1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

CHIC Magazine feat. mbakDos

Beberapa saat lalu, saya sempat dikejutkan oleh sebuah pesan yang masuk ke dalam inbox Facebook saya. Setelah beberapa pesan yang saya terima sebelumnya biasanya dikirim oleh pemilik account Facebook siapa lah itu, yang tidak saya kenal (*cih! sok punya penggemar!!*), akhirnya saya melihat si pengirim pesan kali ini adalah seseorang yang memang ada di dalam friend list saya.

Tharie, si jurnalis dari majalah CHIC, adalah pengirimnya. Pesan yang dituliskan buat saya cukup singkat dan padat berisi, tanpa basa-basi. Ia meminta kesediaan saya untuk – meminjam istilahnya – diprofilkan di majalah tempatnya bekerja itu. Setelah dulu ia sempat menulis review tentang blog saya, dudukBERSILA ini.

Saya pun terpana.

Saya..?

Diprofilkan di rubrik Dream Job??

Edyaaannn!!!

Saya nyaris melonjak kegirangan, setelah akhirnya berhasil menyadari bahwa apa yang saya baca memang sesuai dengan apa yang tertera di layar si Fuji. Bukan sekedar halusinasi belaka.

Detak jantung saya mendadak menderu-deru, seperti layaknya kereta api Argo Bromo jurusan Jakarta-Surabaya itu. Saya hampir tidak bisa mengendalikan diri untuk berteriak dan meloncat-loncat, kalau saja tidak ingat bahwa ruang kantor itu masih dipenuhi oleh para penghuninya. Apalagi saat itu baru beberapa menit berlalu dari habisnya waktu istirahat siang.

Si bos bahkan sampai beberapa kali mengernyitkan dahi, mungkin khawatir melihat anak buahnya ini mendadak aneh. Tersenyum-senyum dan tertawa sendiri sambil menatap notebook, padahal sepertinya tidak ada yang salah dengan menu makan siang tadi.

Untunglah saya masih belum kehilangan kendali, sehingga tidak sampai mempermalukan diri sendiri.

Seketika itu juga, saya langsung meneruskan pesan itu kepada Kakang Pendekar Matahari nun jauh di sana itu. Saya juga langsung meminta pendapatnya.

“Ya udah gih, ditelpon aja si Tharie. Atur jadual,” jawabnya.

Saya pun mengirimkan pesan singkat ke nomor yang diberikan Tharie. Percakapan ini-itu pun terjadi, hingga kemudian kami mengatur jadual. Setelah mendiskusikannya juga dengan si bos, akhirnya diputuskan bahwa saya akan datang ke kantor Tharie pada hari yang telah disepakati untuk diwawancara (*tsaahh.. berasa artis!*) dan photo session (*eits.. gak boleh iri! hihihihihi*).

Lucu juga sebenarnya kalau dipikir-pikir.

Dosen, dan dream job, adalah dua kata yang nggak nyambung. Setidaknya buat saya.

Saya sama sekali tidak pernah berpikir bahwa saya akan menjalani profesi sebagai seorang dosen. Tidak pernah sekali pun sepanjang hidup saya terpikirkan mengenai pekerjaan itu.

Bukan.. bukannya saya bermaksud ‘meledek’ profesi dosen, atau pengajar secara lebih luas. Hanya saja, saya sungguh tidak pernah membayangkan akan menjalaninya. Begitu banyak profesi lain yang saya pikir lebih memungkinkan untuk saya lakukan setelah menyelesaikan segala jenis pendidikan.

Dan dosen, ataupun pengajar, sama sekali tidak masuk ke dalam daftar saya.

Namun sebenarnya, saya sendiri tidak tahu dan tidak pernah bisa memberikan alasan yang cukup masuk akal mengapa saya tidak mengingini pekerjaan yang satu itu. Karena jika ditilik pada apa yang saya punya, sepertinya semua justru mendukung saya untuk menjalaninya.

Tentang kemampuan intelektual, yang katanya adalah modal utama untuk menjadi seorang pengajar, sepertinya bukan faktor yang seharusnya memicu keraguan saya. Walaupun (*tolong digarisbawahi*).. walaupun saya baru berhasil menyelesaikan pendidikan di tingkat S1 kala itu setelah LEBIH dari lima tahun menjalaninya, yang notabene, jelas lebih lama dari yang semestinya. Angka yang tertera pada ijazah sebagai IPK akhir saya.. yaaa cukup lah untuk bisa dibanggakan, walaupun sama sekali tidak menempatkan saya pada posisi cum laude (*hyaiyalaaahhhh*).

