1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Pulang Kampung (1)

dayONE.

Masih jam setengah-lima lebih sedikit saat saya mendengar suara ibu yang memanggil nama saya dan menyuruh saya segera bangun. Rasanya malaaass sekali. Apalagi baru dua jam sebelumnya saya berhasil memejamkan mata. Tapi toh saya harus bangun juga, kalau tidak ingin acara liburan jadi berantakan. Ah ya, dan mandi tentunya.

Tepat pukul setengah-enam, saya meninggalkan rumah setelah berpamitan pada ibu dan si Kriwil *yang tumben sudah bangun*. Sedangkan ayah akan mengantar saya ke stasiun bersama si hitam. Dan seperti yang sudah diduga, perjalanan akan diisi dengan celotehan ayah tentang ini-itu. Maklum, sudah lama sekali memang kami tidak pernah berbincang-bincang berdua saja. Ayah tahu betul betapa diri saya sendiri tersita untuk sesuatu bernama Tugas Akhir selama beberapa minggu belakangan, dan beliau sama sekali tidak mau mengganggu. Jadi ketika ada waktu berdua seperti ini, pastinya akan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Walaupun hanya sepanjang satu jam perjalanan.

Walaupun masih pagi-pagi betul, stasiun Gambir sudah dipenuhi pengunjung. Sebagian di antaranya mengantri di depan loket pembelian tiket untuk keberangkatan hari ini juga. Sebagian lainnya berjalan ke sana-sini entah hendak ke mana.

Beberapa hari sebelumnya, ayah sempat bertanya apakah saya hendak bepergian dengan menggunakan pesawat. Saya bilang tidak, saya ingin naik kereta. Saya ingin berlibur. Yang artinya, saya ingin menikmati setiap waktu liburan saya, yang kalau buat saya yaa.. termasuk juga perjalanannya menuju ke tempat tujuan. Yang tentunya, tidak bisa saya dapatkan jika saya bepergian menggunakan pesawat. Apalagi saya berangkat di pagi hari, pastinya saya bisa menikmati pemandangan yang tertangkap dari balik jendela sepanjang perjalanan nanti.

Dengan menyandang tas ransel berisi si Fuji dan sebuah travel bag hitam, saya melangkahkan kaki ke dalam gerbong kereta. Ayah mengantar. Setelah memastikan bahwa saya sudah menemukan tempat duduk sesuai yang tertera pada tiket, ayah mencium kedua pipi saya dan mengucapkan selamat jalan. Tepat pada waktu yang dijadualkan, kereta beranjak meninggalkan stasiun Gambir.

And the journey begins.

Beruntung karena saya duduk di sisi yang dekat dengan jendela. Saya membiarkan gordijn terbuka lebar sehingga mata saya bisa menangkap pemandangan yang terlewati di luar sana. Sementara saya asik sendiri melihat-lihat, seorang ibu yang duduk di sebelah saya lebih memilih untuk tidur. Di barisan depan saya, ada sebuah keluarga kecil dengan sepasang suami-istri dan dua orang anak mereka yang masih balita. Di seberang mereka, juga sebuah keluarga dengan komposisi yang sama.

Anak-anak ini tampak kegirangan dengan perjalanan yang akan mereka tempuh menggunakan kereta api. Beberapa kali, mereka saling menunjuk keluar jendela dan menyebutkan apa saja yang mereka lihat dari sana. Para orangtua kemudian mendapat tugas untuk memberikan jawaban ketika si anak tidak tahu benda apa yang mereka lihat. Mereka juga menanyakan stasiun-stasiun kecil yang sempat dilewati, mengapa kereta tidak berhenti. Lalu pertanyaan lain lagi, dan seterusnya-dan seterusnya.

Reminds me of a good old days.

Baru melintasi stasiun Jatinegara, saya memutuskan untuk memakan saja roti yang tadi sempat dibeli di stasiun. Saya lapar sekali, tetapi saya agak enggan memesan makanan di kereta. Dengan segera, saya menghabiskan sebungkus roti itu, lagi.. sambil melihat keluar.

