1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Editor Bagi Diri Sendiri

Percakapan dengan seorang teman kemarin mengingatkan saya tentang suatu hal yang sudah sejak lama sempat ingin saya tuliskan. Percakapan yang panjang, seru, memicu perdebatan sesaat, sebelum akhirnya kami tiba pada titik yang menyatukan pendapat kami dalam sebuah kesetujuan.

Percakapan yang semula hanya diawali dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Sebenernya apa sih yang boleh ditulis di blog dan apa yang nggak?”

Pertanyaan yang sangat wajar, tentu saja. Juga sangat masuk akal.

Saya, pastinya, tidak akan mebahas dan mengungkit lagi perihal kasus Ibu Prita yang dulu itu. Saya bukan ahli hukum yang bisa memberikan jawaban pasti tentang rambu-rambu yang secara tegas membatasi masalah pencemaran nama baik, pasal-pasal mana saja yang terlanggar, jelas karena saya tidak memahami hal itu. Sudah sangat banyak pakar yang jauh lebih memahami kasus ini dan bisa memberikan jawaban yang lebih memuaskan, di mana saya, jelas tidak termasuk di antaranya.

Namun, disadari atau tidak, dalam skala yang lebih kecil atau bahkan lebih remeh, hal yang sama pun terjadi dalam ranah blog.

Bukan sekali dua kali, beberapa teman menceritakan keberatannya tentang hal-hal yang dituliskan oleh teman yang lain, entah di blognya atau di situs lain yang membebaskan para anggotanya (member) untuk menulis sendiri. Ketika si teman yang berkeberatan ini menyampaikannya secara langsung kepada si penulis, si penulis kemudian merasa kebingungan tentang apa yang sebenarnya membuat temannya itu berkeberatan.

Sebaliknya, si penulis akan mempertanyakan mengenai batasan apa yang dilanggarnya sehingga si teman merasa berkeberatan. Ia bahkan meminta bukti yang jelas tentang batasan itu, entah yang dimaksudkannya itu berkaitan dengan batasan secara hukum atau apa. Si teman tidak bisa memberikan jawaban apa-apa karena memang tidak ada – atau memang dia tidak menemukan – bukti yang diminta itu. Tapi jelas, ia merasa sangat tidak nyaman.

Kalau sudah begitu, siapa yang salah?

Ya tidak ada.

Coba saja bayangkan seseorang yang sedang menghabiskan sore harinya dengan berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, sebutlah sebuah mal. Tiba-tiba saja ia tertawa terbahak-bahak saat melihat seorang pengunjung lain yang melintas di hadapannya dengan mengenakan pakaian yang tidak matching satu sama lain. Tawanya itu membuat pengunjung lain yang berada di sekeliling mereka ikut menoleh, bukan saja padanya yang tertawa demikian keras tetapi juga pada si pengunjung berpakaian tidak matching.

Si pengunjung yang berpakaian tidak matching tadi merasa malu, tersinggung, tetapi juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Semua orang sudah menoleh padanya. Ia kesal sekali dengan orang yang menertawainya tadi.

Sedangkan si pengunjung yang tertawa, merasa bahwa apa yang dilakukannya itu adalah hal yang wajar. Ia hanya merasa geli dengan tidak matching-nya pakaian yang dikenakan pengunjung yang melintas itu tadi, dan baginya, menjadi wajar jika ia tertawa.

Selain kedua pengunjung, reaksi yang berbeda-beda juga bisa ditemukan dari para pengunjung lain yang ada di sekitar mereka dan menyaksikan peristiwa itu. Mungkin ada sebagian pengunjung yang sebenarnya juga merasa ketidak-matching-an pakaian itu menjadi sesuatu yang lucu, lalu mereka bisa ikut tertawa terbahak-bahak atau terkikik-kikik pelan. Sebagian yang lain, yang merasa iba pada si pengunjung yang ditertawakan tadi, bisa ikut merasa malu dan kesal dengan tertawaan yang dilakukan oleh pengunjung pertama tadi. Lalu sebagian lainnya, berlalu saja dengan tidak peduli.

Pertanyaannya sama: siapa yang salah?

Ya tidak ada juga.