Tentang peran sebagai pengajar, saya pun sebenarnya sudah pernah menjalaninya selama kurang-lebih tiga tahun terakhir masa kuliah saya. Walaupun hanya dalam tingkatan asisten (dosen). Alhasil, perbekalan untuk mengajar di depan kelas, menyusun materi kuliah, membuat tugas, dan menghadapi mahasiswa (tentunya!), sebenarnya sudah saya peroleh.

Dan lagi, beberapa dosen yang pernah saya asisteni pun, juga mendukung saya untuk sungguh mengajar dan menyandang profesi yang sama seperti mereka. Termasuk dua orang penguji skripsi, yang, setelah sidang skripsi itu usai, menjabat tangan saya dan memberi selamat sambil berkata, “Selamat ya. Jadi rekan sejawat dong nih, kita?!”

Lucunya (ini sungguh lucu buat saya!), saya sama sekali tidak melakukan perlawanan atas itu semua. Membantah atau menyanggah pun tidak. Saya juga tidak mengungkapkan pendapat apapun kepada dosen-dosen yang pernah saya asisteni ataupun dua orang dosen penguji itu, bahwa saya belum (atau tidak akan) berminat untuk menjalani profesi seperti mereka. Walaupun di saat yang sama, bukan berarti saya menyetujuinya.

Alhasil, setelah semester di mana saya menjalani sidang skripsi berlalu, saya akhirnya memperoleh tanggung jawab atas satu matakuliah. Tidak lagi sebagai asisten, tetapi sebagai dosen. Dengan didampingi oleh dua orang asisten.

Dan di semester pertama itulah saya baru benar-benar merasakan peran sebagai seorang dosen.

Bagaimana saya bertanggung jawab penuh atas apa yang akan saya berikan pada para mahasiswa. Sudah bukan lagi menunggu atasan saya (baca: dosen) yang akan memberikan instruksi mengenai apa-apa saja yang harus diberikan kepada mahasiswa, sebagaimana saat saya masih menjadi asisten saat itu. Saya yang bertanggung jawab untuk membuat mereka memiliki penguasaan atas satu matakuliah yang saya pegang itu.

Akibatnya, saya harus membaca bukan saja satu atau dua buku, tetapi setidaknya tiga dan bahkan empat buku untuk menyusun materi kuliah, di setiap pertemuan. Saya juga harus mulai belajar untuk merencanakan segala hal dengan baik, terutama jadual pertemuan kuliah dan mensinkronkannya dengan materi yang akan diajarkan kepada mahasiswa. Padahal, rasanya seluruh dunia juga tahu betapa suatu hal bernama perencanaan itu adalah musuh besar saya.

Yang jelas, saya harus belajar memberanikan diri untuk berdiri di depan kelas dan mengajar.

Saya, yang introvert kelas berat, sama sekali tidak menyukai situasi di mana saya harus berinteraksi dengan banyak orang. Apalagi harus berdiri di depan kelas dan mengajar sejumlah mahasiswa yang semua menatap ke arah saya.

Bisa mati berdiri, saya!

Tapi rupanya, setelah menjalani selama beberapa semester, saya mulai bisa menyesuaikan diri dengan semua itu.

Membaca beberapa buku literatur untuk menyiapkan materi kuliah, pada akhirnya sudah menjadi suatu hal yang biasa. Membuat perencanaan sebelum mulainya semester baru pun menjadi rutinitas yang tidak lagi terbantahkan. Dan sekarang, saya mulai bisa mengajar sambil berkeliling ruang kelas, tidak lagi diam mematung saja di dekat papan tulis.

Mengajar, pada akhirnya, selalu menjadi tantangan yang tak pernah habis buat saya. Dan sekaligus menjadi ajang yang luar biasa menyenangkan untuk belajar tentang banyak hal. Sampai sekarang. Saya masih terus belajar untuk bisa menjadi seorang pengajar yang oke.

Di setiap semester, setiap matakuliah, dan setiap mahasiswa yang saya temui, saya selalu dihadapkan pada tantangan yang berbeda. Dan saya, sebagai seorang thriller-seeker, jelas terusik untuk menaklukkan tantangan-tantangan itu.

Akhirnya pertanyaan itu pun terjawab.

Pertanyaan saya kepada diri sendiri, mengapa saya masih saja betah mengajar.