Namun, rencana saya untuk tetap terjaga sepanjang perjalanan rupanya harus kandas. Saya merasa sangaaattt mengantuk. Wajar, saya pikir. Wong semalam eh.. tadi pagi hanya sempat tidur selama dua jam. Alhasil, saya pun ikut terlelap juga seperti ibu di sebelah. Bahkan saya sampai harus dibangunkan oleh si bapak pemeriksa tiket ketika ia hendak memeriksa tiket saya. Juga pramugara yang menawarkan makanan atau suvenir.

Saya malahan terus tidur hingga menjelang tengah hari. Terbangun pun lantaran mendengar si Beybih berbunyi akibat ayah menelepon. Dan setelahnya, saya kembali tidur.

Saya baru betul-betul bangun sekitar jam setengah-satu. Yang artinya, memang sudah tinggal beberapa saat lagi menjelang tibanya kereta yang saya tumpangi itu di tempat tujuan. Satu jam kemudian, tibalah kami. Dari balik jendela, saya melihat bangunan stasiun yang saya kenal dengan sangat baik meskipun rasanya sudah berabad-abad tidak pernah menginjakkan kaki di situ.

Semarang Tawang. Demikian tulisan yang terpampang besar-besar di bagian atas bangunannya.

Si tante melambai-lambaikan tangannya, sesaat setelah saya berhasil melangkahkan kaki keluar dari kereta. Saya langsung menghampiri dan mencium kedua pipinya. Lalu mulailah kami bercerita sana-sini sambil berjalan menyusuri stasiun menuju ke tempat parkir. Di sana, si oom menunggu kami.

Pertanyaan pertama yang diajukan kepada saya adalah, saya akan menginap di mana.

Agak bingung, sebenarnya bagaimana menjawab pertanyaan itu. Biasanya setiap kali berkunjung ke kampung halaman ini, saya pasti akan menginap di rumah milik ayah dan ibu. Tapi saya pikir, pasti tidak seru kalau saya ada di sana sendirian. Toh tujuan saya pulang kampung adalah untuk berlibur, bersenang-senang, bertemu saudara-saudara. Akhirnya saya putuskan untuk menginap di rumah almarhum eyang, yang memang sekaligus menjadi tempat tinggal salah satu bude dan tante yang lain, beserta keluarga mereka.

Setibanya di rumah eyang, setelah sempat mampir di rumah makan untuk makan siang, saya langsung disambut dengan teriakan bude yang memanggil nama saya. Kami pun berpelukan. Lagi, belum sempat saya meletakkan barang-barang di kamar, bude mulai bercerita ini-itu. Kami pun berkumpul di ruang tengah dan mulai berbincang-bincang tentang apapun. Baru menjelang sore, saya akhirnya naik ke lantai dua untuk meletakkan barang di kamar tamu. Hanya sempat membuka jaket yang saya kenakan, dan dalam sekejap lagi-lagi saya terlelap di tempat tidur.

Setelah akhirnya bangun, saya langsung memutuskan untuk mandi lantaran merasakan hawa yang sangat panas. Dan rupanya, langsung disambut pula dengan pertanyaan akan makan malam di mana. Saya bilang, saya sedang ingin menikmati wedang kacang (tanah). Tak butuh waktu lama, untuk kemudian kami menentukan tempat di mana kami akan makan malam.

Istana Wedang, yang terletak di jalan Pemuda, adalah tempat kami menghabiskan malam itu.

Butuh dua mobil untuk mengangkut kami semua, karena rupanya tidak hanya keluarga bude dan tante yang menghuni rumah eyang yang pergi, tetapi juga keluarga si tante yang menjemput saya tadi. Termasuk Dede, sepupu saya itu.

Malam ini, saya tidak hanya berhasil menghabiskan satu porsi wedang kacang (tanah) yang saya idam-idamkan, tetapi juga seporsi bistik ayam dan segelas es teh manis. Belum terhitung cicip sana-sini makanan yang dipesan oleh saudara-saudara saya.

Dalam perjalanan pulang menuju rumah eyang, mobil kami melintasi sebuah pusat perbelanjaan. Di bagian luarnya, tampak sebuah counter penjual donat yang terkenal itu, yang juga menjual eskrim yoghurt (baca: frozen yoghurt). Secara sepihak, saya meminta si oom berbelok sejenak ke sana. Saya, Dede, dan Desy, sepupu yang satu lagi, turun untuk membeli eskrim. Dan kami pun pulang dengan keadaan perut yang sangat penuh.

