1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Bukan (Lagi) Soal Imbalan

Sejak tulisan tentang Kentang Radio dimunculkan di sini beberapa saat lalu, beberapa pertanyaan dari teman-teman mulai bermunculan berkaitan dengan radio yang satu itu.

Mulai dari pertanyaan-pertanyaan yang bersifat teknis seperti bagaimana bisa mendengarkan siarannya, diperkenankan meminta (baca: request) lagu atau tidak, musik-musik apa saja yang bisa ditemukan di sana, atau jam berapa siaran dimulai dan diakhiri. Ada juga pertanyaan lain seperti sejak kapan radio ini mulai berdiri atau tujuan dimunculkannya radio tersebut.

Berbagai pertanyaan yang sebenarnya agak sulit untuk saya jawab.

Jelas, karena saya juga hanyalah salah satu Anak Kentang (sebutan bagi pendengar Kentang Radio) dan sama sekali tidak terlibat dalam aktivitas di balik radio itu. Hanya saja, secara kebetulan usia saya sebagai seorang Anak Kentang (eh, ini harusnya disebut ‘seorang’ atau ‘sebuah’ ya?!) memang lebih tua, mungkin hanya beberapa hari. Saya sudah lebih dulu mendengarkan siarannya sebelum teman-teman yang lain. Dengan demikian, ketika pertanyaan itu diajukan kepada saya, jawaban yang saya berikan tentunya hanya berdasarkan apa yang pernah saya alami, yang memang seringkali harus saya teruskan lagi kepada pihak Kentang Radio untuk memperoleh jawaban yang tepat.

Satu pertanyaan terbaru yang saya terima, adalah mengenai siapa-siapa saja sebenarnya orang-orang yang ada di belakang Kentang Radio ini – yang memang pernah saya sebutkan sebagai orang-orang yang bukannya ‘bukan siapa-siapa’ itu.

Baiklah. Saya bisa saja menjawab pertanyaan ini, karena saya cukup tahu beberapa di antaranya (atau semuanya, saya sendiri tidak yakin).

Tetapi, saya menolak untuk memberikan jawabannya. Karena sampai saat ini pun Kentang Radio sendiri tidak pernah mencanangkan kepada khalayak ramai mengenai orang-orang di belakangnya, sehingga rasanya bukan urusan saya untuk memberikan informasi mengenai hal itu.

Jadilah saya minta si teman yang mempertanyakan hal itu untuk secara langsung saja menanyakan kepada mereka, tentunya melalui halaman Facebook, chat box, atau Twitter Kentang Radio.

Walaupun saya juga tidak yakin bahwa mereka akan memberikan jawaban (yang diharapkan).

Namun demikian, di antara sekian banyak pertanyaan mengenai Kentang Radio, ada satu pertanyaan yang menarik. Saya tahu bahwa sesungguhnya si teman mengajukan pertanyaan ini hanya dengan maksud bergurau, melucu, walaupun tidak bisa disangkal bahwa ada keingintahuan yang terselubung. Mungkin berharap bahwa jawaban saya akan meredam rasa penasarannya.

Tentang nominal bayaran yang saya peroleh atas promosi yang saya lakukan terhadap Kentang Radio.

Kontan, saya tertawa mendengarnya.

Rupanya tulisan berukuran kecil di bagian akhir kemarin itu belum cukup dipercaya olehnya. Bahwa tulisan mengenai Kentang Radio itu sama sekali bukan paid review dan saya tidak menerima apapun sama sekali dari mereka, selain perijinan. Iya, perijinan bahwa saya diperbolehkan menulis tentang Kentang Radio, yang sengaja saya minta kepada mereka secara langsung sebelum saya membuat tulisan itu.

Lantas ketika si teman ini mengetahui fakta bahwa Kentang Radio semakin dikenal dan didengarkan oleh banyak orang, serta mulai dibuat tulisannya juga di beberapa tempat seperti di sini dan di situ – setelah mereka mengetahui dari saya – ia semakin tidak percaya dengan penjelasan yang saya berikan sebelumnya. Ia tetap bersikukuh dengan pendapatnya bahwa pastilah ada sesuatu yang saya terima sebagai imbalannya.

