(Saya) Ingin Bercinta
Baiklah..
Judulnya, memang tak lain tak bukan, adalah dalam rangka menanggapi respon yang telah diberikan atas tulisan sebelumnya. Baik yang secara langsung dituliskan oleh si pemberi respon pada bagian komentar, ataupun melalui media lain yang memungkinkan mereka menghubungi saya.
Lalu entah kenapa, saat menerima semua respon itu, yang seketika terbersit dalam kepala saya, adalah pria ini. Dan juga satu peristiwa dengannya, yang masih membekas dengan jelas dalam ingatan saya.
Entah berapa tahun silam.
Saat suatu malam, saya berbaring di atas tempat tidur. Lampu kamar telah dipadamkan, namun mata saya masih belum juga terpejam. Gordijn sengaja dibuka lebar-lebar, agar saya bisa memandangi langit di luar sana sebagai pengantar tidur. Saya tidak tahu apa yang telah saya lakukan sepanjang siang itu, tepatnya saya tidak ingat, sampai sudah lewat tengah malam tapi mata ini tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan segera terpejam.
Saya mengirimkan pesan singkat padanya.
Pada seseorang yang saya tahu, pasti belum tidur juga.
Seseorang yang.. karena satu dan lain hal, tiba-tiba menjadi seseorang yang (sangat) dekat, dalam satu periode waktu kehidupan saya. Seseorang yang kemudian saya percayakan satu rahasia besar dalam hidup saya, yang tak pernah saya ceritakan kepada siapapun juga sebelumnya.
Seseorang yang tiba-tiba saja menjadi teman setia saya kala terserang insomnia. Saling berkirim pesan singkat, yang sebenarnya tidak perlu juga, kemudian saling mengucapkan salam perpisahan untuk malam itu. Dan hari berikutnya.. dan hari berikutnya.
Pada salah satu malam di antaranya, ia mengirimkan sebuah pesan. Yang membuat saya terhenyak membacanya, lantas benar-benar tak bisa tidur.
“Ghe, lo pernah masturbasi gak?”
Edan! Pertanyaan macam apa itu??
“Hah? Maksud?” balas saya.
“Gak usah pura2 gak ngerti, deh!”
Sekian menit berlalu.
Ingin rasanya saya membiarkan saja pesan itu tak terbalas. Jika toh nantinya ia bertanya, mungkin pada keesokan harinya, saya akan menjawab sudah tidur. Mudah saja.
Tapi yang ada, pertanyaan itu malahan terus terngiang-ngiang dalam kepala saya. Berulang kali saya baca lagi pesan yang ia kirimkan. Sambil berharap bahwa saya telah salah membacanya. Atau ia yang salah mengirimkan pesan, mungkin bukan ditujukan kepada saya.
Jelas harapan yang tak mungkin.
Dari pesan yang pertama dikirimkan, ia telah menyebut nama saya. FYI, ‘Ghe’ adalah nama panggilan yang diberikan oleh teman-teman dekat saya semasa sekolah dulu (*tentang apa itu artinya, nantilah saya ceritakan. Kalau ingat
). Lalu pesan berikutnya, adalah reaksi yang sangat khas saya kenal betul dari dirinya.
Dan saya tahu betul bahwa pertanyaan itu tak akan muncul tanpa sebab. Apalagi dari dia.
“Knp lo tny begitu?”
Tak lama, pesan saya itu berbalas, “Yg selama ini sering gw dgr, yg pengen seks itu cowok, emang cewek gak pernah?”
Tahulah saya.
Memang begitulah dia. Entah ada apa di dalam kepalanya, yang seringkali memunculkan pertanyaan-pertanyaan tak lazim. Walaupun setelah dipikirkan lebih lanjut, ya ada benarnya juga. Pertanyaan yang sangat masuk akal.
Yang saya juga tidak tahu jawabannya.
“Lha, knp tny gw?”
“Lo msh cewek kan? Walaupun cuma separo?”
Siyal!
