Ini Tentang Kita (Juga)
“Eh, hari ini (CSI) Miami ya?!” tanya saya kepada si Kriwil segera setelah saya menginjakkan kaki ke ruang tengah, masih memanggul ransel dan memegang kunci mobil.
“Iya. Tapi ini lagi nonton berita. Gempa,” sahutnya.
“Ah iya. Padang?” tanya saya, sambil mengingat retweet teman-teman yang sempat saya baca sekilas sebelum beranjak pulang tadi.
Lalu tanpa percakapan lanjutan, saya dan si Kriwil memakukan pandangan ke arah televisi yang menayangkan sebuah berita mengenai peristiwa gempa bumi di Padang Pariaman yang baru sore tadi terjadi. Lengkap dengan tayangan dari kawasan di mana peristiwa bencana alam itu berlangsung.
Dengan berlatar belakang suara si penyiar di studio televisi, kami menyaksikan rumah-rumah yang sudah luluh lantak tak lagi berbentuk layaknya tempat tinggal, puluhan orang berlarian menjauhi bangunan yang sebelumnya menjadi tempat mereka berada, beberapa lainnya yang mengendarai sepeda motor pun tak kalah paniknya. Suara si penyiar nyaris tak terdengar, terhalau teriakan-teriakan mereka semua.
Panik, ketakutan, khawatir, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Bukan saja perasaan yang dirasakan oleh mereka yang mengalami bencana, tetapi juga para kerabat, rekan, sanak saudara, yang tinggal jauh dari kota itu dan mengetahui apa yang terjadi di sana. Karena sambungan komunikasi terputus sama sekali.
Berulang kali mencoba menghubungi, tetapi tidak kunjung tersambung pada yang dituju. Memandangi layar televisi sambil terus berharap tidak satupun dari nama korban yang diumumkan adalah mereka yang dikenal. Tetapi ketika nama-nama itu sungguh bukanlah dari mereka yang dikenal, belum juga habis rasa khawatir dan cemas yang seolah tak berkesudahan.
Kisah yang berbeda, namun mengembalikan ingatan saya pada peristiwa beberapa tahun silam.
Kangmas, si kembaran saya yang lima tahun lahir lebih dulu itu, dan biasa saya panggil Mas Jules, sedang bertugas di Dili kala itu. Kantor tempatnya bekerja mengadakan kerjasama dengan Unicef dan Mas Jules-lah yang ditugaskan ke Dili selama enam bulan. Ia mengerjakan desain seperti hari-hari kerja biasa, hanya saja kali ini pastinya berkaitan dengan organisasi besar itu.
Lalu pada suatu hari, saya mendengar – atau menyaksikan, saya lupa persisnya – berita bahwa Dili sedang dilanda kerusuhan. Sekejap, dada saya seolah berhenti berdetak. Dan ketika berita lanjutan menyebutkan bahwa penembakan terjadi di depan kantor UN (baca: PBB) di Dili, di mana di situ pula Mas Jules berkantor selama di sana, lutut saya langsung lemas.
…Jumlah korban yang tewas, menurut Associated Press, mencapai 23 orang, setelah seorang polisi yang luka parah akibat ditembaki pasukan militer Timor Leste, Kamis, meninggal kemarin… Selain itu, seorang warga sipil dan seorang tentara tewas dalam bentrokan hari Jumat… (Harian KOMPAS, 27 Mei 2006)
…Situasi di kota Dili dan sekitarnya masih tegang. Baku tembak terus terdengar secara sporadis di sekitar kota itu. Namun, jumlah korban tewas maupun terluka belum diketahui secara pasti. Sejumlah pihak menyatakan sedikitnya 20 orang tewas dalam pertikaian yang merebak sejak Selasa lalu. Baku tembak kemarin terjadi antara lain di dekat Kantor Presiden Xanana Gusmao dan Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)… (Harian KOMPAS, 26 Mei 2006)
…Baku tembak sengit antara ratusan bekas tentara pimpinan Mayor Alfredo Reinado dan pasukan pemerintah terus berlanjut di sejumlah lokasi di Timor Leste, terutama di Dili, kemarin. Sedikitnya, 14 orang tewas dan puluhan lainnya cedera dalam insiden yang berlangsung sejak Selasa (23/5)… Ketegangan di bekas provinsi Indonesia itu membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan larangan bagi warga Indonesia berkunjung ke Timor Leste… (Harian MEDIA INDONESIA, 26 Mei 2006)
Entah apa ada gunanya, saya terus berdoa. Setelah sepanjang tahun, dan tidak tahu kapan terakhir kalinya, saya berdoa. Agar tak satupun dari nama korban yang tertera di televisi adalah nama Mas Jules.
