1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Metamorfosis

Semua bermula dari sebuah foto masa lalu yang dimunculkan di Facebook oleh salah seorang teman. Foto yang kemudian memicu keributan dan kerusuhan di sana-sini.

Foto saya dan dirinya dan teman-teman sekelas kami semasa baru menjalani tahun pertama mengenakan seragam putih abu-abu. Foto yang secara resmi menjadi foto seisi penghuni kelas kami, termasuk ibu wali kelas.

Terdiri dari tiga baris. Di baris pertama semua duduk di kursi, yang ada di baris kedua berdiri di belakangnya, dan yang menempati baris terakhir harus berdiri dengan memijak pada kursi agar wajah mereka tak terhalang oleh orang-orang yang ada di baris kedua. Semua menghadap ke depan, dengan posisi tubuh yang sangat formal.

Dan saya adalah salah seorang yang menempati baris terdepan.

Mestinya terlihat dengan jelas. Oleh mereka yang mengenal saya di masa foto itu dibuat.

Sementara bagi yang baru mengenal saya di tahun-tahun di mana saya sudah muncul dengan tampilan seperti sekarang, ha! Saya tidak heran kalau mereka tidak bisa memercayai foto siapa yang mereka lihat itu.

Yah.. nasib yang harus saya terima tampaknya. Ketika memiliki teman-teman yang berbeda di dua periode kehidupan yang juga berbeda. Di mana saya juga menjadi dua orang yang bukan saja berbeda, tapi bahkan bertolak belakang.

Jadi begini kisahnya…

Setelah menyelesaikan pendidikan di masa SMU itu, saya hampir tidak pernah bersua lagi dengan teman-teman semasa sekolah dulu. Hanya beberapa di antaranya yang memang menjalani perkuliahan di kampus yang sama dengan saya, atau secara sengaja memang kami mengatur waktu untuk bertemu kembali. Itu pun hanya di tahun-tahun pertama perkuliahan. Tahun-tahun berikutnya.. yaa kami sudah mulai sibuk dengan kehidupan baru masing-masing sehingga pertukaran kabar hanya dilakukan lewat media internet.

Tidak ada lagi pertemuan secara langsung.

Menjadi sangat wajar ketika ingatan dan kenangan yang mereka punya tentang saya, adalah saya yang memang mereka kenal semasa sekolah dulu.

Berwajah bulat, kemeja sekolah yang gombrong, sepatu keds, kacamata, dan rambut belah tengah sependek David Beckham (yang memang sedang tenar luar biasa di masa itu). Salah seorang teman se-geng saya dulu bahkan pernah berkomentar, “Satu-satunya yang bikin lo keliatan masih perempuan itu ya gara-gara lo pake rok.” Karena rok itu pulalah yang memberi identitas perempuan pada diri saya, di antara teman-teman se-geng yang semuanya laki-laki.

Sementara, di periode kehidupan yang lain, adalah teman-teman yang mengenal saya beberapa tahun belakangan ini. Jelas mereka tidak akan mengenal saya sebagai orang yang sama yang berambut cepak belah tengah itu.

Tapi seorang perempuan berambut (sangat) panjang, mengenakan beragam pakaian seksi dan ngepas badan, mengenakan riasan di wajah, high-heels, serta berbagai asesoris pelengkap pakaian.

Lantas ketika dua periode kehidupan ini disatukan (dalam sebuah media bernama Facebook), jadilah teman-teman saya ini merasakan kebingungan yang tiada tara. Berusaha menemukan penjelasan yang cukup rasional sebelum akhirnya merasa putus asa dan memutuskan untuk menanyakannya saja secara langsung pada saya.

Teman semasa sekolah, berulang kali bertanya apakah foto-foto yang terpampang di profil saya itu memang sungguhan foto saya (*hyaiyalaahhh.. namanya juga profil saya!! masa yang dipajang foto si Kakang?! HALAH*). Bahkan ada beberapa di antaranya yang secara blak-blakan menulis komentar di foto-foto saya itu. Semua melontarkan hal yang sama: heran, bagaimana saya bisa berubah demikian drastisnya.

