1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Above The Clouds

Jam yang melingkar di pergelangan tangan saya masih menunjukkan jam sembilan lebih sedikit saat si abu, mobil pinjaman dari ayah, memasuki pelataran parkir kampus. Bapak supir, yang juga dipinjam dari si empunya mobil, memarkirkan si abu di tempat di mana saya biasa memarkirkan si hitam. Setelah memastikan bahwa semua yang perlu dibawa tidak tertinggal, saya keluar dari mobil.

“Makan dulu yaa.. Masih sempet ‘kan?” rengek si Kriwil.

Lagi-lagi saya melirik ke jam di tangan saya. Walaupun saya yakin jarumnya belum terlalu jauh bergeser dari saat saya melihatnya barusan.

“Boleh. Mau makan apa?” tanya saya.

Si Kriwil menoleh pada Dede, adik sepupu nan gaul yang baru datang dari Semarang, “Kamu mau makan apa, De?”

“Ah, aku sih apa aja,” jawabnya.

“Halah.. ini lho, mau makan aja kok bingung. Udah, ayo ke kantin dulu,” sahut saya tak sabar.

Kami bertiga pun melangkah ke kantin.

Yah, sejak dua hari lalu saya memang sudah mem-booking si Kriwil untuk menemani saya hari ini ke kampus. Rasanya pasti tidak enak jika saya sendirian saja. Beruntunglah karena dia itu memang tidak betah berlama-lama di rumah, jadi ke manapun saya ajak pergi jarang sekali ia menolak. Ditambah bonus, Dede sedang berkunjung ke Jakarta sejak kemarin. Jadi saya bawalah mereka berdua itu untuk menemani.

Si Kriwil dan Dede memesan makanan masing-masing, sedangkan saya duduk saja menunggu mereka kembali setelah selesai memesan.

“Kamu nggak makan?” tanya si Kriwil.

“Nggak ah. Lagi nggak bisa makan di saat-saat begini,” jawab saya.

Ia tertawa dan kembali meninggalkan saya untuk mengunjungi counter minuman. Tak lama, mereka sudah kembali.

Lalu mulailah kami berbincang-bincang seru. Tentang segala hal yang membuat kami tertawa. Menggosipkan orang-orang yang sama-sama kami tahu, menertawakan ini-itu, tanpa perlu khawatir kami tertawa terlalu keras karena memang sedang tidak ada orang lain di kantin. Tentu saja, selain para penjaja makanannya.

Mendadak, perut saya terasa sangat sakit. Mules teramat sangat.

Rasanya seperti hendak pup.

“Aduuuhh.. sakit perut!”

Si Kriwil tertawa, “Hahaha.. Kamu kena sindroma menjelang sidang ya?? Sana pup dulu! Jangan sampe entar di ruang sidang kamu kentut-kentut!”

Sekejap setelah memutuskan ke kamar mandi di gedung mana yang akan dituju, saya pun meninggalkan mereka berdua.

Saya masuk ke dalam kamar mandi dan memilih salah satu bilik (*halah.. bilik!!*) yang memiliki toilet duduk. Dan pup-lah saya di sana. Lalu rasa mules pun hilang sesaat setelah kegiatan di kamar mandi itu selesai.

Keluar dari kamar mandi, saya lagi-lagi melirik jam di pergelangan tangan. Lima menit menjelang jam setengah-sebelas. Saya melangkahkan kaki dengan cepat ke kantin untuk menjemput si Kriwil dan Dede. Juga menjemput barang-barang bawaan saya, tentunya.

“Yuk! Udah setengah sebelas nih..” seru saya.

Dan kami pun meninggalkan kantin.

Pintu ruang ujian terbuka lebar. Saya bisa melihat sebuah tas ada di dalam. Tampaknya ujian yang jam sembilan tadi baru saja usai. Si teman yang mendapat giliran ujian sebelum saya itu tampak mondar-mandir dari ruang ujian menuju sekretariat, entah mengurusi apa. Ia sempat menoleh pada saya dan tersenyum sekilas. Sumringah.

She made it.

Lagi-lagi saya merasa sakit perut. Sindroma menjelang ujian, kalau kata si Kriwil.

