Kenapa Mereka, Bukan Kita?
Sama sekali bukan radio biasa yang bisa didengarkan melalui audio system atau handphone atau perangkat lain sejenis yang biasa digunakan untuk mendengarkan radio. Pertanyaan tentang ‘gelombang berapa’ pastinya akan kurang sesuai untuk diajukan tentang radio yang satu ini. Karena memang Kentang Radio hanya bisa didengarkan dengan teknik streaming melalui halaman Facebook mereka atau di halaman situs milik salah satu pembikinnya.
Mudahnya, radio ini hanya bisa didengarkan jika notebook atau komputer tersambung ke internet.
Setelah selama beberapa hari, iya.. (catat!) hanya beberapa hari, mendengarkan siaran mereka setiap malam, saya mulai menemukan beberapa fakta yang sangat menarik tentang radio ini.
Pertama, tentang penyiar.
Selama beberapa hari mendengarkan siarannya, baru pada malam ini saya menemukan bahwa ternyata ada seorang penyiar yang berbicara selama siaran berlangsung. Biasanya yaa.. memang hanya rentetan lagu-lagu saja yang terdengar.
Kedua, waktu siaran.
..yang sebenarnya tidak ada. Siaran radio ini bisa dimulai kapanpun mas dije-nya hendak memulai (bahasa mereka: bila mas dije sudah bangun) dan bisa diakhiri jika ternyata mas dije ini merasa bahwa pendengar siarannya sudah mulai berguguran atau bahkan sudah terlelap sejak tadi. Tidak ada batasan yang jelas kapan siaran dimulai dan kapan diakhiri.
Dan ketiga, jelas mengenai lagu-lagunya.
Mendengarkan siaran Kentang Radio, saya harus mengurungkan harapan bahwa saya akan menemukan lagu-lagu yang biasa saya dengar di radio-radio lain kala menempuh perjalanan berkeliling Jakarta bersama si hitam. Bukan pula lagu-lagu masa kini yang seringkali didendangkan oleh para pengamen di perempatan jalan raya atau di rumah-rumah makan. Di biografi singkat yang dituliskan di Twitter mereka, memang tertera bahwa musik-musik yang mereka perdengarkan adalah musik Oldies Indonesia, Indonesia Progressive Rock, Classic Rock, Glam Rock, dan sejenisnya.
Tetapi mungkin mereka lupa menambahkan keterangan bahwa musik yang akan ditemukan ketika mendengarkan radio ini memberi dampak mengejutkan.
Bagaimana tidak mengejutkan, jika di radio itu saya bisa menemukan lagu-lagu yang pada masanya sempat dibawakan oleh Paramitha Rusady, Rafika Duri, Gito Rollies, dan January Christy. Juga Bad English, Damn Yankees, Foreigner, Journey, hingga NKOTB, Basil Valdez, dan Debbie Gibson. Dan seperti malam ini, saya bahkan bisa mendengarkan lagu soundtrack film Bollywood! Iya, lagu India, dinyanyikan dalam Bahasa India!
Bisakah dibayangkan juga bahwa di tengah siang bolong, saya bisa mendengarkan radio ini menyajikan musik keroncong, yang dimainkan sendiri oleh para personel Kentang Radio?!
*Saat saya menuliskan ini, saya sedang mendengarkan lagu dari G’Brill yang berjudul Generasi Cemerlang. Saya bahkan tidak tahu band apa itu!*
Kurang mengejutkan bagaimana lagi coba?
Dan berbicara tentang kejutan, saya benar-benar belum bisa menyanggah pendapat saya sendiri bahwa radio ini sungguh sangat fasih dalam menyajikan kejutannya. Bukan saja dalam pilihan lagu-lagunya atau tema-tema yang dilontarkan dalam tiap siaran, tetapi juga dalam menuliskan status di Facebook dan Twitter.
Satu kalimat yang mungkin bisa menjelaskan: Out of the nowhere box!
Yang kelihatannya tidak bisa di sembarang tempat dan di setiap saat ditemukan.
Barang langka ini.
Bukan saja radionya, tetapi lebih langka lagi adalah mereka-mereka yang berdiri di baliknya sebagai penggagas berdirinya Kentang Radio.
Yang akan menjadi tidak terlalu mudah untuk menemukannya bagi kita – termasuk saya – yang mungkin lebih banyak menghabiskan waktu dan bergulat dengan yang itu-itu saja. Hal yang selalu sama dengan pola yang berulang. Pergi ke tempat yang sama, mengikuti kegiatan yang itu-itu juga, berkumpul dengan komunitas yang sama secara berulang, bertemu lagi dengan mereka-mereka yang tidak berbeda.