Dan jika perdebatan semacam ini dilanjutkan, tidak akan pernah ditemukan satu jalan keluar yang dapat mengakomodir kedua pihak. Masing-masing memiliki argumen dan sanggahan yang sama-sama masuk akal, yang sama-sama beralasan, tapi sekaligus sama-sama bisa dibantah oleh yang lain. Alhasil, bukan penyelesaian yang diperoleh, malahan permasalahan yang semakin mengular saja tanpa ada penyelesaian.

Buat saya pribadi, ini sebenarnya permasalahan yang sangat sederhana.

Seseorang melakukan sesuatu, yang tidak disukai oleh orang lain, dan si pelaku merasa bahwa ia melakukan sesuatu yang wajar-wajar saja.

Dan ini menjadi suatu permasalahan yang pelik ketika apa yang dilakukan oleh seseorang itu dilakukan di ranah publik. Yang mungkin tidak akan terlalu menyulut kekesalan ketika disampaikan secara langsung kepada yang bersangkutan, sebutlah di ruang privat mereka.

Pasti terbayangkan ‘kan perbedaan ketika sebuah kemarahan disampaikan di tengah khalayak umum, di tempat di mana memungkinkan banyak orang untuk menyaksikannya juga, jika dibandingkan dengan kemarahan yang disampaikan secara langsung kepada yang bersangkutan tanpa perlu diketahui oleh orang lain?!

Yah, namanya saja ruang publik.

Banyak orang yang menghuni ruang yang sama.

Orang-orang yang jelas berbeda-beda satu sama lain. Memiliki latar belakang yang berbeda, pengalaman yang berbeda, hingga preferensi yang juga berbeda-beda.

Walaupun tidak pernah ada aturan yang secara jelas tertulis tentang perilaku seperti apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak, rasanya sudah bukan rahasia umum bahwa menyinggung orang lain adalah hal yang semestinya dihindari.

Ah, gue kalo digituin biasa-biasa aja. Kenapa dia mesti jengkel?

Ya, itu juga. Anggapan bahwa orang lain sama seperti kita, bahwa apa yang tidak membuat kita kesal juga pasti tidak membuat kesal orang lain, adalah hal yang.. naif, setidaknya buat saya.

Bukankah slogan bahwa setiap orang berbeda, adalah sesuatu yang terus didengungkan? Dan mestinya juga diikuti dengan bentuk nyatanya, bukan hanya meninggalkannya sebagai sebuah slogan belaka yang tidak bermakna, bukankah?

Tidak ada yang melarang saya untuk tidak menyukai sesuatu atau seseorang, atau sebaliknya, menyukai sesuatu atau seseorang. Itu hak pribadi.

Tapi bagaimana saya mengutarakannya di ranah publik, yah itu jelas lain cerita.

Ah, saya terdengar sok tahu ya?!

Iya, saya memang pernah ada di posisi itu. Bukan hanya sebagai korban yang merasa tersinggung lantaran tulisan yang dipublikasikan di ranah publik oleh orang lain itu menyudutkan saya secara pribadi, tetapi juga sebagai pelaku yang juga memublikasikan tulisan yang ternyata menyinggung orang lain.

Jadi yaaa.. anggaplah saya memang tahu (seperti apa rasanya)

30 Responses

on October 30th, 2009 at 11:36 am goy Says:

well said, well put.

i can feel passion and intellectuality at the same time. a pretty rare experience for me in reading writings.

and i think i might have something to say to you cause of this art. and it cant be said here in public areas. :p

mbakDos: thank you :) komen pertama yang sangat menyenangkan!

on October 30th, 2009 at 11:42 am Introverto Says:

wearing somebody else’s shoes is not easy and sometimes painful… but maybe we should try…

The reader can’t see what was in writer’s mind…vice versa…

And maybe the writer already “jungkirbalik” to find some way to write what was in his/her mind without hurting somebody else’s heart…but what is in his/her writing, that’s the best way he/she can do…

No body’s perfect…and everybody hurts sometimes…

mbakDos: mungkin bukan cuma si pembaca yang harusnya bisa lihat jungkir baliknya si penulis, tapi si penulis juga mestinya bisa lihat apa yang terjadi sama si pembacanya ;-)

on October 30th, 2009 at 11:42 am Olivia Says:

setuju. ini tricky sekali. penulis ingin mengekspresikan pikiran dan perasaannya lewat tulisannya dan publik bisa saja tersinggung atau tidak nyaman. namun bagaimanapun juga rasanya sulit memuaskan seluruh pihak karena boundary setiap orang toh beda-beda.

