Ke Mana Perginya Kartu Lebaran?
Idul Fitri sudah tinggal menghitung hari.
Dalam beberapa hari mendatang, meja makan di rumah saya akan dipenuhi dengan sajian ketupat, opor ayam, dan sambal goreng. Keluarga kami memang tidak merayakan Lebaran, tetapi tradisi ini sudah dilakukan sejak duluuuu sekali, entah sejak kapan persisnya. Saya selalu ingat bahwa hidangan khas Lebaran ini pun juga bisa ditemukan di meja makan rumah kami.
Ritual lain yang juga biasanya ditemui adalah parcel.
Bertahun-tahun lamanya, ayah nyaris tidak pernah absen mendapatkan kiriman parcel menjelang hari Idul Fitri. Dan kemudian di hari Natal pun juga mendapatkan parcel yang lain. Jumlah parcel yang diterima di kedua hari raya ini biasanya sama, walaupun sebenarnya yang kami rayakan secara keagamaan hanya satu.
Beberapa tahun belakangan ini, tidak ada lagi mas-mas pengantar parcel yang kami jumpai di depan pagar rumah. Tepatnya sejak muncul larangan dari pemerintah untuk menerima parcel bagi para pegawai negeri, karena parcel dianggap mewakili bentuk korupsi. Atau sejenis itulah.
Namun rupanya bukan parcel itu saja yang hilang di ritual Idul Fitri beberapa tahun terakhir.
Kartu Lebaran pun bernasib sama.
Biasanya satu bulan menjelang hari Idul Fitri, ayah akan memesan kartu ucapan secara khusus pada percetakan langganan. Hanya kartu polos, tanpa gambar, biasanya berwarna krem dengan tinta keemasan yang bertuliskan ucapan selamat dan nama ayah mewakili keluarga kami sebagai pengirimnya.
Dan sayalah yang kemudian bertugas membuat daftar nama siapa saja yang akan dikirimi kartu ucapan, menuliskan setiap nama dan alamatnya pada kartu-kartu tersebut, merekatkan perangko di amplopnya, lalu mengirimkannya.
Tapi tidak tahun ini. Juga beberapa tahun sebelumnya.
Tidak ada lagi keributan ayah agar kami (saya, tepatnya) buru-buru memesan kartu ucapan, membuatkan daftar nama, sehingga kemudian bisa mengirimkan kartunya agar sampai di tangan si penerima sebelum – atau paling lambat – di hari Lebaran.
Tidak ada lagi acara pergi ke Kantor Pos untuk membeli sekian ratus perangko yang masih berbentuk lembaran-lembaran besar dan belum terpotong untuk tiap perangkonya.
Tidak ada lagi kerusuhan dan kepanikan akibat kartu-kartu yang belum terkirimkan padahal hari raya Idul Fitri sudah tinggal dua hari lagi.
Tidak ada lagi kebingungan akibat kartu yang sudah dikirimkan ternyata kembali lagi diantarkan Pak Pos ke rumah kami, karena ternyata si penerima sudah pindah rumah.
Dan saya sendiri.. juga sudah tidak disibukkan dengan ritual berlama-lama di toko buku untuk memilih sejumlah kartu Lebaran yang akan saya kirimkan secara pribadi. Tidak lagi ada ritual menghitung jumlah teman dan sanak keluarga yang akan dikirimi kartu ucapan. Tidak ada lagi acara mendatangi satu-persatu rak yang memajang kartu ucapan, mengingat-ingat siapa saja yang akan dikirimi, lalu memilih kartu yang paling sesuai untuk masing-masing penerima.
Buat saya, memilih kartu Lebaran adalah momen yang sangat menyenangkan.
Karena saya harus menyesuaikan setiap kartu dengan masing-masing penerima. Artinya, saya harus tahu si penerima ini seseorang yang seperti apa, apa yang disukai dan yang tidak, sehingga kemudian saya bisa memutuskan kartu seperti apa yang akan saya berikan kepadanya.
Apakah kartu dengan gambar mentereng, dengan warna-warna yang sedap dipandang mata, atau justru yang sederhana tapi terkesan sophisticated. Apakah kata-katanya berbahasa Inggris atau Indonesia, menggunakan bahasa kiasan dan puisi atau justru yang secara langsung bertuliskan selamat hari raya. Bahkan hal yang terkesan paling tidak penting sekalipun, apakah ukuran kartunya besar atau kecil saja.
Bagi sebagian orang yang saya kenal, membeli kartu ucapan adalah hal yang sangat sederhana. Beli saja yang satu pak berisi sepuluh atau dua-belas kartu, dengan beragam gambar dan ucapan, dan beres sudah. Jumlah yang dibeli hanya perlu disesuaikan dengan jumlah penerimanya.
Tapi buat saya, sama sekali bukan sekedar membeli kartunya.
Membuat si penerima merasa senang, menangkap pesan yang hendak saya sampaikan, adalah suatu hal yang penting bagi saya.