Hal ini mengingatkan saya pada peristiwa beberapa saat lalu.

Ketika saya membuat sebuah tulisan mengenai pelayanan yang sangat memuaskan yang saya terima dari sebuah bank kenamaan di jagad Indonesia ini. Saat saya tidak hanya mendeskripsikan pelayanan yang diberikan, perasaan yang timbul sebagai akibatnya, tetapi juga secara terang-terangan menyebut nama bank itu dan cabang di mana saya menerima layanan mereka.

Dengan nada bergurau (tetapi mungkin juga setengah menyelidik), pertanyaan-pertanyaan serupa diajukan kepada saya. Tak lain tak bukan, adalah mengenai nominal yang saya terima sebagai imbalan atas apa yang saya tuliskan.

Dan dengan naifnya saya malahan balik bertanya, memangnya kenapa kalau saya membuat tulisan yang bermaksud mengedepankan hal-hal positif tentang sesuatu dan saya tidak dibayar untuk itu?

Saya merasa benar-benar puas dengan pelayanan yang diberikan oleh bank tersebut kepada saya. Hal-hal yang mungkin sangat sederhana, seperti sapaan selamat datang, pengetahuan yang luar biasa mengenai produk perbankan bahkan oleh mereka yang bertugas sebagai penjaga keamanan, kecepatan pelayanannya, dan hal-hal sepele lainnya. Tetapi justru hal-hal yang terkesan tidak penting itulah yang sangat mengesankan saya.

Kasus yang berbeda dengan Kentang Radio.

Secara tiba-tiba saya menemukan radio ini, yang luaaaarrr biasa.. ah, apa namanya ya?! Luar biasa lah, pokoknya! Sebuah radio yang lahir dari ketidak-wajaran, mungkin juga membantah norma-norma yang sudah ada mengenai sebuah radio (dengan teknik penyiarannya, waktu siarannya, mainstream music-nya, dan sebagainya), tetapi menghasilkan sesuatu yang – buat saya – jenius! *masih sulit mempercayai fakta bahwa beberapa musik yang disiarkan itu diputar masih dengan menggunakan media piringan hitam!*

Melalui dua pengalaman yang berbeda, tetapi sama-sama luar biasa, baik tentang layanan perbankan yang saya terima maupun tentang radio jenius itu, saya pribadi merasa sangat wajar bila saya membagikan apa yang saya rasakan.

Tanpa saya perlu menerima imbalan apapun dari mereka.

Terdengar naif, ya?

Yah.. saya tahu.

Namun, walaupun memang terkesan naif, saya masih memegang prinsip yang sama, entah sejak berapa lama – saya tidak tahu persis.

Buat saya, jauh lebih bermakna dan menyenangkan untuk membagikan hal-hal yang – bisa disebut – positif. Pengalaman yang memuaskan, menggembirakan, membuat saya bisa tersenyum ketika mengakhiri hari dan merasa yakin bisa menghadapi keesokannya dengan sesuatu yang juga menyenangkan.

Yang rasanya akan sulit dialami ketika saya justru lebih sibuk memperhatikan dan membagikan hal-hal yang mengganggu saya. Misalnya saja tentang kekesalan terhadap institusi tertentu yang tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan saya, kejengkelan atas sikap seseorang yang tidak masuk akal, atau mungkin kemarahan terhadap orang lain yang perilakunya dinilai tidak sopan.

Dan yah.. pada akhirnya saya memang tidak merasa segan untuk membagikan pengalaman menyenangkan itu kepada orang lain, bahkan menggunakan media apapun yang memungkinkan agar semakin banyak orang yang bisa menjangkau cerita mengenai pengalaman saya itu.

Saya tidak perlu menanti imbalan hanya untuk membagikan kesenangan dari pengalaman yang saya rasakan.

Karena – disadari atau tidak – apa yang saya peroleh, sudah jauh lebih dari cukup dibandingkan sekedar imbalan berupa nominal rupiah, bayaran, honor, atau apapun itu: yaitu pengalaman itu sendiri.

