Bahasa Perempuan
Hari masih belum terlalu sore sebenarnya ketika saya memasuki kedai kopi langganan. Namun langit yang mendung sejak hari ini bermula memang telah memberikan suasana senja yang lebih cepat daripada semestinya.
Menuju tempat duduk yang biasa saya tempati, si mas berkemeja putih dan bercelemek itu membuntut di belakang. Tentu, sambil membawa daftar menu untuk kemudian disodorkan kepada saya. Lalu seperti ritual biasanya pula, segera setelah memesan minuman (dan makanan kecil), saya akan segera mengeluarkan si Fuji dari tas ransel serta menyambungkan kabelnya ke stop kontak.
Dan mulailah saya bekerja.
Seharusnya.
Tetapi pemandangan yang ada tepat di samping saya rupanya lebih menarik dibandingkan apa yang mesti saya kerjakan. Jauh lebih menarik untuk disimak.
Dua orang perempuan yang usianya tidak berbeda jauh dari saya, kelihatannya. Duduk bersebelahan di sofa panjang. Keduanya duduk menyandar pada sandaran sofa hingga badan mereka sedikit beringsut ke bawah. Keduanya juga melihat ke arah yang sama, ke depan. Yang satu berbicara dan yang lain mendengarkan. Lalu bergantian, yang satu lagi berbicara dan dia yang mendengarkan.
Bukan bermaksud menguping. Karena bukan saja percakapan mereka itu tertangkap oleh kedua telinga saya, tetapi posisi duduk mereka itu menarik buat saya. Mereka tidak perlu saling menatap, hanya duduk berdampingan, seolah saling memercayai bahwa yang lain akan menyimak apa yang dibicarakan, bahwa yang lain akan mendengarkan apapun yang terjadi, tanpa perlu duduk saling berhadapan layaknya dua orang yang sedang berbicara.
Si perempuan berambut pendek berbicara pelan sekali, nyaris seperti berbisik – yah, walaupun masih saja terdengar oleh telinga saya. Bercerita dengan terbata-bata, beberapa kali menghela napas, dan saat saya menoleh ke arah mereka, terlihat posisi duduknya telah berubah condong ke depan, menundukkan kepala dan menutupi wajahnya dengan tangan.
Sementara perempuan yang rambutnya sedikit lebih panjang mengusap-usap punggung si perempuan di sampingnya. Tanpa berkata apa-apa.
Call me as a judgmental person, tapi saya berani bertaruh bahwa mereka memang saling mengenal dengan sangat baik. Sangat dekat satu sama lain. Demikian dekatnya hingga tidak ada lagi keengganan untuk memercayakan kisah hidup yang sangat menyakitkan itu kepada yang lain. Lalu bisa begitu saja membiarkan yang lain melihatnya menangis.
Berapa kali pun saya melihat pemandangan serupa, tetap saja membuat saya terkesima.
Pemandangan yang biasanya hanya akan saya temukan terjadi pada dua orang perempuan. Atau kadang lebih. Yang sampai saat ini, belum pernah saya lihat terjadi pada sesama laki-laki.
Yah, mestinya memang saya tidak sedemikian herannya melihat dua orang perempuan di samping saya itu tadi. Karena memang demikianlah yang terjadi ketika dua atau beberapa orang perempuan sedang berkumpul.
Percakapan yang serba seru tentang masalah yang sedang dihadapi, peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi dalam hidup mereka, yang tidak jarang juga dilakukan sambil shopping bersama, jalan-jalan, atau (meminjam istilah Simbok Venus) ngopi-ngopi cantik. Dan perbincangan yang kemudian dilanjutkan dengan saling bertangisan, berpelukan, atau sebaliknya, tertawa-tawa, wajah gemas dan membelalak dengan garis bibir tersenyum lebar.