Oh, geez! What a day! What a wonderful day!

Ah, sudah harus segera tidur tampaknya.

Sudah tengah malam. Besok jam lima pagi bude dan tante-tante mengajak saya pergi ke Simpang Lima untuk membeli bubur ayam yang menurut mereka luar biasa enaknya. Dan setelahnya, kami akan bepergian juga ke Jogja.

Ihiiiyyy!!! *masuk selimut*

__________

__________

dayTWO.

Segera setelah membuka mata, saya langsung meraih si Beybih yang semalam diletakkan di meja samping tempat tidur. Masih jam empat pagi. Pantas saja belum terdengar suara Steven Tyler yang membangunkan saya. Lagi, saya memutuskan untuk memejamkan mata. Hingga akhirnya terdengar suara pintu kamar dibuka dan si tante membangunkan saya.

Sudah jam lima.

Sesuai perjanjian, kami akan pergi menuju Simpang Lima pagi itu untuk sarapan bubur ayam. Tapi karena masih ada ini-itu yang harus diurusi, alhasil kami baru berangkat meninggalkan rumah pada jam enam kurang sedikit. Pesertanya pagi ini adalah saya, Desy, dan dua orang tante.

Setibanya di Simpang Lima sekitar lima belas menit kemudian, rupanya apa yang saya lihat di sana sama sekali di luar dugaan. Ramaaiiii sekali! Begitu banyak orang yang sudah berjalan-jalan ke sana-kemari, berbaur dengan para pedagang, serta lalu lintas yang dimeriahkan dengan kendaraan bermotor maupun kendaraan tradisional seperti sepeda onthel, becak, dan bendi.

Tante memutuskan untuk memarkirkan mobil yang kami tumpangi di sebuah gang di samping salah satu pusat perbelanjaan, yang sekaligus mendekatkan kami pada warung bubur ayam yang akan dituju. Namun, bukan ke warung itulah kami lantas langsung melangkahkan kaki begitu keluar dari mobil. Kami justru memutuskan untuk berkeliling Simpang Lima terlebih dulu.

Rupanya, keramaian Simpang Lima di pagi hari seperti ini memang hanya bisa ditemui pada hari-hari Minggu, karena di tengah-tengah lapangan Simpang Lima itu sedang diadakan pasar murah, atau yang oleh orang-orang Semarang sendiri lebih dikenal dengan istilah awul-awul. Istilah ini muncul mengikuti aktivitas yang biasanya dilakukan oleh para pembeli pasar murah itu, yaitu mengaduk-aduk (baca: ngawul-ngawul) barang dagangan berupa pakaian, yang diletakkan begitu saja di atas tanah yang beralaskan terpal. Setelah mengaduk-aduk tumpukan pakaian dan menemukan yang disukai, pembeli bisa langsung membayar pada si penjual.

Memang butuh perjuangan yang cukup berat dan kesabaran yang tinggi untuk bisa mendapatkan pakaian yang diinginkan. Tapi kalau sudah menemukan, pasti rasanya puas sekali. Seperti yang dikisahkan Dede, ia pernah memperoleh sebuah blazer berwarna coklat seharga lima-ribu rupiah saja. Dan jangan tertipu dengan pakaian yang digantung menggunakan hanger, karena walaupun modelnya persis sama seperti yang ditemukan di tumpukan tadi, harganya bisa sepuluh kali lebih mahal.

Namun, pagi ini rupanya para pedagang lebih banyak menjajakan pakaian dengan menggantung-gantungkannya di hanger. Saya sempat iseng bertanya harga sebuah kemeja yang di labelnya tertulis merk Polo, dua-puluh-lima-ribu rupiah. Yang, kalau menurut Dede, harganya bisa jauh lebih murah ketika kemeja itu diletakkan di tumpukan untuk di-awul-awul itu tadi.

Selain penjual pakaian, di lapangan itu juga terdapat penjual makanan. Si pedagang membawa gerobaknya ke atas lapangan, lalu menggelar tikar di dekat gerobaknya diparkir. Di atas tikar sudah tersedia botol-botol saus dan tisu gulung. Para pembeli yang berminat tinggal duduk saja di atas tikar dan memesan makanan. Dan sisanya, masih ada penjual mainan anak-anak, sandal, cemilan, dan sejenisnya.