*Yah.. bagian itu nantilah saya ceritakan juga. Banyak aib yang tersebar semasa saya masih bersekolah dulu, memang. Saya ceritakan kalau saya sudah tidak malu membukanya ![]()
Okay, anyway..
Semalaman itu saya dibuat tidak tidur olehnya, oleh pertanyaan ‘aneh’-nya. Pertanyaan yang tidak pernah terbayangkan akan diajukan kepada saya, oleh seorang pria! Yang kemudian, ternyata membuat saya juga penasaran setengah mati. Menggugah saya untuk mempertanyakan hal yang sama.
Berulang kali saya mendengar, dari mulut-ke-mulut, dari media, dari manapun yang memungkinkan, bahwa hubungan seksual itu terjadi akibat keinginan dari pihak laki-laki. Tentu, ini mengesampingkan hubungan antar sesama jenis: yang sesama laki-laki, atau yang tidak melibatkan jenis kelamin laki-laki sama sekali. Di beberapa film yang pernah saya tonton pun, menunjukkan hal yang sama. Si laki-laki yang mulai merayu (baca: seducing), memeluk-meluk, mencium, dan yah.. terjadilah!
Si perempuan..?
Yaa.. seolah-olah bersikap pasif saja terhadap apa yang dilakukan terhadapnya. Tidak menolak, tapi tidak juga menunjukkan tanda-tanda mengiyakan. Anehnya, pada akhirnya si perempuan ini (digambarkan) mencapai orgasme juga.
Lha.. lalu datang dari mana orgasme itu?
Orgasme ‘kan bukan seperti hujan uang. Yang tak tahu apa sebabnya, tiba-tiba saja terjadi. Itu pun KALAU bisa terjadi. Jika si perempuan tidak menginginkan hubungan seksual, dan ia juga tidak menikmatinya, ya mestinya orgasme tidak akan ia alami.
Bahwa laki-laki memiliki dorongan seksual yang lebih tinggi daripada perempuan, rasanya saya mahfum betul. Perihal mereka lebih sering melakukan onani, berfantasi tentang hal-hal berbau seks, dari yang normatif sampai yang sudah masuk wilayah hitam, sepertinya sangat masuk akal jika hal itu lebih sering dilakukan oleh laki-laki. Paling tidak, sudah ada bukti empiris tentang itu.
TAPI, bukan berarti seorang perempuan, seperti saya ini, tak punya hasrat yang sama, bukankah?
Wong sama-sama manusia. Sama-sama punya kebutuhan biologis yang ingin dipuaskan. Apa yang membuatnya jadi beda?
Malah lebih sadisnya lagi, setidaknya yang pernah beberapa kali saya lihat di film atau sinetron atau apalah itu, perempuan yang terlebih dulu berinisiatif melakukan hubungan seksual dengan pasangannya, seringkali dikonotasikan sebagai ‘perempuan gak bener‘. Perempuan nakal. Pelacur.
Bahkan pada sepasang suami-istri, penilaian yang sama juga berlaku. Istri yang baik adalah istri yang tidak pernah ‘meminta jatah’ kepada sang suami. Kalau sampai si istri berinisiatif melakukan hubungan seksual terlebih dulu, nantinya akan digambarkan sebagai seorang istri yang tidak setia. Melakukan perselingkuhan.
Kasihan juga saya, ya.
Kalau nanti saya bersuami, lantas saya mesti anteng-anteng saja begitu, menunggu suami yang memeluk-meluk, mulai mencium dan membukakan baju. Kalau melihatnya sedang mandi, lalu tiba-tiba nafsu saya bergejolak, ya saya harus tetap diam-diam saja dan berpura-pura merajut di depan televisi.
Apa nggak kelihatan tolol betul itu, ya?!
Masih bagus kalau sehabis mandi si suami mendadak merasakan birahinya memuncak juga dan memicu terjadinya persetubuhan itu. Kalau tidak? Apa nggak saya jadi batu aja begitu?
Ibarat kebelet pipis, sudah sampai di ujung untuk dikeluarkan, tapi lantaran khawatir suara si pipis akan terdengar, lantas memutuskan untuk tidak pipis saja sekalian.