Kartu ucapan, melambangkan suatu hal yang sangat personal antara saya sebagai pengirim dengan si penerimanya. Melambangkan kedekatan hubungan yang kami punyai.
Lalu beberapa tahun belakangan, kartu ucapan itu hilang.
Kartu-kartu bergambar ketupat, mesjid, atau bahkan sekedar gambar pakaian khas Idul Fitri, sudah tergantikan dengan baris-baris kata melalui SMS. Alamat-alamat tempat tinggal teman-teman dan para kerabat tidak lagi diperlukan selama saya memiliki nomor handphone mereka. Berlembar-lembar perangko tergantikan dengan pulsa telepon.
Alasannya sederhana saja: lebih hemat dan tidak repot.
Jelas. Dibandingkan membeli kartu ucapan yang masing-masing berharga sekian belas atau bahkan sekian puluh ribu, pulsa seharga sekian ratus rupiah yang dihabiskan untuk tiap SMS yang terkirim pastinya jauh lebih murah. Belum lagi tambahan perangko yang minimal seharga seribu rupiah untuk tiap amplop yang dikirimkan.
Kerepotan yang ditemui karena harus mengantar berlembar-lembar kartu ucapan itu ke Kantor Pos atau Bis Surat terdekat juga tidak perlu lagi dialami, karena SMS bisa dikirimkan kapanpun dan di manapun si pengirim sedang berada. Dan akan sampai di tangan si penerimanya saat itu juga. Lagipula, ketika masa ucapan selamat sudah berakhir, SMS hanya tinggal dihapus, tidak seperti kartu ucapan yang bingung akan diapakan nantinya.
Walaupun sejujurnya, saya tidak terlalu menyukai pengiriman ucapan selamat hari raya melalui SMS, saya juga adalah salah satu dari sekian juta orang yang juga menggantikan kartu-kartu ucapan itu dengan baris-baris kata pada SMS.
Entahlah.. ada perasaan bahwa SMS tetaplah hanya merupakan sebuah pesan singkat. Less personal.
Saya ingin mengirimkan lagi kartu-kartu ucapan itu. Saya ingin memilih satu-persatu sesuai dengan siapa yang akan menerimanya. Saya ingin membuat mereka yang menerimanya merasa senang dan tidak merasa bahwa ucapan yang saya sampaikan hanyalah sekedar basa-basi belaka.
Ah, tahun depan, mungkin.

Selamat Idul Fitri 1430H
`gambar kartu Lebaran yang aseli dipinjam dari sini


18 Responses
Aku juga belum pernah dapet kartu lebaran dari mbak dos loh
mbakDos: aku juga belum pernah dapet dari ndoro lho
Persis! saya hampir saja membuat postingan yang serupa, pada awal era memegang henpon saya senang sekali menerima SMS selamat lebaran, terasa sangat spesial apalagi ucapan SMS ucapan selamat lebaran itu datang dari sahabat saya yang berkeyakinan berbeda, bisa-bisa seminggu atau bahkan sebulan lebih sms itu saya simpan di inbox hp.
Tapi tetep ekstase menerima kartu lebaran memang lebih +megang daripada menerima pesan singkat dalam SMS, terasa punggung ditepok-tepok langsung oleh si pengirim kartu, lebih hangat dan akrab. Lalu tentang SMS saya merasakan sekarang -dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya pada pengirim sms- begitu hambar, terasa tidak special, kecuali SMS itu dituliskan nama saya, dan hanya dikirim pada saya, dan kata-katanya yang saya banget, sounds too selfish? anyhow, saya lebih suka sesuatu yang lebih personal dan megang. Thanks for posting this entry.
Salam kenal dari Wazeen.
mbakDos: stujuuu!! biar gimana pun, mau dibilang tradisionil, biar aja.. tapi kartu lebaran kok ya tetep berasa jauh lebih personal ya?!
anyway, salam kenal jugaaa
Mbakdoooos! Mohon maaf lahir batin yaaa! *mau sms ucapan lebaran ke Mbakdos tapi ndak tau nomernya*
mbakDos: hihihi ndak usah, goen.. nanti aja ngucapinnya pas natalan, mungkin di saat itu kau sudah punya nomerku
kok bs pas bgt mbakyu, aku th ini barusaan aja udah ngirim2 kartu lebaran ke handai taulan. Skrg repotnya ngumpulin alamat temen2 yg tnyt gak bnyk yg aku tau. Begitu ditanya, mereka kira aku mau kirim undangan (cape deh) hehe
mbakDos: HAHAHAHAHA aku aku aku, in! aku juga mau lho dikirimi undangan ya ya ya?!
wah, kartu lebaran, lama sekali nggak memegangnya.
well, tahun ini aku mengurangi list yg aku kirimi ucapan via SMS,, prov ku yg sering eror klo lg ada moment itu jadi masalah utama,, wekekeke,, aku mau buat via FB ajah,, hakakaka,,
mbakDos: nah iya juga tuh! provider tiba-tiba kebanjiran sms dan jadilah itu sms macet semua di jalan
Kartu lebaran kan gak melulu harus dalam format fisik, tapi ada yang dikirim melalui jalur hati, dimana si pengirim merasa mengirimkan, dan si penerima merasa menerima. Pesannya pun fleksibel, bergantung isi hati keduanya.
