Ketika Tidak Hidup Seorang Diri
Hari ini saya meninggalkan kantor lebih cepat dari biasanya. Walaupun arloji di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi itu benar-benar masih jauh lebih cepat dibandingkan hari-hari lainnya.
Maklumlah, pekerja asongan seperti saya ini memang tidak punya jam kerja yang rutin layaknya orang-orang kantoran. Kalau jatah pekerjaan masih menumpuk ya artinya saya masih harus menuntaskannya hingga selesai, yang bisa berarti juga saya baru akan meninggalkan kantor menjelang tengah malam. Tetapi kalau pekerjaan sudah selesai bahkan sebelum jam kantor usai, mestinya saya juga bisa meninggalkan kantor. Walaupun yang ini jelas nyaris tidak pernah saya lakukan, karena tetap saja rasanya tidak enak jika pulang lebih dulu daripada si bos.
Dan tidak seperti hari-hari biasa pula, malam ini saya bisa menemukan situasi jalan raya yang masih dipadati dengan kendaraan bermotor. Masih ada sisa-sisa keriaan usai jam kerja. Kendaraan umum yang ngetem di tepi-tepi atau bahkan di tengah jalan, sepeda motor yang sibuk saling menyalip kendaraan lain termasuk sesamanya sendiri, mobil-mobil lain yang ikut tak sabar mengantri di perempatan berlampu merah, serta para pejalan kaki yang mempercepat langkah mereka. Semua ingin segera tiba di tempat tujuan.
Mungkin karena saya merasa malam ini justru bisa pulang lebih cepat, jadi saya tidak perlu terburu-buru memacu si hitam. Toh pasti akan tetap tiba di rumah lebih cepat juga nantinya.
Melintasi rute yang biasanya, tapi ada beberapa hal yang baru saya sadari.
Permukaan jalan yang saya lewati ini ternyata sudah ditambal. Tidak ada lagi lubang-lubang di sana-sini yang membuat saya harus rajin menginjak pedal rem sepanjang perjalanan. Trotoarnya juga baru saja dicat lagi karena warna hitam dan putihnya sudah tampak lebih baru, tidak lagi kusam. Lampu lalu lintas di perempatan itu juga sudah diperbaiki sehingga bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
Tapi sebenarnya, itu semua bukanlah hal yang baru terjadi. Sejak beberapa hari lalu, saya sudah merasakan betapa saya tidak perlu lagi terus-menerus memperlambat laju si hitam, lantaran lubang di jalanan yang sudah ditutup. Saya juga tidak perlu lagi menaikkan kewaspadaan sampai tingkat tertinggi setiap kali hendak melintasi perempatan, lantaran para pengendara motor dari arah berlawanan sudah mulai menghentikan laju kendaraan ketika mereka mendapat giliran lampu merah.
Bukan baru hari ini semuanya terjadi. Tapi kelihatannya memang baru hari ini saya menyadari.
Termasuk pengamen di perempatan yang satu ini.
Saya masih hafal betul wajahnya. Ia selalu mangkal di tempat yang sama setiap kali saya menemukannya, di perempatan lampu merah sebelah sini, bukan di situ atau di sana. Bisa dipastikan bila saya menempuh perjalanan pulang pada jam-jam seperti ini, saya akan menemukannya sedang duduk di trotoar. Memegang rantai besi berukuran sedang, beberapa kali menarik lalu mengulur, mengendalikan si binatang yang lehernya terikat di ujung rantai yang satu lagi.
Seekor monyet kecil yang dipakaikan pakaian begitu rupa, lalu diperintahkan untuk melakukan atraksi oleh si empunya. Satu kali mengendarai sepeda motor kecil yang terbuat dari kayu, lalu lalang ke sana-sini. Atau berjalan bolak-balik sambil membawa payung di tangan. Atau sambil mendorong gerobak, memikul sepasang keranjang, atau juga mengenakan kepala boneka. Si monyet ini jugalah yang bertugas untuk menerima uang-uang receh yang diberikan orang-orang yang kebetulan melintas di situ, untuk kemudian diberikan kepada majikannya.
