Malaysia Lagi, Mana Indonesianya?
Cerita tentang Malaysia mungkin sudah basi. Sudah begitu banyak hingar-bingar terdengar di sana-sini. Mungkin bukan cerita, tapi cercaan, hinaan, kutukan, semua atas apa yang telah kita alami, sebagai rakyat Indonesia atas perlakuan (pemerintah) Malaysia.
Seingat saya, bukan baru pertama kalinya hal seperti ini terjadi. Duluuu.. entah berapa bulan atau tahun yang lalu, ada masanya di mana batik diakui sebagai hasil karya budaya Malaysia. Juga reog (Ponorogo) dan pulau yang sedianya ada di wilayah Indonesia, semua diklaim sebagai milik Malaysia.
Saya, dan mungkin berjuta-juta warga Indonesia lainnya, murka luar biasa mengetahui hal ini.
Hal pertama yang kemudian tercetus di benak saya adalah, saya memusuhi Malaysia. Oke, mungkin ini tidak muncul sebagai hasil kognisi, tetapi afeksi. Saya kesal, marah, membenci setengah mati negara yang katanya serumpun Melayu dengan Indonesia itu.
Lantas, apa yang saya lakukan?
Saya mencanangkan niat untuk tidak mengonsumsi produk-produk buatan Malaysia. Di mana yang saya tahu, adalah beberapa restoran penyaji makanan Malaysia yang bisa dengan mudah ditemui di berbagai pusat perbelanjaan di Jakarta. Saya meneguhkan niat kepada diri sendiri bahwa saya tidak akan pernah makan di sana.
Kemudian datanglah beberapa saat yang lalu.
Di mana berita tentang perbuatan (pemerintah) Malaysia yang lagi-lagi mengklaim hasil budaya Indonesia sebagai milik mereka, mulai marak di mana-mana. Yang paling meresahkan, jelas adalah perihal Tari Pendet itu.
Seketika, saya kembali teringat pada janji yang pernah saya buat dulu, bahwa saya tidak akan pernah menjadi konsumen dari produk buatan Malaysia. Hal yang masih melekat kuat di kepala saya, saat pada suatu hari saya dan si Kriwil pergi ke sebuah pusat perbelanjaan di pusat kota Jakarta. Kami kelaparan dan kebetulan melintasi sebuah restoran yang bahkan namanya pun merupakan kependekan dari kata ‘Malaysia’.
Si Kriwil hendak membelok masuk ke dalamnya, dan langsung saya cegah. Secara terang-terangan, saya menyampaikan alasan mengapa saya berkeberatan untuk makan di sana.
Dan jawaban yang diberikan si Kriwil membuat saya berpikir seribu kali lebih keras dari sebelumnya.
“Aku nggak mau makan di situ. Itu restoran Malaysia,” kata saya.
“Tapi yang kerja di situ ‘kan orang Indonesia,” jawabnya.
Benar juga.
Jika orang-orang seperti saya berkeras untuk tidak akan pernah datang ke restoran itu dan makan di sana, bukannya tidak mungkin lama-kelamaan justru akan menyebabkan pengangguran bagi teman-teman sesama orang Indonesia sendiri. Sama halnya jika saya mencanangkan diri untuk tidak menggunakan produk-produk buatan Malaysia. Wong setahu saya, produk buatan mereka tidak hanya satu-dua dan malahan dikonsumsi oleh banyak orang Indonesia juga.
Lalu jika saya – dan kita – tidak lagi mengonsumsi produk-produk itu, apa yang bisa dilakukan untuk teman-teman kita yang bekerja di sana jika mereka kehilangan pekerjaan nantinya?
Saya kemudian menyadari bahwa masalah ini bukanlah sesederhana yang dibayangkan. Memboikot produk buatan Malaysia, lalu masalah selesai..? Sama sekali tidak. Mestinya jika berani mengutarakan boikot terhadap produk buatan Malaysia, juga berani bertanggung jawab terhadap sekian ribu pekerja yang hidupnya bergantung di bawah produk itu, bukankah?!
Daripada memboikot produk Malaysia, kenapa bukan produk dalam negeri Indonesia saja yang ditingkatkan?! Tingkatkan saja lagi penggunaan kita terhadap produk-produk buatan Indonesia. Kita memiliki berjuta-juta produk yang tidak kualitasnya sebaik atau bahkan lebih baik daripada produk luar negeri, termasuk Malaysia. Ya makanan, pakaian, produk ini produk itu. Sudah semakin banyak yang ternyata bisa kita produksi sendiri.
