1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Tempat Umum Kepunyaan Sendiri

Setelah berhari-hari menghabiskan waktu di rumah saja, tidak menginjakkan kaki keluar, bahkan untuk sekedar memanggil para penjaja makanan, akhirnya hari ini saya memutuskan untuk pergi. Selain dalam rangka mengurusi Tugas Akhir yang sudah diambang deadline, saya sebenarnya sedang ingin bepergian saja. Karena jika tetap tinggal di rumah, saya makin tersiksa lantaran tak bisa menahan diri untuk menghabisi dvd CSI: NY season 5 sebanyak 25 episode itu.

Di sela perjalanan ke sana-sini, saya ingat kalau masih harus makan siang. Secara sejak pagi baru melahap sepotong kue dari atas meja makan. Dan jelas saya sedang tidak ingin terserang penyakit di saat-saat segenting ini.

Sebuah restoran pizza yang kebetulan dilewati pun menjadi pilihan saya. Restoran yang sudah lama tak saya kunjungi sejak.. ah, saya bahkan lupa kapan terakhir kalinya ke sana. Tempat yang tepat untuk menikmati waktu makan, bukan saja karena luar biasanya rasa makanan yang mereka sajikan, tetapi karena pelayanannya memuaskan, dan tempatnya pun tidak terlalu ramai. Cenderung sepi untuk restoran sekecil ini. Dan memang inilah yang sedang saya butuhkan sekarang.

Setelah memarkirkan si hitam, saya melangkahkan kaki menuju pintu masuknya. Sebuah pemandangan yang tidak biasa saya temukan di sana.

Dari pintu kacanya terlihat dengan jelas betapa restoran itu sedang ramai sekali dengan para pengunjung. Tapi tempat duduk kesukaan saya, di salah satu sudut yang menempel dengan dinding kacanya, masih kosong. Begitu juga beberapa meja di sekelilingnya.

Jadilah saya tetap melanjutkan niat semula untuk makan di sana.

Lasagna menjadi pilihan makan siang saya, ditemani segelas iced lemon tea. Minuman datang lebih dulu, seperti biasa. Dan butuh waktu cukup lama hingga akhirnya makanan yang saya pesan itu datang. Atau mungkin saya saja yang menduga seperti itu, karena perut saya sudah krucuk-krucuk saja minta diisi.

Sambil menunggu, saya sibuk memperhatikan sekeliling. Rupanya yang memberi kesan bahwa restoran itu demikian ramainya, adalah sekumpulan orang yang duduk di sisi yang berseberangan dengan saya. Terdiri dari dua meja panjang yang disusun paralel, di mana masing-masing bisa memuat sekitar 20 orang. Di meja yang letaknya lebih di luar, adalah sekumpulan anak-anak yang usianya mungkin sekitar 8 tahun. Sementara di meja satu lagi, adalah orangtua mereka. Ibu-ibu mereka, tepatnya, karena hanya ada satu orang pria di antara yang lainnya.

Tampaknya mereka sedang merayakan ulang tahun.

Saya tersenyum sendiri. Tiba-tiba membayangkan Moncil, salah seorang keponakan yang baru saja menuntaskan pendidikannya di Taman Kanak-kanak. Karena rumahnya sangat dekat dengan rumah saya, ia seringkali datang untuk bermain atau sekedar ingin mengunjungi ayah dan ibu saya. Dan adakalanya ia akan mampir seusai menghadiri pesta ulang tahun teman-teman sekolahnya.

Saya masih ingat terakhir kalinya ia datang dengan sumringah membawa goody bag dari si teman yang berulang tahun, berisi berbagai jenis cemilan khas anak-anak. Lalu membagi-bagikan isi tas plastik itu kepada para penghuni rumah kami.

Pemandangan yang kurang lebih sama sedang saya saksikan siang ini. Sekumpulan anak-anak sedang merayakan hari ulang tahun salah satu dari mereka. Duduk di meja panjang itu, menyantap makanan di hadapan mereka sambil berbincang-bincang satu dengan lainnya. Sesekali mereka tertawa sebelum kemudian kembali pada makanan mereka.

Namun, perasaan terhanyut akan apa yang saya lihat itu mulai sirna perlahan tak lama kemudian.

Ketika makanan di meja mereka telah habis, begitu juga minumannya. Tidak ada lagi yang menahan mereka untuk tetap duduk di kursi masing-masing. Mereka mulai membentuk kelompok-kelompok kecil, sibuk dengan kegiatan sendiri-sendiri. Ada yang mulai bernyanyi, yang lain bermain tebak-tebakan. Beberapa di antaranya mulai mengelilingi penjuru restoran, beralih ke meja lain untuk bermain atau bahkan berlari-larian dan saling mengejar.