Hal yang kemudian membuat kita menjadi lebih sulit untuk menoleh ke arah lain lantaran merasa bahwa yang sudah ada inilah satu-satunya yang menarik. Juga merasa bahwa apapun yang ada di tempat kita berada sekarang inilah tempat di mana kita bisa menemukan segalanya.
Lalu lupa bahwa masih (sangat banyak) yang ‘lebih’, yang bisa ditemukan di luar sana.
Dan ketika menemukan suatu hal dari dunia luar sana itu yang ternyata menarik, maka akan muncul pertanyaan, “Eh, ada ya yang kaya’ gini? Kok gue bisa nggak tau sih?”
Yang lebih patut untuk disesalkan lagi, bukannya berusaha untuk keluar saja dari lingkaran yang selama ini dihuni agar kemudian bisa menikmati ketertarikan terhadap hal baru itu, malahan justru bermaksud membuat sesuatu yang mirip agar bisa dinikmati tanpa harus beranjak dari lingkaran yang sama. Dengan harapan bahwa kita tetap bisa menikmati hal yang sekiranya sama menariknya, tetapi tidak akan membuat kita meninggalkan lingkaran tempat kita semula berada.
Apakah ada yang salah dengan menemukan sesuatu yang menarik tapi berasal dari luar komunitas kita? Apakah salah jika menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh orang lain selain komunitas kita itu memang lebih hebat?
Apakah memang menjadi salah ketika mengetahui bahwa memang lingkaran tempat kita berada itu ternyata belum bisa melakukan apa yang dilakukan oleh orang di luar sana?
Jika pertanyaan-pertanyaan itu diajukan kepada saya, maka jawaban saya hanya satu: TIDAK. Tidak ada yang salah.
Tapi mungkin memang tidak menyenangkan.
Terlebih ketika mengetahui bahwa kita eh.. maksudnya saya, tidak sehebat itu. Bahwa masih ada (banyak sekali) yang jauh melebihi saya dan komunitas tempat saya berada.
Bahwa ternyata mereka yang memiliki sesuatu yang lebih ini adalah orang-orang yang rasa-rasanya belum pernah kita dengar. Eh, maaf. Saya saja mungkin, bukan kita.
Sama halnya dengan Kentang Radio.
Ketika mendengar namanya merambah jagad online, yang semula diduga dihuni oleh mereka-mereka yang sudah dikenal, menjadi demikian mengejutkan bahwa ternyata dimunculkan oleh orang-orang yang sama sekali tidak pernah diketahui siapa mereka.
Padahal, jika mau ditilik satu-persatu, mereka-mereka yang ada di balik Kentang Radio ini bukannya ‘bukan siapa-siapa’. Ada web designer kenamaan, ada animator yang diantri para produsen untuk membuatkan iklan, ada tukang gambar aka. desainer segala rupa yang perlu didesain, ada si ini dan si itu, dan yang jelas.. mereka semua jago bermusik (walaupun saya yakin kalau istilah ‘jago’ itu rasanya masih terlalu merendahkan kemampuan mereka dalam bermusik).
Membuat saya seketika merasa bukan siapa-siapa ketika mendengarkan siaran radio mereka. Membuat saya merasa bahwa pengetahuan saya tentang musik jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka-mereka ini.
Tapi di saat yang sama juga sekaligus membuat saya terus menggandrungi apa yang mereka buat. Membuat saya belum juga lelah menggilai apa yang mereka lakukan: Kentang Radio.
Yang mungkin – dan hampir bisa dipastikan – bahwa hal-hal semacam ini tidak akan ditemukan dan dinikmati jika masih saja disibukkan dengan keinginan untuk membuat hal yang sama, yang mirip, atau sekedar bisa menyaingi apa yang dimiliki oleh orang lain.
Berniat membuat sesuatu yang bisa menyaingi Kentang Radio?
Saya pribadi sih tidak yakin bisa melakukannya. Butuh pengetahuan, kemampuan, sense bermusik, dan ‘kegilaan’ dalam satu paket untuk bisa seperti mereka. Untuk bisa melakukan apa yang mereka lakukan.
Jadi yaaa.. kenapa tidak dinikmati saja hasil karya mereka?
PS.