Yang ada, bisa-bisa malah ngompol, ‘kan?!
Terlalu lama ditahan, disembunyikan rapat-rapat, ketika saatnya tak tertahankan lagi, yang ada keluarnya malah tak terkontrol sama sekali.
Bukankah sebaiknya yaa.. kalau memang sedang ingin memuaskan hasrat seksual, ya disampaikan saja kepada sang suami?! Menyadari bahwa laki-laki memiliki dorongan seksual yang lebih tinggi, saya kok ragu bahwa permintaan istri untuk melakukan hubungan seksual itu akan ditolak oleh suaminya.
Malu?
Lha wong sama suami sendiri, buat apa malu?
Atau karena.. ‘Harusnya perempuan tidak begitu’?
Lha, siapa yang mengharuskan? Wong perihal hubung-berhubungan ini ‘kan urusan si perempuan dengan suaminya. Kalau si suami tidak keberatan, buat apa peduli dengan orang lain?!
Coba saja tanyakan pada Jeng Silly dan siMbok Venus. Rasa-rasanya sih mereka akan cukup setuju dengan ini.
Mereka pastinya setuju bahwa perempuan itu juga punya dorongan seksual. Dan itu sama sekali tidak salah, kok. Tidak lantas diberi label ‘perempuan murahan‘ hanya karena menyadari bahwa ia memiliki hasrat seksual. Jadi yaa.. mungkin-mungkin saja kalau ada perempuan yang melakukan masturbasi. Tentu dalam rangka memuaskan hasratnya itu tadi.
Saya..?
Bo’ong banget ‘kan kalau saya bilang saya ini tak pernah merasakan munculnya hasrat semacam itu?!
Tapi perihal apa yang saya lakukan kemudian, yaa.. cukup saya sendiri sajalah yang tahu ![]()

40 Responses
ah ya hasrat itu kan manusiawi Mbak, dan perempuan juga manusia…
cuma atas nama presepsi sosial, hasrat tersebut menjadi terlarang untuk perempuan…
pity, eh?
mbakDos: yah.. tinggal gimana si perempuan ini mempersepsikan persepsi sosial itu sendiri kan?! *duh, ribet bener yak bahasanya!*
kasian temanmu, mbak. dia mungkin gak tau bahwa perempuan juga punya hak yang sama untuk mengeksplorasi seksualitas mereka seperti halnya laki2. tapi di sini memang agak ribet ya? kita perempuan indonesia kadang terbentur masalah nilai2, kultur, dan lain-lain yang menyebalkan itu, haha…
mbakDos: hehehe.. mungkin malah bukan si teman pria ini yang gak tau, mbok. perempuan juga banyak yang gak tau juga, jangan-jangan
hehehheheh…agree 100%
mbakDos: agree sama yang mana nih?
walopun saya open minded person klo soal ini, tapi tetep aja kultur di negara ini bikin saya ga bisa sembarangan ngomong masalah seksualitas saya..
mbakDos: yah.. setidaknya bisa lebih terbuka ngomong sama pasangan dong ya?!
cerita yg sungguh inspirasional mba,hehe.
menurut g perempuan yg ekspresif terhadap hasrat seksual jauh lebih menarik daripada yg kurang ekspresif dalam menunjukkannya.
thanks for the story,hehe.
mbakDos: oohhh pantesan situ naksir berat pada diriku
Nah..ini dia konstruksi sosial yang udah bertahun-tahun dijalani. Yang melakukan sama saja, bisa yang laki maupun yang perempuan.
