Good Men are Real
Masih ada empat puluh lima menit sebelum film yang tiketnya sudah saya beli itu mulai diputar. Saya pun memutuskan untuk menghabiskan waktu di sebuah rumah makan yang letaknya persis di samping gedung bioskop. Yang ternyata sudah dipadati pengunjung.
Sebuah meja di bagian tengah menjadi tempat yang saya pilih. Jelas, karena tidak ada meja lain yang bisa dipilih sebenarnya.
Si mbak berseragam dan bercelemek mencatat pesanan saya: semangkuk es campur dan sebotol air mineral. Sedang agak enggan memesan makanan karena baru beberapa jam lalu saya menuntaskan acara makan saya. Dan yah.. sebenarnya, keberadaan saya di rumah makan pun memang hanya dalam rangka menghabiskan empat puluh lima menit itu saja.
Tanpa disibukkan oleh makanan atau si Fuji, yang nyaris tidak pernah terjadi, saya jadi leluasa untuk memperhatikan seisi rumah makan. Cukup sadar untuk bisa menyimpulkan bahwa sebagian besar, atau mungkin semua kecuali saya, pengunjungnya adalah karyawan di kantor ini-itu yang akhirnya berhasil menuntaskan tanggung jawab di tempat kerja masing-masing sore hari ini. Dengan kostum khas kantoran yang sudah mulai lecek di beberapa bagian.
Sedangkan saya.. dengan kostum khas hari libur, tentunya. Ah ya.. hari ini saya memang sedang diberi jatah libur oleh si bos, jadi bisa bangun siang dan melakukan apapun yang saya suka (dan yang selama ini tertunda) *evil smirk*
Okay, back!
Di antara kumpulan orang-orang kantoran, beberapa lainnya yang juga ada di dalam rumah makan adalah para penjual majalah, anak-anak yang menawarkan jasa semir sepatu, atau sejumlah pengamen yang memainkan musik mereka dari luar rumah makan. Mereka-mereka yang setahu saya memang juga jadi pengunjung tetap di rumah makan itu. Tapi di antara mereka, ternyata ada pengunjung baru. Atau setidaknya, begitulah yang saya tahu.
Dua atau tiga orang anak yang usianya sekitar sembilan atau sepuluh tahun. Mereka mengenakan kaos yang warnanya sudah pudar, celana pendek, dan sandal jepit. Dengan tas yang diselempangkan di badan, mereka membawa tabung-tabung berukuran sedang di kedua tangan. Tabung yang bagian luarnya dicat warna-warni dan dibungkus dengan plastik bening.
“Celengan.. celengan..” kata mereka sambil berkeliling penjuru rumah makan.
Salah seorang di antaranya menghampiri sepasang insan *halah* yang duduk di kanan-belakang saya. Seperti teman-temannya, ia juga menawarkan kepada mereka celengan yang dijualnya. Namun respon pria ini mengejutkan saya.
“Kamu udah makan belum?” tanyanya kepada si anak.
Tidak terdengar sahutan selama beberapa saat. Dan kelihatannya anak itu hanya menjawab dengan gelengan kepala, hingga kemudian terdengar lagi suara si pria.
“Mau makan?”
Lagi, tidak ada jawaban. Saya semakin penasaran. Perlahan, saya menolehkan kepala ke belakang untuk melihat apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Sepasang insan ini duduk berhadapan di meja yang salah satu sisinya menempel ke dinding. Di dekat sisi meja yang satu lagi, si anak berdiri. Menghadap ke arah mereka dan masih memegang celengan yang dijualnya di kedua tangan. Pria di meja itu menatapnya, tampak masih menunggu jawaban.
“Beneran! Kalo kamu mau, ikutan makan aja sini. Mau makan apa?” tanyanya lagi, terdengar berusaha meyakinkan si anak yang masih terkesima.
Masih belum ada jawaban.
“Nasi rawon, nasi timbel, nasi ayam, atau mau yang mana? Tuh ada gambarnya di atas. Coba diliat, mau yang mana?” tanya si pria lagi.
Lagi-lagi telinga saya tidak menangkap suara apapun. Mungkin si anak benar-benar sedang melihat foto makanan yang terpajang di penjuru dinding di hadapannya.
Dan akhirnya, terdengar suaranya lirih, “Nasi rawon.”
“Mas, nasi rawonnya satu ya,” kata si pria kepada mas pelayan, “Minumnya apa?” tanyanya kepada si anak lagi.
“Teh aja.”
“Es teh manis, mau?”
“Iya.”
Lalu mas pelayan berlalu, melintas di samping saya sambil membawa catatan di tangannya, setelah pria tadi menyebutkan makanan dan minuman yang dipesannya untuk si anak penjual celengan.
“Duduk sini aja,” katanya lagi, menyuruh anak itu duduk di sampingnya.