Hanya dalam beberapa menit ke depan, sayalah yang akan ada di dalam ruangan itu bersama dengan seorang penguji dan dua orang dosen pembimbing. Saya akan mempresentasikan hasil pekerjaan selama err.. satu tahun belakangan ini. Lalu mereka akan mengajukan sejumlah pertanyaan yang wajib saya jawab.

Oh, geez!! I’ve been in this situation before. Tapi kenapa masih berasa deg-degan juga ya??

Setelah si teman akhirnya keluar dari ruangan dengan membawa seluruh barang-barangnya, saya masuk ke dalam bersama perlengkapan perang saya. Lalu berusaha setenang mungkin untuk menyiapkan semuanya: LCD projector, si Fuji, fotokopi hand-out untuk tiga orang penguji dan pembimbing, serta bendelan tebal itu. Memastikan bahwa semuanya dapat berfungsi dengan baik.

Jam sebelas kurang lima menit.

Seluruh perlengkapan sudah pada tempatnya. Saya juga sudah memastikan semua berfungsi sebagaimana mestinya. Merapikan tas-tas yang saya bawa agar tidak berserakan. Semua sudah siap. Tapi saya toh tetap saja deg-degan.

Tepat jam sebelas, saya melongokkan kepala ke luar ruangan. Sepi. Tidak ada seorang pun yang melintas di selasar, tidak juga dosen-dosen yang dijadualkan menghadiri ujian Tugas Akhir saya.

Sebelas lewat lima belas menit. Belum juga ada tanda apa-apa.

Saya akhirnya memutuskan untuk menghampiri ruang rapat dosen, yang letaknya berseberangan dengan ruangan ujian saya. Dari celah kaca di pintunya, saya bisa melihat dari luar bahwa ruang rapat dipenuhi dengan dosen-dosen dari jurusan di mana saya menuntut ilmu.

Tiba-tiba dari salah satu sudut selasar, terdengar suara yang sudah saya hafal betul.

“Eh, Agatha! Saya makan dulu ya.. Laper ini, belum makan apa-apa dari rumah,” seru si Profesor, pembimbing Tugas Akhir saya. Ia tersenyum-senyum.

Saya mengangguk saja. Tidak tahu harus menjawab apa lagi selain mengiyakan kata-kata beliau. Saya pun kembali ke ruang ujian setelah Profesor masuk ke dalam ruang rapat.

Tak lama, si mbak dosen pembimbing yang satu lagi menghampiri saya sambil tersenyum-senyum, “Bentar ya. Si ibu mau makan dulu. Maklum lah.. mengingat usia.. harus ati-ati emang sama kesehatannya,” lanjutnya, “Setengah-dua-belas ya..”

Lagi-lagi saya hanya bisa mengangguk.

Tepat pada waktu yang dijanjikan, tiga orang dosen memasuki ruang ujian. Mereka semua membawa bendelan yang sama seperti yang saya bawa.

“Oke, kamu punya waktu lima-belas menit untuk memaparkan penelitian kamu. Karena setelahnya kami akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait TA kamu ini, dan.. mengingat ini tebel banget, jadi proses tanya-jawab sepertinya akan memakan waktu yang lumayan lama nih,” kata Profesor. Lagi, sambil tersenyum-senyum.

Dan peperangan pun dimulai.

Saya memaparkan penelitian yang sudah saya lakukan serta laporannya berupa Tugas Akhir itu. Hanya lima-belas menit, dan dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab. Satu-persatu pertanyaan mulai diajukan kepada saya dari setiap dosen yang ada di ruangan ujian. Saya menjawabnya, tentu saja. Beberapa kali kami semua tertawa lantaran lelucon yang dilontarkan oleh salah seorang dari mereka. Lalu kembali lagi dengan pertanyaan yang lain, yang juga tetap harus dijawab. Lalu bertanya lagi, dan tertawa lagi.

Hingga akhirnya nyaris dua jam sudah berlalu.

Dan habislah pertanyaan yang diajukan kepada saya.

Seperti saat membuka ujian tadi, Profesor lah yang kembali berucap, “Oke, Agatha. Pertanyaannya sudah habis. Sekarang, tolong kamu tunggu di luar dulu.”

Saya pun mengangguk dan keluar dari ruang ujian meninggalkan mereka bertiga.

