1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Hari Keb(er)untungan Saya

Sudah hampir tengah hari saat kami, saya dan dua orang teman sesama pengasong (baca: pegawai serabutan), menuntaskan pekerjaan memberikan ceramah-semi-training di sebuah institusi di kawasan Bogor. Setelahnya, kami harus kembali ke kantor di Jakarta itu untuk mengembalikan perlengkapan. Sempat terbersit untuk mampir di suatu tempat makan di tengah perjalanan ke kantor, tapi rupanya kami (atau saya, tepatnya) terlalu malas untuk menghentikan si hitam. Inginnya segera tiba di kantor, menuntaskan apa yang menjadi tanggung jawab untuk hari ini, lalu pulang cepat.

Jadi jelas, acara makan siang pun akan dilakukan di tempat yang letaknya lebih dekat dengan kantor.

Di tengah perjalanan, seorang teman menghubungi. Ia menanyakan kami akan makan siang di mana: di kantor atau di luar. Saya sudah keburu senang, karena artinya saya bisa ikut menitip makan siang kepada the lunch lady, si mbak yang bertugas membelikan makan siang untuk para penghuni kantor. Tidak perlu pusing akan mampir di mana.

Tapi yang ada, justru si teman yang bermaksud menitip makanan kepada kami *siyal!*

“Mau nitip makanan nih! Kalian akan makan di mana?” tanyanya.

“Yaelah! Kirain mau nawarin makan siang!” sahut saya.

“Lha justru ini mau nitip. Makan siang di mana?”

“Belum tau. Ntar deh kalo udah sampe tempatnya, gue kabarin,” jawab saya seadanya.

Karena saya juga tidak tahu akan membeli makanan apa dan di mana. Lantas saat saya menoleh pada si teman pengasong ini, dia juga sama tidak tahunya dengan saya. Akhirnya diputuskanlah untuk mengarahkan si hitam menuju ke kantor dulu. Nantinya toh juga akan menemukan tempat di mana kami bisa berhenti untuk membeli makan siang.

Kalau sudah begini, entah saya harus merasa beruntung atau sial, karena teman yang sedang bersama saya ini rupanya sedikit alergi pada sesuatu bernama perencanaan.

Kami pun terus melajukan si hitam melintasi kota Bogor menuju Jakarta. Melewati jalan tol sambil terbenam dalam kantuk masing-masing. Jelas, termasuk saya yang berulang kali menguap. Sampai tiba-tiba saja harus keluar dari jalan tol karena sudah hampir tiba di kantor. Barulah kami mulai bertanya-tanya sendiri, hendak membeli makan siang di mana.

Tiba-tiba di kepala saya melintaslah sebuah nama tempat makan yang letaknya sangat dekat dari kantor. Tanpa berpikir panjang, kami pun setuju membeli makan siang di sana. Dan kemudian mengabari teman-teman lain yang tersisa di kantor tentang rencana itu.

Maka dimulailah pencatatan pesanan.

Si ini pesan ini, si anu pesan itu, si itu pesan anu. Teman di samping saya ini sibuk mencatat tiap pesanan di kertas yang ditemukan dari dalam tasnya. Kertas yang sama langsung dikeluarkannya ketika kami tiba di tempat yang dituju. Ia juga langsung membacakan setiap pesanan yang sudah dicatatnya tadi kepada si mas penjual, juga pesanan kami bertiga. Beralih ke warung sebelah, kami memesan es teler yang juga dipesan oleh teman-teman lainnya.

Alhasil, kedua teman saya ini sibuk menjinjing titipan makan siang di tangan kanan dan kiri. Saya..? Kebagian giliran untuk membayari dulu semua titipan itu. Nanti setibanya di kantor, barulah semua teman yang menitip akan menggantinya.

Sekejap, saya teringat sesuatu. Sesuatu yang sangat tidak menyenangkan buat saya.

“Jadi, gue mesti bawa bon-bon ini dong?!” tanya saya, retorik.

Si teman tertawa, tahu betul kecenderungan saya, “Ya iya laaahh!! Itu juga kalo lo mau diganti sih duitnya!”

Saya mendengus dan langsung berjalan menuju tempat si hitam diparkirkan.

Langsung terbayang di kepala saya betapa saya harus melakukan perhitungan rinci satu-persatu mengenai pesanan makan siang SETIAP teman di kantor. Harus mengingat lagi si anu pesan apa, si itu pesan apa, dan berapa jumlah yang harus dibayar oleh masing-masing kepada saya.

Aaaaarrggghhhhh!!!

Matilah sayaaa!!