yang harusnya dikedepankan jadi isu berikutnya memang adalah bagaimana penulis dan orang yang merasa tersinggung menyikapi hal itu. ranahnya memang abu-abu dan membutuhkan kebijaksanaan dari kedua belah pihak. apabila anggota publik ini merasa tidak nyaman dengan pendapatnya dan meng-counternya dengan argumen yang rasional/logis, sebaiknya disampaikan di publik, supaya publik bisa menimbang dan menjadikannya sebagai wacana yang bermanfaat. sebaliknya, jika di-counter dengan alasan yang sifatnya kurang lebih hanya ingin ‘menyamankan’ diri sendiri, sebaiknya disampaikan secara pribadi kepada si penulis supaya tidak memicu debat kusir di ranah publik. bagi penulis sendiri, butuh kebesaran hati untuk menerima pendapat2 itu, dan kesadaran bahwa ini adalah konsekuensi sebuah tulisan dipublikasikan di ranah publik.

mbakDos: butuh kesadaran dan kebesaran hati sih untuk nggak saling menunjuk diri sendiri tentang siapa yang paling benar ;-)

on October 30th, 2009 at 11:45 am dilla Says:

ini tentang blog yang itu ya mbak? :P

ya mungkin sebaiknya jangan terlalu mengumbar masalah pribadi di ruang publik sih..pinter-pinternya kita menempatkan diri..

*aku ki ngomong opo tho* :lol:

mbakDos: lha blog yang mana, dil? he eh.. kamu ki ngomong opo tho?! *pentung-pentung dilla* :mrgreen:

on October 30th, 2009 at 11:46 am tyas Says:

oiyaaa saya tahu apanya yang baru selain postingannya…………. :)

mbakDos: hahahaha apa cobaaaa? :mrgreen:

on October 30th, 2009 at 11:47 am tyas Says:

salam kenal mbak, saya suka baca artikelnya… OK OK

mbakDos: makasih ya udah mampir ;-)

on October 30th, 2009 at 11:55 am japro Says:

good posting…
sesuatu yang seharusnya dipikirkan orang saat berbicara ataupun berperilaku di ranah publik

mbakDos: EXACTLY! :)

on October 30th, 2009 at 12:06 pm Introverto Says:

Satu lagi…mungkin nih ya mungkin orang yg tersinggung itu jg jgn terlalu GR, mungkin ga cuma dia yang curhat ke si penulis, karena yang tahu persis siapa tokoh di balik tulisan itu ya si penulis sepertinyah..

atau mungkin juga ada kasus yg sama di luar sana, yang sekali lagi mungkin, dengan adanya tulisan si penulis, juga jadi lebih jelas…

dan kadang orang tersakiti itu malah bisa lebih jelas melihat sesuatu hal…yang tentunya juga bisa diperbaiki, kalau memang perlu…

dan satu lagi…kalo misalnya ga ada yang berani sedikit aja vokal…hehehhe…susahnya orang berkembang…walau tetep sih harus beretiket juga ngungkapinnya, mis dgn anonim…

maap ya neng..panjang ngocehnya :D

mbakDos: mungkin si penulis harus pernah ngerasain dulu kali ya ada di posisi pembaca yang ‘katanya’ GR itu ;-) hihihi.. dimaapkeun jeng! :D

on October 30th, 2009 at 12:19 pm jensen99 Says:

Hmm… ini termasuk masalah kode etik ngeblog IMO. :?
Yah, saya beberapa kali lihat masalah seperti ini sih. Walopun nama disamarkan atau gak ditulis, tetep aja temen2 dan yang bersangkutan tau yang dibicarakan itu siapa, dan jadi perbincangan sengit di Y!M. :(

Menurut saya sih, kita susah menghindari ngomongin orang atau diomongin orang, itu selalu terjadi (& hanya pengecut yang membawanya ke ranah hukum dengan pasal karet). Hanya saja, kalo sampai tulisan kita diprotes TEMAN sendiri, tak ada salahnya kita mempertimbangkan tuk menghapus, mengedit, atau minimal mempasswordnya.