Selama ini saya pikir peristiwa penembakan semacam itu hanya bisa ditemukan di film-film besutan Hollywood. Atau di sinetron-sinetron dalam negeri yang kurang bermutu. Atau di layar televisi yang tengah menayangkan liputan mengenai peristiwa perang saudara di negeri Timur Tengah sana. Atau entah di mana lagilah.
Yang pasti tidak akan melibatkan saya. Tidak akan menyentuh pada kehidupan saya. Dan tidak sekalipun akan membawa keluarga atau mereka yang saya kenal.
Peristiwa itu adalah peristiwa yang jauh sekali dari kenyataan yang saya hadapi.
Lantas saya sungguh benar-benar terombang-ambing, luluh lantak, menguatkan hati untuk tetap menyaksikan tayangan beritanya, ketika mengetahui bahwa bukan saja saya dilibatkan dalam peristiwa itu, tetapi juga menyertakan seseorang yang sangat saya sayangi: Mas Jules.
Bukan saja tamparan keras di wajah yang saya rasakan membangunkan saya pada kesadaran seutuhnya, tetapi seperti merasakan sayatan ngilu sebuah pisau tumpul pada permukaan kulit.
Saya tidak pernah peduli ketika peperangan itu terjadi di luar sana, di film-film, di dunia yang tidak pernah saya tahu, di negeri yang bahkan menginjakkan kaki ke sanapun belum pernah. Saya tidak peduli pada banyaknya jumlah korban yang berjatuhan, orangtua yang kehilangan anak-anaknya, anak-anak yang menyadari orangtua mereka telah tiada.
Menyaksikan berita hanya sepintas lalu.
Karena saya pikir apa yang ada di televisi itu bukanlah bagian dari kehidupan saya.
Lalu saat Mas Jules-lah yang sedang berada di tengah pertumpahan darah semacam itu..?
Hhh.. Ternyata tidak selamanya harus mengalami sendiri sesuatu hal untuk kemudian bisa merasakan kepedulian terhadap peristiwa itu. Tidak selalu harus menjadi korban terlebih dulu agar kemudian bisa merasa iba. Tidak perlu harus kehilangan anggota keluarga supaya bantuan berupa doa, permohonan, atau mungkin yang lebih nyata – berupa sumbangan fisik – diberikan kepada mereka yang membutuhkan.
Tidak perlu harus merasakan sendiri kehilangan tempat tinggal sekaligus sanak keluarga dalam sekejap hanya untuk menyadari bahwa para korban membutuhkan bantuan.
Karena mereka pun manusia.
Sama seperti saya. Seperti kamu juga.

`gambar dipinjam dari sini
`turut berduka cita sedalam-dalamnya bagi para korban dan mereka yang ditinggalkan.
`Mas Jules selamat dari peristiwa tiga tahun silam itu. Bersama dengan beberapa rekan UN yang ‘diungsikan’, ia sudah tiba di Darwin ketika saya membuat tulisan di kala itu.


17 Responses
Menyentuh, Mbak..