`eh, saya pernah bilang kalau saya tidak tahu siapa orang-orang di belakang Kentang Radio itu ya?! nggg.. yaaa anggap saja setelah saya menulis ini, saya tiba-tiba ingat siapa mereka ![]()
`kata siapa ini paid review? bukannya komisi, yang ada saya malah diberi IJIN untuk membuat tulisan ini! ![]()



26 Responses
jadi penasaran *searching searching*
mbakDos: ayoh, dut! ikutan dengerin!
wogh! Paramitha Rusady, Rafika Duri, Gito Rollies, dan January Christy?
tapi benar. untuk berpikir ke arah situ saja, memang butuh cara pandang yang tidak biasa dan visi yang luar biasa. antara luar biasa liar, atau luar biasa iseng. atau mungkin juga gabungan keduanya.
yang jelas, saat seseorang “menerbitkan” suatu karya, dia mempunyai tujuan tertentu. bagi saya, tujuan itu memiliki 2 arah yang generik: 1. membuat suatu pernyataan; atau 2. Bener2 ga ngerti apa yang mereka lakukan.
mengingat mereka adalah orang2 hebat dibidangnya, nomor 2 bisa langsung dicoret. jadi, itu pernyataan yang mempunyai makna mendalam, atau hanya pernyataan yang mencari perhatian?
mbakDos: mencari perhatian? rasanya sih kalo buat mereka-mereka ini udah lewat masanya. udah cukup jadi pusat perhatian di mana-mana kok
Aaahhh… akuuuu senanggggg…. t’rima kasiihh yaa…
mbakDos: aahhh aku juga senang kok, kakak! makasih juga ya udah memberi IJIN!
Koreksi sedikit buat poin Kedua tentang waktu siaran. Kentang radio siaran tidak tergantung “mas dije nya sudah bangun…” tapi tergantung “niat mas dije…” begitu juga hal nya dlm mengakhiri waktu siaran. Tapi kadang2 tergantung baik tidaknya koneksi internet pada saat siaran pastinya.
Thanks
mbakDos: hehehehe.. niat mas dije?? luar biasa memang Kentang Radio ini! *menjura*
jadi,kenapa namanya kentang?
mbakDos: coba kakak-kakak KENTANG, ini pertanyaannya dijawab
wah alternatif bagus buat diriku yang ndak punya radio analog
mbakDos: eh, beneran ini alternatif yang oke banget untuk dicoba lho!
jadi penasaran dengan si kentang,
onlen ah onlen …
wait for me, mr kentang,
eh beneran mister kan ya ?
mbakDos: hihihi udah dengerin juga ‘kan, oom?! seru, bukankah?!
Berikutnya sebuah lagu yg berjudul No Woman No Cry … yang artinya Tidak Wanita, Tidak Menangis.
Mana URLnya?
mbakDos: tidak wanita, tidak menangis. dirimu masih laki-laki, bukankah?! jadi…
iihhh itu URL ada di tulisan ‘Kentang Radio’ di baris pertama deeehh!
Kentang=kena tanggung?
maksudnya, emang slalu naggung dan bikin penasaran, jadi mbikin kita pengen dengerin lagi dan lagi..hihihi**kayak iklan**
oya, mbakDos, baru ini dirikuh berani meninggalkan jejak *halah*
biasanya jadi silent reader dimana2
mbakDos: hahaha iya juga kali ya, biar dengerin terus tuh!
eh akhirnyaaaaa.. ngasih komen juga! hihihi
menyenangkan jika berada dalam komunitas yg seiman dan banyak di dengar orang. Membuat sesuatu yg bisa bikin orang tertawa, senyum bahkan inspiratip memang menyenangkan
mbakDos: yaa mudah-mudahan sih orang-orang yang di dalam komunitas itu nggak trus nutup kuping dan mata terhadap hal-hal yang di luar komunitasnya
Kenapa namanya Kentang…?? Karena akan berbeda bila pada awalnya bernama Pepaya atau mungkin Kotak…, apalagi Kotak Kecil. Jadi memang lebih baik namanya Kentang, dan anda semua yg sudah memilih untuk menjadi pendengar setia Kentang Radio adalah Anak Kentang yang tidak kalah dari Anak Singkong. Kurang lebih demikian Kentang menjawab.
mbakDos: hidup, Anak Kentang!!
saya bangga terhadap kentang radio.. maju terus perkentangan *duuut
mbakDos: hahahaha.. maju, Anak Kentang!
Menarik. Barangkali ini bisa mengembalikan mata rantai sejarah yang terselip entah di mana. Beberapa kali saya menulis tentang musik lama, dan dapat respon, “Gak ngerti (=gak penting). Sy kan blom lair.” Lha sebagian musik, dan karya lain yang saya nikmati, juga ada sebelum saya lahir.
Gpp, begitulah cara “ngeles” anak muda. Misalnya kenapa ada yang gak ngerti Guruh Gipsy dan Yockie.
Soal menarik lainnya adalah kekuatan jejaring sosial. Saya ingin melihat apakah peer group juga berperan. Karena teman lain berkentang-kentung radio, maka bisa saja ada yang ikutan atas nama rasa ingin tahu dan… gawul.