Setelah puas berkeliling, hanya untuk melihat orang-orang yang asik bertransaksi, kami memutuskan untuk keluar dari lapangan itu. Kami berjalan kembali menuju tempat mobil diparkir, tepatnya menuju warung bubur ayam yang letaknya bersebelahan dengan mobil kami.

Warung yang kami tuju bukanlah satu-satunya yang menjual bubur ayam. Begitu banyak warung sejenis, bahkan yang letaknya dekat dengan lapangan Simpang Lima tadi. Tetapi kelihatannya warung yang kami tuju inilah yang pengunjungnya paling ramai. Kami harus mengantri selama beberapa menit hingga beberapa orang pembeli beranjak dari tempat duduk mereka dan kami bisa menduduki tempat itu.

Usai sarapan, kami kembali pulang ke rumah. Mandi, mempersiapkan ini-itu, karena selanjutnya kami akan bepergian ke Jogja. Kami ber.. tunggu *berhitung* berdelapan. Pakde, bude, tante-tante, oom, Dede dan Desy, serta saya. Padahal saat saya mengutarakan keinginan untuk bepergian ke Jogja dengan menggunakan bus, hanya Dede dan si tante yang rencananya akan mengantar. Tapi rupanya, yang lain pun tak mau ketinggalan. Akhirnya, kami pun pergi menggunakan mobil.

Berhubung setibanya di Jogja sudah lewat tengah hari, kami memutuskan untuk mencari tempat makan. Karena kami bingung hendak makan di mana, saya pun langsung menghubungi si Goda. Tetapi, tiba-tiba saja dia hilang ingatan tentang kota yang sudah beberapa bulan belakangan ini ditinggalinya. Mungkin grogi karena saya mendadak meneleponnya *hahahaha.. disamplak Marutet* Dengan pengetahuan seadanya tentang kota itu, Dede pun menyebutkan tempat makan yang pernah dikunjunginya ketika singgah di Jogja. Di sanalah kami menghabiskan siang hari sebelum akhirnya beranjak ke pusat perbelanjaan.

Tujuan utamanya jelas: Malioboro dan Pasar Beringharjo.

Setelah si oom memarkirkan mobil di salah satu hotel, kami pun menyeberang jalan dan mulai menyusuri jalan Malioboro. Ibu-ibu, bapak-bapak, dan Desy memilih untuk mendatangi toko-toko di sana, sedangkan saya dan Dede lebih suka berjalan menyusuri selasar depan toko-toko itu untuk berburu barang-barang yang lebih murah. Buat saya, bukan saja harga barang yang jauh lebih murah yang menjadi daya tariknya, tetapi seringkali saya bisa menemukan barang-barang yang ‘nggak biasa’ di tempat-tempat seperti ini. Apalagi, sejak tertular kemahiran ibu dalam menawar, saya jadi tergila-gila belanja di tempat-tempat seperti ini. Dan keahlian ini pulalah yang kemudian dimanfaatkan oleh Dede. Saya juga yang bertugas menawar barang yang hendak dibelinya.

Perburuan tidak sia-sia. Walaupun belum kesampaian untuk berjalan dari ujung-ke-ujung, saya berhasil mendapatkan empat buah pakaian untuk ke-empat keponakan saya. Hanya dengan mengeluarkan uang sebesar lima-puluh-ribu rupiah saja.

Usai berburu di Malioboro, mobil digeser sedikit mendekati Pasar Beringharjo. Kami memarkirkan mobil di tempat parkir Museum Benteng Vredeburg. Pemandangan yang kurang lebih sama yang saya temui sejak pagi tadi, ramai sekali! Perpaduan hari libur dengan diadakannya festival makanan di Taman Benteng Vredeburg, tepat di samping tempat parkir.

Rombongan ibu-ibu memilih untuk menjelajahi festival makanan itu, tentu saja. Sementara kami yang tersisa, memutuskan untuk masuk ke Museum dan melihat-lihat di sana. Satu hal yang membuat saya terkejut ketika memasuki gerbangnya adalah harga tiket masuk yang harus dibayar: tujuh-ratus-lima-puluh rupiah per orang. Gila, pikir saya! Museum bersejarah hanya dihargai segitu. Ah, ya tapi mungkin justru itulah salah satu faktor utama yang menarik pengunjung, karena mereka tidak perlu membayar mahal untuk datang ke tempat hiburan.

