Skenario yang Tidak Berlaku
Sekumpulan orang berkerumun di sudut kafe. Sebagian besar adalah pria-pria berusia dua puluh-tiga puluhan. Di antara mereka, tampak jelas tiang-tiang setinggi dua meter yang ujungnya terdapat lampu panjang yang disusun berjajar. Tiang lain dipegang oleh salah seorang di antara mereka, dengan tangan terangkat di atas kepala dan ujung tiangnya tergantung sebuah mikrofon yang diarahkan ke tengah di antara lampu-lampu itu.
Seorang pria berdiri di belakang kamera yang diletakkan di atas tiang berkaki tiga. Sedangkan pria satu lagi membawa satu kamera berukuran sama di atas bahunya. Keduanya mengarah ke sebuah meja di tengah lampu.
Seorang pria lain duduk di lantai, menghadap ke arah televisi berukuran kecil. Beberapa kali ia memberikan instruksi kepada yang lainnya. Untuk memulai, atau berhenti.
Kadangkala ia berdiri, berjalan menuju meja kecil itu lalu seolah memberi contoh apa yang harus dilakukan oleh seorang pria lainnya lagi.
Pemandangan itu mengingatkan saya pada peristiwa beberapa tahun silam.
Saat saya (terpaksa) melakukan kegiatan yang sama dengan apa yang tengah saya lihat itu. Saat saya tidak hanya berperan layaknya si pria di depan televisi kecil, tetapi juga sebagai orang yang harus berada di depan kamera, sebagai orang yang sibuk mengangkat tangan untuk memegang tiang mikrofon, maupun orang yang sekedar berdiri dan memegangi papan styrofoam di samping kamera.
Jelas, apa yang saya lakukan kala itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan kegiatan sehari-hari Mas Iman atau si Tika Kelantan.
Syuting versi saya itu memang hanya untuk kepentingan sebuah matakuliah bernama Psikologi Kepribadian. Iya, HANYA untuk SEBUAH matakuliah!
Mbak dosen pengajar – yang adalah satu dari sangat sedikit dosen kegemaran saya – menugaskan para mahasiswa untuk membuat film dengan berdasarkan pada salah satu teori Kepribadian sebagai tugas akhir matakuliah tersebut. Kami boleh memilih teori manapun yang kami mau dan diperkenankan untuk membuat jalan cerita seperti apapun.
Saat itulah pertama kalinya saya mengalami kegiatan bernama syuting. Mulai dari memilih skenario mana yang akan dibuat filmnya, brainstorming, menyempurnakan skenario, mencari lokasi syuting, audisi pemeran, menyewa peralatan, latihan, dan seterusnya-dan seterusnya sampai proses syuting berakhir dan memasuki tahap penyuntingan (editing).
Sangat tidak mudah, apalagi buat kami yang sama sekali buta soal proses pembuatan film. Pengetahuan minimum tentang bagaimana membuat sebuah film saja hanya sebatas mengoperasikan handycam. Beruntungnya, karena sepanjang proses pembuatan film itu Mbak Dosen ‘menyediakan’ temannya yang memang sangat berpengalaman dalam bidang ini untuk mendampingi kami. Si Mas Sutradara ini sudah membuat entah berapa film independen dan film layar lebar.
Dari keseluruhan proses yang panjang itu, yang paling menarik buat saya adalah tahap terakhir yaitu penyuntingan. Di mana kami, atau saya tepatnya, secara langsung atau tidak, bisa melihat kembali apa yang telah dikerjakan sepanjang proses pembuatan film itu. Bahwa apa yang tampil di layar komputer sebagai hasil syuting itulah cerminan dari proses panjang yang sudah dilalui, mulai dari persiapan hingga pengambilan gambar dilakukan.
Di proses penyuntingan itulah saya menghabiskan waktu hampir dua puluh empat jam di dalam studio, hanya ditemani Mas Sutradara, dan seorang operator yang juga adalah teman Mas Sutradara. Beberapa teman sekelompok saya datang bergantian, tetapi sayalah yang tetap berjaga di studio sepanjang proses penyuntingan berlangsung.
Di studio yang sama pula saya banyak berbincang-bincang dengan Mas Sutradara. Tentang kekeliruan dari pengambilan adegan misalnya, kekurangan cahaya, bayangan yang memantul, frame yang terlalu kosong, bahkan sampai kurang menghayatinya peran si tokoh. Hal-hal yang sebenarnya ketika proses syuting berlangsung pun sudah berusaha kami antisipasi, tentu dalam pengawasan Mas Sutradara yang juga berada di lokasi syuting.
Tapi toh tidak sedikit kesalahan yang tetap kami buat dan baru ditemukan saat proses penyuntingan.