Yang mungkin.. pengonsumsiannya belum seimbang dengan produksinya.
Konsekuensi logisnya, semakin banyak produk dalam negeri yang dikonsumsi, maka produsennya pun akan membutuhkan semakin banyak sumber daya manusia. Dengan demikian, tentunya semakin lebar terbuka kesempatan bagi orang Indonesia, yang semula bernaung di bawah bendera produsen asing (seperti Malaysia, misalnya), untuk menambang emas dari negerinya sendiri.
Nantinya tidak perlu lagi ada kekhawatiran tentang ke mana para pekerja di restoran Malaysia itu akan berpaling jika restoran tempat mereka bekerja itu tidak lagi dibuka. Karena toh masih banyak produsen Indonesia yang berminat menampung dan membutuhkan tenaga mereka.
Yah.. anggaplah saya sedang berusaha menilik masalah yang pelik ini dari sudut yang lebih positif.
Walaupun mungkin kurang populer dan kurang memicu hiruk-pikuk seperti cara-cara lain yang lebih digemari. Seperti halnya pemboikotan atas produk Malaysia itu.


31 Responses
cape melihat orang senang terbawa arus ..ikut2 an benci…tapi tanpa ada tindakan bagaimana supaya masalah ini kelar…
atau paling ga…berbuat apa sesuatu hal kecil dan simple buat menonjolkan indonesia nya
*weks kok saya jadi marah2* :p
mbakDos: setuju! daripada bingung gimana menaklukkan yang seberang sana, mendingan juga meningkatkan diri sendiri tho?!
benci ngeliat semua orang pada benci dan asal menyalahkan pemerintah. mbok ya daripada energinya itu buat memaki, dipake buat sesuatu yang konstruktif buat negara kita.
jangan memaki kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.
mbakDos: aaahhhh.. itu pas banget asosiasinyaaa!! *kecup-kecup*
Malaysia mungkin brengsek, tapi Indonesia mungkin nggak lebih baik karrena masih seneng pake produk ilegal seperti beli barang bajakan atau download mp3 gratis…ironis
mbakDos: tapi masih banyak hal yang bisa dibanggakan dari Indonesia kita ‘kan, kang?!
masih banyak warung milik orang aseli indonesia yang bisa dikunjungi..
mbakDos: betuls! banyak banget!
Hmmm..still kalo ditawarin ke KL/ke bagian manapun negara itu, dari dulu or ntar2…gue pasti mikir berjuta2 kali…mending gue milih ke SG..hahaha, kalo nyari luar negeri yang deket…
mbakDos: tapi iklan pariwisata malaysia itu kalo gak salah pun pernah pake artis Indonesia, bukan?!
Ampun….kakak Dos, ini kali nyang ke dua salah click mousenya, kepeleset lagi telunjukku.
Duch…mo comment apa yach..???
Pertanyaannya “Indonesianya mana?” susah juga…jawabannya.
tapi analogi gampangnya mungkin bisa dilihat dalam diri si empunya website ini.
Cantik, pintar, berkarya dan sedikit narsis.
Itulah Indonesia bukan begitu bukan?
mbakDos: kalo gitu, mestinya bisa LEBIH dari yang sekarang dong si Indonesia ini?!
ihiiiyyy.. saya narsis?
Bener kata Hedi. Kayak maling teriak maling hahaha..
mbakDos: ah, saya sih ogah disama-samain sama yang seberang sana
buat saya sih, kalo diibaratkan fesbuk… malaysia sedang ngepoke indonesia, soalnya beberapa kali di poke juga indonesia cuek ajah tuh..
mbakDos: ditoyor-toyor nggak berasa, mungkin harus disiram pake air dulu kali biar bangun
knapa gak langsung perang aja ya ?
itu kapal RI di ambalat di provokasi mlulu, kitanya terpaksa diam saja, karena gak ada perintah untuk ngelawan,
terlalu permisif, mungkin ?
mbakDos: kadang-kadang keputusan yang diambil pemerintah ‘kan nggak selalu bisa dipahami oleh rakyatnya
aduh mba dosen sexy kaya kamu bisa merinding di ajarin hem hem betah bgt , indonesia adalah negeri yang kaya akan aneka ragam kebudayaan jadi wajar banget kalau banyak negeri tetangga yang ingin memilikinya, negeri KAYA gitu LOH .
mbakDos: iya, kita ini kaya kok
betah buat belajar atau betah ngapain? *hihihi*
Entah kenapa belakangan ini saya jadi seneng blogwalking ke blog-blog yg majang artikel Indonesia vs Malaysia, dan kebetulan hari ini sempet singgah di blognya Mbak Dosen.
