1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Scenes from A Coffee House

PRE-SCRIPT*:
Sebuah kisah yang tiba-tiba terbersit setelah membaca Notes seorang teman di dan komentar sahabat saya tersayang atas tulisan itu: “Is this an end or just a beginning of a ‘new chapter’ in your story nduk?”

_____

Tibalah saya di depan sebuah restoran, beberapa menit lewat dari jam satu siang. Seorang pelayan menyambut dengan ramah. Saya memberitahunya bahwa seseorang di dalam sudah menunggu. Si pelayan ini langsung mempersilakan saya masuk.

Dan saya menemukannya. Duduk seorang diri di salah satu meja terluar. Sedang menekuri buku menu ditemani segelas minuman yang sudah tersaji di hadapannya. Entah sudah berapa lama sebenarnya ia menunggu. Ia mengangkat kepalanya begitu saya tiba di dekat mejanya. Lalu berdiri.

Tersenyum sumringah, membuka tangannya lebar-lebar dan memeluk saya.

Erat sekali.

Saya membalas pelukannya. Sesaat merasa bimbang, apakah harus mengakhirinya segera atau membiarkannya yang akan melepas nantinya. Berusaha tidak mempedulikan saja tatapan risih orang-orang di sekeliling. Namun sebelum sempat saya menjatuhkan pilihan tentang apa yang harus dilakukan, ia pun akhirnya melepas pelukan itu.

“How are you?” tanya saya. Setelah akhirnya kami duduk di kursi masing-masing.

Ia menghela napas.

Mengungkapkan potongan cerita yang sudah beberapa kali didengar darinya, “Sedang lelah banget dengan kerjaan,” lalu sebuah senyum mengembang di bibirnya, “That’s why gue seneng banget waktu kemaren lo ngajak ketemu.”

Saya tak tahu harus menjawab apa.

“You need it,” sahut saya. Dan sungguh tak tahu mengapa kata-kata itulah yang terlontar. Mungkin dengan alasan yang terlalu sederhana, karena itulah yang tiba-tiba muncul dalam benak saya.

Ia tersenyum lagi, “Thank you.”

Rasa yang aneh, membingungkan, tapi berulang kali singgah dalam dada saya, kembali menyeruak. Saya tak pernah tahu apa namanya. Bahkan tidak yakin bahwa apa yang saya rasakan ini bisa dijelaskan dalam sebuah kosakata. Rasa yang nyaris selalu muncul setiap kali bertemu dengannya.

Pelayan yang semula menyambut saya di pintu depan kemudian menghampiri kami. Kali ini dengan membawa satu lagi buku menu untuk diangsurkan pada saya. Kami meminta waktu sejenak untuk mendiskusikannya. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya sejumlah makanan dipilih untuk menemani siang hari kami.

Ingatan akan apa-apa saja yang pernah kami nikmati berdua di restoran yang sama, telah mempersingkat waktu.

“Goddammit! I miss you so much!” katanya pelan. Nyaris menggumam.

Saya tersenyum saja.

“Sumpah, gue kangen banget!” lanjutnya, kali ini terdengar seperti berusaha meyakinkan saya.

Lagi, saya tetap tersenyum menanggapinya. Melihat ia memainkan bibir gelasnya, menundukkan kepala, tanpa saya tahu apa yang sebenarnya tengah dilihatnya. Sepintas, saya menangkap sinyal betapa ia berusaha dengan amat sangat untuk menahan diri. Saya tahu apa yang sesungguhnya ingin dilakukannya dalam situasi semacam ini, dengan kerinduan yang demikian menggelora.

Ia pasti ingin memeluk saya dengan erat. Tidak akan melepaskannya lagi.

Yang kami juga tahu, tidak mungkin dilakukannya.

“Sekarang akhirnya ketemu, ‘kan?!” tanya saya. Basa basi. Karena tak tahu respon apalagi yang seharusnya diberikan.

Ia mengangguk dengan cepat, menengadahkan kepalanya dan menatap saya.

“So.. how’s your life lately?” tanya saya lagi. Berusaha mencairkan suasana. Sekaligus mengalihkan pada hal lain, agar percakapan tak berlanjut pada hal yang tak menyenangkan. Bagi kami berdua.

Lagi, ia menghela napasnya. Panjang. Mulai mengisahkan peristiwa-peristiwa dalam hidupnya yang sudah lama tak terdengar. Bukan saja peristiwa, tapi setiap perasaan yang menyertainya. Satu saat tertawa-tawa, lalu raut wajahnya berubah sedih. Lalu berganti lagi. Tergantung perasaan apa yang menyertai cerita itu.

