1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Prahara Kancil dan Buaya

Aahh.. itu dia pepohonannya!

Rasanya sudah lamaaaa sekali aku tidak melihat jajaran pepohonan yang menjulang tinggi bak menyentuh awan-awan di langit itu. Daun-daun yang bergerak serempak ke kanan-kiri mengikuti arah angin, bergesekan satu sama lain, dan menimbulkan suara seperti kaki-kaki kuda yang berjalan perlahan di atas tanah berumput. Lalu burung-burung kecil beterbangan dan hinggap di dahan yang satu ke dahan yang lain, bergantian dengan tupai-tupai berekor lebat.

Sinar matahari menyelusup di antara ranting-ranting, memunculkan garis-garis cahaya yang seolah diatur dan dipermainkan seirama dengan bunyi dedaunan.

Padahal hanya satu musim aku pergi, tapi entah rasanya sudah berapa kali empat musim terlewati.

Tapi.. kenapa sepi sekali?

Burung-burung dan tupai hanya berkeliaran sejenak, lalu menghilang entah ke mana. Dan telingaku, tak bisa menangkap suara apapun selain daun-daun yang tak berhenti saling bergesekan.

Ke mana perginya Kelinci dan Cerpelai, Kancil dan Musang? Bahkan Sigung, si bulu hitam dengan ekor bergaris putih, yang biasanya selalu mengendap-endap menjaga tepi hutan dari pendatang yang tak diinginkan pun, tidak lagi berjaga di tempatnya.

Ke mana mereka semua?

Pohon ajaib, yang batangnya bercabang dua-puluh, dan dulu ibu selalu menakutiku bahwa aku akan tumbuh dua puluh kali lebih tua daripada semestinya jika aku terlalu sering main di sana pun, tak tampak lagi ada lebah-lebah berkerumun di situ. (Ah ya, bertahun-tahun kemudian aku baru tahu bahwa itu hanyalah taktik ibu agar aku tak main ke sana dan kemudian tersengat lebah. Pastilah wajahku akan tampak dua puluh tahun lebih tua jika membengkak akibat sengatan lebah.)

Ada yang salah. Pasti. Semestinya tidak seperti ini tempat yang kukenal dengan sangat baik.

Dengan lebih cepat, aku langsung berlari ke arah rumahku berada. Setidaknya akan melewati lapangan berbatu tempatku dan kawan-kawan biasa bermain, jadi mestinya aku pun akan menemukan mereka sedang ada di sana. Lagipula, mereka mungkin masih ingat rencanaku untuk pulang hari ini, pastilah kami akan sangat senang karena akhirnya bisa bertemu lagi.

Tapi.. kenapa sepi juga di sini? Tidak ada siapa-siapa.

Semakin kupercepat langkahku karena aku semakin yakin ada yang tidak beres di sini.

Kakiku berlari semakin kencang.

Lalu langkahku berhenti seketika saat melihat kerumunan di bagian tengah hutan. Ternyata semua di sini! Musang, Cerpelai, dan Kelinci, Sigung dan Tupai, bahkan ada ibu juga di situ. Teriakan yang saling bersahutan mulai terdengar.

“Sini!” seru ibu setengah berbisik seketika saat melihat kedatanganku. Menarik tanganku untuk mendekat padanya, berlindung di balik pohon bersama sahabat-sahabat yang lain.

Aku menatap ibu, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

Tapi sebelum sempat ibu memberikan jawaban, teriakan yang terdengar seperti pekikan itu tertangkap dari balik kerumunan. Yang tidak bisa terlihat dari tempatku berdiri, karena terhalang mereka-mereka yang bertubuh lebih besar dan lebih tinggi dari kami.

“Kau yang harusnya bertanggung jawab! Kau ‘kan tidak seharusnya berbuat seperti itu!”

“Tapi kau yang memulai! Kau membuatku kesal dan akhirnya melakukan ini!”