Yah, saya salut sama Mbak Dosen yang juga memikirkan warga kecil kita yang bekerja di bawah naungan Malaysia, entah dalam bentuk apapun itu. Tidak serta merta memboikot penggunaan produk Malaysia semata. Mungkin kita harus lebih menggempur Malaysia pakai Rumah Makan Padang yang franchisenya udah ada dimana-mana itu.
mbakDos: yah.. ini sih nggak ada sangkut-pautnya sama kerjaan sebagai dosen
karena kebetulan saya orang Indonesia aja, jadi ngerasa gerah lah pastinya.. eh iya tuh, bisa dicoba! wong di singapore aja banyak rumah makan padang, kita serbu aja tuh malaysia!
Indonesia adalah negara besar, tidak pantas bersaing dengan Malaysia. Janganlah negara besar ini terjebak pada nasionalisme reaktif.
“Malaysia itu negara kecil dan monarki, Indonesia negara besar dan demokratis. Kalau dikelola dengan betul, saingan kita Cina, India dan Brazil, bukan Malaysia. Jangan terjebak nasionalisme reaktif”
*Kompas.Com*
mbakDos: justru karena dia negara kecil, mungkin sekarang lagi berjuang untuk bisa sebesar Indonesia.. dengan ‘mengambil’ apa yang dipunyai Indonesia
Dulu waktu kecil kan ada cerita bawang merah bawang putih. Ibaratnya Indonesia si bawang putih dan Malaysia si bawang merah.
Karena keserakahannya, nanti Malaysia pasti dapet belatung2 doang di dalem labu yang direbut dari Indonesia.
*Mulai membayangkan:
gmn ya kalo ternyata nantinya minyak yang keluar dari blok Ambalat, cuma air doang?
mbakDos: jangan sampe dong si bawang merah bisa ngambil labunya bawang putih! walaupun habis itu dia kebagian belatungnya juga.. *eh tunggu deh.. emang bawang merah-bawang putih pake labu-labuan ya?! bukannya cucian? yang pake labu bukannya cinderella?*
blog yang menarik. baru sekali ini mampir.
will love it.
nice post. salam kenal mbak dos ^;^
luv.*dy*
mbakDos: thank you ya dy udah dikunjungi.. mudah-mudahan mampirnya nggak cuma sekali ini aja
Nduk, pakde ikut nimbrung disini ya, kayaknya kok masih longgar tempatnya.
Bicara soal Malaysia ya secara kenegaraan biarlah pemerintah yang menyelesaikan secara tata cara kenegaraan. Kita ya ikut mendukung pemerintah saya.
Salam hangat dari pakde di Surabaya.
mbakDos: mau nggak mau ya memang harus ikut, kecuali memang bisa ‘mendobrak’ apa yang seharusnya itu
makasih lho pakde udah jauh-jauh nengokin dari surabaya
nasionalisme sedang digugah…. berterimakasihlah pada M’Sia karna tlah membangkitkan nasionalisme sebagian anak negeri….
mbakDos: ah iya juga tuh.. positifnya ‘kan karena kita disadarkan sebagai warga Indonesia
ayo ganyang Malingsia
ayo!!!!
mbakDos: hihihi *cuma bisa ketawa aja*
Masih terlalu rumit permasalahannya karena kita terlalu dekat..
mbakDos: terlalu dekat dari mana? malaysia? yaaa secara geografis memang begitu, bukan?! dan secara budaya ya mungkin memang mirip
yg pasti mnrt saya kita semua memiliki “andil”
ketidakpedulian atas warisan budaya pun menjadi sebab
mbakDos: bisa jadi juga
Aduh ampyuun,dmn2 pd rbut soal malaysia… Smua org pd mrhin pmrintah qt,y mbok d fkr to,brp byk saudara qt yg nyari mkn dsn..n slh1 pnymbang trbsar devisa negara kan mrka!! Wjr kL pmrintah agk diam,,, n toh dnia dah byk tw,ap yg mrka klaim it pnya qt..rang malaysia g da kreatif2 nya kok. Lam knal mbak dos
mbakDos: secara tidak tertulis memang iya, semua juga tahu apa yang milik kita dan apa yang milik malaysia. tapi kelihatannya sekarang butuh bentuk tertulisnya
salam kenal juga.. makasih y udah mampir, sering-sering lhooo
kita selalu iri ya sama malaysia…?