Kalo bener gitu, itu juga bafus. Ada jendela buat kenal sejarah.
mbakDos: tapi iya banget lho, paman.. karena denger Kentang Radio ini, saya jadi tau lagu-lagu jamannya paman dulu *halah*
dan yang lebih hebatnya lagi, kaya’nya perpustakaan musiknya mereka-mereka yang punya radio ini edan-edanan deh! pada tau aja gitu lagu yang.. apalah itu
me love kentangradio!
mbakDos: *salaman, mbok!*
kl dari pilihan lagunya, kyknya gw kurang tertarik ya tha.. tapi kl dari cara marketingnya bagus banget. sekarang pasar udah datar. evan brimob aja terkenal dalam sehari, apalagi kentang radio
mbakDos: hahaha marketing apaan? ngg.. gue kok gak yakin ya mereka mikirin soal marketing-marketingan gitu?!
oalah, pantesan, ternyata jam siarannya suka-suka kakak dije toh? pernah pas pertama nyoba langsung bisa kedengeran ada suara lagu-lagu, tapi besoknya nyoba lagi eh ndak ada suara apa-apa.
trus, saya bukanya pake browser flock, setiap buka bgitu, tak lama kemudian muncul pesan error browser dan browsernya pun menutup sendiri, barangkali ada tips n trik supaya bisa denger kentang radio dengan lancar, aman dan nyaman sentausa dari kentangradio atau mbakdos?
mbakDos: cobalah ditanyakan langsung aja sama Kakak Kentang itu, cling.. kalo gak salah sih memang mereka agak kurang bersahabat dengan beberapa browser deh, salah satunya safari. nggak tau kalo flock ya..
Ada Endang S Taurina ndak?
mbakDos: coba diminta, biasanya sih ada
saya tergelitik dengan kalimat,
“Apakah ada yang salah dengan menemukan sesuatu yang menarik tapi berasal dari luar komunitas kita? Apakah salah jika menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh orang lain selain komunitas kita itu memang lebih hebat?
Apakah memang menjadi salah ketika mengetahui bahwa memang lingkaran tempat kita berada itu ternyata belum bisa melakukan apa yang dilakukan oleh orang di luar sana?”
saya juga mengatakan tidak ada yg salah. apalagi saya sbg penganut faham tidak resmi yg bernama “Beyond Exploration”, beranggapan bahwa yg namanya eksplorasi diri itu melebihi batasan komunitas, latar belakang dan pandangan pribadi.
hanya kadang memang bisa menimbulkan “kesan tertentu” dari komunitas kita / orang2 sekeliling kita.
BTW, kok dari laptop saya ga bisa keluar suaranya ya. apa butuh player khusus? padahal di laptop saya udah terdapat segala macam player
mbakDos: hihihi iya sih, “kesan tertentu”
naahh kalo soal browser, ngg coba ditanyakan langsung pada yang bersangkutan aja ya
Kadang ngeblog pun kita gak berani keluar dari lingkungan. Kalau saya perhatikan dari blog ke blog yang komen itu-itu saja.
Cirinya gampang diliat, cukup buka satu seleb blog yang jadi pentolannya maka akan kelihatan siapa yang termasuk lingkungan itu. Lalu coba buka lagi blog seleb blog lain (yang ndak ada hubungannya dengan seleb blog pertama) maka akan ada kumpulan lain yang juga saling mengomentari.
Tapi sangat jarang saya melihat adanya persilangan diantara kelompok-kelompok ini. Kecuali mungkin blog saya yang suka nemplok sana dan sini
Rasanya memang susah untuk keluar dari lingkungan. termasuk dalam hal selera radio
mbakDos: iya.. berharap kalo yang mendengar Kentang Radio itu memang bener-bener pengen dengerin, bukan cuma ikut-ikutan aja.. tapi yaaaa.. gimana ya
generasi sekarang harus dihajar oleh lagu2 dulu dan dari berbagai genre, termasuk keroncong
hail kentang!!!
mbakDos: hail anak kentang!!
[...] tulisan tentang Kentang Radio dimunculkan di sini beberapa saat lalu, beberapa pertanyaan dari teman-teman mulai bermunculan [...]
ndak masuk di seleraku blas… *emang seleraku kampungan*
*nangis*
mbakDos: coba sering-sering didengarkan deh, dit.. ada saat-saatnya mungkin akan sesuai dengan seleramu
loves it!! \m/\m/\m/
mbakDos: me too!!!
Ooo..pantesan..lo sering bgt kan nulis tweet soal lagu2 kentang radio yg bikin lo berdarah2,mimisan or whateverlah,haha..yg pasti jd pnasaran gw..terutama sm lagu2 barat yg jadulnya..
mbakDos: umur lo udah setua itu ya gis, sampe pengennya denger lagu-lagu jadul?!
ancur banget ini radio, sekaligus memorable..i love it. Generasi gue banget he he
mbakDos: yaaahhh mas iman sih ngomongin generasi, kan saya juga jadi berasa setua mas iman!
menunggu toat radio…
mbakDos: hah? toat radio apaan neng?