23 Responses

on November 10th, 2009 at 8:32 pm didut Says:

hahaha~ ada ada aja ya mbak :)

mbakDos: hehehe bukan ada-ada aja, dut. tapi banyak :D

on November 10th, 2009 at 8:36 pm dita.gigi Says:

kalau yg jelek boleh sharing, yang bagus justru harus lebih boleh domz… seperti si kentang ini

kenapa ya suka banyak yg salah sangka, kalo muji2 aja, dikira dibayar… :lol:

mbakDos: nah, itu juga pertanyaanku dit :P

on November 10th, 2009 at 9:50 pm iin Says:

wah kalo gitu udah bisa dong sekalian dimasukkin Redaksi Yth atau Surat Pembaca harian ternama Ibukota? hehe atau jgn2 masuknya ke Tajuk Rencana? :D :D

mbakDos: hahahaha nanti makin gak percaya kalo gue gak dibayar dong?! :D

on November 10th, 2009 at 10:32 pm Chic Says:

belum bisa menemukan cara gimana si kentang ini bisa didengarkan di mekbuk ku. dari kemaren ga ada suaranya muluuuuu… :cry:

mbakDos: iya chic, kata mas dijenya sih, kentang belum bersahabat sama safari. coba firefox, IE, atau chrome deh..

on November 10th, 2009 at 10:52 pm warm Says:

kadang berbuat baik pun dikira masih pake pamrih..
generalisasi yg tidka pada tempatnya euy

bikin orang seneng, itu bayaran yg tak terhingga, kan ?

mbakDos: iya banget! tapi sebenernya nggak bisa sepenuhnya disalahin ke mereka juga sih, mungkin memang selama ini budaya yang terbentuk ya begitu ;-)

on November 10th, 2009 at 11:25 pm hedi Says:

Di ranah cyber Indonesia, makin lama akan makin sulit ber-anonymous. Ketika seseorang melejit ke permukaan dan memasang bendera makin tinggi, maka semua orang akan mencari siapa dia :D

mbakDos: hahaha iya siihh.. mari kita lihat aja seberapa lama si kentang bisa bertahan dengan anonimitasnya ;-)

on November 11th, 2009 at 2:54 am elia bintang. Says:

gw jadi pengen ikutan latah bikin radio.. haha :mrgreen:

keren konsepnya, ga konvensional..

mbakDos: wooohhh lataaahhh!! :mrgreen:

on November 11th, 2009 at 7:55 am bukan facebook Says:

susahnya hidup dijaman yang semuanya butuh imbalan yah begitu mba… :D

mbakDos: iya ya ternyata :|

on November 11th, 2009 at 8:30 am clingakclinguk Says:

hahahaha…kita lebih siap mendengarkan hal-hal negatif, berupa keluh-kesah, komplain, protes, dsb, itu terdengar lebih wajar dan normal daripada sebuah pujian, yang selalu dianggap ada pamrih di baliknya.

susah ya, ngeblog klo isinya keluhan semua, nanti diprotes, kok bisanya ngeluh melulu, giliran muji, dibilang demi nyari imbalan *menggemaskan*

mbakDos: hehehe.. saya sih lebih milih untuk dituduh nerima bayaran padahal nggak, paling nggak ‘kan saya udah bikin orang seneng dengan baca tulisan-tulisan saya. daripada yang isinya cuma ngeluh mulu :P

on November 11th, 2009 at 10:02 am zam Says:

yah.. namanya juga orang “kota”. apa-apa dinilai dengan uang. la kencing di terminal aja bayar!

mbakDos: there’s no such thing as a free lunch ya, zam?! ;-)

on November 11th, 2009 at 4:56 pm venus Says:

masih love si kentang!!! ahay ahay!!! :D

mbakDos: I love you too, mbok! :mrgreen:

on November 12th, 2009 at 7:52 am Mbilung Says:

radio kentang jayaaaa…suka sekali *dan saya ndak dibayar untuk bilang begini*

mbakDos: saya sudah menduga kalo dirimu pasti salah satu yang akan menjadi anak kentang sejati, pakdhe!! :mrgreen:

on November 12th, 2009 at 10:37 am tyke Says:

iya mbakDos, menurut saya jg adalah suatu hal yg wajar kalo kita dipuaskan oleh pelayanan bank/ rumah makan/ atau apapun produk atau jasa yang kita terima, trus kita promosikan sampai kemana-mana.

orang jawa bilang: GETHOK TULAR. orang padang bilang : Anda tidka puas- katakan pada saya. anda puas- katakan pada orang laen.