Sementara teman-teman yang ‘lebih baru’ menertawakan saya habis-habisan lantaran melihat foto saya semasa SMU yang dipajang di Facebook oleh teman lama saya. Tentunya setelah berulang kali mengonfirmasi lagi pada saya, apakah benar saya yang ada di foto itu. Juga heran, bagaimana saya dulu bisa-bisanya tampil seperti itu.

Dan satu pertanyaan besar yang sama-sama mereka lontarkan.

“Sejak kapan?”

Hmmm…

Sebenarnya saya sendiri lupa persisnya, kapan tanggal-bulan-tahun di mana perubahan ini terjadi. Tapi saya ingat betul peristiwa yang membuat saya akhirnya bermetamorfosis menjadi seperti sekarang.

Hubungan cinta yang saya jalin dengan seorang pria di kala menjalani perkuliahan babak pertama (sebutlah perkuliahan yang sedang saya jalani sekarang adalah babak keduanya), adalah awal dari segalanya. Pria ini memang tidak pernah secara langsung mengungkapkan keinginannya untuk melihat saya bisa mengenakan pakaian yang lebih feminim. Tapi rasanya saya tahu maksudnya, agar setidaknya ketika kami jalan berdua tidak tampak seperti sepasang pria gay (dari kejauhan).

Dan dorongan untuk mengubah penampilan pun semakin besar saat saya mulai diperkenalkan pada kedua orangtuanya. Jadilah tanpa ba-bi-bu lebih lama, saya mulai belajar mendandani diri sendiri. Mulai meneguhkan niat untuk tidak terlalu sering mampir di salon langganan dan memangkas rambut. Mulai menyimpan kaos-kaos gombrong yang selalu menjadi kostum andalan saat berkuliah.

Rutinitas berkuliah mulai diawali dengan mengenakan kaos yang lebih ketat (*duh.. ‘ketat’ kok kesannya gimanaaa gitu ya?!*). Sandal jepit Eagle berwarna merah mulai diganti dengan umm.. apa ya waktu itu, sepatu sandal atau sepatu keds yang lebih layak pandang, kalau tidak salah. Backpack ditukar dengan tas yang bisa disandang di bahu. Dan akhirnya.. setelah sekian tahun lamanya, saya terpaksa akrab dengan benda bernama ikat rambut.

Lantas di akhir masa-masa perkuliahan, hubungan cinta saya dengan si pria ini harus kandas setelah hampir empat tahun berjalan. Saya sempat berpikir, dan mungkin teman-teman kuliah saya juga, bahwa berakhirnya hubungan cinta ini akan mengembalikan saya menjadi ‘seorang pria’. Secara yang berhasil mengembalikan saya ke kodrat sebagai seorang perempuan adalah (mantan) kekasih saya itu.

Tapi rupanya dugaan saya dan mereka keliru. Saya justru semakin menikmati apa yang sudah saya jalani hingga kali itu: menjadi seorang perempuan. Banyak kebiasaan baru yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan, antara lain adalah mengenakan riasan wajah dan kuteks. Saya mulai menikmati kegiatan berburu baju-baju obralan di mal, mengenakan high-heels, menghabiskan waktu di salon untuk merawat rambut, daann.. foto!

Tidak heran jika foto saya semasa masih menjadi seorang pria dulu itu akan sulit sekali ditemukan, karena saya selalu menghindari kamera. Jadi bisa dipastikan kalau saya sangat waspada dengan keberadaan kamera (baca: camera-alert). Sekarang.. sama sih. Masih tetap camera-alert juga, tapi alert untuk kemudian ikut difoto *hihihihi*

Facebook benar-benar berhasil menyatukan dua periode kehidupan saya yang berbeda, bertolak belakang malahan. Membuat teman-teman di dua periode itu saling mempertanyakan satu dengan lainnya. Sama-sama berusaha menemukan alasan yang paling masuk akal atas apa yang ‘terjadi’ pada saya.

Sampai akhirnya seorang teman lama, yang tak tahu harus berkomentar apa lagi, hanya bisa berkelakar, “Gile! Itu operasi kelamin berhasil bener ya berarti!”

Tapi yang lebih menarik, adalah pertanyaan yang dilontarkan teman lainnya kepada saya, yang kebetulan mengenal saya dan sekaligus mengenal (mantan) kekasih saya. Yang juga mengetahui penyebab kandasnya hubungan cinta kami.