mbakDos: iya tuh.. apalagi teman ‘kan?! ;-)

on October 30th, 2009 at 1:01 pm warm Says:

sekali lagi, tiap person punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing,
tapi sungguh,
postingan ini menohok dan menonjok hati plus perasaan saya,
nice post ever, mbakDos!!

mbakDos: aahhh sayang betul percakapan lanjutan tentang ini harus diakhiri karena listri yang meninggal mendadak itu :( tapi mudah-mudahan sih tohokan dan tonjokannya nggak menyisakan memar yang sia-sia ya ;-) makasih oom waaarrmmm

on October 30th, 2009 at 1:44 pm bukan facebook Says:

Mungkin harus ada yang menggagas gerakan ‘pikir dulu sebelum tekan tombol publish’. Lengkap dengan banner dan halaman yang menjelaskan tanggung jawab dan konsekuensi begitu kita menekan tombol publish di blog kita.

mbakDos: eh lucu juga tuh! ‘pikir sebelum publish’! :D

on October 30th, 2009 at 2:04 pm Introverto Says:

Tenang taa…dirikyu sama kayak kamu dah pernah ngerasain dua2nya…hihihihihihi…jungkir balik mikir dua2nya juga udah :D :D

happy writing darling…thanks for all advices in your good postings…

mbakDos: ah, kalo udah pernah ada di dua pihak yaa.. pastinya paham dong ya ;-) slamat menulis!

on October 30th, 2009 at 2:07 pm elia bintang. Says:

kl di kampus mah orang pakaiannya ga matching, diketawain abis2an.. *komen ga nyambung*

sebenernya sih mnrt gw, selama ga menyinggung orang lain, menghina, atau merendahkan, ya bebas2 aja..

penulis itu kan berhak menentukan segmennya sendiri. gitu :mrgreen:

mbakDos: selama nggak menyinggung orang lain, ya bebas-bebas aja.. nah bebasnya itu yang kadang-kadang mungkin kurang dipahami dengan baik ;-)

on October 30th, 2009 at 7:03 pm didut Says:

mungkin itu kali yah yg membuat saya menghindari menulis hal-hal yang bisa membuat ribet :P … kecuali soal isu lingkungan keknya buat yg lain saya tidak terlalu menonjolkan opini pribadi, kecuali tentang diri sendiri tentunya :)

mbakDos: hihihi ribet sih ya dut pastinya, tapi mudah-mudahan justru bikin kita makin kreatif untuk nulis.. kreatif mikir gimana cara nulis yang ‘sopan’ tapi pesannya tetep nyampe ;-)

on October 31st, 2009 at 7:45 am Koko Says:

Penulis seharusnya memang menuliskan yang dia mau dan tidak memikirkan apa yang publik pikirkan. Karena yang paling penting untuk dipuaskan dalam sebuah tulisan tentu saja adalah penulis itu sendiri.

Menulis karena memang suka menulis, tapi kalau misalnya ada yang tidak suka dengan tulisannya, well, you can’t please anyone.

mbakDos: kalau anda berpendapat bahwa orang lain seperti seekor monyet, apakah itu salah? rasanya tidak, karena itu ‘kan hak pribadi anda untuk berpendapat. tapi jika anda mengatakan di tengah khalayak umum bahwa orang itu seperti monyet, itu jelas lain ceritanya, bukankah?! ;-)

on October 31st, 2009 at 10:48 am queen Says:

ini yang disebut but but but :grin:

begitulah, ukuran baju tiap orang memang beda. g bisa diukur dipundak yang sama. yang menurut kita biasa buat orang lain bisa jadi spekta.
kalu mau berpendapat juga ada aturannya, bilang ndak suka bisa dengan banyak cara. akan labih baik kalu pake pemilihan kata biar aman sentosa.

makanya manusia dikasi akal en perasaan, jadi beda sama mamalia lainnya. pislobengaullha..

mbakDos: aiihhh.. keren pantunnya! :D eh itu pantun kan ya?! *dilempar sedotan*

on October 31st, 2009 at 2:04 pm Yohanes Han's Says:

Seperti seorang Pemain Pedang Kenjutsu berlatih;

pertama… dia akan berlatih didepan cermin sampai “merasa” mahir. kemudian dia akan menunjukkan kpd sang guru utk minta pendapat.