*cuma bisa ngomong itu saat ini
semoga tidak terjadi gempa lanjutan.
semoga saudara2 kita yg ada di sumatra di berikan ketabahan dalam menghadapi cobaan.
semoga mereka yg ditinggalkan keluarnya bisa tabah. begitu juga mereka yg ditinggalkan rumah, dan segala harta benda milik mereka…
paling tidak, yg termudah untuk kita lakukan saat ini adalah membantu dengan doa…
RT @nengratna: Untuk saudaraku korban gempa Sumbar. Semoga keselamatan ada padamu beserta rahmat-Nya dan barakah-Nya
iya, menyentuh…
kita saat ini cuma bisa memberikan bantuan doa, atau melalui sumbangan … mungkin ini peringatan atau memang cobaan pada bangsa Indonesia
hidup selalu berubah. bencana datangnya tiba-tiba, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, langsung masuk menerobos. peristiwa2 ini membuat saya berpikir tentang arti kehidupan,kematian, dan kemanusiaan.
pada saat gempa bumi di Jakarta kemarin, saya ikut panik, ada rasa takut untuk menjadi korban-korban bencana yang saya sering saksikan di televisi ataupun media massa lainnya. kita manusia, hidup dalam ombang-ambing jaman, berdoa dan berharap.
duka cita saya pada korban bencana, doa saya bagi mereka, kita semua, yang telah lepas dari kehidupan fana ini dan juga kita semua yang masih diijinkan untuk menghirup napas di dunia ini.
All I can do just ask Yang Punya Hidup, kalo saya terpilih berada di tengah bencana seperti itu, izinkan saya untuk benar-benar mati atau benar2 hidup utuh, untuk menjadikan matinya saya nanti lebih bernilai untuk orang lain…
Saya turut berduka cita dan prihatin untuk semua korban gempa…baik di Padang, Jawa Barat yg juga pastinya masih terus usaha bisa nata idup kayak dulu lagi…
Yuk, gandengan tangan n doa untuk yang terbaik…
seorang teman sekolah saya harus kehilangan ayahnya dan seorang lagi harus kehilangan ayah dan kakaknya…
sungguh sangat berduka atas bencana ini…
berdoa, satu hal yang paling minim dapat kita lakukan untuk saat ini…
percayalah bahwa Tuhan dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan…
smoga tabah atas cobaan-Nya yang bertubi-tubi ini
makasih telah mengingatkan..
apakah ini tanda alam menolak terpilihnya pak presiden kita itu?
*seperti dejavu ke tahun 2004*
hihihihihi..
ga bisa berbuat apa-apa selain mencoba membantu meringankan beban.. haduuuuh…
Jadi inget gempa jogja 3 taun lalu dan jadi sedih juga. Gak bisa bantu apa2 selain dari sini dan berdoa tentunya
fotonya terlalu sensual nih…
Semoga keluarga yg ditinggal bisa tabah…amin…
gw selalu sebel kl liat berita gempa ini.. krn kerusakan bs separah ini dan korban sebyk ini krn kelalaian pemda. byk gedung2 yg knostruksinya rapuh tapi ttp dibuka utk umum. pikirannya nyari duit aja tapi mengabaikan keselamatan masyarakat..
bbrp hari yg lalu aja di kompas: rapat paripurna kosong melompong.. jd pemerintah itu kerjanya apa! pemudik tewas bs sampe 700 lbh.. kl gw presidennya mah gw pecat menteri transportasinya.
gw selalu kesel tha ngeliat yg gini2.. maap marah2 di blog lo.. huaha
akhirnya kita juga harus sadar bahwa kita memang hidup berdampingan dengan gempa
ah, bencana akhirnya memang menyadarkan kita betapa ini adalah kesempatan bagi kita untuk saling menguatkan dan saling menolong, karena tidak selamanya ‘tangan’ kita berada diatas. Satu ketika, kitalah yang akan membutuhkan pertolongan orang lain.
[...] Ini Tentang Kita (Juga) yang pernah saya munculkan di blog ini, bisa ditemukan juga di Majalah SPICE! edisi Desember 2009 [...]