Ia menanyakan hal yang sama pada saya.

Dan kami pun bertukar kisah. Kehidupan yang selama sekian waktu tak pernah lagi kami bagikan satu sama lain. Tetap menjadi sebuah kisah yang tak pernah ada akhirnya.

Sambil mulai menikmati makanan yang sudah tersaji.

Hingga akhirnya tandas. Tak bersisa. Sementara kisah yang masih ingin diceritakan belum juga habis separuhnya. Tak butuh waktu lama bagi kami memutuskan untuk melanjutkan perbincangan di kedai kopi sebelah.

Dua cangkir besar dan meja di pojokan. Perbincangan yang semakin seru, dengan kisah yang berbeda. Darinya dan juga dari saya.

Satu pertanyaan besar masih terngiang dalam benak saya. Lagi-lagi bimbang, akan mengutarakannyakah atau tidak. Pertanyaan yang semakin lama semakin menggelembung seiring dengan penundaan yang terus saya lakukan berhari-hari. Berminggu-minggu. Entah sudah berapa bulan lamanya.

“Where have you been?” tanya saya, akhirnya, “SMS gue nggak dibales, telpon nggak diangkat. Sementara gue yakin kalo lo pasti tau ‘kan?!” Saya tak sanggup lagi membendung rasa penasaran yang tak kunjung terjawab.

Ia tampak terkesiap. Saya yakin bahwa ia tahu persis bahwa apa yang terjadi belakangan ini pasti membuat saya bertanya-tanya. Tapi mungkin ia tidak menduga bahwa saya sungguh akan mengajukan pertanyaan itu langsung padanya.

Seketika, saya sadar bahwa saya telah mengajukan pertanyaan yang salah. Atau setidaknya, pertanyaan itu diutarakan pada waktu yang tidak tepat. Setelah melihatnya tiba-tiba saja meletakkan batang rokok yang baru satu-dua kali dihisap itu ke atas asbak. Tapi di sisi lain, saya juga tahu bahwa saya tetap harus bertanya padanya, bagaimanapun juga.

“I.. have a life. A new one,” jawabnya, terbata.

Saya menatapnya, “Dan itu alasan kenapa akhirnya lo menghilang?” Berusaha menegaskan lagi apa yang ada dalam benak saya.

Ia mengangguk. Saya ikut mengangguk. Pelan. Seperti kata-kata yang tak terucapkan, tapi sama-sama tahu apa makna sebenarnya dari kata-katanya itu.

“Lo pasti tahu ‘kan kalo gue nggak pernah mau ngelakuin itu?” Ia balik bertanya, “But I have to.”

“I know,” jawab saya, menghela napas sejenak, menyesapi rasa lega karena dugaan saya selama ini tak terbukti. “Gue udah mikir jelek aja. Apa gue habis ngelakuin sesuatu yang bikin lo marah besar sampe nggak mau ngomong lagi sama gue.”

Ia menggeleng dengan cepat, “Bukan.. bukan. You did nothing wrong, Dear.”

Saya terkesiap. ‘Dear’?

Sebuah kata yang terucap darinya, memicu sebuah pertanyaan lain yang juga selama ini telah saya simpan rapat-rapat.

“Kalo gue boleh tau.. apa sih yang sebenarnya lo harapkan dari hubungan kita?” tanya saya, “Terlepas dari seperti apa status lo sekarang.”

Ia tersenyum lagi. Sejenak menundukkan kepala, sebelum kemudian menengadahkannya lagi dan menatap mata saya dalam-dalam, “Harapan gue? Kita bisa.. bareng-bareng. Untuk seterusnya.”

Hhhh… Rupanya masih sama.

Masih sangat jelas di benak kami – ya, kami.. saya dan dia – mengenai peristiwa beberapa tahun silam. Duduk berhadapan di kedai kopi yang sama. Ia menatap mata saya, lalu mengutarakan apa yang dirasakannya pada saya. Cinta.

Yang sayangnya, bukan perasaan yang sama seperti yang saya rasakan padanya.

Hanya sayang. Karena kami memang adalah sepasang sahabat.

“I can handle it better now. Karena gue tahu jawaban lo masih sama seperti tiga tahun lalu,” katanya tiba-tiba, membuyarkan lamunan saya.

“Perasaan itu muncul lagi, ya?” tanya saya.