Sepintas, kalau kebetulan menemukan pemandangan serupa, sejumlah perempuan yang sedang berkumpul dan membincangkan berbagai hal, mulai dari mengisahkan perkembangan anak-anak mereka, kegiatan terbaru di kantor, apa yang terjadi di arisan ini-itu, sampai pertengkaran dengan pasangan, pekerjaan yang tidak berjalan dengan lancar, hingga perdebatan tiada akhir dengan orangtua, ada satu kesamaan besar di antara semuanya.
Memang, apa yang dipercakapkan berbeda-beda.
Tapi ada satu pola yang sama: perasaan.
Bukan sekedar kisah mengenai si anak yang sudah mulai bisa mengucapkan satu-dua kata dengan lancar, tetapi yang diungkapkan sebenarnya adalah perasaan senang dan bangga lantaran si anak sudah mencapai suatu keberhasilan. Bukan juga sekedar cerita tentang si bos yang memarahinya di hadapan rekan-rekan kerja lainnya, tetapi lebih pada perasaan kesal, malu, tetapi sekaligus tidak berdaya lah yang sesungguhnya hendak diutarakan.
Dan seperti si perempuan di meja sebelah tadi, bukan saja kisah bahwa ia baru saja menemukan kekasihnya juga mengencani teman si perempuan itu, tetapi di baliknya ada sejumlah perasaan sakit hati, merasa dibohongi dan dikhianati.
Bukan semata-mata peristiwanya yang sesungguhnya hendak diungkapkan. Tetapi perasaan yang mengikuti peristiwa itu. Akan diceritakan, sesulit dan semenyakitkan apapun.
Yang mungkin, tidak sering atau bahkan sangat sulit ditemukan pada laki-laki.
Sementara sekumpulan laki-laki akan lebih sering mempercakapkan hal-hal yang cenderung menyenangkan, atau bahkan berusaha tidak menyinggung soal perasaan sama sekali, para perempuan justru akan menceritakan apapun yang menyangkut perasaan mereka. Tak peduli apakah perasaan itu menyenangkan atau menyakitkan.
Pemahaman yang sesungguhnya bukan baru sehari-dua hari saya peroleh berkaitan dengan ‘sekumpulan’ perempuan ini, tetapi sungguh.. tetap saja membuat saya terpesona saat menemukannya.
Hingga bukan sekali-dua kali pula saya berkeinginan untuk bisa merasakan hal yang sama. Saya ingin sekali mengetahui bagaimana rasanya bisa duduk berdampingan dengan seorang teman perempuan seperti kedua perempuan di meja sebelah tadi. Menceritakan apa yang saya rasakan, lalu membiarkan diri saya sendiri menangis di situ. Membiarkan si teman ini mengusap-usap punggung saya atau menggenggam tangan saya, membuat saya merasakan bahwa ia bisa merasakan apa yang saya rasakan.
Terlihat sangat menyenangkan.
Yah, saya memang kadangkala ingin merasakannya.
Karena selama ini yang terjadi, para laki-laki lah yang ada di sekeliling saya dan menamai mereka sebagai teman dan sahabat.
The sharing of joy, whether physical, emotional, psychic, or intellectual, forms a bridge between the sharers which can be the basis for understanding much of what is not shared between them, and lessens the threat of their difference. ~Audre Lorde

—–
REFERENSI:
` Carroll, M.N. (2009). Gender differences in trust and loyalty within single sex friendships. New Orleans: Department of Psychology Loyola University.
` Goldsmith, D.J. & Dun, S.A. (1997). Sex differences and similarities in the communication of social support. Journal of Social and Personal Relationships, 14, 3, hal. 317-337.
` gambar dipinjam belum dengan seijin pemilik dari sini

14 Responses
Saya kadang bertanya kepada diri sendiri apakah saya seksis jika saya punya opini tertentu terhadap “bahasa perempuan”.