ke dua… dia akan berlatih kembali didepan cermin sampai “merasa” mahir. kemudian dia akan menunjukkannya kembali kpd sang guru utk minta pendapat.

ke tiga… dia tetap akan kembali berlatih didepan cermin sampai “merasa” mahir. kemudian dia akan menunjukkannnya kembali kpd sang guru utk minta pendapat.

ke empat…. dia akan terus berlatih didepan cermin sampai sang guru akhirnya berkata, “bagus……”

Kemudian dia akan menunjukkannya kepada sang lawan sambil bertanya, “pantaskah saat ini aku melawanmu.”

mbakDos: *menanti suhu yo mengatakan, “bagus…”* :D

on October 31st, 2009 at 7:32 pm Arham blogpreneur Says:

komen diatas pada panjang panjang yah :-D

kalo disarikan bisadibilang eksis di dunia maya, ngebuat kita jadi PR diri sendiri … bgtu kan yah

mbakDos: sebenernya nggak selamanya buat diri sendiri sih, tapi lebih buat orang lain juga ;-)

on November 1st, 2009 at 1:50 am beby yovist Says:

emang susah ya jika mencari batasan tentang perasaan, apalagi itu perasaan orang lain. becanda diwaktu yang salah jg bisa menyinggung perasaan orang lain. dan lagi, apa yang disampaikan penulis belum tentu sama dengan apa yang diterima pembaca. persepsi orang kan beda2. tul gak mbok… eh salah mbak makcudnya *jgn tersinggung ya.. waktu becandanya benar gak sih….:)

mbakDos: sebagai sesama manusia sih paling nggak, tahu lah ya batasan minimum mana yang menyinggung dan mana yang nggak, dan mungkin bisa mulai dari situ aja ;-) hahahahaha kalo cuma segitu doang sih nggak menyinggung kali aahhh :D

on November 1st, 2009 at 3:08 pm kucing_usil Says:

batasan-batasan kewajaran itu yang masih coba saya raba, sampai di batas mana yang wajar mana yang udah keterlaluan

mbakDos: banyak-banyak baca blog bisa membantu menemukan batasan ini kok ;-)

on November 2nd, 2009 at 8:29 am clingakclinguk Says:

suka tulisan ini, menyadarkan bahwa sopan santun itu ternyata masih diperlukan di dunia yang konon tanpa batas ini

mbakDos: ah, kau pasti paham betul maksudku ‘kan, cling? ;-)

on November 2nd, 2009 at 9:25 am Riki Pribadi Says:

kalo menurut gue, rasanya ga cocok antara analogi yg diberikan dengan kasus prita. Analogi yg mbak dos berikan hanya sebatas individu dengan individu, sudah jelas individu yg tidak matching tadi tidak punya badan hukum, tidak ada sangkut pautnya dengan hajat hidup orang banyak, dan rasanya terlalu sepele untuk meributkannya

Tapi individu dengan badan legal seperti RS OOOO, bisa lain hitungannya.

Di RS OOOO, ada dokter yg bekerja disana. Ada perawat yg bekerja disana. Ada kredibilitas yg mesti dijaga disana. Dan juga ada uang yg diharapkan tetap mengalir dari sana. Dengan adanya tulisan dari bu prita, sudah jelas sedikit banyak akan “mengancam” ritme yg udah ada di sana.

Tapi, bu prita juga berhak mendapatkan keadilan.

Kalo gue sendiri sih, lebih memihak bu prita. Tapi intinya, masalah seperti itu, ga bisa disederhanain seperti ini…

Just my 2 cents….btw fotonya ganti toh…ermmm…..lebih….

mbakDos: memang nggak pernah ada masalah yang sederhana kok.. kalo sederhana dan bisa diselesaikan dengan mudah, pastinya nggak akan jadi masalah ‘kan?! ;-) soal kasus Ibu Prita, jelas saya nggak bermaksud untuk menggeneralisir atau bikin analogi sesederhana itu. analogi yang saya buat ini memang bukan untuk kasus Ibu Prita kok ;-)

on November 2nd, 2009 at 8:21 pm hopgusrak Says:

@riki: mas mas… kayanya salah baca tuh… :D

mbakDos: lhaaa dijawab! :mrgreen:

on November 3rd, 2009 at 9:55 am Riki Pribadi Says:

salah ya??? yaaaa…maaf deh kalo gitu….masih kebawa kisruh soal bu prita soalnya….maju terus bu prita!!!!

mbakDos: hahaha gak apa-apa kok :)

on November 4th, 2009 at 1:26 am antyo rentjoko Says:

Setuju sama Dilla.

