BLAST from The Past
Yah, ini memang tentang apa yang terjadi kemarin. Ledakan, bom, korban, teroris, dan semua itu.
Butuh waktu beberapa saat bagi saya untuk menenangkan diri, sebelum akhirnya memutuskan untuk menuliskannya saja. Karena sepanjang hari kemarin, kepala saya terus memutar ulang semua yang saya dengar melalui radio dan potongan-potongan gambar yang sempat saya lihat di layar televisi sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah.
Saya tak henti-hentinya merasa merinding. Literally, merinding. Pori-pori kulit membesar, bulu-bulu di tangan dan kaki menegang, dan ada sensasi fisik yang.. entahlah, saya tidak bisa menjelaskan apa namanya ini. Tiba-tiba saja sekujur tubuh saya kaku saat menonton tayangan breaking news di setiap stasiun televisi lokal yang memberitakan apa yang tengah terjadi.
Dan satu hal yang sangat tidak saya inginkan untuk terjadi, rupanya tetap ada di luar kendali saya. Saya tidak bisa menghentikan bayangan tentang apa yang pernah saya alami dulu. Saya tidak bisa menghentikan kepala saya yang terus-menerus memutar kembali gambar-gambar yang tertangkap oleh mata saya beberapa tahun silam. Juga suara-suara yang melintas di telinga kala itu.
Padahal sudah delapan tahun berlalu.
Sejak saya menjadi salah satu korban dari sesuatu yang mereka sebut sebagai terorisme.
Saya masih bisa mengingat dengan sangat jelas apa yang terjadi.
Pagi itu, saya, si Kriwil, ayah, dan ibu, pergi ke Gereja layaknya hari-hari Minggu biasanya untuk mengikuti Misa. Gereja kami letaknya hanya lima menit perjalanan dari rumah jika ditempuh menggunakan mobil. Entah apa yang dipikirkan ayah, ia mengajak kami untuk duduk di barisan paling depan pada jajaran kursi sebelah kiri. Sedangkan, biasanya kami duduk di barisan belakang. Mungkin hanya karena kami datang lebih awal dan di dalam Gereja juga belum banyak orang.
Misa berjalan seperti biasa. Dengan ritual yang saya kenal dengan sangat baik, mungkin sejak saya bahkan mulai menyadari bahwa ke tempat itulah saya biasanya dibawa oleh kedua orangtua di hari Minggu. Kami bernyanyi, berdoa, sambil berdiri, dan kadang duduk.
Tepat pukul tujuh lewat lima menit, saat Pastur baru saja berdiri di belakang altar untuk memberikan khotbah, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang luar biasa keras dari barisan kanan-belakang. Telinga saya langsung berdenging. Dan mendadak, semua menjadi gelap. Sepersekian detik, saya masih tidak menyadari apa yang terjadi. Saya menduga bahwa Gereja baru saja tersambar petir hingga mematikan arus listrik. Walaupun cuaca sedang terang-benderang.
Tiba-tiba, semua orang berteriak-teriak. Saya bisa mendengar langkah-langkah kaki berlarian menuju pintu keluar terdekat. Dan di antara gemuruh suara itu, saya masih mendengar ayah juga berteriak. Menyuruh saya, si Kriwil, dan ibu untuk segera keluar.
Saya mendorong si Kriwil ke arah ayah agar ia dapat segera keluar. Sementara itu, saya langsung menggenggam tangan ibu dan menariknya keluar dari tempat duduk. Bersama berpuluh-puluh orang lain, kami berlari sekuat tenaga menuju ke pintu keluar terdekat, hanya dengan mengikuti arah datangnya cahaya. Setibanya di luar, kami berlari menuju selasar depan Gereja. Di depan Gua Maria, kami duduk di lantainya.
Dan saat itulah, saya menyadari apa yang tengah terjadi.
Seluruh tubuh saya masih gemetar. Telinga saya tak berhenti berdenging dan terasa semakin sakit. Kepala saya pusing karena sepertinya telah kejatuhan sesuatu. Di antara kebingungan dan keterkejutan yang dirasakan, saya masih cukup sadar untuk bisa menyimpulkan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Sesuatu yang sangat buruk.