“Lo nyesel nggak, pernah pacaran sama dia?” tanyanya.

Saya terhenyak, tersenyum, dan menyadari satu hal.

Hubungan cinta saya dan pria itu mungkin memang tidak seperti yang saya harapkan.

Banyak hal yang seharusnya bisa saya dapatkan melalui hubungan kami, rupanya harus tinggal menjadi harapan yang tidak tahu kapan akan terwujud. Mungkin memang hanya akan tersisa sebagai seonggok harapan, takdirnya. Meninggalkan kekecewaan yang besar dalam diri saya. Lantas saya memutuskan untuk mengakhiri keputus-asaaan akibat hanya bisa melihat harapan saya itu perlahan-lahan mulai redup dan nyaris mati.

Berakhirlah hubungan kami.

Tapi saya tidak menyesal pernah menjalaninya.

Karena kalau tidak ada dirinya, mungkin saya masih tinggal dalam wujud seorang laki-laki. Mungkin saya tidak akan berjuang sekeras ini untuk mewujudkan apapun yang saya inginkan.

Dan.. mungkin saya tidak akan pernah dikenal sebagai seorang pemilik blog dudukBERSILA. Karena blog itu pun mungkin memang tidak pernah dibuat.

Saya tidak akan pernah menjadi seperti sekarang ini kalau bukan karena dia.

And to you.. whatever happened between us, I just want to say thank you

PS.
` ilustrasi dibuat sekedarnya
` foto saya di masa purbakala bisa dilihat di Facebook karena tidak akan dipampangkan di sini
` ah ya.. mudah-mudahan nggak ada yang khilaf nyebarin foto semasa saya berambut hijau

23 Responses

on June 17th, 2009 at 11:32 am oelpha Says:

mbakdos berambut hijau??

*nyegat di fesbuk*

mbakDos: *cegat oelpha* :D

on June 17th, 2009 at 11:32 am warm Says:

artinyaaa..
dulu ulet,
skarang kupu-kupu..
dari ada
menjadi lebih berada,
bukan begitu ?
:)

mbakDos: jadi maksudnya oom warm, dulu sayah sudah punya bakat menjadi perempuan kan?! ya kan.. ya kan.. ya kan?? HAHAHAHA :mrgreen:

on June 17th, 2009 at 11:46 am fitri mohan Says:

mbakDos, cerita hidupmu sungguh persis plek denganku. temen2 lama yang melihat fotoku di facebook, semuanya terhenyak. dulu aku sampe dipanggil “Mas”, saking tomboynya.

aku baca postingan ini jadi ngekek-ngekek jaya teringat diri sendiri. apalagi inget gimana panglingnya semua temen dengan tampilan sekarang. :-D

mbakDos: hahahaha selamat kalo gitu a’ eh.. neng fitri :D

on June 17th, 2009 at 11:58 am didut Says:

ke tekapeh ah hihihi~

mbakDos: gyahahaha udah ketemu belum dut potonya? :mrgreen:

on June 17th, 2009 at 12:13 pm enno Says:

Terimakasiiiih untuk lelakinya mbakyu (loh??) Ternyata kekuatan cinta begitu besar ya??? (Bwahahahahaha dangdut mode ON)

mbakDos: iya banget lho nooo.. kamu pasti tahu betul kan soal cinta-cintaan? eh.. maksudnya, cinta beneran :D

on June 17th, 2009 at 12:15 pm pinkina Says:

penasaran, pengen liat potonya mbakDos semasa masih jadi laki2

mbakDos: ngg liat potoku yang sekarang aja boleh kok :mrgreen:

on June 17th, 2009 at 12:25 pm bapaknya pakDok Says:

gggggrrrrrrrmmbbblllll . . . dari fesbuk disuruh sini !
dari sini disuruh ke fesbuk lagi . . .
btw . . . bener ngak syiiii ike bisa jadi perempuan . .
sebel deh ich . . najong, najis tralalalala . . ;)

mbakDos: udah terbukti kok, bess! ;-)

on June 17th, 2009 at 12:58 pm iin Says:

wah rambut model david beckham??
bukan nick carter yaaa?? atau kapten SPOCK??? ;D

mbakDos: gyahahaha kapten spock itu pas jaman SD, in!! :D

on June 17th, 2009 at 1:22 pm ndoro kakung Says:

a blast from the past? hmm…lagi kangen masa lalukah?

