengan pakaian yang juga masih licin. Tatanan rambut terbaik dengan aroma wangi, yang mungkin tidak lagi ditemukan kala mereka sudah berjajar di tepi trotoar seperti ini. Sekarang sudah tidak lagi peduli dengan seperti apa tampilan mereka.
Sepatu hak tinggi sudah berganti sandal jepit yang lebih nyaman dan tak menyengsarakan betis. Sepatu pantovel juga berganti sandal yang sama, agar tak menyulitkan saat harus berlari mengejar bus kota. Tak peduli lagi betapa pakaian mereka sudah terlipat sana-sini, akibat menyandang tas di bahu kanan dan menjinjing tas lain di tangan yang satu lagi.
Dan perempuan ini, mestinya ia pun bergabung dengan mereka. Bersama-sama mengikuti rutinitas setelah jam kerja berakhir.
Namun ia sedang lelah.
Ia sedang tidak ingin menjalani keseharian yang biasa ditemuinya. Dan lebih memilih untuk melangkahkan kaki ke kedai kopi langganannya, berniat menghabiskan malamnya di sana.
Bersama secangkir kopi hitam, strawberry cheese cake, dan meja di sudut ruangan. Ia tidak mengeluarkan iPod-nya, membiarkannya tetap tersimpan rapi di dalam tas. Ia membiarkan saja telinganya menikmati musik berirama acid jazz yang sayup-sayup terdengar di penjuru ruangan. Tidak terlalu buruk juga sebagai pendamping kopinya.
Ia menatap ke luar.
Menemukan pemandangan yang dikenalnya dengan sangat baik. Lampu-lampu jalan yang berpendar-pendar nyaris tak ada bedanya dengan lampu kendaraan. Rupanya belum ada kata terlalu larut bagi mereka untuk tetap lalu lalang.
Perempuan itu mengalihkan pandangannya ke dalam.
Dua orang pria duduk di dekat pintu, menggelar kertas-kertas di atas meja. Sehingga tampaknya dua buah notebook sudah hampir serupa saja dengan kertas-kertas itu. Duduk berhadapan, tapi tak saling berbicara. Sibuk menekuri pekerjaan masing-masing.
Di dekat mini bar, sekelompok perempuan seusianya duduk melingkar. Berempat, bukan.. berlima. Satu di antaranya tengah bercerita, dengan mimik muka dan mata yang seolah ikut mengisahkan kembali pengalamannya. Sisanya, menyimak dengan seksama, nyaris tak berkedip.
Dan di meja seberang, ia masih menemukan hal yang sama. Yang hampir setiap kali ia mendatangi kedai itu, pasti akan ditemukannya.
Seorang pria asing, sepertinya bukan berkebangsaan Amerika. Garis wajah dan dialek, yang lebih mirip Eropa. Rambut terpangkas rapi, wajah mulus tercukur, dan sebuah kacamata bertengger di hidungnya. Terlalu tampan. Apalagi dengan setelan celana dan jas berwarna abu-abu tua, yang semakin mempertegas kulit pucatnya.
Ia selalu duduk sendirian. Seringkali tidak melakukan apa-apa, selain menyeruput minuman dari cangkir kecilnya dan membaca surat kabar. Beberapa kali saja perempuan itu menemukannya sedang mengunyah kudapan.
Melihatnya, perempuan ini seketika teringat pada seorang pria. Yang sudah beberapa hari belakangan ini semakin sering menghantui harinya.
Pria yang biasanya menemaninya menghabiskan sore hari dengan duduk bersisian di kursi yang sama seperti yang tengah ditempatinya saat ini. Pria yang seringkali mendampinginya melihat-lihat orang-orang di sekeliling. Sesekali bercerita tentang kehidupan yang sempat tertinggal, cerita-cerita yang belum pernah saling diungkapkan, atau sekedar saling melontarkan komentar tentang apa yang sama-sama mereka lihat.
Dengan dua cangkir kopi, kadang disertai kudapan untuk berdua.
Lalu tertawa-tawa. Dan berusaha menyembunyikannya, agar orang yang tengah dibicarakan tidak sampai menyadari bahwa mereka berdua tengah membincangkannya.
Meninggalkan sejenak pikiran tentang apa yang seharusnya mereka kerjakan saat itu. Menghadapi notebook, membuka berkas ini-itu, menuntaskan pekerjaan yang mestinya mereka lakukan di rumah. Mereka tidak peduli.
Masih banyak hari lain untuk semua berkas itu. Dan mereka sedang tidak ingin melacurkan diri pada apa yang disebut sebagai pekerjaan. Walau hanya untuk sekian jam.
Kini, perempuan ini merindukannya.
Merindukan sore-sore hari itu. Merindukan bagaimana tak ada lagi yang menyesaki pikiran dan perasaannya, karena ia tahu pria di sampingnya dengan senang hati membuka tangannya untuk menampung muntahan isi kepalanya.
Merindukan bagaimana mereka kemudian menghabiskan satu hari di kedai kopi yang sama, hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar.
Ia menyeruput lagi kopinya. Meraih Blackberry yang sedari tadi dibiarkannya tergeletak di atas meja.
Rupanya sudah habis batas kesabarannya untuk membendung perasaan itu sendirian saja. Ia pun mengirimkan pesan singkat kepada pria yang sedari tadi memadati pikirannya.
“I’m with the handsome-blonde-foreign guy. Care to join?”
