Perjuangan Belanja Tengah Malam

Semalam adalah kali pertama saya menjadi saksi hidup saat-saat menjelang berlangsungnya midnight sale di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Senayan. Setelah sebelumnya hanya melihat iklannya terpampang di penjuru pusat perbelanjaan, tertera di surat kabar atau majalah dengan ukuran besar, disiarkan di radio, atau di media lain yang memungkinkan tersebarnya pemberitahuan secara lebih luas.
Tapi tadi malam, saya baru benar-benar menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri.
Sebenarnya kami – saya, si Kriwil, dan ibu – berniat bepergian ke pusat perbelanjaan itu di siang hari. Namun lantaran saya masih harus menuntaskan pekerjaan untuk kemudian dikirimkan kepada si bos, jadilah kepergian itu ditunda hingga sore hari.
Pukul enam kurang sedikit kami baru tiba di pelataran parkir.
Dimulai dengan makan sore, baru kemudian mengelilingi pusat perbelanjaan itu. Mencari tempat-tempat yang bisa dikunjungi (dan kemudian keluar dengan membawa tas belanjaan). Untunglah sekarang si Kriwil sudah jauh lebih kooperatif dengan kegiatan khas perempuan, yang adalah berburu barang belanjaan itu. Walaupun bukan berarti akan benar-benar berbelanja barang-barang yang sudah dilihat.
Jadilah kami keluar-masuk dari satu toko ke toko lain.
Mulai dari sepatu, tas, lalu asesoris. Kemudian dengan membawa kantong-kantong hasil buruan, kami berpindah ke department store pusat perbelanjaan itu, dan semakin banyaklah objek yang menjadi calon barang belanjaan.
Memang, Mama Lumbi, si kakak ipar, sudah sempat memberitahukan kepada si Kriwil bahwa pusat perbelanjaan itu akan mengadakan midnight sale di malam kami berkunjung. Dan di sepanjang penjuru pusat perbelanjaan yang sama, memang bisa dengan mudah ditemukan flyer, banner, atau media pemberitahuan lain untuk mengingatkan waktu berlangsungnya midnight sale.
Mungkin juga kami yang terlalu tidak peduli dengan hal lain selain kegiatan berburu barang belanjaan, kami sama sekali tidak mengingat pemberitahuan itu.
Malahan terus saja berjalan dan berhenti di setiap rak pajangan yang layak didatangi.
Menjelang pukul delapan, makin lama pengunjung department store mulai bertambah. Dan hanya dalam waktu sekitar lima belas menit, ketika kami memalingkan wajah untuk melihat keadaan sekitar, rasa-rasanya jumlah mereka sudah dua kali lebih banyak. Sebagian besar masih mengenakan pakaian kantoran, sebagian lagi pakaian yang lebih santai dan bahkan juga mengajak serta anak mereka. Atau juga ibu-ibu yang usianya kira-kira sama dengan ibu saya atau malah lebih tua.
Rupanya keriaan semacam ini memang hal yang biasa terjadi menjelang pukul sembilan malam, waktu di mana midnight sale itu berlangsung. Para pengunjung meletakkan tas plastik transparan di bahu mereka, untuk menempatkan barang-barang yang hendak dibeli. Dengan demikian, mereka bebas untuk berkeliling dan melihat barang-barang di seluruh department store, lalu hanya tinggal memasukkan barang yang diinginkan ke dalam tas plastik. Nantinya seluruh barang di dalam tas plastik itu tinggal dibawa ke kasir untuk dilunasi.
Sudut-sudut yang memajang tulisan 70, 50, atau bahkan hanya 30% semakin dipadati pengunjung. Ketika sebelumnya saya bisa dengan leluasa mengaduk-aduk pakaian yang diletakkan di atas bak diskonan, kali ini saya harus mulai berbagi ruang dengan pengunjung lain. Kami juga mulai harus bergantian dan menggeser tempat berdiri setelah selesai mengamati satu barang.
Kami bahkan beberapa kali terpaksa membatalkan niat untuk mengunjungi satu stand lantaran para pengunjung yang menimbun di sana akan menyulitkan kami untuk ikut bergabung.
Sementara para pengunjung perempuan sibuk memilih-milih barang, mencobai ini-itu, si prianya berdiri mengamati saja. Di sudut dengan diam, duduk – jika tersedia tempat untuk duduk, atau menunggu di luar department store.
Semakin larut, bukannya semakin berkurang, pengunjung justru terus bertambah.
Karena penasaran, ibu menanyakan harga sepasang sepatu kepada salah seorang pramuniaga yang sedang berjaga. Sepatu yang diproduksi oleh produsen kenamaan (dan merupakan brand yang sangat digilai oleh ibu).