Walaupun tak seramai pengunjung festival makanan, tapi cukup banyak orang yang juga menjadi pengunjung museum seperti kami. Bahkan ada satu rombongan fotografer yang tampaknya akan mengadakan sesi pemotretan di situ, lengkap dengan para model yang sudah didandani sana-sini. Kami mulai menjelajahi satu-persatu ruangan yang menyajikan diorama sejarah perjuangan Indonesia. Dan seketika, saya ingat si Kriwil. Adik saya itu sungguh berjiwa nasionalis sejati, dan pastinya sangat menyukai apa yang sedang saya lihat ini.. kalau saja dia juga ikut ke sini *disamplak lagi* :D

Dari sekian diorama yang sudah saya lihat, saya tertarik pada diorama pada ruang ketiga. Di sini, kita bisa memasukkan uang koin seratus rupiah tipis jaman dulu itu pada kotak yang terletak di depan tiap diorama. Nantinya, akan ada suara, permainan cahaya atau gerakan yang bisa dilihat dari diorama tersebut. Sayangnya, tak satupun dari kami yang punya uang koin yang dibutuhkan. Kami pun mengakhiri acara melihat-lihat diorama tanpa pernah mengetahui bagaimana jadinya kalau koin itu dimasukkan.

Di bagian luar gedung museum, terdapat sebuah taman yang sangat luas berupa jalan setapak dan beberapa bagian berumput. Kami sebenarnya bisa meminjam sepeda onthel untuk dikendarai mengelilingi museum. Lagi-lagi, sayangnya, keinginan itu tidak bisa terlaksana lantaran semua sepeda onthel sudah habis terpinjam. Kami kemudian mengakhiri seluruh perjalanan mengelilingi Museum Benteng Vredeburg. Kami menjemput rombongan ibu-ibu di festival makanan. Semula sudah hendak berjalan kaki menuju Pasar Beringharjo, tetapi rupanya bude sudah tidak sanggup lagi berjalan kaki. Dan tentu saja, tidak mungkin kami meninggalkannya. Kami pun memutuskan untuk membatalkan saja rencana ke Pasar Beringharjo.

Sebagai gantinya, kami melanjutkan perjalanan menuju Kotagede.

Setelah menemukan tempat untuk memarkirkan mobil, saya dan tante mulai berjalan kaki menyusuri Jalan Kemasan. Di sepanjang jalan itulah terdapat toko-toko yang menjual kerajinan perak dan kuningan. Tapi mungkin karena daerah itu memang sudah cukup ternama, harga yang ditawarkan pun relatif mahal. Beberapa kali kami keluar-masuk toko yang satu ke toko yang lain, dengan alasan yang sama: terlalu mahal. Hingga akhirnya ditemukan sebuah toko yang menjual kerajinan dengan harga yang lebih murah dibandingkan toko lain. Dengan memraktekkan trik menawar ala ibu, saya berhasil membawa pulang sebuah cincin perak dengan harga sepertiga dari harga semula.

Dan berakhirlah kegiatan kami di Jogja.

Hari sudah menjelang senja dan kami memutuskan untuk pulang. Perjalanan yang harus ditempuh masih panjang untuk kembali ke Semarang. Kami bahkan harus mampir dulu untuk makan malam di sekitar Magelang, dan baru tiba kembali di rumah sekitar jam setengah-sepuluh malam.

Besok rencananya kami akan bepergian lagi keluar kota, yang lebih dekat dari Semarang.

Pekalongan, mungkin.

Ah, we’ll see.. *masup selimut lagi*

…to be continued.

__________

PS.
Goda, Marutet, maapkan aku yaa.. Aku tak jadi bertemu kalian hari ini. Maklum lah, berhubung menjadi sanak saudara yang difavoritkan *hiyaahh.. disamplak lagi!*, aku harus menunaikan tanggung jawab sosial dalam waktu liburan yang sangat singkat ini. Pesta Blogger, okay? ;-)

16 Responses

on July 27th, 2009 at 11:29 am waRm Says:

titip oleh-oleh ahh…
*mikirin list untuk disodorin*
:D

mbakDos: hahahaha list, lho! mati aku! mesti banyak maunya si oom warm inih! :D

on July 27th, 2009 at 11:33 am si kriwil yg udh smoothing Says:

Betein gelaaaaaaaaaaaaa…..

mbakDos: ih, aneh! liburan kok bete! seneng tauukk!! :mrgreen:

on July 27th, 2009 at 12:13 pm Mbilung Says:

ah … makan, tidur, belanja … dirimu sekali. Tapi itu mandi???

mbakDos: liburan itu kan melakukan sesuatu yang di luar rutinitas, pakdhe. termasuk bab mandi itu :mrgreen:

on July 27th, 2009 at 1:37 pm OchaIntroverto Says:

Atttaaaa….setuju ama pakdhe mbilung!!! Elo mandi? Hyaaaahhh langka ituh…
Akkkuuu iriii…pengen pulang kampung juga *andaikan gw ga baru masuk kerja besok gw dah di magelang-jogja* hhhuuaaa…

mbakDos: berangkat gih! jumat-sabtu-minggu bisa dong?! :mrgreen:
ah anyway, manggil-manggil gue “Ata”, bayar royalti sama gage tuh! :D

on July 28th, 2009 at 12:52 pm Ella Says:

Asiknya yg berlibur stlh berjuang dengan TA… hemmm met berlibur yaaa… tks utk share cerita nya… ditunggu cerita liburan hari berikutnya… Hv Fun!

mbakDos: pastinya dirimu tau banget dong ya rasanya melepas kejenuhan setelah perjuangan TA?! :D makasih yaa

on July 28th, 2009 at 5:38 pm Anneke Priskila Says:

next time, liburannya harus ke Medan mbak…
lagi musim durian di sini… :D

mbakDos: wuuaahhh ide bagus tuh liburan ke medan, walaupun untuk durian err.. kaya’nya nggak deh. aku tak doyan soalnya :mrgreen:

on July 29th, 2009 at 4:25 am Gage Batubara Says:

Dinner itu malem, bukan siang. huh!

mbakDos: dinner lagi yuk, bang! jangan lupa, marutet jangan ditinggal itu! :mrgreen:

on July 29th, 2009 at 11:02 am aLe Says:

wah seru,..
*nunggu foto2nya ^^

mbakDos: hihihi ayo liburan! :D

on July 30th, 2009 at 3:58 pm rosi mampir Says:

waahhhh perjalanan yg panjang ya….

mbakDos: hehehe dan menyenangkan tentunya! :D

on August 1st, 2009 at 8:08 pm arham blogpreneur Says:

Bingung mau comment apah… panjang bangetzz .. umm setidaknya untuk k-7 kalinya saya mendapat posting bahwa blogger2 pada pulang kampung :D

mbakDos: naahh mungkin giliran dirimu yang posting tentang pulang kampung juga :D

on August 4th, 2009 at 12:36 am dudukBERSILA » Blog Archive » Pulang Kampung (2) Says:

[...] Yang ada, belum sempat keliling kota itu, kami sudah harus pulang kembali ke Semarang. Ternyata perjalanan pulang-pergi Semarang-Jogja-Semarang kemarin telah benar-benar menguras tenaga kami. Bahkan setibanya di rumah pun kami tak sempat lagi [...]

on August 4th, 2009 at 10:48 am andre Says:

Dede [ bukan nama sebenarnya ] …
hagzzzzz…..

mbakDos: ya moso Kakak? :mrgreen:

on August 4th, 2009 at 3:41 pm sastra Says:

wah nyenengin

mbakDos: banget! :D

on August 7th, 2009 at 1:18 pm Fany Says:

kok gak mampir ke rumah saya sih, mbakDos..
hehe..

*lha wong malah saya nya di JKT*

mbakDos: rumahmu kan di wetiga?! :mrgreen:

on August 8th, 2009 at 12:06 pm Anneke Priskila Says:

masih ada kurang nih…
mana foto narsisnya mbak?

mbakDos: hahahaha gak untuk konsumsi umum sih pastinya, ke! :mrgreen:

on September 1st, 2009 at 6:30 pm Pakde Cholik Says:

Paling senang makan Lumpia dan tahu pong semarang, enyak tenan.
Saya bebarapa kali ke Semarang lho.
Salam dari pakde di Surabaya

mbakDos: saya juga beberapa kali ke semarang *hyaiyalaaahhh!!* :D

Leave a Reply