Percakapan kemudian berlanjut. Si pria mulai menanyakan apakah si anak itu bersekolah, kelas berapa, apa kegiatan sehari-hari yang dilakukan, sejak kapan mulai berjualan celengan, dan seterusnya-dan seterusnya. Walaupun terkesan seperti wartawan yang berulang kali hanya bertanya dan bertanya, tapi yang terdengar oleh saya, pria ini melakukan semuanya dengan.. apa ya istilahnya?! Intinya, kalau saya jadi si anak, sepertinya saya tidak akan merasa terancam dengan percakapan itu. Cenderung menyenangkan, malah. Beberapa kali bahkan terdengar mereka – ya, mereka.. termasuk si anak ini – tertawa!
Saya lagi-lagi tidak berhasil mengakhiri rasa penasaran yang tak habis-habis. Saya menolehkan kepala lagi ke belakang. Dan saya menemukan anak itu duduk di samping si pria dan sedang meminum es teh manis. Barang dagangannya diletakkan saja di bawah meja.
Tak lama, nasi rawon yang dipesan pun datang.
Honestly, I was amazed!
Pria ini, dengan kemeja lengan panjangnya, dasi, dan sepatu pantovel, yang mungkin berniat makan malam dengan kekasihnya, tiba-tiba mengajak anak yang tidak dikenalnya untuk makan bersama mereka. Seorang anak yang ditemuinya barusan, seorang anak yang kebetulan menghampiri meja mereka lantaran hendak menawarkan celengan yang dijualnya. Kasar-kasarnya (maaf), anak yang mungkin sebenarnya bukan siapa-siapa buat si pria ini.
Tapi ternyata, bukannya membeli celengan yang ditawarkan agar kemudian membiarkan si anak pergi, ia malahan meminta si anak duduk di sampingnya dan makan bersama.
Tiba-tiba saya menertawakan diri sendiri.
Menertawakan kesinisan dan negativistik saya. Saya hampir percaya bahwa menemukan good man (baca: orang yang baik) di dunia ini akan menjadi sangat sulit, kalau tidak mau dikatakan mustahil. Di satu sisi saya memang percaya bahwa setiap orang selalu punya sisi malaikat dalam dirinya. Tetapi di sisi lain, si malaikat tetap memiliki ‘penetralisir’ yang menjadikan seseorang itu tidak selamanya baik, karena ia juga memiliki sisi iblisnya.
Kalau toh pada suatu hari menemukan seseorang yang melakukan sesuatu yang baik, maksud di balik semua perbuatannya itu hampir selalu dipertanyakan. Bukan hanya maksudnya, tetapi juga ketulusannya.
Lalu sinisme itu runtuh seketika di rumah makan tempat saya sedang berada ini.
Setelah melihat (dan mendengar) sendiri bahwa si pria kantoran di belakang saya itu mengajak anak penjual celengan untuk makan bersama dengannya, tanpa saya bisa menemukan kemungkinan alasan mengapa ia melakukannya.
Selain ketulusan atas perbuatan itu sendiri.
Then, good men are definitely real.
Human nature is good, just as water seeks low ground. There is no man who is not good, just as there is no water that does not flow downward. ~Mencius
Selamat menjalankan ibadah puasa.




28 Responses
Retha likes this (so much)…
mbakDos: saya juga suka padamu *lho?!*
makasih rethaaa
tks to write this down tha.. nice real story ya.. *terharu*
mbakDos: don’t thank me, thank the good man
di dunia ini memang masi ada kebaikan ya…
mbakDos: masih banyak keliatannya bi
Kunjungan di pagi hari yang cerah dan salam kenal sebelumnya dari sesama peserta Pesta Blogger 2009
mbakDos: salam kenal juga.. makasih ya udah mampir
jangan-jangan si pria itu blogger Mbak?
mbakDos: waahhh tau gitu kan aku bisa minta poto bareng! *lho?!*
kalo situ diajak makan juga gimana Ta?
mbakDos: ya artinya kan dia memang pria yang baik, bukan?!
orang baik ada dimana-mana, tha
cuma mata kita saja yang kadang kelilipan ama ‘debu’ hingga mereka langka untuk dilihat
mbakDos: lebih keliatan debunya daripada gajahnya ya?!
orang baik masih ada, cuma sering dikerumunin yang ga baik sampek ketutup ga keliatan
mbakDos: iya banget
seandainya setiap kita juga berbuat seperti yang dilakukan oleh pria baik hati itu, hm.. betapa indahnya hidup ini…
mbakDos: tapi kalo semua orang baik hati, mungkin hidup jadi nggak seseru ini
Ahhh, I love this post. Good Man still exist… sayangnya kata org… Good Man die young… dan org yang baik2 itu biasanya mati muda… Makanya mungkin org seringkali mengimbanginya dengan rada “nakal2″ dikit… biar gak cepet2 mati…
Just a silly thought
Anyway… saya berharap bisa ketemu lelaki kek gitu, gak banyak mbak dos… dijakarta ini terutama
mbakDos: harusnya kalo ada, dimasukin museum aja ya
love this post soooo much…ternyata masih banyak ya orang2 baik yang bener2 tulus…masih ada ngga ya para lelaki available yang kayak gitu?hihi…
anyway, salam kenal mbak, know this blog from CHIC
)
mbakDos: makasiiihhh
masih ada kok laki-laki model begitu
salam kenal juga yaa..