Penantian kedua ini rupanya jauh.. jauuuhhh lebih menegangkan buat saya. Karena di sinilah akan diputuskan apakah saya dinyatakan berhasil melewati proses ujian selama dua jam tadi, atau tidak.

Si Kriwil yang menunggu di selasar menyambut kedatangan saya dengan pertanyaan, “Gimana?”

“Belum. Suruh keluar dulu, mereka lagi membahasnya di dalem,” jawab saya.

Si Kriwil dan Dede berusaha mengajak saya berbincang-bincang. Tapi saya toh tetap tidak bisa mengalihkan pikiran saya tentang apa yang akan terjadi tak lama lagi.

Lima menit kemudian, si mbak pembimbing keluar dari ruang ujian dan meminta saya masuk kembali.

Okay, this is it!

Saya duduk di hadapan mereka bertiga.

Lagi, Profesor yang berbicara, “Agatha, ujiannya sudah selesai ya hari ini. Tadi ‘kan ada beberapa hal yang masih harus diperbaiki, jangan lupa ya. Nanti kalau mau bimbingan sama saya lagi, yaa.. kita bisa hari Rabu atau Kamis. Lalu, kamu ada tambahan apa lagi?” Profesor menoleh pada mbak dosen di sampingnya.

Si mbak menyerahkan tiga bendelan yang semula ada di tangan mereka bertiga serta selembar kertas kepada saya, “Ini. Yang harus diperbaiki apa aja, semua ada di sini kok. Perbaikannya dikumpulin hari Selasa depan, trus judicium hari Jumat ya.”

“Jangan telat lagi! Jangan nerima kerjaan dulu. Selesaiin dulu perbaikan, judicium, baru kerja!” sahut si Profesor dengan cepat.

Karena ia masih ingat betul betapa saya menghilang selama empat bulan lamanya tanpa kabar, lantaran sibuk menimba berlian. Akibatnya, Tugas Akhir pun terbengkalai dan saya harus memperpanjang masa studi dari yang semestinya.

Saya tergelak, “Beres, Bu.”

“Oke kalau gitu. Selamat mengerjakan yaa..” serunya lagi.

Mereka pun meninggalkan ruang ujian.

Saya kembali duduk. Dan sebuah pertanyaan besar muncul di dalam kepala saya, “Jadi.. lulus apa enggak sih ini ceritanya?”

Berhari-hari pertanyaan itu terus menghantui saya. Perbaikan ini-itu di sana-sini saya lakukan terhadap Tugas Akhir saya, sesuai masukan yang diberikan selama ujian berlangsung. Kesibukan menemui Profesor dan si mbak menghabiskan hari-hari berikutnya. Mengurusi persyaratan administratif yang harus dipenuhi menjelang pengumpulan Tugas Akhir, mendatangi tempat fotokopian, dan seterusnya-dan seterusnya.

Semua masih dengan pertanyaan besar yang tak kunjung terjawab itu.

Tapi akhirnya semua keraguan itu hilang sudah.

Setelah hari ini. Setelah judicium. Di mana saya tidak saja mendapatkan jawaban atas pertanyaan ‘lulus atau tidak’, tapi juga mengetahui berapa nilai yang saya peroleh atas bendelan Tugas Akhir dan ujian sekitar satu minggu lalu.

Then it IS finally done.

Tinggal menunggu acara seremonial wisuda di akhir bulan depan yang harus dihadiri, lantaran ada ‘sumpah profesi’ yang secara tidak langsung akan mengukuhkan status saya sebagai seorang Psikolog (*padahal kalau boleh memilih, saya sebenarnya enggan menghadiri acara wisuda*)

Dan setelahnya saya bisa memiliki sertifikasi untuk membuka praktik sendiri. Ihiiiiyyyy!!!!

PS.
` gambar dipinjam secara sepihak dari sini
` jadi setelah bulan depan nanti, saya bisa menarik bayaran untuk setiap konsultasi yang dilakukan dengan saya. CATAT! *dilempar kulit durian* HAHAHAHAHA

__________

Ah, iya! Saya juga sudah mengganti keterangan di sidebar tentang diri saya sendiri. Coba dibandingkan apa yang berbeda, sebelum (sebelah kiri) dan sesudah diganti (sebelah kanan)

13 Responses

on July 24th, 2009 at 9:35 pm Mbilung Says:

bayarannya bisa in natura?