“Tetap saja kau SALAH! Kau tidak berhak mendorongku!” sahut suara pertama, semakin keras.

Di antara teriakan-teriakan keras yang saling bersahutan, ibu mulai berbisik-bisik berusaha memberikan penjelasan atas percakapan itu. Mengapa semua berkumpul di sini, mengapa berkerumun, dan siapa pula yang berada di tengah dan menjadi pusat tontonan itu.

Adalah si Kancil, pemilik suara yang pertama terdengar tadi, dan si Buaya sebagai pemilik suara yang satu lagi. Mereka berdua sedang terlibat perdebatan hebat setelah peristiwa yang terjadi pagi tadi. Menurut cerita yang didengar ibu dari si Cerpelai, kaki si Kancil terluka akibat terantuk batu akibat dikejar dan didorong oleh Buaya. Apa yang menjadi penyebab Buaya mengejar Kancil, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaanku.

Karena rupanya memang tidak ada yang tahu.

Paman Beruang yang biasa mencari ikan di sungai pun tidak bisa menceritakan apa-apa. Ia sedang sibuk membantu ibu mengumpulkan kayu bakar saat peristiwa itu terjadi. Tetapi Bibi Elang yang kebetulan sedang melintas di atas sungai saat itu, memang sempat mendengar kancil berteriak-teriak memanggil buaya. Lalu memanggilnya dengan.. Bibi Elang pun tidak bisa mendengar dengan jelas, tapi sepertinya itu panggilan yang tidak disukai Buaya.

Lantas Buaya sepertinya kesal dan mulai mengejar si Kancil. Di antara langkah-langkah kecil si Kancil di atas batu-batu sungai, rupanya Buaya bisa mendekat dengan cepat dan mendorong Kancil dengan ekornya hingga Kancil terpeleset. Ia terjatuh dan luka lah kakinya. Dengan langkah tertatih, Kancil berusaha berlari ke dalam hutan. Entahlah apa yang dikatakan si Kancil dan kepada siapa, karena tak lama kemudian berduyun-duyunlah beberapa penghuni hutan menuju tepi sungai.

Sementara si Buaya masih saja diam di tempatnya. Kelihatannya tidak tahu apa yang terjadi.

Bibi Elang lah yang kemudian memanggil Bapak Singa, si penguasa hutan, setelah merasa bahwa ada yang tidak beres. Singkatnya, mereka semua, termasuk si Kancil dan Buaya, kemudian dibawa ke lapangan tengah di mana pertemuan biasa dilakukan, untuk mendengarkan cerita dari keduanya.

Dan di sinilah aku, bersama seluruh penghuni hutan, menyaksikan keduanya. Ya, melihat. Setelah aku akhirnya berhasil memanjat pohon dan duduk di atas salah satu dahannya.

“Bagaimanapun, aku ini kancil! Aku adalah penghuni hutan ini, bahkan mungkin salah satu yang tercerdik. Semua juga tahu bahwa aku binatang tercerdik di hutan, dan aku selalu menggunakan akal sebelum berbicara. Tidak begitu ‘kan denganmu? Kalau kau punya cukup akal, kau pasti tahu bahwa aku tidak seharusnya diancam atau dilukai!”

Buaya diam saja, tidak memberikan jawaban apapun.

“Bukankah kita berkumpul di sini untuk membahas peristiwa tadi pagi, Kancil?” kali ini suara Bapak Singa terdengar.

Kami semua, para penghuni hutan yang berkerumun, sama terkejutnya dengan Buaya karena mendengar Bapak Singa akhirnya berbicara. Kancil kelihatannya lebih terkejut lagi.

“Iya, Bapak Singa. Kita memang sedang membicarakan peristiwa tadi pagi,” sahut Kancil.

“Masih ingat pertanyaan yang kuajukan saat pertama kali kita ada di sini?” tanya Bapak Singa.