Tulisannya bagus Mbak Dos. Salam kenal ya sesama warga rumpiers…
)
mbakDos: makasih.. salam kenal juga
aduh…sayah ndak tahu kalo Mbak Dos ada dibelakang saya…wkwkwk…bo’ong banget deh sayah…
tapi sayah juga sering dibikin kagum sama kebaikan-kebaikan orang lain, dan kalau sudah begitu rasanya saya belum berbuat apa-apa…
mbakDos: eh iya banget deh! kalo ngeliat yang gitu jadi minder karena berasa belum ngapa-ngapain
mantab ceritanya
mbakDos: hihihi.. lebih mantap lagi si good man itu
anyway, makasih yaaa
Your story….is very touching the heart
…
Tapi gimana ya seandanya tiba2 aja, temen2-nya ntu anak (ada 15 orang) pada ngikutin trus pada minta di traktir ama si good man itu…apa kira2 yang bakal dilakuin ama si good man?
…
Terkadang kita ingin sekali berbuat baik tanpa berprasangka tapi (**ngeles…***) menurut pengalaman, seringkali tanpa kita sadari kebaikan kita malah menjadi ladang bagi orang lain untuk menipu kita.
mbakDos: that’s why, kalo menurut saya siihh.. ya kalo udah mau berbuat baik, ya berbuat baik aja. konsekuensinya dipikirin nanti aja. karena kalo kebanyakan mikir, malah nggak jadi-jadi lho kita mau berbuat baik
betul juga ya mbakDos…kalo kebanyakan mikir malah ngga jadi-jadi ya…intinya sih kita perlu menggali lagi sisi yang baik diri kita masing-masing …mungkin gitu…?
mbakDos: you got the point!
trus..trus.. celengannya dibeli ndak?
mbakDos: ngg.. nggak tau kelanjutannya, soalnya mereka masih di situ waktu aku pergi
wheew.. nice story..
memang, pada hakekatnya manusia itu memiliki sisi “angel” & “devil”, tinggal mana yg lebih dominan… hhmmm mentang2 biz baca “the devil & miss Prym”nya Paulo Coelho niy Mba Dos.. hihihi..
Lam Kenal ya.. (again)
mbakDos: tapi bener kok yang dibilang si coelho itu *cih! berasa kenal!*
salam kenal juga (lagi)
Salam kenal…
yap… nice post..!!
Jadi “pingin jadi org baik…!”
hehehe
mbakDos: pengen jadi orang baik? lha kan tiap orang memang baik pada dasarnya
hiks..
jadi terharu mbaca ceritamu tha..
jadi pengen..
umm… rawon setaaan…….
eh, itu buat ntar abis buka aja deh..
mbakDos: hihihi terharu kok pengen rawon setan!
Mbak, semir sepatu mbak?? Kasian saya, belum beli mobil. Semir mbak??
mbakDos: waduh, maap mas.. mobil saya baru selesai disemir juga
woww! keren juga yha si mas. nda diajak kenalan skalian mba? ehehe~
mbakDos: sayangnya ada gandengannya *halah.. tetep lho?!*
si good men ini biasanya gk merasa ‘wah’ atau amazed dengan perlakuannya..
orang lain lah yang merasakan ‘hangat’ kebaikannya..
Semoga kita semua bisa seperti good men itu, yaa..
mbakDos: eh iya, bener banget deh! kitanya yang terkagum-kagum sama dia, dianya ngerasa biasa aja.. ya ampuuunnn *makin kagum*
one in a million, mbak. one in a million
mbakDos: lucky me for seeing one
rupanya masih ada kebaikan didunia ini…
masih ada ketulusan diatas bumi yang gila ini…bagus deh…masih ada harapan…so lucky ya bisa menemukannya…
mbakDos: iya, mungkin kita-kita aja yang terlalu pesimis dan malah nggak bisa ngelihat yang begini-begini
Wah langkanya ada orang begini di tengah-tengah masyarakat kita yang cenderung apatis dan individualis.
Smoga kita smua bisa jadi orang yang lebih baik, ingat yang ‘di bawah’ saat kita sudah ‘di atas’
salam kenal yaa
mbakDos: langka dan patut ditiru
salam kenal jugaa.. makasih ya udah mampir.. sering-sering lho *hihihi*
Setud! Qta juga bisa lho mlakukannya. Kadang, kbaikan sesederhana apapun, bisa sangat berarti bagi orang lain — dan bahkan bagi diri sendiri.
mbakDos: iya, kebaikan itu pasti berarti kok.. sekecil apapun
kalau saya biasanya, anak2 itu ga mau makan bareng… pasti minta dibungkus, soalnya makanannya mau dibagi dengan teman2nya sesama pengamen… di dekat kampus saya sih
mbakDos: berusaha untuk nggak mentah-mentah ngasih uangnya juga ‘kan?!