Sulitnya Mengantri
Di hari-hari biasa, rasa-rasanya saya tidak akan se-spaneng ini mengendarai si hitam sepanjang mengelilingi kota Jakarta. Dengan keriuhan lalu lintas khas malam hari di kala semua orang meninggalkan tempat kerja, rutinitas yang sebenarnya bukan baru sekali-dua kali ini saja saya temui. Nyaris sepanjang hari.
Tapi rupanya kondisi fisik yang sedang tidak sebaik biasanya mengakibatkan penurunan batas toleransi saya. Tentunya, terhadap kondisi lalu lintas itu.
Saya sama sekali tidak mau mengalah memberi jalan kepada sepeda-sepeda motor yang berniat memotong jalur di depan si hitam setelah selap-selip di samping. Secara sengaja mempersempit jarak dengan kendaraan di depan agar tak satu pun kendaraan dari jalur yang berbeda dapat memotong jalur si hitam. Juga tidak segan-segan membunyikan klakson ketika kendaraan lain melaju semakin mendekat ke samping dan perlahan-lahan memaksa si hitam untuk menyingkir dari jalur semula.
Enak aja main serobot! ANTRI!
Pasti begitu umpat saya kalau saja saya bisa mengutarakannya.
Melihat puluhan sepeda motor berjajar di barisan terdepan perempatan jalan, yang semakin lama barisan itu semakin maju saja, perlahan tapi pasti berlomba mencuri start bahkan sebelum lampu merah berganti warna menjadi hijau. Di barisan berikutnya adalah sejumlah angkutan umum dan bus kota. Kadangkala juga diikuti dengan kendaraan pribadi.
Semua melaju melintasi perempatan. Sebelum waktunya.
Apa sih sebenarnya sulitnya mengantri barang sebentar? Toh tidak akan memakan waktu setengah, bahkan seperempat hari.
Dan peristiwa sepanjang perjalanan pulang tadi mengingatkan saya pada beberapa hari lalu.
Saat saya memasuki sebuah restoran cepat saji pada jam di mana sedang sepi pengunjung. Hanya dibuka dua meja kasir untuk menerima pengunjung, di ujung kanan dan ujung kiri, sementara di tengah sedang tidak dioperasikan. Di kedua meja kasir itu berdiri masing-masing seorang pengunjung. Mereka memesan makanan dan menunggu hingga pesanan mereka itu disajikan. Saya pun berdiri di belakang salah satu dari mereka. Menunggu.
Rupanya antrian yang saya pilih memakan waktu lebih lama. Si mbak di depan saya itu memesan makanan dalam jumlah cukup banyak, sehingga ia belum juga beranjak dari depan meja kasir sementara si mbak di meja kasir lain sudah pergi membawa serta nampan berisi makanannya.
Saya melongokkan kepala ke depan untuk melihat apa yang sedang terjadi di depan, sambil mengira-ngira berapa lama lagi saya harus menunggu jika tetap mengantri di barisan yang sama. Belum sempat berhitung, si mbak penjaga kasir di barisan yang lain sudah tersenyum pada saya. Mempersilakan agar saya berpindah antrian saja.
Baru saja melangkahkan kaki dari antrian semula, seorang pria paruh baya berjalan dengan langkah sangat cepat dan tiba-tiba saja sudah ada di depan meja kasir tempat di mana saya hendak mengantri.
Yang mengejutkan (buat saya) adalah, si mbak kasir tetap melayani pria itu terlebih dulu.
Lalu saya..?
Harus kembali menunggu. Di barisan yang berbeda.
Hingga akhirnya saya kembali di antrian sebelumnya segera setelah si mbak di barisan sana itu selesai memesan makanan dan sudah membawa semua pesanannya menjauh dari meja kasir.
Yaahh.. kalau mau jujur, saya benar-benar ingin sekali menyerobot si bapak yang tiba-tiba sudah ada di depan meja kasir itu dan mengatakan bahwa saya lah yang semestinya mendapat giliran berikutnya untuk memesan makanan. Dan kalau saja – iya, kalau saja! – ada pengunjung lain yang kemudian datang dan tiba-tiba sudah berdiri pula di barisan lain, saya mungkin akan menyerobot juga agar mendapat giliran lebih dulu untuk dilayani.