Nah, sudahkah mbakdos menerima kiriman kartu lebaran versi hati saya?
mbakDos: apakah dirimu sudah sungguh mengirimkannya padaku? atau.. kau kirim pada penerima yang keliru?
seperti yang pitra bilang…. saya juga idem
dan sama juga seperti ndoro saya ngak pernah nerima dari mbak Dos …
mbakDos: baiklah, nanti akan saya minta ndoro dan pitra untuk mengirimkan padamu
konsekuensi dari kemajuan IT sih mba.. saya rasa sbntr lg jg kntr pos udh ga dibutuhkan lagi. semuanya tinggal email..
minal aidin wal faidzin. mohon maaf lahir dan batin..
mbakDos: duh, jangan sampai tuh kantor pos ditutup
mohon maaf lahir batin juga
Bener banget Ta…lucu tuh milih2 kartu ucapan hari raya (natal or lebaran) di toko buku…pasti mikir2 yang gambar ini untuk si itu..yg ini untuk itu..apalagi kalo dah mikirin GBT atau Pacar hah..itu lebih seru lagi..sekarang? dah ada HP, BB semuanyah berganti…
*jadi inget waktu masih lebih muda dulu*
mbakDos: kartu valentine atau ulang taun maksudnya?
hahaha kalo udah mikir yang itu, sms dan bb sih masih nggak bisa nandingin lah
Maaf lahir batin …
mbakDos: dimaafin, pakdhe
*dikeplak panci bekas bikin opor*
Sekarang malah cuma separuh mbak yang kirim ucapan slamat lebaran lewat sms ke aku, separuhnya lewat BBM, YM, Fesbuk
Jadi gak bisa disimpen untuk diliat2 *kebiasaan aneh liat2 sms lebaran hehehe
mbakDos: nggak ada yang aneh dengan mengenang masa lalu kok, ning
well, kayaknya kartu lebaran akan bernasib sama dengan perangko …
http://www.ririsatria.net/2009/03/09/apakah-perangko-akan-tinggal-sejarah/
cheers …
mbakDos: hihihi iya juga ya.. 11-12 lah, beti
untuk lebaran tahun ini sebetulnya saya sudah siap2 untuk buat kartu lebaran sendiri, sudah membeli kertas linen dan crayon, rencananya hanya untuk segelintir sahabat, giliran mau mulai bikin kok ya rasanya waktu udah ndak cukup lagi karena sibuk mau mudik juga, akhirnya batal deh
semoga kedekatan hubungan itu tak hilang bersama hilangnya kartu lebaran ya, mbakdos
taon depan kirim2an kartu yuk, mbak, eh natalan ini mau dikirimin?
mbakDos: iya lah.. kalo ngomongin kedekatan hubungan, mestinya sih nggak ada korelasinya sama kartu lebaran yang sekarang udah raib entah ke mana itu
asik asiiikkk.. dikirimin kartu natal! beneran ya ya ya?!
met lebaran pokoknya,
soal kartu lebaran,
eh saya kan udah ngirim SMS mohon maap kan ?
mbakDos: SMS saya juga udah nyampe kan?!
im traditional… masih nyetak kartu lebaran dan mengirimkannya satu persatu melalui pos.
kalo sms masih dibales, tapi kalo ym, bbm, gtalk, icq, aol n pesbuk, pasti gue sindir:
“ternyata, menyatakan maaf sudah terpengaruh hukum ekonomi”
mbakDos: ah ya.. ngg sama sih kalo urusan yang satu itu.. untung masih pake SMS kirim-kirimannya
setidaknya sms masih lebih personal, ketimbang masang gambar di FB lalu nge-tag semua orang di situ. ngga ada personal touch babar blas…
mbakDos: nggak personal dan nggak modal hahahaha
dan keajaiban buat saya di tahun ini, saya mendapatkan 7 kiriman kartu lebaran. dan justru bukan dari teman2 lama, melainkan teman2 yang baru kenal beberapa waktu terkahir ini….
mbakDos: wuah! tak terduga dong ya pastinya, malh teman-teman baru tuh yang begitu
ah ya. saya merasakan lebaran lebih sebagai ritus sosial ketimbang ritus agama. banyak praktik-praktik budaya (yang mulai ditinggalkan), yang menjadi tanda lebaran: ketupat, opor ayam, baju baru, silaturahmi, nyadran, kartu lebaran, parcel dan hantaran.
ah. mengenangnya membuat saya ingin kembali merayakan lebaran seperti sepuluh atau lima belas tahun lalu.
salam blogger,
masmpep.wordpress.com
mbakDos: kenapa enggak?