mbakDos: masa sih? nggak kebalik ya?
mari lebih produktif dalam berkarya, tunjukkan bahwa kita “bangsa yang berkualitas”
mbakDos: STUBUUUHHH eh stujuuuhhh!!!
ah.. bahan bagus buat posting di ngerumpi…
thanks mbakdos
btw itu namanya bener: Shrivastava Agatha? kalo iya, pasti orang tua situ peramal! masa dari lahir udah tau anaknya bakal jadi guru?
mbakDos: woohhh kok dirimu tau kalo itu artinya guru??
nggak lah, itu nama komersil kok *dikeplak kamus* makasih ya oom sudah menjadikan tulisan ini sebagai referensi. tapi memang bener ‘kan begini yang terjadi sekarang?!
mba’ mba’ mauk minta ajarin SPSS (halah….!!!)
mauk ituuu, mauk ngaku..
lupa bilang udah ngelink blog sampean,,
ngintil dsana ngintil dimari..
emmm, soal malay. diriku jadi tambah malay sama si malay enih..
mbakDos: hihihi ketemu lagi kita niiihhh
makasih ya udah diintili..
Banyak kok yg bisa dibanggain dari Indonesia:
Gigi, Padi, /rif, Jamrud, Boomerang, Edane, Slank, Iwan Fals, SUPERMAN IS DEAD…
Kalo Malaysia bisa mengundang gerimis pake “Gerimis Mengundang”nya,
Indonesia bahkan bisa bikin pelangi di mata pake “Pelangi di Matamu” nya Jamrud…
Lebih indah pelangi kan?
mbakDos: habis gerimis ‘kan biasanya muncul pelangi
“Malaysia Lagi, Mana Indonesianya?”
aih . . . apa saya kurang endonesah tohhh . . .
mbakDos: kira-kira gimana, bess?
“Lalu jika saya – dan kita – tidak lagi mengonsumsi produk-produk itu, apa yang bisa dilakukan untuk teman-teman kita yang bekerja di sana jika mereka kehilangan pekerjaan nantinya?”
sama seperti yang saya pikirkan ketika banyak teman mengajak saya memblokir produk-produk buatan malaysia, unilever, amerika karena dianggap merugikan Indonesia.
lebih baik saya meningkatkan kecintaan terhadap produk Indonesia.
salam kenal mba dos
mbakDos: stujuuuuhhhhh!!
salam kenal jugaaa.. makasih ya udah mampir
mau meningkatkan produk gimana mbak dosen.
wong pemuda sekarang lebih gandrung capoeira daripada pencak silat.
jadi ya mboikot saja he he he he..
yang penting saya tetap cinta produk indonesia
mbakDos: yaaa mungkin justru itulah saatnya buat kita, yang juga pemuda, untuk berperan sebagai pionir yang mencintai pencak silat
SETUJU!!! ini juga yang sempet terjadi ama gue. Musti lebih taktis ya rupanya dalam menghadapi hal2 semacam ini karena bukan masalah sepele yang selesai dgn tindakan yang emosional.
Hidup produk Indonesia!!!
mbakDos: betuls! kalo udah main perasaan, kaya’nya susah deh tuh mikir rasional lagi
Memang dilematis ya masalah RI-Malaysia ini, heheh…. Pastinya, kita kudu lebih kritis & jaga omongan jg sih dalam merespon masalah.
mbakDos: pake lebih banyak otak sebelum bertindak dan berbicara, pastinya
Memahami itu juga mengalami. Setelah lima tahun tinggal di Malaysia, tuduhan-tuduhan itu sejatinya tidak berdasar. Saya tak perlu berpanjang cerita, siapa pun perlu tinggal di sana untuk mengerti.
Menjadi Indonesia tidak berarti membenci yang lain bukan? He..he..
mbakDos: menjadi seseorang bukan berarti membenci orang lain. nice point