*nyeret kambing*

mbakDos: ahahaha.. khusus untuk pakdhe, bayarannya tiket pesawat PP jakarta-denpasar-jakarta + akomodasi. itu untuk konsultasi sesi pertama aja lho, pakdhe :mrgreen:

on July 25th, 2009 at 12:55 am cK Says:

jyaaaah…. narik bayaran??

*minta konsultasi lewat ngerumpi.com aja*

mbakDos: lho, justru yang lewat ngerumpi.com itu kena tarif lebih mahal, chik! *dipecut* :mrgreen:

on July 25th, 2009 at 3:28 am warm Says:

*bayarannya bisa sambil nyicil ? * :mrgreen:

skali lagi,
selamat yaaaaa.. ! :)

mbakDos: dicicil TIAP dirimu ke jakarta, oom! hahahahaha :mrgreen: makasiiihhh

on July 25th, 2009 at 8:55 am ochaocha Says:

Huh…payah…merki…eh bukan berarti bayar tapi ga bisa di abuse lebih dahsyat dounks ya…

Btw…4 bulan itu sepertinya waktu yang ideal untuk melarikan diri yah…hihihiihi…*dasar deadliners semuah!*

mbakDos: bukan berarti kalo diabuse lebih dahsyat, bayarannya gak bisa lebih mahal dong ya?! LOL. anyway, deadliners semua? semua siapa? :mrgreen:

on July 25th, 2009 at 8:57 am ochaocha Says:

Huh…payah…merki…eh bukan berarti bayar tapi ga bisa di abuse lebih dahsyat dounks ya…

Btw…4 bulan itu sepertinya waktu yang ideal untuk melarikan diri yah…hihihiihi…*dasar deadliners semuah!*

*Gueee ulanggg…cookies situs gw ga berubah2 dari dulu Huuuuuuu, ini yang bener…*

mbakDos: bukan berarti kalo diabuse lebih dahsyat, bayarannya gak bisa lebih mahal dong ya?! LOL. anyway, deadliners semua? semua siapa? :mrgreen:
*halah.. ikutan ngulang bales komen gini* :mrgreen:

on July 25th, 2009 at 10:57 am sugi Says:

ohh boleh bayar pake beras? emang mbak ndosenin apa? gimana rasanya lulus?

mbakDos: waduh, gimana kalo mentahan yang dipake buat beli beras aja? hihihihi :D sayah ndosenin psikologi nih.. lulus? ya nggak mungkin kalo sayah bilang ‘biasa aja’ dong ya?! :mrgreen:

on July 25th, 2009 at 11:08 am Anneke Priskila Says:

hm… apa terima juga layanan konsultasi interlokal (antar provinsi) mbak??? ;)

mbakDos: pake tiket PP jakarta-medan-jakarta ya, ke?! hihihi nggak ding.. boleh lah pastinya.. apalagi buat kamu ;-)

on July 25th, 2009 at 5:04 pm hedi Says:

wah gawat, ada tarifnya
*nabung dulu ah*

mbakDos: boleh dicicil kok, mas *ditoyor* :mrgreen:

on July 27th, 2009 at 10:14 am geblek Says:

selamat buk

mbakDos: makasih pak :D

on July 29th, 2009 at 12:04 pm Anneke Priskila Says:

hehehe…
kalo gitu kabari ya mbak jika nanti kemari lagi supaya disiapkan list pertanyaan untuk konsultasi hahaha… ;)

mbakDos: gyahahaha pake list, lho! aku juga ah bawa list, bolu meranti! :D

on August 4th, 2009 at 10:20 am Anneke Priskila Says:

mbak, hanya bolu meranti aja? tak ada yang lain?
list saya jumlahnya 50-an lho mbak… ;)
hahaha…

mbakDos: lho iya, itu bolu meranti keju dikali 50 :mrgreen:

on August 25th, 2009 at 3:34 pm Anneke Priskila Says:

hahahaha… ok deh, siapa takut??? :D

mbakDos: nggak tau, ke.. emang siapa yang takut? :mrgreen:

on September 10th, 2009 at 6:24 am masboi Says:

mbak dos, pengalamannya mirip :p selamat ya…

mbakDos: selamat juga kalo gitu ;-)

Leave a Reply