Dalam sekejap, restoran itu menjadi hiruk-pikuk. Seketika itu pula saya menyadari bahwa tidak ada lagi pengunjung lain selain rombongan mereka, kecuali saya. Cuma saya yang duduk sendirian di meja di sudut ruangan.

Saya nyaris terloncat karena terkejut ketika tiba-tiba saja salah seorang anak menempelkan wajahnya dari luar dinding kaca persis di belakang tempat saya duduk. Lalu sepersekian detik kemudian, teman-temannya yang lain berbondong-bondong menghampiri dari sisi dinding kaca yang satu lagi. Mereka tiba-tiba saja sudah ada di belakang saya.

Tertawa, berteriak-teriak, memukul-mukul dinding kaca, dan beberapa kali saya sampai terdorong-dorong dari tempat duduk saya sendiri akibat mereka saling menghimpit satu sama lain. Saya mulai menolehkan kepala, merasa tidak nyaman dengan keributan yang ada.

Saya berharap para orangtua datang untuk menghalau mereka kembali ke area yang lebih dekat dengan meja mereka. Saya juga makanan yang saya pesan segera datang agar tidak perlu terlalu lama lagi berada di sana.

Tapi sebelum ada seorangpun orangtua yang menyadari apa yang terjadi, kerumunan anak-anak tidak lagi berada di belakang saya. Mereka tersebar di seluruh penjuru ruangan. Masih bermain kejar-kejaran, sebagian lagi bermain petak umpet, dan ada lagi yang mulai berlomba-lomba memperagakan gerakan balet yang dipelajari. Semua dilakukan di restoran yang sama dengan tempat di mana saya sedang menunggu lasagna pesanan saya.

Suara dentingan garpu dan pisau yang terjatuh dari meja sudah entah berapa kali tertangkap oleh telinga saya. Para pelayan bahkan terpaksa menyingkirkan gelas-gelas wine yang semula sengaja disiapkan di setiap meja, mungkin semakin khawatir nantinya gelas-gelas itu ikut terjatuh juga.

Saya berusaha mengacuhkan saja hiruk-pikuk di sekeliling saya. Lasagna sudah tersaji. Yang harus saya lakukan sekarang hanyalah segera menghabiskannya, membayar, lalu pergi dari situ.

Tapi lagi-lagi apa yang saya rencanakan tidak bisa semudah itu dilakukan. Lasagna tiba di hadapan saya dalam temperatur yang masih tidak memungkinkan untuk langsung dilahap. Panas sekali. Bisa meleleh lidah saya dibuatnya. Dan saya pun terpaksa kembali menunggu.

Setelah beberapa saat berada di tengah keributan anak-anak, saya baru menyadari satu hal. Mereka berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Walaupun saya cukup yakin mereka memiliki kewarganegaraan yang sama dengan saya, setelah mendengar orangtua mereka berbincang-bincang.

Saya semakin yakin pada apa yang saya dengar itu setelah seorang perempuan muda, yang saya duga adalah guru mereka, mengajak sebagian dari mereka untuk berfoto bersama. Si mbak guru ini memiliki tampilan wajah khas orang Jawa. Mengenakan kaos pink ketat, rok bunga-bunga yang lebar sebatas lutut, sepatu sandal, dan rambut yang digerai.

Ah ya.. mungkin mereka ini berasal dari Sekolah Internasional atau semacamnya, makanya mereka berkomunikasi dengan bahasa asing.

Mbak guru bertugas sebagai fotografer sekaligus pengarah gaya bagi mereka. Ia berpindah dari satu kerumunan ke kerumunan yang lain. Sementara mereka yang belum atau tidak difoto masih sibuk dengan permainan masing-masing.

Mas pelayan tiba-tiba menghampiri meja saya, “Pesanannya sudah keluar semua ya, Mbak?!”

“Sudah, Mas.”

“Ada yang kurang, mungkin?! Rasanya, atau..”

Saya menggeleng dan tersenyum, “Oh, enggak.. enggak. Lasagna-nya enak!”

Si mas ikut tersenyum. Lalu apa yang ia katakan berikutnya membuat saya sedikit terkejut. In a good way.

“Maaf ya Mbak agak ribut, soalnya..” ia menoleh ke meja panjang di seberang sana, “..lagi ada ulang tahun anak-anak.”

Saya tergelitik untuk menjawab ‘nggak apa-apa’ sebenarnya. Bukan saja agar percakapan berakhir segera, tetapi juga untuk menenangkan si mas dan agar ia tidak merasa tidak enak pada saya. Tapi masalahnya, saya tidak merasa ‘nggak apa-apa’ juga dengan situasi seperti ini.