Seketika, saya jadi geli sendiri.
Saya, yang selama ini menentang mati-matian serobot-menyerobot, juga menghujat pencurian atas giliran orang lain, dan terus menggarisbawahi tindakan mengantri, tiba-tiba justru berpikir yang sebaliknya. Saya bahkan sudah berniat melakukan suatu tindakan, yang selama ini saya tentang habis-habisan.
Setelah menyadari bahwa antrian itu bukan jaminan.
Iya, mengantri bukan berarti saya akan mendapatkan apa yang saya inginkan sesuai dengan urutan di mana saya mengantri. Saya duluan yang datang, bukan berarti saya duluan juga yang akan dilayani. Saya yang berbaris lebih dulu, bukan berarti saya yang akan lebih dulu mendapat giliran.
Paling tidak, hukum inilah yang berlaku ketika saya berada di restoran cepat saji itu.
Yang mungkin – iya, hanya mungkin – kemudian juga dianggap berlaku di tempat-tempat lain dan dalam hal lain secara lebih luas. Termasuk berlalu lintas itu tadi.
Lantas, ketika sebagian pengendara beranggapan bahwa hukum mengantri itu tidak berlaku, saya – secara kognitif – bisa, sangat bisa memahami perilaku berkendara yang.. yaahhh membuat saya spaneng setengah mati seperti malam ini.
Karena memang belum – bukan ‘tidak’ – ada jaminan bahwa pengendara yang berusaha mengantri seperti saya ini akan mendapatkan giliran yang semestinya. Sesuai antrian.
Saya..?
Sampai saat ini saya masih memilih untuk tetap melakukan tindakan yang sama: mengantri.
Yaa.. karena saya tahu apa rasanya ketika orang lain atau pengendara lain menyerobot giliran saya, membuat saya kesal, jengkel, bahkan mungkin murka.
Dan saya tidak ingin menjadi orang atau pengendara yang mengakibatkan orang lain merasakan hal yang sama.


18 Responses
sesuatu yg biasa macam mengantri, jadi ribet kalau dipake itung2an ala kognitif sgala
dan yaaa.. mulai dari diri sendiri itu, memang cara yang paling bijak ..
*saya juga suka eneg soal serobot menyerobot itu.. pengen ngejitak saja rasanya..
Ooo…. jadi cerita pertama berhubungan dengan tata tertib berlalu lintas
yang menarik cerita kedua ini.
“….saya benar-benar ingin sekali menyerobot si bapak yang tiba-tiba sudah ada di depan meja kasir….”
“…….saya mungkin akan menyerobot juga agar mendapat giliran lebih dulu untuk dilayani.”
Lucu juga seorang mbak Dos bisa ngomong kayak begini
Tapi baik cerita pertama maupun yang kedua, kita bisa berandai-andai.
Seandainya kita melakukan yang namanya “tidak memberi kesempatan orang lain” ataupun juga ingin “saling mendahului”, dan ternyata semua orang juga berpikiran hal yang sama, bisa dipastikan yang akan terjadi adalah kekacauan dimana-mana.
ibarat ada 10 orang sedang mengantri, 1 aja yg paling depan bikin ulah, maka 9 orang lain dibelakangnya bisa kena getahnya. lha apalagi kalo kesepuluh orang itu berpikiran sama utk bikin ulah, hancur sudah semuanya
berarti kita memang harus “memaksakan” diri utk tetap tertib dalam mengantri, atau malah mungkin “memaksakan” diri utk memberi jalan ke orang2 tidak tahu diri dan aturan itu. dari pada nanti semua jadi tambah kacau krn kita juga ikutan kacau.
cuma hal itu tidak mudah sih. lha wong saya aja kalo ada orang ndableg spt itu, wough…. bisa saya sikut-sikut
bebek aja bisa ngantri ya. ternyata saya aja masih kalah tertib sama bebek
Uh, sekarang saya juga mendahulukan hak ketimbang kewajiban, hak mendapat giliran di atas kewajiban bersabar.. Tapi realistis juga ama sikon. Misal: milih gak nonton 2012 drpd mangkel antri, naik sepeda di macet yg menjengkelkan, cari restoran yg ga pake antri, isi bensin malam hari dll.. Pikir2 ga ada gunanya jengkel berebut giliran kalo bisa cari alternatif lain yg ga usah pake antri. Kalaupun terpaksa antri, saya biasanya nambah elemen yg bikin hati lebih sabar, misalnya pasang ipod.. Rasanya sayang kalo umur diisi jengkel..