Lantas, tentang profesi ideal yang saya impi-impikan.. Sebenarnya, saya masih ada di jalur yang sama untuk bisa mencapainya. Tapi rasanya, menjadi seorang penulis, seperti yang selalu saya cita-citakan sejak kecil, yang kebetulan juga berprofesi sebagai psikolog dan (tentunya) pengajar, bukannya tidak mungkin untuk sama-sama diwujudkan.

Dan justru perpaduan ketiganya itulah mungkin dream job saya pada akhirnya.

Hiyaaahhh.. jadi lupa ‘kan mau promosi majalah CHIC-nya..

Silakan lho dibaca artikel Dream Job di majalah CHIC No.38 yang terbit mulai hari ini, 03 Juni 2009, dengan Drew Barrymore sebagai sampul depannya *halah, informasi kumplid ceritanya!*.

AAHHH SENANGNYAAAA…

25 Responses

on June 3rd, 2009 at 11:53 pm ReTha Says:

jiyeeee, mbakyuu….

artis…………….. *hihi*

mbakDos: eh poto-potoku jangan dijualin ya *hahahaha ditimpuk kamera* :mrgreen:

on June 4th, 2009 at 12:01 am uwie Says:

aduuuhh…
mbakyu..semakin ngartis.. :D
congrats mba! siap2 bentar lagi gantiin drew barrymore buat jadi cover modelnyaaa… hehe

mbakDos: ihiiiyyy.. eh tunggu cover apa dulu nih wie? tabloid lipstik jangan-jangan?! :|

on June 4th, 2009 at 12:08 am Niffo Says:

wew, artis baru telah lahir
mbakdos aku minta tandatangannya dong…

mbakDos: bukan bukan.. sayah lahir taun 82, bukn barusan *hahahaha* cap jempol aja mau? :D

on June 4th, 2009 at 12:15 am sigit Says:

mbakDos, ternyata kita punya cerita yang hampir sama ya tentang bagaimana sampai ‘terjerumus’ menjalani profesi dosen :p

mbakDos: tos, kalo gitu :D

on June 4th, 2009 at 6:18 am ochaocha Says:

congratulations once more…makin tenar…ada 1 pekerjaan disandang olehmu..yaitu seleb..huahahaha

mbakDos: oh bukan.. bukan.. itu bukan kerjaan, tapi jalan hidup *hahahaha sekarang ditimpuk tipi* :mrgreen: anyway, makasih yaaa

on June 4th, 2009 at 7:45 am tukangkopi Says:

saya suka foto mbakDos yang di majalah itu. kelihatan ramah dan hangat. beda sama foto yang ada di sidebar blog ini.. :D
*mlayu*

mbakDos: ngg mesti dirimu belum pernah ketemu aselinya, ramah-hangat-dan tetap sama seperti yang di sidebar.. hahahahaha :mrgreen:

on June 4th, 2009 at 8:10 am iin Says:

hwaaaahh langsung dehhh best breakthrough artist of the year! wahahahahahha congrats mbakyu.. jaya di dunia maya.. besok2 ditunggu di surat kabar terkemuka lainnya ;)

mbakDos: ihiiiyyy breaktrough artist! udah sama kaya d’masip dong in?! :mrgreen:

on June 4th, 2009 at 9:51 am Chic Says:

well dosen itu dream job kok Mbak… ihiiiiy makin ngetop ajah niiiih… :D

mbakDos: yah at least buat sayah sih dosen memang my job ;-) heheheh jadi maluw :D

on June 4th, 2009 at 10:00 am Anneke Priskila Says:

plok…plok…plok… (standing ovation)

makin susah nih kalo mau ketemu dengan mbak… ;)

mbakDos: biar nggak susah, kamu sering-sering ke jakarta aja :mrgreen:

on June 4th, 2009 at 10:33 am Ningz Says:

yaaa mbak aku nggak punya CHIC adanya Go Girl. Pinjam CHICnya dung mbak hihihii. Ihiyyyy tinggal tunggu masuk majalah-majalah yang lain ya mbak. Congratz ;)

mbakDos: beli chic juga dong ningz :D tunggu tunggu.. majalah apa dulu nih? mobil-motor begitu? ngg dipikir-pikir dulu ya :mrgreen: makasiiihhh

on June 4th, 2009 at 12:20 pm adrian Says:

cocok…cocok….cantik….smart…..type wanita abad 21….pokoke sip….

mbakDos: haduh haduuuhhh jadi maluuu :P makasih yaaa

on June 4th, 2009 at 2:41 pm zam Says:

dream job?? kukira dream girl..