Puluhan orang berlarian ke sana-kemari. Beberapa di antaranya yang duduk dekat dengan saya terlihat menangis tersedu sambil berpelukan dengan orang-orang lain. Asap mengepul dari bangunan Gereja. Dari luar, bagian dalam Gereja tampak gelap gulita. Kaca-kacanya pecah berhamburan, dan langit-langitnya tampak tersibak tak karuan.
Ayah berjalan mondar-mandir di dekat kami sambil berbicara di telepon genggamnya. Dan saya baru tahu, ia hanya mengenakan sebelah sepatu sandalnya.
Sebelum saya sempat menyadari lebih jauh apa yang tengah terjadi, ayah sudah membawa kami pulang kembali ke rumah. Kami berganti pakaian dan kembali berkumpul di ruang tamu.
Kami menangis.
Si Kriwil menangis tanpa henti sampai nafasnya hampir habis. Ibu berusaha setengah mati untuk menahan diri agar tidak ikut menangis. Ayah memeluk si Kriwil erat-erat. Sedangkan saya.. air mata rupanya telah mengalir dengan deras di kedua pipi tanpa saya sempat menyadarinya.
Tapi saya sendiri tidak tahu mengapa saya menangis.
Beberapa hari berlalu sejak peristiwa itu.
Satu minggu setelahnya, ayah dan ibu mengajak saya mengikuti Misa. Seperti hari Minggu biasanya. Tapi saya menolak. Dengan terus terang, saya mengatakan kepada kedua orangtua bahwa saya masih takut untuk kembali ke sana. Saya belum siap.
Minggu kedua berlalu. Minggu ketiga. Dan beberapa minggu setelahnya.
Saya belum sanggup melangkahkan kaki masuk ke dalam Gereja. Bahkan melintas di jalan depan Gereja pun saya tidak mau.
Tempat yang semula saya pikir adalah tempat teraman yang saya tahu, rupanya sama saja dengan tempat lain. Ke mana lagi saya harus berlindung kalau begitu?
Setelah peristiwa itu, saya bukan saja kehilangan keinginan untuk mengikuti Misa di Gereja. Gejala-gejala fisik yang tidak menyenangkan pun saya alami. Saya segera panik saat mendengar suara keras, seperti bantingan pintu, ledakan balon, benda jatuh berdebam di lantai, dan sejenisnya. Suara-suara itu seketika memacu jantung saya untuk berdetak lebih kencang dan sekujur tubuh saya mulai berkeringat. Kadangkala, malah membuat saya ingin menangis.
Bahkan beberapa bulan setelahnya, ketika menonton film Rush Hour 2 di gedung bioskop, saya berniat segera lari keluar dari dalam lantaran menyaksikan sebuah adegan ledakan.
Butuh waktu cukup lama buat saya untuk menyadari bahwa telah terjadi sesuatu yang sangat salah di sini. Sesuatu yang salah pada diri saya.
Beruntunglah karena saya berada di lingkungan para Psikolog. Saya memutuskan untuk menemui salah seorang yang yang saya kenal untuk membicarakan apa yang terjadi. Diskusi yang sangat tidak menyenangkan pun terjadi. Tapi saya tahu, bahwa itu harus dilakukan jika saya masih ingin dapat kembali berfungsi seperti sedia kala. Jika saya masih ingin menikmati setiap kegiatan tanpa dihantui ketakutan tak beralasan.
Butuh sekian tahun untuk menyadari bahwa apa yang terjadi pada saya adalah pertanda bahwa orang-orang yang melakukan semua itu telah merayakan keberhasilan mereka. Karena telah membuat orang-orang merasa ketakutan dan terancam setiap saat, seperti yang tengah saya alami.
That’s what it called terrorism.
Keberhasilan mereka bukanlah pada banyaknya jumlah korban meninggal dunia atau luka-luka yang diakibatkan oleh aksi yang mereka lakukan, tetapi pada dampak yang lebih besar dari itu. Ketakutan dan perasaan terancam, yang akan terus menghantui seumur hidup. Bahkan pada orang-orang yang tidak secara langsung mengalami peristiwanya. Dan mereka, orang-orang yang melakukan ini, merayakan keberhasilan atas hal itu.