Kancil menunduk, “Iya, Bapak Singa.”

“Apa itu?”

“Kau bertanya, ‘Apa yang telah terjadi?’” suara Kancil pelan.

“Dan apa yang barusan kau katakan tadi?”

Kali ini semua diam. Seolah waktu berhenti, daun berhenti bergerak-gerak, angin terdiam, dan tak ada satu pun suara yang tertangkap di telinga. Bahkan bisikan sekecil apapun tidak.

Bapak Singa melanjutkan, “Ya, aku mengakui itu. Kau adalah binatang tercerdik di hutan ini, mungkin memang lebih cerdik dari Buaya. Karena itulah berulang kali kau selalu lepas dari kejaran Buaya berapa kali pun kau menggodanya. Bukan begitu?”

Kancil segera mendongakkan kepalanya, lagi-lagi tampak terkejut.

Tapi kami semua tahu bahwa ini memang sudah bukan rahasia lagi. Salah satu kegemaran Kancil adalah bermain kejar-kejaran dengan Buaya. Tentu setelah Kancil sebelumnya menggoda Buaya dan membuat Buaya mengejarnya.

“Kalau kau mengatakan bahwa kau adalah penghuni hutan, lalu siapakah Buaya?” lanjut Bapak Singa, “Bukankah dia penghuni hutan juga sama sepertimu?”

Kancil masih diam saja.

“Apa hakmu sebagai sesama penghuni hutan untuk menggodanya, membuatnya mengejarmu, lalu sekarang merendahkan kepandaiannya hanya karena kali ini kau terluka?”

Suara Bapak Singa yang berat dan dalam itu sebenarnya terdengar pelan. Sama sekali tidak terdengar nada kemarahan di situ. Tetapi entah kenapa, suara itu di telingaku seolah.. membuatku harus duduk diam dan mendengarkannya.

Aku, sejujurnya, sangat mengagumi Bapak Singa.

Bapak Singa berdiri dari tempatnya duduk. Ia berjalan pelan ke tengah. Lalu suaranya yang berat itu terdengar lagi.

“Baiklah. Tampaknya kita sudah mendengar kisah keseluruhannya. Dan ya.. tindakan Buaya tidak bisa dibenarkan,” Bapak Singa menoleh kepada Buaya, “Kau, selama tiga masa matahari terbenam, harus tinggal di hulu sungai, jauh dari sini. Setelah masa ketiga usai, baru kau boleh kembali ke sungai ini. Itu hukuman untukmu karena telah mendorong Kancil.”

“Dan kau,” Bapak Singa beralih pada Kancil, membuat Kancil terkejut lagi. Demikian pula seluruh penghuni hutan yang hadir di situ.

“Selama tiga masa matahari terbenam itu juga, kau harus tetap berada di tengah hutan. Batasmu untuk bergerak adalah pohon ajaib bercabang dua puluh. Kau hanya boleh bergerak sampai ke pohon itu.”

“Kenapa, Bapak Singa? Aku dihukum juga?” tanya Kancil.

“Bukan hukuman. Hanya memberimu kesempatan untuk memikirkan baik-baik kata-katamu tadi. Dan perbuatanmu juga. Pikirkan baik-baik, karena seperti katamu, kau adalah makhluk tercerdik di hutan ini. Buktikan itu.”