Seingat saya, kami sudah berusaha mereduksi setiap kesalahan sekecil apapun. Tentu, agar tiap adegan dapat terlihat sempurna dari balik kamera. Kami pun juga mengambil beberapa gambar untuk tiap adegan yang sama. Dari sekian gambar yang telah diambil untuk tiap adegan, hanya satu yang terbaik yang akan dipilih. Yang tokohnya diperankan dengan penuh penjiwaan, yang cahayanya cukup, yang bayangannya jatuh di tempat yang tepat, yang suaranya terdengar dengan jelas, yang mikrofonnya tidak ikut masuk ke dalam frame kamera, dan sebagainya-dan sebagainya.
Kalau toh ada satu gambar yang tidak sempurna, masih ada gambar lain yang bisa dipilih. Kalau dari lima kali pengambilan gambar di adegan yang sama pun ternyata tidak ada yang sempurna, kami tetap bisa memilih yang paling baik di antara yang tidak baik itu.
Selalu ada pilihan untuk menampilkan apa yang ingin ditampilkan, agar alur cerita terlihat sesempurna mungkin. Dan tentunya, akhirnya akan persis seperti apa yang telah tergambarkan dalam skenario.
Suatu hal yang jelas tidak mungkin terjadi dalam dunia yang sebenarnya. Tidak dalam dunia yang ada di luar lokasi syuting dan di belakang kamera.
Skenario dan perencanaan tidak pernah ada dalam kamus kehidupan nyata.
Tidak ada yang pernah tahu bagaimana kehidupannya akan berlangsung. Tidak ada yang pernah berencana bahwa nantinya akan menjalani profesi sebagai seorang pengajar – saya, misalnya – tapi toh kemudian jatuh hati pada pekerjaan yang satu itu. Awalnya merencanakan akan menjadi seorang dokter, misalnya, tetapi di tengah masa pendidikan justru memutuskan berhenti dan berkelana menekuni dunia musik.
Atau ketika remaja pernah bermimpi untuk mengadakan suatu pesta pernikahan yang indah di pulau Bali, menjelang matahari terbenam, dan hanya dihadiri kerabat terdekat, tiba-tiba di hari yang telah ditentukan justru harus menjalani resepsi yang luar biasa megah dengan ribuan tamu yang bahkan hanya sepersekiannya yang adalah teman yang kita kenal.
Atau awalnya merencanakan akan memiliki seorang kekasih hati yang sangat memperhatikan kebutuhan kita, sabar, tidak pemarah, tetapi di tengah perjalanannya malahan menemukan seseorang yang tukang ngamuk, cenderung cuek, namun sekaligus membuat kita tidak bisa sedetik pun melepaskan diri darinya.
Semula pernah berikrar untuk jatuh hati hanya pada satu orang yang kemudian akan dinikahi dan hidup berdampingan hingga dijemput ajal, tapi kemudian dalam perjalanannya menemukan bahwa hubungan yang sekarang tengah dijalani adalah hubungan cinta yang kedua-puluh sekian kali. Dan belum juga muncul rencana untuk menikah hingga saat ini.
Lantas jika apa yang terjadi saat ini ternyata tidak sesuai dengan apa yang sempat direncanakan beberapa belas tahun sebelumnya di awal kehidupan kita, bagaimana?
Jelas, tidak akan pernah ada proses penyuntingan layaknya dalam pembuatan sebuah film.
Tidak akan bisa memilih kehidupan mana yang akan dijalani dan mana yang akan dibuang. Karena toh semua sudah terjadi dan tidak ada satu pun yang bisa diulang kembali. Karena kita juga sama-sama tahu bahwa mengharapkan mesin waktu untuk diciptakan adalah sama dengan meletakkan harapan pada sesuatu yang tidak akan pernah terwujud.
Apa yang bisa dilakukan?
Menyesalkah?
Untuk apa? Toh tetap tidak akan mengubah peristiwa yang pernah terjadi.
Buat saya, yang bisa dilakukan adalah reinterpretasi.
Ketika pengalaman yang sudah berlalu tidak mungkin diulang untuk kemudian diperbaiki lagi, saya – dan mungkin kita yang mengalaminya – mungkin bisa menelusuri lagi ingatan tentang peristiwa itu dan memberi makna yang berbeda pada peristiwa yang sama.
Tidak lagi menyesali mengapa saya menghabiskan waktu bertahun-tahun lebih lama daripada teman-teman saya untuk menyelesaikan skripsi, karena toh dengan waktu yang lebih lama itu, sekarang hasil skripsi itu menjadi salah satu rujukan utama para mahasiswa yang bermaksud menyusun skripsi dengan tema yang mirip.
Tidak lagi meratapi mengapa saya tidak pernah mengungkapkan perasaan saya pada seorang pria yang saya cintai setengah mati, karena toh pada akhirnya saya belajar untuk selalu mengungkapkan perasaan itu jika tidak ingin mengalami peristiwa yang sama seperti dulu: ditinggal kawin.