“Yah.. namanya juga anak-anak kecil, Mas,” sahut saya sambil tersenyum.

Dari wajahnya, saya segera tahu kalau si mas merasa tidak enak. Yah, saya masih ingat ia sempat menatap ke arah saya ketika segerombolan anak-anak itu merangsek ke belakang saya dan mulai membuat keramaian di sana. Ia menatap dengan pandangan tidak tahu harus berbuat apa.

“Nggak pa-pa kok, Mas,” lanjut saya akhirnya.

Si mas meninggalkan meja saya sambil tersenyum, membiarkan saya menghabiskan makanan yang saya pesan. Tak butuh waktu lama sejak si mas menghampiri sampai lasagna di hadapan saya tidak ada lagi yang tersisa pada mangkuknya.

Ia kembali lagi menghampiri meja saya.

“Bisa diangkat Mbak, piringnya?”

“Silakan, silakan, Mas.”

“Ngg.. mau pesan dessert-nya, mungkin..?”

Saya sempat tergoda untuk mencoba triple-strawberry-.. ah, apa itu tadi namanya, yang fotonya terpampang dengan jelas di buku menu. Dua scoop es krim vanila dengan saus stroberi dan sejenis crepes yang semua disajikan dalam gelas es krim berbibir lebar.

Tapi keramaian yang masih tertangkap oleh mata dan telinga saya ini membuat saya mengurungkannya. Yang ada, saya bisa lebih lama lagi terjebak di tengah kerumunan itu.

“Nggak usah deh, Mas. Udah cukup, kok.”

“Minumannya mau ditambah mungkin, Mbak?” tanyanya lagi, mengingat saya memesan minuman yang refillable.

Aahhh.. bentuk permintaan maaf sepertinya dari si mas atas ketidak-nyamanan yang saya rasakan.

Saya tertawa, “Nggak lah, Mas. Kembung ntar kebanyakan minum.”

Si mas ikut tertawa.

“Saya minta bill-nya aja kalo gitu.”

Dengan gesit, si mas mengangguk dan mengambilkan tagihan makanan yang harus saya bayar siang itu.

Lagi-lagi menunggu, saya kembali mengamati sekeliling. Ada satu hal lain lagi yang saya temukan cukup menarik di restoran itu. Dengan anak-anak yang sibuk berkeliaran ke sana-sini, bermain ini-itu, membuat keramaian dengan suara mereka, para orangtua masih duduk di meja masing-masing, seru dengan perbincangan mereka sendiri. Dentingan peralatan makan yang masih juga terjatuh dari atas meja tetap tak mengganggu mereka, walaupun buat saya, suaranya cukup keras terdengar karena peralatan makan itu memang terbuat dari stainless yang cukup berat.

Mbak guru juga masih sibuk dengan kamera untuk memfoto murid-muridnya yang tengah bergembira dengan acara ulang tahun itu.

Saya sempat mengernyit dan heran. Bagaimana para orangtua dan mbak guru ini bisa tetap tenang ketika hiruk-pikuk anak-anak ini sudah mengganggu orang lain? Bukan saja saya, tetapi para pelayan restoran yang sejak tadi sibuk berulang kali mengganti peralatan makan yang terjatuh dari atas meja dengan yang baru, yang harus menyingkirkan gelas-gelas berleher tinggi dari atas meja, dan mas-mas dan mbak-mbak ini bahkan sampai harus meminta maaf pada saya.

Yang mestinya tidak perlu dilakukan oleh para pelayan ini.

Bagaimana mereka bisa tetap berbincang-bincang di meja panjang itu sementara anak-anak mereka membuat keributan yang tiada taranya?

Lalu saya tersenyum sendiri.

Ah, mungkin memang saya saja yang keliru. Namanya juga restoran, tempat umum yang bisa digunakan oleh orang banyak, yaa mestinya saya yang bisa lebih toleran. Kalau ingin makan di tempat yang tidak dipenuhi oleh orang lain, tidak terganggu dengan apa yang mereka lakukan, ya mestinya saya tidak makan di tempat umum.

Saya berdiri dari tempat duduk setelah meninggalkan sejumlah uang tip di atas meja. Mengucapkan terima kasih kepada si mas yang sedari tadi mondar-mandir ke meja saya. Ia tersenyum, saya membalasnya. Seolah sama-sama tahu apa yang sedang terjadi, apa yang sama-sama tak bisa ditangani oleh kami berdua.

Ah, ya sudahlah. Saya juga sudah harus beranjak ke tempat lain sekarang.