13 Responses

on October 11th, 2009 at 11:05 pm jensen yermi Says:

Ntah kenapa, rasanya cerita ini mengingatkan saya pada kisah Winnie the Pooh dan Christopher Robin. :D

BTW, apa keajaiban pohon-ajaib-bercabang-dua-puluh itu?

mbakDos: si aku itu jadi winnie atau christopher? *halah* keajaibannya? bisa bikin dua puluh taun lebih tua? :mrgreen:

on October 11th, 2009 at 11:35 pm venus Says:

iya, gak ngerti ada apa dengan pohon ajaib bercabang begitu banyak itu :D

mbakDos: ah masa nggak ngerti mbok? *dislepet tiang jemuran* :mrgreen:

on October 12th, 2009 at 12:48 am goy Says:

Moral of the story: please watch disney more often. :) )

mbakDos: it’s because I watch disney too much, I guess :mrgreen:

on October 12th, 2009 at 2:56 am antyo rentjoko Says:

Kapan MbakDos nerbitin koleksi fabel? Asyik nih… Salam untuk Sigung. Juga nanti salam untuk Cerpelai. :D

mbakDos: paman memberikan ide cemerlang padaku! :D iya, nanti disampaikan kok salamnya hihihi

on October 12th, 2009 at 10:52 am warm Says:

Pembuktian ?
Ya seseorang musti membuktika ucapan yang mencerminkan diri dan hatinya..
Konsekuensi itu memang berat …
Tapi percayalah, seisi rimba bisa mencium kalau ada ketidakberesan, tinggal waktu saja lagi yang akan membalasnya ..

mbakDos: iya sih.. seisi rimba pun pastinya tahu. masalahnya adalah.. mereka mau mengakui itu nggak? ;-)

on October 12th, 2009 at 1:07 pm elia bintang. Says:

udah pernah baca aesop blm tha? jadi itu buku kumpulan fabel dari yunani jaman dulu gitu lah (kalo ga salah atau kalo ga sok tau) :p

itu byk bgt cerita2 kyk gini nih.. selalu ada moral lesson-nya..

mbakDos: iya, pernah denger aja si aesop itu el.. ngg.. iya sih, memang ada moral lessonnya :P

on October 12th, 2009 at 1:41 pm Chic Says:

*mencoba mencerna dengan baik*

kapan-kapan pengen minta mbakDos dongengin Vio aaaah :mrgreen:

mbakDos: hihihihi ibunya nggak mau didongengin juga? atau bapaknya mungkin? *ditendang ke gurun gobi* :mrgreen:

on October 12th, 2009 at 6:18 pm arham blogpreneur Says:

Bingung apa yang bisa dipetik dari cerita diatas yah? :P apa cabangnya hehe

mbakDos: cabang jakarta, atau cabang madura? *halah* :D

on October 12th, 2009 at 10:54 pm bang FIKO Says:

Kisah lain dari cerita Kancil dan Buaya… Sungguh menarik dan inspiratif
Salam kenal…

mbakDos: salam kenal juga.. makasih ya udah mampir :)

on October 13th, 2009 at 1:43 am japro Says:

wah karena si kancil cerdas, jangan-jangan dia kuliah di Atma Jaya ya nduk?

kalo gitu sapa buaya ‘yang kurang cerdas tersebut’? jangan-jangan bertempat tinggal di ‘hutan’ Atma Jaya juga?

mbakDos: hahahahaha you knew it!!! yaaa gitu deh.. tentang hutan atma jaya sih memang. siapa yang kancil dan siapa yang buaya, ngg.. kaya’nya udah tau lah kita ;-)

on October 13th, 2009 at 9:39 am bang FIKO Says:

Sisi lain dari kisah Kancil dan Buaya..
Salam kenal…

mbakDos: lho.. komennya mengulang? :mrgreen: salam kenal lagi kalo gituuu :D

on October 14th, 2009 at 10:43 pm Gubs Says:

Jadi.. kalo gak mau kepleset ya jangan melet..
Ah.. indahnya dunia jika semua dapat melihat dengan benar..

mbakDos: ih, bener banget! “kalo nggak mau kepleset ya jangan melet” hahaha.. moral lesson-nya okee!! :D

on October 15th, 2009 at 8:10 pm dilla Says:

Kira kira si kancil manut ndak ya disuruh diem di tengah hutan gitu? :D

mbakDos: err.. itu dia yang aku pun tak tahu :P

Leave a Reply