*les bahasa Tagalog*

mbakDos: *kirimi kamus trilingual ke zammy*

on June 4th, 2009 at 6:16 pm japro Says:

ditunggu mbakdos jadi cover dan lembar tengah majalah Popular … =))

(majalah berlogo kelinci apa lagi..)… hiyaaaaa ha ha ha

mbakDos: baiklah.. nantikan diriku di sana *siap-siap sedot lemak* :mrgreen:

on June 4th, 2009 at 7:55 pm timo Says:

mau doooooooonk diajar mbak Agatha…
*loh?

mbakDos: ah, palsu! dulu bukannya harusnya lo masuk kelas gue, mo?? :mrgreen:

on June 5th, 2009 at 5:03 am didut Says:

loh skrinsutnya kok gak seskseh? biar byk mhswa yg sisan keliyengan *mlayu*

mbakDos: nanti yang bukan mahasiswa sayah bisa ikut kliyengan juga *tuding @didut* :mrgreen:

on June 5th, 2009 at 9:55 am Tharie Says:

Hahahahahaaa….kamu lucu sekali mbak Dos… :D
Anyway, Terimakasih banyak lho sudah bersedia diprofilkan di majalah Chic. Keep in touch ya dear… :)

mbakDos: ah, aku memang lucu! *ditimpuk kliping majalah* :mrgreen: tentunya dong jeng, I have your number already. ah ya, and your facebook account too hahaha :D

on June 5th, 2009 at 1:04 pm Therecia Says:

aku juga tahu blog ini dari CHIC lo :)
jadi rajin de baca cerita-ceritanya..seru dan seperti bisa ngeliat langsung cerita-cerita yang dituangkan disini..cara menggambarkannya ok banget ^_^

mbakDos: aaahhh makasiiihhhh.. jadi maluw *halah* :D

on June 5th, 2009 at 3:16 pm kenyo Says:

wah terkenal….., salam kenal mbak…..

mbakDos: salam kenal juga :)

on June 5th, 2009 at 3:29 pm Gungde Says:

iya nih foto majalahnya nggak gahar .. coba gayanya ” My name is Nicole ” :D :D

mbakDos: nanti kalo sayah pake gaya “My name is Nicole” gitu, bisa-bisa pensiun jadi dosen, malah direkrut jadi personelnya Pussycat Dolls yang baru :|

on June 6th, 2009 at 7:42 am emee Says:

lho iya to, aku biasanya cuma buka page of blog reviewnya aja. aku buka balik ahh ntar. ngartis jadinya nih, hehe

mbakDos: hahahaha betuls.. masih NGARTIS, bukan ARTIS beneran :mrgreen:

on June 7th, 2009 at 11:05 pm warm Says:

*nyodorin majalah buat ditandatatangani*
..
tuh kan, seleb ya seleb, auranya gitu… :D

mbakDos: aura kasih? :mrgreen: aahhh tapi sungguh deh, masih kalah seleb sama oom warm :D

on June 7th, 2009 at 11:20 pm vinidhanie Says:

alkisah gw ‘terjerumus’ menjadi dosen tersuarakan dgn baik oleh dirimu, Gath… hehehe…
dream job utk jd psikolog & pengajar… ternyata sama juga (“,)

aah… jd pengen team teaching sm elo… hihihi…
mungkin ga ya?

mbakDos: waahh ayoohhh!! *nantikan kelulusanku yaaa* :mrgreen:

on June 8th, 2009 at 7:28 am itatenaya Says:

we ladalahh…ternyata yang di dream job itu mbak dos beneran toh…? sejak majalah chic di tangan saya, halaman dream job bolak-balik di baca sambil bertanya-tanya (halah..) , weh ternyata terjawab sudah sekarang. Maklum baru buka blog pagi ini. btw saya ini pelanggan chic loh, bisa tahu blog ini juga dari chic. wuih selamat ya mbak dos. tapi beneran fotonya beda, lebih imut yang di chic…hehehehe….

mbakDos: aslinya lebih imut lho *ditimpuk majalah* :mrgreen: makasih yaaa

on June 10th, 2009 at 5:46 am dewimalam Says:

two thumbs up bwt jengdos… ^^

mbakDos: dua lagi dong.. tambah yang di kaki gitu *halaah* :mrgreen:

on June 10th, 2009 at 9:04 am gubs Says:

wis..dadi artis tenan sisan wae..
ojo ngartis (ngapusi dadi artis)..

*mencet2 hape..nyari nomernya Agatha kok gak ketemu ya..

mbakDos: one step at a time dong ah :mrgreen: berhubung masih ngartis, sekalian latihan dulu sebelum jadi artis beneran :D

Leave a Reply