Akhirnya ya terus belajar. Sampai hari ini.
teman-teman saya kebetulan juga banyak laki-laki yang jujur, menyenangkan, terbuka, ceria… dan begitulah, jengdos tau sendiri. tapi… tetep aja saya ngerasa bener jadi perempuan ketika kumpul berdua atau bertiga dengan sahabat wanita, mungkin gak banyak cakap tapi di dalam hati ini hangat rasanya
[...] Bahasa Perempuan – Mbak Dos [...]
bahasa perempuan itu kompleks, butuh kamus banyak hihihi
hwedeeeeeeeeew….aku nggak pernah mpe nangis2 mbak…apa lagi itu ditempat umum *hyaaaaaaaaaaa*
Tapi chat sembari curhat tuh bisa sambi nangis2 sih, mungkin cara orang berbeda ya, aku klo ngomong langsung (berhadap2an dalam satu tempat) tuh ga bisa, biasanya tertahan atau malah bisa2 nangis duluan sebelum cerita.
hehehe…. betewe nangis didepan cowok sendiri tuh berasa bego banget (meski dia nggak ngelarang aku nangis)
hekkekeekekke….
diriku terbiasa mendengarkan curhatan teman sampe dia nangis2, tapi aku sendiri ga bisa nangis didepan teman
Blm pengen komen mbak, tp pengen ngaku, sy penanti postingan baru yg ga sabaran dan pefollow twitter yg masih mengharap blog ini dibukukan, biar Ibu sy yg gaptek bisa ikut baca
kadang aku lebih suka dicurhati teman perempuan. yg mereka butuhkan cuman terlinga buat ndengar segala omongan mereka.
beda ketika teman laki2 yg ngobrol, mereka menuntut solusi untuk permasalahan mereka. kadang aku nggak bisa jadi teman yg baik, males mikir.
sabar ya..
aku memang gak bisa mengerti seperti apa rasanya.., karena aku gak pernah merasakannya..
tapi aku bisa mengerti mengapa kamu bisa merasa seperti itu..
*sambil ngelus-ngelus (gak tau apanya) mbak Dos..
jadi teringat Cinta, Milly, Karmen, Maura dan Alya..
Mbakyu jadi apanya?? hmm jangan2 jadi Rangga-nya? hihihi
tapi cuma dengan sesama teman perempuan lah biasanya (justru) stigma negatif akan sulit dibentuk mbakyu, simply best friend, BFF gt, rata2 orang berpikiran gt. coba kalo cewek cowok, best friend, nangis2an, pasti dikira “more than best friend, kalo cowok-cowok.. pasti dikira.. yaa you named it lah hahahaaha
dulu saya punya banyak teman laki-laki. cenderung lebih banyak ketimbang teman perempuan malah. mereka seru, fun dan apa adanya.
tetapi ada saat di kala saya ingin bercerita, tentang harapan tentang perasaan. dan sekian banyak teman laki-laki saya itu, tidak satu pun yang bisa menangkap pesan dari cerita saya. mereka lebih cenderung emosi, berusaha keras menyelesaikan masalah saya. padahal yang saya butuhkan hanya telinga, dan rasa dihangatkan.
dan itu, hanya saya dapat dari sahabat-sahabat perempuan ternyata…
jadi sekarang, sebanyak apapun saya punya sahabat laki-laki, sahabat perempuan pun selalu ada di situ.
begitulah perempuan, kan
dan begitu pula, para lelaki..
perlakuan yang berbeda terhadap perasaan pada satu objek..
ah, ngomongin soal perasaan memang berat dan bukan bidang saya, rupanya
soal yg menyenangkan kadang itu betul
…. kita (laki laki) memang suka malas ngobrol soal yg merepotkan hahahaha~ walau tdk selalu, namanya juga sifat natural
ooo, mungkin itu sebabnya saya sedikit punya sahabat laki2…kerna sy terlalu perempuan banget kali ya…**baru nyadar**
kadang iri, kok bisa sih, punya banyak teman laki2, kayaknya asik aja punya temen yg gag terlalu emosional…tapi ya itu, sayanya yg banyak ga cocok, hanya 1-2 yg tdk menimbulkan friksi dg sy.
…and this is where I failed the most. To me, understanding women’s language is much harder than driving automatic transmission…
mbakDos: hahaha driving automatic transmission is far more easier than the language you’re talking about