Dan tidak pernah sekalipun menyesali setiap hubungan cinta yang pernah saya jalani, karena toh mereka pula yang membentuk saya seperti yang sekarang ini.
Pada akhirnya, peristiwa yang seberapapun menyakitkannya, membuat marah, dan menyisakan dendam, jauh lebih indah dan layak untuk disimpan rapat dengan label ‘Kenangan’ setelah proses reinterpretasi itu dilakukan.




16 Responses
errr..ternyata ada dua kesamaan persis..pengerjaan skripsi lebih lama dan ternyata skripsi saya juga jadi rujukan loo…even ga sampe sedahsyat kamu lama + nilai akhirnya…*eh rangenya sama dink
*…sama satu lagi…di tinggal ituh tadi hahahaha…
yup..percuma nyesel ga guna..those memories can be sweeter than wine rite?
mbakDos: nyesel sih tetep lah ada gunanya.. tinggal mau dilihat sebagai apa kan?! nyesel trus cuma guling-gulingan sambil nangis, atau nyesel – liat ke belakang sebentar – trus jalan lagi
yang berlalu biarlah berlalu…
mbakDos: tapi sayang juga kalo cuma berlalu dan nggak bisa dipake buat belajar apa-apa
Oh jadi @mbakdos sudah pernah berpacaran hingga ke-20 sekian kali..
mbakDos: pacaran? nggak laaahhh..! jumlah jari di satu tangan aja masih lebih banyak daripada jumlahku pacaran. tapi kalo bukan pacaran, yaaa.. itu beda cerita *dikeplak*
destiny .. itu titik yang harus dipercaya ..
soal perjalanan hidup ini, skenarionya memang sudah ditentukan, dan arahan hanya ‘sang sutradara’ yang tahu endingnya..
ah, penjelasanmu ini membuai dan meghanyutkan,
tapi.. err,, kapan ada casting buat proyekmu lagi ? jd pengen ikutan
mbakDos: aku malah pengennya disyut *dijambak*
Postingan yang sempurna dan mencerahkan!
Ya, memang benar, hal-hal pahit yang pernah terjadi cuma bisa dimaknai ulang melalui reinterpretasi. Dan biasanya reinterpretasi itu baru bisa muncul apabila kita menemukan alasan2 untuk mensyukuri hal2 yang sudah lewat tersebut. Sayangnya, alasan tuk bersyukur itu sering tidak datang secepat dibutuhkan…
mbakDos: ya iya lah.. pastinya nggak akan secepat itu, kan bukan sulap bukan sihir *halah* tapi sampai pada kesadaran kalo reinterpretasi itu sebaiknya dilakukan, itu udah oke tuh!
panjanggggggg mbak
“reinterpreasi” GOT IT..!!!
jangan ada sesal diantara kita
)
)
-kita..??? dia aja kale jangan gua-
mbakDos: dia? elo kali!! *disiram air keras*
“Coffee non? it taste bitter but sweet..”
*
*menyuguhkan secangkir kopi hitam hangat dan senyuman
mbakDos: ‘your’ coffee is always taste sweeter than bitter
kenangan itu berguna buat proses belajar kan? that’s what we call “life”, bukan shitnetron… hihihihi
mbakDos: definitely! life TIDAK SAMA DENGAN sinetron
manusia hanyalah tokoh utama yang digerakkan oleh sutradara yang agung, SangPencipta…
btw, kalo suka bilang aja, dari pada nyesel… bener ituuu
mbakDos: hihihi pengalaman pribadi ya, dit?
jiwa seleb mengembang bagus
mbakDos: mungkin karena rajin dipupuk dan disiram oleh orang seperti dirimu *dilempar meja makan*
(bertanya dalam hati) “sudah berapa kali ya mbak ditinggal kawin?”
mbakDos: hahahaha kesannya sebanyak itu yaa???
ah saya ndak tau harus komen apa, saya setuju dengan postingan sampeyan ini mbak.
jadi kapan kita syuting legenda nyi roro kidul?
mbakDos: ah, kemaren mau syuting tapi batal. cliff sangra-nya ngambek nggak mau syuting
Kamu sedang membicarakan saya ya kamu??? :p
mbakDos: kamu mau dibicarakan ya, kamu?
Salam ama mas sutradaranya ya mbak, kalau bersua..
mbakDos: nyahahaha aku curiga kau pun mengenalnya
cie.. ada yg ditinggal kawin..
toss dulu ah..
mbakDos: hahahaha malah tos!!
kan sudah sembuh..
http://dudukbersila.com/2009/10/22/terbunuh-penasaran/
mbakDos: tampaknya demikian