Saya kadang-kadang bingung kok, kenapa laki dan perempuan kadang-kadang dibedakan. sampai soal tempat parkir juga dibedain.
he…he…he…tapi aku suka tulisan ini
makes me think about many things
congrats
mbakDos: nggg kalo soal parkir, sayah gak keberatan kok kalo dibedakan
anyway, makasih lhooo sudah berkunjung
Jadi intinya, pertanyaan si teman pria itu dijawab ato nggak? heheheh…
mbakDos: dijawab kok, mon. ya itu.. di kalimat terakhir, “cukup saya sendiri sajalah yang tahu”
Gath, emang asik n ribet ya membicarakan seksualitas perempuan… Dont worry lah utk kehdpan pernikahan, selama berkomunikasi lancar sblm menikah dg calon pendamping hidupmu, terutama ttg nilai dsb… pasti lah bisa enjoying ur sexuality with ur future hubby… amieennnnnnn….
mbakDos: amieeennnn.. *lirik kakang*
saya suka nih tulisan yang ini, iar mata para lelaki yang membacanya jadi terbuka
mbakDos: biar para perempuan juga ikut terbuka matanya
makasih yaaaa
(ninja) *sambil baca komen komen wanita-wanita diatas*
mbakDos: lho, kamu wanita juga tho, dut?
Sayang, lagi kepingin ya?
mbakDos: yuk, kang!

Kelirumologi di sini adalah menganggap apa yg dilakukan, dibicarakan, dipikirkan orang banyak adalah yg benar. Semakin banyak orang melakukan itu, semakin tinggilah ‘tingkat’ kebenarannya.
@alina
Mata saya sudah terbuka kok..
Eh, kok gak ikutan mati tertawa di warungnya bro Edi?
mbakDos: ya pada akhirnya benar-salah itu kan cuma masalah persepsi, tho?!
“Lo msh cewek kan? Walaupun cuma separo?”
hahahaha… seperti yang gue bilang, “you are the man in a relationship”.. jadi harusnya mah ya pengenlah ya Tha.. hehehe..
klo gue saat ini masih dalam taraf pingin dipeluk.. tapi suatu saat nanti pastilah ingin bercinta:)
mbakDos: hahaha trus kalo gue adalah the man in a relationship, pasangan gue perempuan gitu?? OGAAHH!!
selamat menikmati percintaannya deh kalo gitu
erh.. oke deh, jadi kepikiran
)
mbakDos: wuaaahhh hayo nima hayooo kepikiran apaaaa??
*yg komen juga pada malu-malu smua tuh*
dan soal beginian mah memang susah di teori,
tapi gampang di praktek, -halah-
*masih menunggu kelanjutan ceritanya, kok kayaknya nggantung, gitu*
mbakDos: kalok gitu, mungkin tugasmu sekarang adalah memberikan pelajaran tentang prakteknya
cerita yang mana nih?
saya jadi inginnnnn… ah ngga ah. pegang telinga aja lom sampai
lama ngga baca baca tulisan mbakdos. masih kek dulu. kangen…. apa kabar ???
mbakDos: wah, mataaaaaa!! ya ampuunnn.. udah lama banget yaa.. kangen juga euy main-main ke sana
eh, siapa yang pegang telinga belum sampe? tapi kalo pegang yang lain udah dong ya?! pegang komputer maksudnyaaa!!
menanggapi komentar seseorang bernama mona…nah betul itu..kok panjang lebar jadinya nggak dijawab mbak? wekekekekeek
mbakDos: udah kok, bi.. itu di kalimat terakhir
OOT, kamu kalo tulisan-tulisan model begini, kayanya cepet bener ya responnya
untuk urusan seperti ini, posisi wanita memang masih abu-abu. tapi biar urusannya ga ribet, sebelum bilang ho’oh waktu ijab kabul, waktu pacaran harus bener-bener terbuka. terbuka berkomunikasinya maksud saya. dari situ bisa dilihat pasangan kita open minded ato ga. kalo ga, hehe terserah sich mau terus ato STOP. kecuali kuat buat nahan yach monggo aja. mbak dos, tulisannya selalu woke, apa resepnya?
mbakDos: hahaha.. *lirik-lirik kakang lagi*
waahh dipuji!! makasih lhooo.. ngg resep? practice makes perfect, kayanya ya
ihihihi…provokatif neng judulnya…isinya juga…
kenapa yah, selalu ada aja dobble standar …even for basic things, hihihi…mungkin disitu misteri dan kejutannya (wanita) kali yah…
btw, yang menarik dari tulisan ini adalah “lo masih cewek kan? walaopun cuman separo…” plis..audience need confirmation!!!hahaha
mbakDos: let’s say.. ‘kejutan’ kali ya *positivity-mode on*
nggg apa lagi yang harus dikonfirmasi, mut? udah jelas bukan? hahahaha tetep ambigu!!