Ketika menyadari apa yang sebenarnya mereka lakukan ini, saya berjanji dalam hati agar tidak membiarkan mereka merayakan kemenangannya dengan mudah. Setidaknya, kalau toh nantinya mereka bisa menghitung dengan benar jumlah korban yang berjatuhan karena aksi teror mereka, saya tidak mau diikutsertakan dalam perhitungan itu juga.
Saya mulai memberanikan diri untuk melakukan rutinitas seperti biasa. Mengikuti Misa di Gereja, pergi ke pusat-pusat keramaian, menonton film-film laga di bioskop, dan melakukan apapun untuk menantang segala ketakutan saya yang mendadak muncul setelah peristiwa itu. Dan belajar untuk mengatasinya.
Delapan tahun pun berlalu. Sejak Gereja saya mendapat kehormatan atas kehadiran seorang Imam Samudra sebagai umatnya.
Walaupun saya yakin belum sempurna, tapi saya tahu betul bahwa saya cukup berhasil melalui semuanya. Melawan segala rasa takut dan terancam yang semula menghantui. Melakukan segala rutinitas kegiatan seperti sedia kala.
Walaupun potongan gambar tentang peristiwa di hari itu masih melekat dengan sangat jelas dalam ingatan saya, saya tetap tidak akan membiarkan orang-orang sejenis Imam Samudra mengangkat gelas untuk merayakan keberhasilan mereka. Saya tidak mau membiarkan mereka berpesta di atas keberhasilan menebarkan ketakutan yang memang mereka cari.
Saya ingin menjadi orang yang justru bisa merayakan keberhasilan karena mereka tidak dapat membuat saya menjadi salah satu korban mereka.

PS.
` saya mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya bagi teman-teman yang mengalami luka dan dirawat di Rumah Sakit, juga bagi para keluarga yang sanak saudaranya meninggal dunia akibat peristiwa kemarin. mari kita lawan semua ini. mari kita lawan mereka!
` gambar diambil dari fan profile Indonesia Unite di Facebook


8 Responses
sumpah Ta..gue merinding baca cerita lu…gue beruntung..bahwa gue hanya nyaris menjadi calon korban waktu Marriot di bom 2003 lalu…ah kalau tidak…gue mungkin ga pernah kenal elo Ta…
*cerita selengkapnya bakal ada di blog gue soon, belom selesei gue tulis, karena tadi malem gue ketiduran hehehehehe*
mbakDos: however, memang belum waktunya dipanggil sama ‘yang punya’ kan?!
sukurlah kau selamat, nona
ah saya gak bisa membayangkan apa yg terjadi pada dirimu saat itu
…
cara-cara aneh yang tidak pada tempatnya itu,
smoga berakhir, jangan ngerusak negeri ini..
..
turut berduka juga atas kejadian di jakarta barusan
mbakDos: benar-benar tidak pada tempatnya deh, oom!
yah.. saya sungguh jauh lebih beruntung ya..
semoga keluarga yg ditinggalkan diberi ketabahan
mbakDos: amiiinnn
salam kenal mbak…
boleh minta tips buat nulis…
duh turut berduka juga buat yang jadi korban…
mbakDos: waduh, tips buat nulis? satu kuncinya sih: tulis yang memang pengen ditulis
ah iyaaa.. sedih ya denger berita itu
betul jeng
jangan beri apa yang mereka inginkan. ketakutan, penderitaan dan saling menuding satu sama lain.
salam
mbakDos: SETUJUUHH!! DELAPAN!! gak sudi lah saya!
salam jugaa
BIADAB…!
Selamat Jalan Mr David….
Semoga pelayanan kami khan bawamu ke sorga
Selamat Jalan Rekan Alvert Mocadompis…
You were gone as a trully hotelier….
Maaf ya mBak, Makasih space nya
mbakDos: lho, kenapa minta maaf? harusnya orang-orang biadab itu yang cukup tahu diri untuk minta maaf kan?!
waduh..sedih baca nya…it must be really really hard for youand your family
…tp skrg mari kita semangat melawan smua itu yaa….together we stand fighting those cowards!
mbakDos: stujuh! delapan! harus dilawan mereka itu!
[...] Ketika gereja di mana saya tengah mengikuti Misa di hari Minggu menjadi sasaran ledakan bom, dan saya sedang berada di dalamnya. [...]