Ia tersenyum dan menggelengkan kepala, “Nope. Bukan muncul lagi. Tapi memang nggak pernah hilang dari sini,” ia menepuk dadanya.

Tiba-tiba rasa bersalah merayap dalam hati saya.

Berpikir yang tidak-tidak tentangnya, bahwa ia marah besar pada saya, ia sengaja menghilang, tidak menghubungi saya lagi, membiarkan saya bertanya-tanya. Padahal apa yang tengah dilakukannya dalam pengasingan selama ini adalah mungkin yang terbaik bagi kami. Atau setidaknya, baginya.

Agar perasaannya tidak lagi terkoyak karena menumbuhkan lagi rasa cinta yang memang tak pernah ditinggal mati.

Siang mulai terbenam dan langit mulai memancarkan pendar-pendar jingga. Pertanda bahwa pertemuan ini harus diakhiri. Meminta kami menata lagi apa yang telah terjadi sepanjang siang hingga sore itu, menyimpannya rapat dalam kotak yang kami tahu di mana persisnya jika harus membukanya lagi.

Ia mengantar saya ke pelataran parkir.

Kali ini, sayalah yang membuka tangan lebar-lebar dan memeluknya. Ia mengeratkan pelukan itu, lalu membisikkan sesuatu tepat di telinga saya, “I love you. I love you so much!”

“Thank you for loving me that much,” balas saya.

Saya masuk ke dalam. Menyalakan mesin, lalu melambaikan tangan padanya sebelum kemudian mulai melajukan mobil saya.

Dari kaca spion, saya bisa melihatnya masih berdiri di tempat yang sama. Memandangi kepergian saya sambil tersenyum.

We did a good job today.

Yah.. setidaknya, boleh ‘kan saya berharap demikian?!

_____

POST-SCRIPT.
buat teman tersayangnya si pembuat tulisan yang telah memberi inspirasi buat saya menulis ini, we missed you. A LOT, man! Kamu tahu ke mana kamu bisa pulang, ’cause you always have your home.. with us.

* istilah sekenanya hasil diskusi saya dan Pakdhe Mbilung
** judul dicomot seadanya dari lagu milik Blessid Union of Souls berjudul sama

10 Responses

on May 25th, 2009 at 12:40 am ochaocha Says:

Just one word for you…Damn! hahahhahahahah

on May 25th, 2009 at 8:11 am enno Says:

Tampaknya mbakyu juga sayang padanya, lalu kenapa gak bisa bersama?????
(Loh koq jadi saya yang ngotot hehehehe)

on May 25th, 2009 at 8:38 am iin Says:

haduh haduh.. sahabat dengan tanda kutip ituu.. hummm langsung PTSD aku bacanya.. gubrak (ngais2 aspal mode on)

on May 25th, 2009 at 9:51 am reggie Says:

memang dalam setiap peperangan selalu memakan ‘korban’, termasuk peperangan mendapatkan cinta,hehe.
klo g prinsipnya, mengusahakan ’strategi’ terbaik untuk menghadapi semua resiko yang ada. supaya bukan g yg menjadi ‘korban’.hahahaha
“fate loves the fearless”

on May 25th, 2009 at 2:46 pm warm Says:

wondering ….

on May 25th, 2009 at 6:42 pm uwie Says:

begitu baca ini, aku speechless dan hanya bisa sekali lagi menghela nafas panjang *dan membuat kakakku terbengong-bengong menatap tingkah adiknya yang mulai aneh ini..* :D

tell me how u can handle that no-name-feeling for that long.. :)

@ reggie : ya ampunn…logis amat komennya!

on May 26th, 2009 at 11:43 am Anneke Priskila Says:

hm… sungguh menarik kalo diangkat ke layar lebar. ada yang berminat jadi produsernya? ;)

on May 28th, 2009 at 12:27 pm timo Says:

haduuuuuuuuuh!
mbaca ini jadi kayak ngaca… :(
kalo tiba2 ngilang ya mungkin karena ingin mencoba melupakan dan move on…
ahuhuhuhuhu…
ditunggu jilid duanya deh! *ngarep mode on

on June 3rd, 2009 at 12:57 pm gopaan Says:

gak ngerti

on June 15th, 2009 at 6:25 pm susu Says:

aaahhhhhh baca ini sampai tengah2 aja jadi inget sesuatuu…
mengulang pertanyaan enno: kenapa gak bisa bersammmaaa?? (jawab dong mbaa =) )

Leave a Reply