Hahahaha, baru baca tulisan ini.
Anyway… emang gak boleh gitu masturbasi?. Gak boleh minta?… Perempuan dan laki-laki sama-sama punya hasrat yang sama. Ini bukan soal emansipasi, atau persamaan hak… ini kodrat alami manusia. Sama-sama memiliki kebutuhan biologis yang sama.
Tapi ngomong2… emang masih ada ya laki-laki yang punya pikiran begitu?… kesian amat. Mestinya laki-laki ini bersyukur loh kalo istrinya minta jatah… means dia sedang dalam birahi puncak. Mana enak “berbuat cinta” sama orang yang diem aja… kek bobo sama gedebong pisang dong… mau???, hehehe
Anyway… tumben nih, lagi pengen bercinta sama sapa mbak dos??? … *slurph*
mbakDos: kesian amat ya tuh laki.. gedebong pisang: udah pasif, kaku lagi! *halah.. dibahas, lho!*
nggg sama yang itu lho jengsiiillll 
Hm.. Mungkin ga smua perempuan pasif jg.. Kalaupun ada, di hub suami istri kan cm berdua.. Sapa yg mau nilai pelacur atau tdk.. Gw rasa pasif lbh karena masalah sosialisasi budaya aja dan mungkin emang seneng di’kuasai’.. But, wait n see aja deh kelak when doing it what will happen.. Ahem..
mbakDos: asiiikkk.. monchi lagi nunggu ya?! *interpretasi ngawur*
ck…ck…ck… luar biasa responnya…
*sambil geleng-geleng kepala*
mbakDos: yaahh jangan geleng-geleng dong.. ngangguk-ngangguk aja ya
Dulu saat belum nikah, smua itu sering kali muncul dan terbayang. Kini semua itu sudah ada tempatnya..
mbakDos: duh, enaknyaa.. sayah juga mau ah
Hmmm… kayanya harigini udah ga tabu lagi dey cewe lebih agresif & spontan, ga ada critanya kita nahan2 dorongan biologis, just try it.. hehehe…
cuman, emang pada maluw siy kalo disuruh crita2..
knpa kudu maluw yah? ini kan lumrah…
mbakDos: kalo masalah malu pas disuruh cerita, ya wajar aja sih.. namanya juga budaya ketimuran, hal-hal kaya gitu kan gak mestinya diumbar
hmmmm…..kl menurut gw…sewaktu gw masih mnikah…gw malah kadang berfikir, kok istri gw jarang minta jatah….selalu kudu gw yang mulai….pertanyaan gw(didalam hati) apa dia ga nafsu sama gw? apa dia punya selingkuhan? apa dia malu untuk mintanya?
mbakDos: mungkin PR selanjutnya kalo kelak beristri lagi, memang harus diomongin kali bal yang beginian
lama gak berkunjung ke blognya mbak dos. pakabar nih.
baca2 tulisan di atas seru bgt. palagi liat komentar pengunjungnya. besok temanya masih dilanjutkan lagi mbak yang ginian? hehe
mbakDos: waahh senangnya dikunjungi lagi!
trus dirimu gak komen juga, gitu?
temanya.. kita liat aja ntar
Kembali pada diri kita masing-masing, tubuh kita yang tau dan kita sendiri yang merasakannya…
Asal masih dalam batasan normal, dokter bilang itu wajar…
mbakDos: ngg.. tuh dia.. untungnya saya bukan dokter
kalo kepengen sih harusnya ngomong aja ..
tetapi kebanyakan pada diem ….. jadi batu deh.
mbakDos: HARUSNYA sih gitu.. tapi yaaaa itu dia susahnya
Inspiring story indeed… I guess one should be the ice breaker..
mbakDos: lalu.. siapa ‘the one’-nya itu, kang?!