Sebuah sepatu bertali belakang dan bagian ujung jarinya terbuka (peep toe – sling back), dengan tinggi heels sekitar tiga sentimeter saja, seharga satu-juta sekian rupiah. Potongan sebesar 30% hanya diberikan jika ibu membayarnya dengan menggunakan kartu kredit dari bank tertentu. Atau jika tidak memiliki kartu kredit yang dimaksud, ibu bisa menunggu hingga waktu midnight sale berlangsung untuk mendapatkan potongan harga sebesar seratus ribu rupiah (saja!).
Kami pun saling berpandangan dan tertawa.
Seratus ribu? Dan harus menunggu sampai setengah jam, kemudian berdesak-desakan, mengantri di kasir hingga bermenit-menit lamanya, hanya untuk potongan seratus ribu dari sebuah barang seharga satu juta?
Jelaslah, kami kemudian meninggalkan stand sepatu itu.
Sedangkan untuk barang-barang lain, sebenarnya juga tidak sedikit yang sudah dikenai potongan harga tanpa harus membayar menggunakan kartu kredit atau menunggu hingga dimulainya midnight sale. Kami toh berhasil membawa pulang beberapa pakaian dengan potongan separuh dari harga semula, tanpa harus menunggu hingga pukul sembilan.
Ketika membayar di kasir, si mbak memang sempat bertanya apakah kami tidak ingin menunggu saja setengah jam lagi hingga waktu midnight sale dimulai. Kami bisa memperoleh potongan harga lebih banyak lagi jika kami membayarnya mulai pukul sembilan nanti.
Berapa potongan harganya, yah.. sebenarnya tidak terlalu banyak juga.
Entahlah, mungkin saya saja yang tidak berpengalaman dengan aktivitas berbelanja tengah malam itu. Tapi berburu barang belanjaan dengan potongan harga yang sebenarnya tidak seberapa itu, kelihatannya kurang.. ah, apa ya namanya?!
Yaa.. intinya adalah, buat apa?
Kalau toh bisa menemukan barang-barang yang saya cari dan sudah mendapatkan potongan harga yang layak, rasa-rasanya tidak perlu lagi menunggu hingga midnight sale berlangsung. Hanya untuk mendapatkan potongan yang sebenarnya tidak sebanyak jika saya berbelanja biasa saja.
Memang, terpampang tulisan besar-besar: 50% atau bahkan 70%. Tetapi jika dicermati lebih lanjut, di atasnya akan ditemukan tulisan yang berukuran jauh lebih kecil yang berbunyi: up to. Yaa.. artinya, potongan harga yang diberikan tidak selalu sebesar itu. Sepuluh persen pun bisa saja dimasukkan dalam kategori potongan harga ini. Apalagi jika di bagian bawahnya kemudian terdapat tanda bintang (*) dan tertulis pula dalam ukuran kecil: on selected items.
Sudah potongan harganya tidak seberapa, potongan itu pun tidak diberlakukan untuk semua barang yang dijual.
Sesuatu yang – buat saya – tidak sebanding dengan perjuangan yang harus dikeluarkan untuk mendapatkannya: berdesak-desakan, menunggu di antrian yang sangat panjang, risiko tidak dilayani oleh pramuniaga lantaran terlalu banyak pengunjung yang meminta dilayani, apalagi setelah berbagai perjuangan itu, ternyata barang yang diminta tidak menyediakan ukuran yang diinginkan *mau semaput aja rasanya kalo udah begini!*
Perjuangan yang mungkin sebenarnya tidak perlu dilakukan.
Setidaknya, saya sih tidak berniat untuk itu. Belum, mungkin.
Eh, tapi kalau memang ada pusat perbelanjaan yang mengadakan midnight sale dan memberikan potongan harga sebesar 90%, di mana sepatu dan sandal dari brand Nine West, Jimmy Choo, atau Christian Loubotin itu termasuk di dalamnya, saya tidak keberatan kok diberitahu ![]()
`gambar dipinjam belum dengan seijin pemilik dari sini
`jadi teringat julukan Shopping Monster yang pernah diberikan Pakdhe Mbilung buat saya ![]()




19 Responses
ndak doyan belanja
)
mbakDos: kalo minyak wangi dan kemeja putih piye, mbok?
disini baru ada sale jimmy choo for mbak H&M, harganya lumayan miring… tapi sayangnya (atau untungnya?) gak ada ukurankuuu
mbakDos: ntar kalo ada sale lagi, mau dong bi dibeliin!! ya ya ya?! *dilempar kelom*
wanita emang suka belanja..
mbakDos: pria juga tetep aja nemenin, walaupun nggak suka
apa ada yang belanja sambil nenteng kalkulator ya?
mbakDos: hahahaha pengen liat tuh kalo ada yang begitu
hehehe.. sebenernya biasa aja kan sale-nya?