Dalam opini saya, sebetulnya setiap orang sadar mana posting soal pribadi di blog, Twitter, dan FB yang “rawan gunjing”. Memang ukuran setiap orang beda tapi saya yakin kesadaran itu ada.

Kekecewaan, kejengkelan, dan kemarahan timbul setelah respon yang didapat tak seperti yang diharapkan. Misalnya pergunjingan dan ledekan yang kebablasan dari orang lain. Padahal yang diharapkan adalah ucapan selamat, sedikit iri dengan banyak turut bahagia, plus ledekan mesra. Lha tujuan pamer kan itu? ;)

Memang sih ada juga “faktor orang lain”. Kitanya sudah berhati-hati pun tetep kena serangan. ;)

mbakDos: termasuk itu juga sih, paman.. kita juga pastinya tahu kan mana-mana aja yang akan memancing respon orang lain, jadi yaaa memang harus siap dengan konsekuensinya ;-)

on November 5th, 2009 at 12:54 am M D Suryana Says:

Kita memang mesti lebih bijak jika menulis di ruang publik. Biarpun yang jadi editor diri kita sendiri.
Salam kenal ya Bu Dosen.

mbakDos: lebih bijak, iya banget ;-) salam kenal jugaa.. makasih ya udah mampir..

on November 6th, 2009 at 9:02 am si kurus Says:

senengnya kalo bebas dalam menulis apa aja dan gak ada yg tersinggung.
Jika saya selalu saya umpamakan seperti kehidupan binatang, agar tak ada yg tersinggung.
Nice artikel

mbakDos: yah namanya juga hidup sama binatang eh.. orang lain, bukankah?! ;-) makasih yaaa :D

on November 6th, 2009 at 1:16 pm sugianto Says:

wah wah apalagi saya yg biasa nulis blog tentang ilmu komputer yg saya pelajari. mudah2an tulisan2 orang dari blog lain atau forum yg saya contek tidak berkeberatan ya… lha kalo minta ijin dulu juga kelamaan ya.. belum tentu orangnya masih online juga sebenarnya.
apakah lebih baik cuplikan itu ga ditulis aja sumbernya? wah lebih ga manusiawi rasanya. hehehe ikut bingung ah

mbakDos: tulisan apapun yang udah dipublikasikan itu ‘kan pada dasarnya adalah karya cipta si penulisnya, jadi kalo ada penulis lain yang berniat menyadur atau ‘meminjam’ tulisan itu sih yaaa memang sebaiknya minta ijin DAN dituliskan juga sumbernya. karena biar gimana pun, itu ‘kan tulisan si penulis pertama, bukankah? ;-)

on November 7th, 2009 at 6:43 pm Aubrey Says:

**manggut2 sembari nyatet**

errr…emang kadang serba salah sih, ya-nulis di blog, kalo mau kumplen, mending ke orangnya langsung.

satu lagi, mestinya jika protes/kemarahan ditumpahkan di depan publik, harus dengan satu tujuan, bahwa agar orang lain bisa mengambil pelajaran dari apa yg dituturkan, bukan semata untuk menonjolkan diri si penulis
**apanya tho, yg nonjol?**

Duh, maap deh, permisi dulu ah, sebelum dipentung ama mbakDos :D

mbakDos: kemarahan itu ‘kan nggak harus disampaikan di depan orang lain tho, ‘kan urusannya antara pihak satu dan pihak dua, nggak perlu lah melibatkan pihak lain ;-) eeehhh apa itu nonjol-nonjol?? *lempar serbet* :mrgreen:

on February 12th, 2010 at 10:49 am dudukBERSILA » Blog Archive » cinta Cinta CINTA Says:

[...] saya sudah pernah membahas hal ini sebenarnya, jadi silakan langsung dibaca di halaman sana saja ya *biar nggak panjang bener tulisan ini, [...]

Leave a Reply