Saya ingat pernah satu kali berhenti di perempatan yang sama dan menyaksikan pemandangan yang sama pula. Saat itu saya sedang bersama ayah. Kami tertawa melihat tingkah si monyet kecil itu. Ayah bahkan terpingkal-pingkal melihat si monyet mengenakan topeng berupa wajah boneka perempuan dengan rambut dikucir dua, kanan dan kiri. Tingkah si monyet menimbulkan kelucuan tersendiri. Berjalan ke sana-kemari diiringi suara gendang musik dangdut dari alat pemutar musik sederhana yang dibawa si majikan.
Detik berikutnya, saya tersenyum miris.
Menatap monyet kecil itu, yang lehernya dibelenggu dengan rantai besi. Majikannya menarik ke sana-kemari dan hanya satu yang bisa dilakukan oleh si monyet, yaitu menuruti saja apa yang diperintahkan kepadanya. Kalau si monyet tidak mau, mudah saja. Konsekuensinya ia tidak akan diberi makan.
Logikanya ‘kan begitu.
Kalau si monyet tidak berjoget, maka ia dan majikannya tidak akan memperoleh uang. Jika mereka tidak memperoleh uang, maka tidak ada yang dapat digunakan untuk membeli makanan. Jika tidak ada makanan pada mereka, tentunya si monyet lah yang akan pertama dikorbankan oleh majikannya. Bagaimanapun, si majikan akan berusaha keras untuk memenuhi perutnya sendiri, perut monyetnya bisa menunggu. Kalau terpaksa, tidak perlu diberi makan pun tidak apa-apa.
Toh pada dasarnya monyet itu ‘kan yang mencarikan makan untuk si majikan.
Si Kriwil bahkan pernah menceritakan hasil tontonannya pada sebuah stasiun televisi. Sebuah acara investigasi apalah itu, yang mengisahkan kehidupan pengamen macam ini. Dari acara itu, diceritakan bahwa si majikan tidak segan memberikan suplemen murah-meriah untuk monyetnya hanya agar binatang peliharaan itu tetap dapat bertahan tanpa terlalu sering mengonsumsi makanan.
Buat saya, jadi masuk akal apa yang dilakukan majikan ini.
Pasti sulit sekali bertahan hidup dan berusaha memberi makan dirinya sendiri sekaligus binatang peliharaannya. Untuk makan diri sendiri saja sulit, ini masih harus memikirkan monyetnya. Walaupun saya tidak mengatakan bahwa apa yang dilakukan majikan ini bisa dibenarkan, tapi saya pikir apa yang dilakukan itu cukup beralasan.
Ah, tetap saja saya merasa miris dan ngilu saat melihat pengamen macam ini. Bukan pengamennya, tapi monyetnya.
Lalu membayangkan bagaimana rasanya jika saya yang ada di posisi si monyet.
Terkekang, hanya bisa bergerak sepanjang rantai besi yang mengikat leher saya, harus melakukan apa yang diperintahkan, dan ini semua tanpa bisa dipertanyakan. Hanya ada lakukan atau tidak. Jika tidak melakukan berarti mati, tetapi jika melakukan pun tetap ada kemungkinan akan mati. Dan ini harus dilakukan setiap hari.
Bukan baru pertama kali saya melihat pemandangan itu. Si pengamen dan monyetnya. Bukan cuma di perempatan ini pula. Saya bisa dengan mudah menemukan pengamen sejenis mereka di sepanjang rute yang saya lintasi dari rumah ke tempat-tempat saya berkegiatan.
Tapi mungkin baru malam ini tiba-tiba saya merasa sedih. Kesedihan yang tidak beralasan, mungkin. Karena toh empati pada si monyet mungkin tidak ada gunanya, karena belum tentu ia merasakan kesakitan seperti apa yang akan saya rasakan jika saya menggantikan posisinya.
Empati yang mungkin akan jauh lebih berarti ketika yang diperhatikan sejak tadi adalah orang-orang di sekeliling saya.
Empati yang jauh lebih dibutuhkan ketika saya menemui mereka.
Namun saya merasa beruntung karena bertemu monyet kecil itu tadi. Setidaknya saya jadi sadar betapa beberapa hari belakangan ini saya terlalu sibuk memikirkan diri saya sendiri. Memenuhi isi kepala dan hati dengan remeh-temeh sekalipun seputar diri saya. Dipenuhi keinginan untuk memusatkan perhatian akan diri sendiri.