Wah bahaya, saya belum siap diajak Mbak, saya masih 21 tahun… ^^
( -.-’ )
mbakDos: baiklah.. tunggulah beberapa tahun lagi
ternyata bener dugaan saya, sangat luar biasa respon di sini…
bisa mecahin rekor nih…
mbakDos: hahaha masih belum terpecahkan kok rekornya sama tulisan yang dulu itu
*menebak-nebak apa yang dilakuken MbakDos untuk memuasken hasratnya*
*ditabok sideA-sideB*
mbakDos: *tabok goen atas bawah depan belakang*
wah inspiratif buat mereka mereka yang masih melihat ‘ hasrat ‘ sebagai aneksasi pencabulan dan porno.
Sejarah justru mengajarkan kadang wanita lebih advance dalam hal beginian, termasuk di Indonesia.
relief di beberapa Candi candi memperlihatkan wanita justru mengambil sikap duluan dalam hubungan intercourse.
Jadi nothing wrong dengan horny he he…
* cari terong atau mentimun
* digaplokkk
mbakDos: ngg.. sama pare enakan mana mas? kan lebih bertekstur gitu.. *bertanya pada mas iman.. seolah dirinya lebih paham*
*gantian digaplok pake kembang kol*
pas ngeliat komennya rame banget, wondering nulis apa lagi yah si mbakdos ini….
ealaaaaaaaah ternyata…topik “begini” memang (masih) populer yah, apalagi kalau di ruang publik seperti ini….
komentar mengenai postingannya, setuju banget! tar kalo gue punya istri (jauh amat, mo ngayalnya!), mau bilang ke doi ah, “kalo lagi mau, jangan ragu2 langsung BILANG yah…saya SIAP TEMPUR selalu”
bwahahahahaha…
*merenung, bener ga sih siap tempur selalu…
mbakDos: mungkin memang harus dicoba dulu mo, baru tau jawabannya
hehehe
saya baca tulisan diatas sambil senyum2 sendiri
saya kan masih polos :p
mbakDos: eh.. dek.. malem-malem kok masih bangun?! bobok sana.. jangan lupa cuci kaki dan gosok gigi ya, biar senyumnya makin kinclong
Ampun Kakak saya salah pencet mousenya, yach…tuch kan….. jadi kasih comment dech
Absulutely nice blog, nice article n’ nice picture.
if it’s then I think this is the best blog for it.
But it better be to have some survey first not based by your own experience. Subjectely doesn’t count for valid articles, or this blog just like you said ‘tempat tumpahnya unek-unek’
kayak kata basofi soedirman ‘ tak semua laki-laki bersalah padamu’
Cheers,
Josh
mbakDos: hehehe bisa sulit hidup sayah kalo tiap mau bikin tulisan di blog harus survei dulu.. that’s why sayah bikin tulisan di sini, bukan di jurnal penelitian
anyway, tidak semua wanita juga seperti sayah kok.. tenang aja
oohh jadi gitu ya…..??? ternyata wanita punya hasrat juga…….baru tau.
mbakDos: nyanyi-nyanyi, “wanita juga manusiaaa punya rasa punya hatiii jangan samakan dengan si laki-lakiiiiii..” *gyahahahaha digiles pake talenan*
emang mbak kalo nonton tv sambil ngerajut ya? hehe…
mbakDos: kadang sambil bikin rujak juga kok.. tergantung situasi aja
Inilah repotnya hidup di dunia laki-laki. Dan Anda sudah menuliskan masalah ini, itu sudah luar biasa.
mbakDos: dan buat saya, ternyata lebih menyenangkan hang out sama laki2
I found your blog on google and read a few of your other posts. I just added you to my Google News Reader. Keep up the good work. Look forward to reading more from you in the future.
mbakDos: so glad to hear that
don’t hesitate to visiting me all over again, okay?