*perempuan hobi shopping yang kapok ikut midnite sale*
mbakDos: naaahhh dirimu pasti lebih paham dong ya wir kalo soal midnight sale?!
sekalinya ikut midnite sale gara-gara dipaksa nemenin adek cowo!!! kapok dengan macetnya dan ramainya manusia.
duh, saya ndak ikut-ikutan deh dengan histeria macam itu
mbakDos: BENER! macet manusia!
hehehe..
mengingatkan ke film confession of a shopaholic.. cewek2 pada berebut barang2 lansiran brand ternama, berantem sampe tonjok2an, kmaren ada yg tonjok2an ga bu??
btw di blog-ku ada tulisan “Are you shopaholic?” ada tips2 & kuisnya juga logh… (boleh ya numpang promosi bu?) hihihi… makasiiiiiy….
mbakDos: hahaha sebelum terjadi peristiwa tonjok-tonjokan, gue kabur dulu lah dari tekape
heehh dia promosi lho di sini!
hehehe..
mengingatkan ke film confession of a shopaholic.. cewek2 pada berebut barang2 lansiran brand ternama, berantem sampe tonjok2an, kmaren ada yg tonjok2an ga bu??
btw di blog-ku ada tulisan “Are you shopaholic?” ada tips2 & kuisnya juga logh… (boleh ya numpang promosi bu?) hihihi… makasiiiiiy….
ps: ralat blogku: secangkirkopimu.blogspot.com
mbakDos: lhaaa beneran diralat blognya
kalo gue sih masuk department store serame itu bisa langsung pulang lagi.. hehe. cewe2 itu knp gigih banget ya dlm hal belanja..
mbakDos: pacar lo gimana el? eh.
ah, up to dan selected items dengan huruf kecil yg sering menipu itu
belanja tengah malem, bener2 perjuangan tanpa akhir,
dan ending cerita ini ? beneran ga ikutan mitnait sale, nih ? jadi curiga…
mbakDos: bener deh, kalo disuruh ikut menimbun sama kerumunan orang itu, mendingan nggak usah belanja!
salut ah buat yang segitunya, ksatria stand raya
mbakDos: eh iya lho, saya juga mikir kok mereka sanggup bertahan ya?! salut! beneran.
aku ikut midnite shopping tuh pas lebaran kemarin jeung, di Plangi..
Nggak belanja, cuman ngeliat sumpeknya, sampe kaki gempor baru pulang..
jan nggak puenting blas yo aktivitasku?
mbakDos: hahaha.. iya, iya.. pernah denger tuh yang di Plangi menjelang lebaran! lha awakmu lak cuwilik dev, ra kepidhak ta?!
kita bukannya ga ikutan midnite sale
gara2 papa tlp ya, suruh buruan plg? ahahaha..
pa kabar ya kl ambasador midnite sale?
gawat…gajah lewat
mbakDos: ih tapi kalo nggak ditelepon papa, aku juga ogah ada di dalem situ. mendingan midnight sale di toko sepatu kegemaran itu
jd inget waktu kmrin sama kakak ke situ, ada sepotong baju yg disuka, dibandrol tertera dua harga, yg atas adlaah harga saat itu dan yg bawah harga wktu midnight sale td, tp stlah dilihat ternyata harganya ga jauh beda, cuma dikurangi 95 ribu saja alias itu naju harganya tetep 400 ribu, so midnight sale dan bukan ga ada bedanya hahahahahaha
mbakDos: beda lha, mbit! pasti ada bedanya! yaitu.. dengan harga yang sama, kalo midnight sale, orang rela lho berhimpit-himpitan untuk dapet barang yang sama juga
Yang dicari itu sebenarnya sensasi-nya loh mbak. Kayak orang minum kopi di emperan jalan malioboro, kopi-nya kan sama aja, tapi sensasinya……wah, tak kan terlupakan seumur hidup.
mbakDos: ya iya lah pasti nggak bakal lupa rasanya kejepit di antara orang-orang, kaki keinjek-injek, ngantri berjam-jam *hahaha kaya’ yang udah pernah aja!*
hihihi… numpang ketawa aja tha…
** been there.. been there.. (^_^) **
mbakDos: hahaha kau pasti bisa menceritakan dengan lebih fasih dong ya?!
waks ….wanita memang punya tenaga berlebih kl soal belanja & diskon
mbakDos: sebagai seorang wanita, saya menyatakan: JELAAASSS!!
@didut: depends on the goods being sold. If it were electronics, I guess there wouldn’t be any women there!
mbakDos: don’t be too sure, mister
Agatha said: don’t be too sure, mister
Guilty as charge, your honor!
mbakDos: you are!