Hanya dalam hitungan detik, ia mendapatkan balasannya. Pesan yang membuatnya nyaris tidak bisa menahan tawa dan juga menahan tatapannya kepada si pria asing di seberangnya.
Pria asing yang sama, yang selalu membuat pria yang dikirimi pesan olehnya itu meradang. Lantaran seringkali menangkap basah si bule itu terus-menerus menatap perempuan ini. Bukan wajahnya yang selalu dilihat, tetapi masih sedikit lebih di bawah. Agak lebih di bawah leher.
“Tell him to be nice to you. Or I’ll make sure that his eyes couldn’t be open ever again!”
Ia akhirnya tertawa.
Membayangkan wajah si pria itu tertekuk, kesal, dan gemas. Tapi di saat yang sama, mereka sama-sama tahu bahwa isi pesan yang dikirimkan itu sekedar lelucon belaka. Lelucon mereka berdua.
Dan perempuan ini.. merasakan kerinduan yang semakin menggelora karenanya.

*tulisan yang mendadak dibuat lantaran berulang kali mendengarkan Cozy Street Corner menyanyikan lagu ini di iPod saya. Dan membuat saya tersenyum-senyum sendiri. D’OH!
**judul tulisan juga diadaptasi dari lagu yang sama.
***gambar diambil dari sini dan didandani lagi oleh mbakDos.


17 Responses
saya ingin bertanya, “kenapa foto the handsome-blonde-foreign guy tak dipajang di sini…?”
mbakDos: saya pasti menjawab, “gak ah! gak sudi mempromosikan dirinya setelah apa yang diperbuatnya padaku!” *hyaahhh kumat lagi lebaynya!*
karna kangen dengerin lagunya Cozy?
atau
denger lagi Cozy terus kangen?
eniwei selamat menikmati kerinduan yang menggigit nduk
mbakDos: atau kangen Cozy? *halah*
makasih lhooooo
Jadi bolos & nostalgila ceritanya?
Dan.. Apa judulnya corner itu? *garuk2 idung*
mbakDos: nggg gak bolos koookkk.. itu pertanyaan satu lagi gak perlu dijawab kan ya?! *lirik komen di bawah*
Hayah, itu toh judulnya (doh)
ahaha
mbakDos: akhirnya sayah berhasil menemukan juga judulnya
baca skip skip… aku kira judulnya “saya ingin bercinta” haha
mbakDos: membaca apa yang INGIN dibaca ya?!
Waw. Inspirasi cerita-cerita lo darimana si, ‘Tha? Keren keren.
Keep writing!
mbakDos: ah ichaaa.. jadi maluw
*halah* kalo soal inspirasi nggg.. gue juga bingung tuh dari mana
makasih ya chaaaa
starbucks mentengkah? hihihihihihi kalo lagi ga ada yang tadi dikangenin yaaa…beranjak sedikit ke si botak itu lah Tha…
mbakDos: starbucks menteng? coba ditanyakan aja pada si perempuan itu di mana persisnya, gue juga gak tau soalnya
eh.. si botak yang mana cha?
Mbak saya mau lho kenalan sama si blonde eropah yang kasep itu hihihihi
mbakDos: iihhh nining! ntar kamu makin disamain kaya ‘mbak-mbak’ itu lhooo
heh..sama..
ta kirain juga si mbak dos ‘ingin bercinta’..
mbakDos: ingin juga sih sebenernya
Ciyeeeeeeeeeeeee… ada yang lagi kangen nihhh
Tips buat orang yang suka staring at your boobs… kalo gue… asal dah mulai ganggu, gue datengin tuh orang trus, gue ambil tangannya sambil bilang… Do you want this?….
Abis itu bilang, sorry babe, there is nothing such a free lunch in this world…
*ditendang ke belanda*
mbakDos: *tendang silly ke gurun gobi*
Nice Story Telling buuuuw…
cara penuturan bahasanya keren, meskipun mengangkat tema yang biasa, menjadi ruar binasa karena pemilihan katanya yg tepat.
NICE!!!
mbakDos: aahhh terima kasih, dewiii.. jadi maluw
mengingatkanku pada sebuah sore di sebuah kafe pada suatu hari …
mbakDos: kafe? bukannya resto ya, ndor?
gaya bahasanya sudah mirip dengan buku detektif itu
coba kalau . . . . ah jadi pengen cepet tau infonya disini
http://www.agathachristie.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Agatha_Christie
keknya bagus juga klo tetap ada ini . . . .
http://www.shrivastavaagatha.com/
mbakDos: didoakeun aja ya bess!
wah cozy street corner…..udah lama banget nggak denger namanya. (saya aja nggak gaul kayanya mbak
). jadi inget pernah liat mereka di psiko ui…
mbakDos: hehehe iya.. mereka emang SANGAT terkenal di lingkungan psiko ui, jadi mestinya sih pernah liat di sana
Nice article.. kadang pengen juga bisa menumpahkan semua rasa dalam sebuah blog tapi waktu terkadang terlalu cepat berlalu..
mbakDos: blognya bisa menunggu dengan setia kok
[...] memang tak lain tak bukan, adalah dalam rangka menanggapi respon yang telah diberikan atas tulisan sebelumnya. Baik yang secara langsung dituliskan oleh si pemberi respon pada bagian komentar, ataupun melalui [...]
emank salah yah ngeliatin bagian yang sedikit di bawah leher itu? kan ga sengaja… ;p
ihihihihihihi…*siap ditabok
mbakDos: gak sengaja tiba-tiba ada gundukan di bawah leher, maksudnya? *tabok timo*