Biar saja keheranan itu tetap tinggal di dalam kepala saya sebagai pertanyaan yang tak terjawab. Toh tidak mungkin saya sekonyong-konyong meminta mereka, para orangtua dan mbak guru, untuk menjaga anak-anak mereka agar tidak mengganggu orang lain, kalau mereka memang tidak merasa bahwa perilaku anak-anak itu mengganggu. Yang ada, bisa-bisa mereka malah tidak tahu apa yang semestinya mereka lakukan.

Yaahh.. paling tidak ‘kan saya jadi tahu apa yang harus dilakukan kalau menemukan situasi seperti itu lagi: memesan makanan untuk dibawa pulang. Makanan datang, saya membayar, dan saya bisa segera pergi dari situ.

12 Responses

on June 19th, 2009 at 11:06 pm bunz Says:

Yaaahh namanya jg anak2 mbak. Nanti anakmu jg bakal kyk gt kyknya mbak..hahaha

mbakDos: hihihi jadi pengen punya anak *lho??* :mrgreen:

on June 20th, 2009 at 12:53 am didut Says:

tetapi saya sempat heran dengan penggunaan bahasa inggris untuk kehidupan sehari-hari.

Sudah sedemikian tidak PDnya kah masyarakat kita terhadap bahasanya sendiri?

mbakDos: bukan nggak PD kali, dut. mungkin mereka lebih fasih berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia ;-)

on June 20th, 2009 at 7:33 am iin Says:

kok aku malah tertarik dengan percakapan mbakyu dengan mas-mas nya yah.. ganteng ya mbakyuu?? ciecie… mau dong diangkaaattt ama mas-masnya.. (piringnya maksudnya) ahahaha ati2 ada anak kecil ga boleh liat!

mbakDos: ati2 ada iin nggak boleh liat :mrgreen:

on June 20th, 2009 at 11:34 am Anneke Priskila Says:

untung saja profesi mbak, dosen bukan guru TK… ;)

mbakDos: hihihi iya.. yang ‘di atas’ udah tahu banget kelemahan saya kayanya ya :D

on June 21st, 2009 at 4:04 am lessthanthirteen Says:

Dulu saya paling benci anak-anak yang

1. suka berteriak-teriak
2. lari-lari gak karuan
3. makan di atas meja ketika di restoran

Dan saya pun sekarang berakhir dengan memiliki anak yang hyper aktif yang melakukan semua itu… :D

mbakDos: iya ya.. kayanya pendapat saya pasti akan berubah setelah punya anak sendiri.. eh, berdua, maksudnya :P

on June 21st, 2009 at 11:56 am sam Says:

mungkin nyari lesehan mbak jadi bisa duduk bersila sambil minum secangkir teh hangat

mbakDos: ide bagus tuh ;-)

on June 21st, 2009 at 2:11 pm warm Says:

itulah non yang saya fikirkan saat membawa tiga jagoan saya berikut honey ke tempat makan,
ngejagain mereka untuk tidak lepas dari pandangan tidak sesederhana yang saya kira *curcol*
tapi ya itulah dunia anak-anak,
dimanapun adalah arena bermain buat mereka
..
eh si moncil itu yg hapal lagunya mbah surip itu bukan ? :mrgreen:

mbakDos: hihihi iya deh.. pastinya nanti kalo udah punya anak sendiri, saya juga baru tau repotnya kaya apa :P hehehe iya, si moncil yang mbak surip *lho?!* :D

on June 21st, 2009 at 4:25 pm Gage Batubara Says:

Masih sendiri aja?

mbakDos: siapa? elo? *lapor marutet* :mrgreen:

on June 21st, 2009 at 4:51 pm soulharmony Says:

lama tak berkunjung ke sini

mbakDos: selamat berkunjung kembali ;-)

on June 22nd, 2009 at 1:12 am ochaocha Says:

mungkin jawaban rasa penasarannya baru kejawab ntar..saat dah punya anak sendiri? hehehhehe

mbakDos: keliatannya sih gitu :D

on June 22nd, 2009 at 10:05 am putut Says:

aku juga pernah tuh mba lagi makan ada ulang tahun di pizza. anak-anaknya lari sana sini sambil bawa pisau ma garpu serem deh. trus tidur2an di lantai. sampe ada yang nabrak waitress yang lagi bawa makanan untung gak jatuh. tapi liat mereka lucu2 juga.. he..heee

mbakDos: hehehe begitu lah :D

on June 30th, 2009 at 8:18 am DV Says:

Kenalan dulu ah :)
Tempatnya nyaman… untuk bersila :)

mbakDos: salam kenal juga :D tengkyu yaa

Leave a Reply