Apa jadinya jika yang saya temui dalam situasi seperti itu adalah orang-orang yang saya sayangi?
Saya sebenarnya mengetahui betapa mereka sedang merasa kesulitan, sedang merasa sedih, membutuhkan kehadiran saya, tapi saya justru sibuk dengan keinginan saya sendiri. Saya sibuk meminta mereka memahami saya, sibuk berpikir apa yang harus saya lakukan agar tetap merasa senang, sibuk ini sibuk itu.
Lalu tanpa sadar, mereka terlupakan begitu saja oleh saya.
Baru tiba-tiba teringat lagi ketika ada satu peristiwa di mana saya.. saya merasakan ada di posisi mereka, yang selama ini berusaha menggapai orang yang dianggap dapat memberikan bantuan tetapi ternyata acuh saja.
Hhh.. rupanya saya sungguh beruntung karena terlanjur disadarkan oleh si monyet kecil malam ini.
Bahwa masih begitu banyak hal yang layak untuk diperhatikan, selain diri saya sendiri.


10 Responses
hidup bisa memberi banyak jalan untuk kita belajar ya jengdos
mbakDos: it is, bi. always is
Ta, gw kayaknya sering lewat jalan yg lo ceritain ini deh… setiap kali gw sedih n jadi ga hepi sama skali kalo liat pertunjukan ‘sarimin’ ituh… pernah satu kali manggil ke depan rumah, berhubung anak gw penasaran liat. tp abis itu udh ga pernah lg, krn ga tegaaaa liat si monyet kecil ditarik oleh rantai ituhh… hiksss… jadi sedih…
mbakDos: he eh.. sedih banget. tapi kalo kita ada di posisi si majikan itu, kira-kira masih bisa mikir begini nggak ya?!
stop animal cruelty…hix hix…
btw…gue sedang mencari hasil perubahan setelah didandani…*kok belom nemu bedanya*
mbakDos: nah itu dia.. mungkin kita bisa bilang begini karena ngerti apa itu namanya empati ‘kan?!
eh nemu2…nemu2..hehehehe
mbakDos: hah? apanya? wong belum diapa-apain kok.. nantikan aja dandanan yang lebih yahud
yang pertama
[..tetap saja rasanya tidak enak jika pulang lebih dulu daripada si bos...]
inikan artinya berusaha mengerti org lain walaupun… yah ituh, sudah jadi culture ngak enakan..
[..saya justru sibuk dengan keinginan saya sendiri. Saya sibuk meminta mereka memahami saya, sibuk berpikir apa yang harus saya lakukan agar tetap merasa senang, sibuk ini sibuk itu....]
Sering kali, ingin dimengerti atau haru mengerti tanpa ada feedback membuat dilemma… memahami tanpa dipahami.. ya lebih baik dipahami kan
mbakDos: lebih menyenangkan memang kalau ada orang lain yang bisa memahami kita. kita berharap begini, dan orang lain..? punya harapan yang sama juga dong pastinya
yaa mungkin memang sebaiknya ambil jalan tengahnya
mengasah empati itu teramat sulit kadang,
tapi kau berhasil…
dan mengambil hikmah dari sgala yang ada di sekeliling pun, sering lebih sulit,
ego kadang membutakan mata hati ya
tapi lagi-lagi
kau berhasil …
mbakDos: saya masih belajar (terus) kok, oom
katakan sayang, maka itu sudah cukup . . .
mbakDos: the magic word, isn’t it?
perubahan foto di sisi kanan atas mengingatkan saya akan sesuatu…
mbakDos: yaitu..?
hm… masa sih mbak lupa…?
btw, kenapa harus diganti dengan foto itu ya mbak?
mbakDos: kenapa? pengen aja
salam kenal budos
nice post, awalnya kirain ini cerpen…
udah semangat gitu bacanya . . .
sambil nunggu bedug…
nunggu keluar sang tokoh utama hehehe
*berasa sibuta dari gua hantu*
ditunggu yak kelanjutan kisah si monyed . . .
mana tau ada. . . .
^__^ \m/
mbakDos: baiklah.. nanti kalau ada lanjutannya, pasti disampaikan kok