Mendingan juga disuruh lembur bikin materi presentasi buat direksi klien manalah itu, daripada ngitung-ngitung beginiaannn!!

Untung si teman pengasong tadi mengatakan alasan terpenting mengapa saya harus melakukan pencatatan itu: kalau saya masih ingin uang saya diganti.

Hhh.. kalau saja yang memesan makanan hanya satu-dua orang dan jumlah nominalnya pun tidak terlalu besar, rasanya saya lebih memilih untuk menganggapnya sebagai traktiran saja karena saya sedang berbaik hati (tanpa alasan). Hanya agar saya tidak perlu melakukan perhitungan ini-itu.

Lantas, bukannya berhasil melaksanakan niatan untuk pulang cepat dari kantor, saya malahan harus pulang lebih lama dari batas waktu toleransi keberadaan saya di kantor hari ini.

Bukan hanya karena harus menghitung rincian makan siang teman-teman. Tapi si bos pun rupanya menitahkan supaya saya langsung saja menghitung rincian pekerjaan hari ini. Rincian pekerjaan saya dan dua orang teman pengasong tadi untuk menentukan berapa honor yang kami terima atas ceramah-semi-training hari ini serta berbagai persiapan selama beberapa hari sebelumnya.

Sungguh luar biasa rupanya hari ini!

Tapi biar bagaimanapun juga, saya toh tetap harus melakukan perhitungan-perhitungan itu. Mau dianggap tidak penting, kok ya penting juga karena menyangkut pemenuhan isi dompet yang belakangan ini sudah lebih disesaki oleh bon-bon apalah itu; Tapi kalau dianggap penting, kok ya.. ada perhitungan rinci yang tidak penting dilakukan juga.

Dengan kantuk yang luar biasa tak tertahankan, akhirnya saya memaksa diri sendiri untuk mengerjakan semua perhitungan. Menggunakan keajaiban Microsoft Excel, tentunya. Dan sedikit sihir dari bubuk kopi instan.

Walau toh, kalau kata si bos, saya bisa jauh lebih cepat mengerjakan perhitungan data statistik yang lebih rumit dibandingkan perhitungan rincian makan siang yang jauh lebih sederhana seperti ini.

Yaahh bagaimanapun juga, tiap orang ‘kan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya, jelaasss.. tidak bisa dibilang punya kelebihan sebagai seorang administratur keuangan yang layak dipuji. Tapi bukan berarti saya tidak bisa melakukannya juga ‘kan pada akhirnya? *menghibur diri sendiri*

Mungkin ini hari keberuntungan buat teman-teman saya, karena akhirnya saya melakukan sesuatu yang selama ini selalu enggan saya lakukan. Mungkin juga ini hari keberuntungan buat saya. Kapan lagi saya bisa menyelesaikan perhitungan rinci ini-itu, printilan sana-sini, kalau bukan hari ini? *semaput*

`gambar aseli dipinjam dari sini

7 Responses

on August 6th, 2009 at 9:27 pm didut Says:

hahaha~ congratzzz mbak dos…*eh selesai to itungannya?*

mbakDos: selese dong, dut! kan pake excel! *padahal pake kalkulator juga bisa!* :mrgreen:

on August 7th, 2009 at 6:50 am ochaocha Says:

bandar untung atau rugi?

mbakDos: balik modal :mrgreen:

on August 7th, 2009 at 9:00 am waRm Says:

berbuat baik itu kan baek, ntar juga ada balesannya..
eh jadinya pesenan saya brapa smuanya ? :mrgreen:

mbakDos: balesan ditraktir yaa :D

on August 7th, 2009 at 10:51 am Chic Says:

jadi mbak dos kapan traktir sayaaaaaaah… ihihihihik :mrgreen:

mbakDos: hihihihi iya niihhh.. ntar ya di wetiga gimana? :D

on August 7th, 2009 at 10:53 am hedi Says:

waduh tau gitu dari dulu saya sering2 nitip sama kamu ya *kalem*

mbakDos: apa yang hendak kau titipkan padaku kang? hati? *dilempar payung* :mrgreen:

on August 7th, 2009 at 3:04 pm wahyu am Says:

makan makan makannnn

mbak tukeran link..

udah aku pasang di http://airyz.wordpress.com

mbakDos: makan-makan karena tukeran link? *halah* :mrgreen: makasih yaaa

on August 9th, 2009 at 10:28 pm uwie Says:

mbakyuuu,,,,aku belum bayar pempeknyaaa! :D

mbakDos: uwiiiieee!! kau mengacaukan perhitunganku lagi :|

Leave a Reply