*manggut-manggut*

mbakDos: hehehe mungkin gethok tular itu budaya yang mesti dikenalkan lagi sama orang-orang ‘kota’ tuh ;-)

on November 12th, 2009 at 1:47 pm beby yovist Says:

lanjutkan aja mbak……
biar org mau kata apa…
selagi itu baik knp gak…… :)

mbakDos: setubuuhhh!! :mrgreen:

on November 12th, 2009 at 4:52 pm Anneke Priskila Says:

meski banyak orang yang tidak percaya, tapi saya tetap percaya kog sama mbak… ;)

mbakDos: aaahhh dirimu baik sekaliiii.. aku jadi maluuu *halah* :D

on November 12th, 2009 at 11:26 pm zulhaq Says:

kepuasan bathin memang takan pernah tergantikan oleh rupiah

mbakDos: iya banget! yaa mudah-mudahan sih bukan saya dan dirimu aja yang beranggapan begitu ;-)

on November 14th, 2009 at 11:22 pm queen Says:

lha namanya juga udah puas y berkoar biar sampe lemas juga ndak merasa cemas,,

majooo terooosss kentang indonesia :lol:

mbakDos: maju terooossss anak kentang!!! :mrgreen:

on November 15th, 2009 at 6:25 pm arham blogpreneur Says:

Justru itu dia kelebihan blogger. mereka memberikan suara hatinya dengan independensi + passion didalam tulisannya. Suatu unique point jika dikaitkan dengan internet business dibanding media vertikal. karena ngak salah kalau Tulisan blogger lebih dipercaya dibanding newspaper atau bahkan televisi

mbakDos: lha trus kenapa mesti ada pertanyaan, “dibayar berapa?” :|

on November 16th, 2009 at 10:10 pm Pitra Says:

Padahal @mbakdos ini termasuk blogger yang anti advertorial. (hihi tau wong beliau nolak saya kasih advertorial).

Jadi yakinlah kalau apa yang ditulis @mbakdos di blog ini murni adalah pendapat dari hati nurani @mbakdos itu sendiri.

mbakDos: hahaha rahasianya dibuka di sini sih, oom?! :mrgreen: anyway, makasih yaaa :)

on November 17th, 2009 at 4:40 am Domba Garut! Says:

Memang kadang ditengah dunia yang notabene sarat dengan kritik pedas dan seruan negatif, kadang sambutan positif atau sebagainya selalau dicibir sarat dengan muatan iklan.. ya paid reviewlah dlsb.. biar saja, neng.. positivity is a state of mind :D

mbakDos: agreed. positivity is a state of mind :)

on November 18th, 2009 at 4:54 pm Omiyan Says:

Kunjungan disore hari mencari sahabat baru…

mbakDos: terima kasih banyak sudah dikunjungi yaa :)

on November 19th, 2009 at 9:20 am Anil Devdan Says:

Percaya atau nggak, model radio seperti ini akan happening di masa-masa mendatang, saat orang lebih banyak aktif berinternet daripada mendengarkan radio asli atau menyimak televisi.

mbakDos: mmm.. we’ll see :)

on November 24th, 2009 at 5:40 pm herry Says:

nais mbak tulisannya…
mau dibuatin script radio kentang buat di pasang di blognya…???

di blogku sudah ada radio lain soalnya :)

mbakDos: wah, saya sih nggak perlu lah.. saya lebih suka mendengarkan mereka dari tempat muasalnya kok :)

Leave a Reply