waduh, barangkali saya salahsatu pengendara motor itu mbakdos, maapkan, hehehe…maklum, kejar setoran buat bayar kreditan motor mbak
saya melihat seperti ini, di saat semua dalam keadaan teratur, maka akan terjaga tetap demikian, ketika ada 1 saja yang mencoba keluar dari keteraturan itu, maka kekacauanlah yang terjadi, semula orang2 yang teratur pun jadi ikut terbawa arus berbuat tidak teratur, seringnya sih begitu.
ternyata masih susah yah mbakyu jadi warga negara yang baik di negara yang makin lama makin aneh ini..
pilih jadi alien karena tetap memilih ngantri, atau menjadi manusia biasa (yang hidup di Jakarta) dan serobot sana sini.. ?? hehe
i wish i could move far away from this city. this country.
saya pernah adu jotos sampai hidung patah “hanya” gara-gara ada supir angkot yang menyerobot antrian mobil macet yang panjangnya sudah satu kilometer.
Tapi yah kadang memang kesadaran antri itu penting tapi tidak bisa dilupakan juga “peraturan” yang mengatur agar kita mengantri itu yang lebih penting.
Seperti kasus di atas, pastinya akan lebih beres jika si mbak-mbak kasirnya tegas untuk mempersilahkan mbak dos duluan.
Rata-rata orang menjadi malas mengantri ketika tahu bahwa jumlah pengatri membeludak. Itu tanda bahwa mereka yang tak mengantri tak siap bersaing dengan jujur.
woooogh kalo soal motor-motor itu, saya mah tiap hari spaneng dibuatnya Mbak.. Ngga jarang klakson saya berbunyi panjang hanya untuk menghalau motor-motor itu menjauh dari mobil saya.
ah bingung lah menghadapi perilaku para pengendara motor di Jakarta ini. saya berharap pemerintah segera membuat peraturan tata tertib yang jelas dan ketat untuk motor-motor itu biar ngga seenak-enaknya di jalan.
*sigh*
@chic : mobil pribadi juga udah kebanyakan di kota kalian ituh, naek angkot kek :p
Kadang sayah sedih ketika motor-motor pelanggar (yang jumlahnya memang banyak ituh), kemudian di generalisasi menjadi
“Pengendara motor-motor”
Seolah semuanya pengendara motor itu tidak tertib aturan. Masalahnya saya penikmat sepeda motor. Dan meski sepeda motor saya sangat tua tapi semua masih lengkap mulai dari lampu utama sampai lampu sein. Mengingat umurnya yang sudah tua sangat tidak memungkinkan bagi saya untuk memacu motor di atas 60 km/jam. JAdi saya selalu tertib lalu lintas dan berhenti pada tempatnya.
Tapi yah itu tadi, pengendara mobil sering kali jadi mengeneralisir bahwa semua pengendara motor itu brengsek. Pengendara motor yang suka selap-selip ituh,
they give biker a bad name.
dua jempol untuk pilihan mbak itu…
semoga kondisi fisik mbak udah lebih baik ya sekarang…
susah memang mengantri. semua pengen duluan. susah menghormati kepentingan orang lainnya.
kl si bapak yg nyerobot udah tua, lo bilang aja “pak pak, udah tua kok ga tau aturan? malu sama umur pak..” (dengan intonasi tetep tenang)
biasanya kenanya lebih dalem tuh
antri belum jadi budaya di sini..
betul mbak…
ada ucapan “janganlah kau melakukan sesuatu jika engkau sendiri tidak mau diperlakukan seperti itu”
wah.. saya dapat nomor urut 16..
yg penting kita konsisten dgn atrinya mbakdos
Singapore is boring as hell, but for some strange reason I always miss the place whenever I take a queue in Indonesia.
Argh.
mbakDos: hopefully I can find those place, either. here, in Indonesia.