mbakDos: kinda, ndor ;-)

on June 17th, 2009 at 1:29 pm Chic Says:

*langsung login fesbuk*

mbakDos: mau ngapain, chic? :D

on June 17th, 2009 at 2:31 pm gubs Says:

Saiyah bingungnya kok ndak bingung yah..

mbakDos: ya bagus kalo begitu :D

on June 17th, 2009 at 3:45 pm anima Says:

* barusan jadi ngecek juga ke facebook :D *

ahak, kalimat terakhirnya itu loh, dalem banget ;)

mbakDos: hihihi.. you must’ve known what does it mean, rite? ;-)

on June 17th, 2009 at 4:49 pm Ningz Says:

Ariel peterpan setelah ketemu Luna Maya juga gak belah tengah lagi mbak hihihihi
Akuuuu juga ingin metamorfosis, harus ketemu siapa dulu ya? *berpikir keras

mbakDos: lhaa trus maksudmu kalo aku udah nggak belah tengah lagi, aku dilirik sama luna maya?? :( lho, emang belum ketemu ningz? yang dulu itu gimana? :mrgreen:

on June 17th, 2009 at 5:58 pm ochaocha Says:

Mas Japs…ada foto agatha berambut hijau khan? sebarkan segera!!! hahahahhaha

mbakDos: hehehe dia aja masih nyari cha! :D

on June 17th, 2009 at 6:04 pm ReTha Says:

Kalo saia kayaknya dulu lebih cewe…
Waaaah, gawattt… Masa metamorfosisnya salah arah…??

*Anyway, saia tunggu foto rambut hijaunya ya, mbaa…*

mbakDos: waahhh pantesan kamu kemaren mencurigakan tha.. ternyataaaa :D

on June 17th, 2009 at 6:12 pm maya Says:

kalo udah keluar foto2 jaman dulu, mulai keluar deh kata2 jadul banget sih, norak banget sih, :D

mbakDos: hahaha CULUN, yang jelas :D

on June 18th, 2009 at 10:26 pm Kalsha Says:

masa lalu memang selalu indah untuk dikenang.

:D salam kenal mbak.

mbakDos: stuju! ;-) salam kenal juga..

on June 19th, 2009 at 12:30 am eoin Says:

just admiring the simpicity of elegante.. bentar, baca postingan dulu..

mbakDos: hehehe tengkyuuhhh :D slamat menikmati ;-)

on June 19th, 2009 at 1:04 pm Hanna Says:

Tampilin dong mbak fotona,…pengen liat nich…

mbakDos: hehehe mendingan baca tulisannya aja, biar bisa berimajinasi bebas *halah* :D

on June 20th, 2009 at 9:45 am Anneke Priskila Says:

metamorfosis yang sempurna… ;)

mbakDos: ah, jadi maluw *halah* :D

on June 24th, 2009 at 7:08 am Marisa Says:

Ngomong-ngomong masa lalu, lo inget Ingrid ngga ‘Tha? Dimana ya tu orang? ;)

mbakDos: eh iya tuh cha.. ke mana ya dia?

on June 24th, 2009 at 10:41 am Marisa Says:

Ah kurang panjang komentarnya.
Agatha yang gue kenal itu dari yang pendiam dan alim–ternyata ja’im, dan bergaulnya juga hanya antara yang kutu nilai, bisa menjadi perempuan kosmopolitan yang cantik sekali seperti yang sekarang. Seperti kupu-kupu metamorfosisnya. Hihihihihihi! ;)

mbakDos: halaahhh ditambahin lho :mrgreen: hihihi iya ya, kalo inget dulu kaya apa.. sumpah, lucu banget! jadi kapan nih cha kita bersua? pesta blogger? :D

on July 2nd, 2009 at 12:05 pm mata Says:

jeung fesbuk kamu apaan ?
penasaran

mbakDos: hehehe udah ketemu kan?! :D

Leave a Reply